NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Sesuai pesan ayahnya, Laras mulai mengajari Braja bahasa sehari-hari yang biasa mereka gunakan.

“Aku tadi sempat melihatmu tertawa,” kata Laras sambil duduk di atas batu, kedua kakinya diayun pelan. “Suaramu sudah punya nada. Apakah itu tertawa pertamamu, Braja?”

Braja menoleh padanya. Ia mengangguk kecil sambil tersenyum—senyum yang masih canggung, tapi tulus.

“Nah, itu tandanya kau mulai bisa bahasa kami. Apa kau mau mempelajarinya?”

Braja kembali mengangguk. Matanya berbinar, seperti anak kecil yang diberi permainan baru.

“Baiklah. Sekarang sebut namaku. Dengarkan ya… Laaa… raaas. Ayo ikuti.”

Braja tampak menegang. Lehernya bergerak kaku, seolah ia sedang mengumpulkan udara di tenggorokan lalu memaksanya keluar.

“Ell… el… el… ess…” ucapnya terbata.

Laras terdiam sepersekian detik, lalu tertawa terpingkal.

“Hahaha! Masa jadi ‘eles’? Bukan begitu… Laaa… ayo coba lagi.”

Braja menarik napas lebih dalam.

“Ell… el… laaa…”

“Raaaasss… ayo, bagian belakangnya yang jelas.”

“Err… errr… raaass…”

“Nah! Sekarang gabungkan. Laa… raaas.”

Braja memejamkan mata sejenak, seolah sedang bertarung dengan huruf-huruf di kepalanya.

“Laa… laa… roon…”

Laras mencibir pura-pura kesal. “Ih! Masa aku jadi laron sih? Huh! Bukan serangga ya! Laaa… raaas.”

Braja mencoba lagi, lebih pelan, lebih hati-hati.

“Laaa… raaas.”

Suara itu masih berat dan sedikit serak, tapi jelas.

Laras melonjak berdiri.

“Horeeeee! Kamu bisa, Braja!” serunya sambil bertepuk tangan riang.

Melihat Laras begitu senang, Braja ikut tersenyum lebar. Ia pun bertepuk tangan, meski mungkin belum sepenuhnya mengerti kenapa ia merasa bahagia. Namun tawa Laras menular padanya.

Laras lalu meletakkan telapak tangannya di dada sendiri.

“Nah. Namaku Laras,” katanya pelan, menekankan setiap suku kata.

Lalu ia menunjuk dada Braja. “Dan kau adalah Braja.”

Braja mengikuti gerakannya. Ia menyentuh dadanya sendiri, seperti menegaskan sesuatu yang baru saja ia pahami.

“Sekarang sebutkan namamu. Braaa… jaaa… ayo ikuti.”

Braja mengerutkan kening, berkonsentrasi.

“Be… be… ber… raa… jaaa…”

“Hampir! Sekali lagi.”

“Braaa… ja.”

Suara itu keluar lebih utuh. Lebih mantap.

“Hore! Kau makin pintar, Braja!” Laras tersenyum bangga, seolah gurunya sendiri.

Braja perlahan meraba dadanya lagi.

“Bra… ja,” ucapnya, lalu ia mengangkat jarinya dan menunjuk dada Laras.

“Laa… raaas.”

“Betul,” Laras tersenyum hangat. “Aku Laras. Kamu Braja.”

Ia lalu mengangkat dua jarinya, membentuk tanda persahabatan.

“Dan kita sahabat.”

Braja memperhatikan isyarat itu. Ia menirukan dengan canggung—dua jarinya terangkat kaku, tapi matanya berbinar.

“Saa… ha… bat,” ia mencoba, meski suaranya masih patah-patah.

Laras terdiam sesaat.

Entah kenapa, dadanya terasa hangat.

Seolah-olah bukan hanya Braja yang sedang belajar bicara—

melainkan juga sedang belajar menjadi manusia.

Sementara itu, dari kejauhan, Ki Baraya juga sedang nangkring di atas sebuah pohon tua yang rindang. Dengan aji Sapta Pandulu-nya, ia mengamati segala gerak-gerik mereka dengan saksama.

