Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secangkir Kopi
Enjoy your time gays...
Beberapa hari tak melakukan kewajiban, membuat Aurora rindu dengan kegiatan paginya. Menyiapkan sarapan sebelum keduanya sama-sama memulai kegiatan.
"Morning Aurora." Sapa Luca dengan senyum cerah saat baru saja keluar dari kamarnya.
"Morning Luca." Balas Aurora juga dengan senyuman seraya meletakkan dua cangkir kopi yang baru saja dia buat di tempatnya.
"Masak apa?" Sembari bertanya, Luca duduk di kursinya.
"Omelette."
Tak langsung duduk, Aurora mengambilkan bagian Luca terlebih dulu di atas piringnya.
"Makasih Ara." Ucap Luca serata menerima piring yang Aurora ulurkan.
"Sama-sama."
Aurora bukan tipe orang yang mudah membuka obrolan dengan seseorang. Jika dia tidak di tanya atau di pancing untuk bicara, Aurora hanya akan diam meski di sekitarnya ada banyak orang.
Begitupun saat dengan Luca, Aurora hanya akan bicara jika dia memang perlu untuk bicara, jika tidak Aurora hanya akan diam saja. Seperti sekarang.
"Hari ini kuliah sampe jam berapa?" Tanya Luca seraya memotong omelette di atas piringnya dengan garpu dan pisau menjadi bagian lebih kecil lalu memakannya.
Melalui hari demi hari hidup bersama Aurora, Luca perlahan mulai mengerti dan memahami tentang sikap sang istri. Jadi, memang harus dia yang hampir sering mengambil inisiatif untuk bicara lebih dulu jika ingin ada obrolan diantara mereka bertahan lama.
"Jam 4."
"Habis itu ada jadwal apa lagi?"
"Ngerjain tugas bareng sama Audrey."
"Kalo udah selesai, telfon ya? Nanti gue jemput."
Hanya mengangguk, Aurora menikmati makanannya dengan tenang sampai tak bersisa.
***
Dalam setiap pilihan selalu ada konsekuensi yang harus kita terima. Kehilangan banyak waktu dan tenaga untuk menggapai cita-cita yang diinginkan.
Tanggungjawab, komitmen dan konsekuensi menjadi taruhan sebagai bentuk pembuktian jika apa yang di korbankan bukan sebuah kesalahan. Dan itulah yang kini tengah Aurora lakukan.
Memilih jurusan kedokteran sebagai tujuan untuk masa depan ketimbang bisnis yang sudah pasti, membuat Aurora harus lebih bekerja keras agar tak mengecewakan.
Buku di atas meja dengan laptop yang sejak tadi menyala menjadi bahan bantu Aurora dalam proses belajarnya.
Penjelasan dari sang Dosen juga tak lupa Aurora perhatikan dengan seksama. Sering kali mencatatnya dalam buku jika di rasa itu penting dan bisa berguna di kemudian hari.
Tugas yang di berikan sang Dosen menjadi akhir dari proses pembelajaran mereka di sesi pertama. Mengemas barang-barangnya, satu per satu orang meninggalkan bangku mereka dan keluar kelas. Tak terkecuali dengan Audrey dan Aurora.
"Kita jadi kan ngerjain tugas bareng Ra?" Tanya Audrey di tengah langkah mereka.
"Jadi. Gue tadi juga udah bilang sama Luca kalo gue mau ngerjain tugas bareng lo."
"Mau ngerjain dimana?"
"Tempat biasa aja. Tapi kita nyari buku dulu di perpus buat referensi."
"Anak-anak gimana?"
"Belum ada yang bales chat gue di grup."
Tak ada obrolan yang kembali tercipta karena pintu lift sudah terbuka. Keduanya pun masuk ke sana bersama beberapa mahasiswa bisa yang tadi juga ikut menunggu.
***
Tanpa terasa berjam-jam sudah terlewati. Dengan ditemani berbagai macam cemilan dan secangkir kopi, tak hanya Audrey dan Aurora yang mengerjakan tugas mereka. Tapi juga Si kembar Aline dan Alice juga Alexa.
Selesai lebih dulu daripada keempat temannya, Aurora mengambil handphonenya yang sejak tadi ada di sampingnya untuk membuka aplikasi perpesanan. Memberitahu Luca jika dirinya sudah selesai.
"Akhirnya..... Selesai juga ini tugas. Sampe kriting nih jari dari tadi nulis mulu." Ucap Alice menghembuskan nafas lega seraya melemaskan otot-otot jarinya yang terasa kaku dan pegal.
"Sama, gue juga. Pegel banget sumpah." Sahut Alexa melakukan hal yang sama dan memijat-mijat kedua lengannya.
"Ra? Lo pulang bareng kita kan?" Tanya Audrey seraya merapikan barang-barangnya ke dalam tas.
"Enggak. Mau di jemput Luca." Jawab Aurora yang masih fokus dengan layar handphonenya.
"Oh iya ya, lupa gue kalo temen kita yang satu ini udah nikah."
"Lo udah kabarin dia?" Giliran Alina yang bertanya.
"Nih." Menyalakan handphonenya, Aurora memperlihatkan chat antara dia dan Luca sebagai bukti yang baru saja tercipta.
"Ya udah, kita tungguin lo sampe Luca dateng." Ucap Alexa.
"Gays?" Tanya Audrey tiba-tiba serius membuka obrolan. Walau perhatiannya sendiri sebenarnya tertuju pada handphone yang ada dalam genggaman.
"Hm?" Gumam Aline menanggapi.
"Kalian ngerasa ada sesuatu yang aneh gak akhir-akhir ini?"
"Aneh gimana maksudnya?" Balas Alexa bingung. Sama dengan yang lain, dia juga tengah sibuk dengan handphone menjelajah dunia maya.
"Entah kenapa, gue kok gak pernah liat Kenzo lagi ya? Biasanya kan setiap hari dia selalu muncul di hadapan kita dan gangguin lo Ra?" Melepas handphone dari pandangan, Audrey meletakkan benda pipih itu di atas meja seraya menatap Aurora yang duduk di sebelahnya. Pertanda jika obrolan ini memang benar-benar serius untuknya.
"Bener juga tuh, kenapa gue baru sadar ya?" Sahut Alice juga ikut meletakkan handphonenya.
Sudah menjadi kesepakatan jika mereka akan saling menaruh perhatian jika salah satu dari mereka tengah membahas sesuatu yang dianggap serius seperti sekarang.
"Apa jangan-jangan...." Menggantungkan ucapannya, Alexa nampak ragu untuk menyelesaikannya.
"Jangan-jangan apa?" Tanya Alice penasaran.
"Ara udah gak mau lagi berbagi cerita sama kita. Secara kan sekarang udah ada Luca di hidupnya."
"Woi! Sembarangan banget lo kalo ngomong. Dapet pemikiran buruk kayak gitu darimana lo, ha??" Tegur Audrey tak suka seraya mengetok kepala Alexa dengan buku yang ada di depannya.
Bagaimana bisa Alexa menaruh curiga dan berpikir seburuk itu tentang Aurora? Mereka sudah berteman cukup lama dan saling mengenal serta memahami satu sama lain. Belum sekalipun Aurora tak pernah membagi ceritanya