Tatapannya tajam, namun hatinya tak sepenuhnya tenang.

Ia sempat menahan napas ketika melihat Laras memanjat pohon bersama Braja. Jantungnya berdegup lebih cepat saat tubuh putrinya tergantung di ketinggian. Namun ia urung turun tangan. Ia ingin melihat sendiri sejauh mana bocah aneh itu bisa menjaga Laras.

Dan ketika ia melihat Braja menurunkan Laras dengan hati-hati, bahkan membiarkannya duduk aman di dahan paling besar—keraguan di hatinya sedikit melunak.

Terlebih lagi saat ia mendengar suara Braja yang mulai bisa menyebut nama Laras.

“Hmmm…” gumam Ki Baraya pelan.

“Bagaimanapun juga bocah itu sudah banyak berjasa pada keluargaku"

Angin berembus pelan, menggoyangkan ujung ikat kepalanya.

“Tapi aku harus tahu riwayatnya. Dari mana ia berasal? Mengapa ia bisa terdampar di hutan angker itu? Hmmm… bocah itu penuh misteri.”

Tatapannya kembali tertuju pada Braja.

Bukan tatapan curiga semata.

Tapi tatapan seorang pendekar yang sedang menimbang sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebaikan dan keburukan.

Hari-hari pun berlalu.

Laras dengan sabar mengajari Braja berbahasa. Dimulai dari kata-kata sederhana—air, tanah, pohon, langit. Lalu berlanjut pada kalimat pendek. Nama-nama benda. Nama-nama perasaan.

Braja belajar dengan cepat. Terlalu cepat.

Dalam waktu seminggu saja, ia sudah mampu memahami hampir seluruh percakapan Laras. Meski cara bicaranya masih terbata-bata dan kadang salah menyusun kata, namun maknanya sudah jelas.

Ki Baraya memperhatikan perkembangan itu dari jauh.

“Cepat sekali ia menyerap,” gumamnya. “Seperti bukan pertama kali mengenal bahasa manusia…”

Pikirannya kembali terusik.

Hingga pada suatu sore, ketika Laras dan Braja sedang mengobrol santai di atas pohon, Ki Baraya memutuskan untuk menampakkan diri.

Ilmu peringan tubuhnya memang sudah mapan. Dari dahan tempat ia mengawasi, ia berkelebat ringan ke pohon berikutnya. Gerakannya nyaris tanpa suara—hanya desir angin yang tertinggal di antara daun-daun.

Satu pohon. Lalu pohon berikutnya.

Braja yang pertama kali menyadarinya.

Tubuhnya menegang. Otot-ototnya refleks siap bergerak. Matanya mengikuti bayangan yang melesat cepat di sela-sela rimbun daun.

Namun ketika ia mengenali sosok itu—ikat kepala, sorot mata tajam, langkah ringan seorang pendekar—ketegangan di wajahnya perlahan surut.

Braja pun menghembuskan napas pelan.

Ki Baraya mendarat ringan di dahan tempat mereka duduk.

Daun-daun hanya bergoyang sedikit.

Laras menoleh dan tersenyum lebar.

“Ayah!”

Namun mata Ki Baraya tidak langsung tertuju pada putrinya.

Ia menatap Braja.

Dan untuk pertama kalinya, bukan sebagai pengamat dari kejauhan—

melainkan sebagai seseorang yang hendak menguji secara langsung.

Namun begitu Ki Baraya mendaratkan kakinya di batang pohon besar itu, ia justru tertegun.

Hatinya bergetar.

Di hadapannya, Braja menatapnya dengan sorot yang berbeda dari biasanya. Bukan tatapan liar anak hutan. Bukan juga tatapan waspada.

Melainkan tatapan… rindu.

“A… a… ayah?” panggil Braja pelan.

Suara itu masih terbata, tapi jelas.

Laras yang mendengarnya langsung terdiam. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Matanya mulai basah tanpa ia sadari.

Ki Baraya terpaku.

“Ayah…”

Kata itu terasa berat sekaligus hangat di telinganya.

“Mengapa aku jadi terharu begini?” gumamnya dalam hati.

“Kalau benar bocah ini terdampar di hutan… lalu di manakah orang tuanya? Apakah ia ditelantarkan? Atau… ia memang tak pernah memilikinya?”

Tatapannya melunak.

“Kasihan sekali kau, Braja…”

Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara tenang namun tegas.

“Braja. Kau memanggilku ayah? Kau paham apa arti ayah?”

Braja mengangguk kecil.

“A… aku paham,” jawabnya pelan. “B… boleh?”

Pertanyaan itu membuat hati Ki Baraya kembali bergetar.

Laras buru-buru menyela, suaranya ikut bergetar.

“Ayah… sejak kemarin ia terus membicarakan itu. Aku sudah mengenalkan siapa itu ayah, ibu, juga Kakang Jati Sangkar. Kemarin tiba-tiba ia bersedih. Ia bilang… ia tak punya ayah dan ibu. Ia ingin memilikinya, Yah. Ia ingin punya orang tua…”

Laras mengusap air mata yang lolos di pipinya.

Hening sejenak menyelimuti mereka.

Ki Baraya lalu duduk bersila di atas dahan besar itu, tubuhnya tegak namun wajahnya jauh lebih lembut daripada biasanya.

“Kemarilah, Braja. Duduk di sampingku. Aku ingin bertanya kepadamu.”

Braja menurut. Ia duduk dekat Ki Baraya, sedikit ragu, namun matanya tak lepas dari wajah pria itu.

“Braja,” ujar Ki Baraya pelan, “aku memahami perasaanmu. Tapi izinkan aku bertanya dulu. Di mana sebenarnya kau tinggal?”

“D… d… dalam gua. D… dalam hutan.”

“Apakah di sana kau tinggal sendirian?”

Braja menggeleng.

“R… r… ratu…” jawabnya.

Ki Baraya mengernyit.

“Ratu? Kau tinggal bersama ratu? Seorang manusia?”

Braja menggeleng lagi.

“Bukan manusia? Lalu siapa? Makhluk halus? Peri? Jin?”

Braja kembali menggeleng.

Laras ikut bersuara, mencoba membantu.

“Kemarin aku juga sudah menanyakannya, Yah. Tapi dia tak mau menyebutkan siapa ratunya itu.”

Ki Baraya terdiam. Pikirannya bekerja cepat.

“Kalau bukan manusia… bukan pula makhluk halus… lalu apa?” gumamnya dalam hati.

Ia menatap Braja lebih dalam.

“Baiklah. Kalau kau belum ingin menyebutkan siapa ratumu itu, aku tak akan memaksa. Tapi katakan satu hal padaku. Apakah ratumu itu baik kepadamu?”

Wajah Braja langsung berubah cerah. Ia tersenyum lebar.

“Ya… r… ratu baik. Baik… baik…” ucapnya antusias, lalu terkekeh kecil.

Tawa polos itu membuat Ki Baraya ikut tersenyum.

“Baiklah,” katanya. “Kalau ratumu baik, kau pun harus menjadi… silu—”

Ia terbatuk kecil.

“Ehem… maksudku… manusia yang baik.”

Laras langsung mengerutkan wajah.

“Ayah ini loh… masih saja bilang Braja siluman. Huh! Ayah tuh yang siluman!”

Ki Baraya tertawa keras.

“Heee! Kalau Ayah siluman, berarti kau juga siluman, Laras!”

“Biar saja!” sahut Laras sambil mengangkat dagu. “Tapi siluman cantik yang mempesona!”

Ki Baraya terkekeh. Bahkan Braja pun ikut tertawa, kali ini lebih lepas daripada sebelumnya.

“Hih… hehehe…”

Tawa mereka bertiga menggema lembut di antara dedaunan.

Angin sore berembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk ranting.

Di atas pohon itu, untuk sesaat, tak ada kecurigaan.

Tak ada misteri.

Tak ada desa dan prasangka.

Hanya seorang ayah, seorang anak perempuan, dan seorang bocah misterius… yang sedang belajar apa arti keluarga.

Dan jauh di dalam hati Ki Baraya, sesuatu mulai berubah.

Mungkin… bocah ini memang bukan siluman.

Atau kalaupun iya… ia adalah siluman yang sedang belajar menjadi manusia.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!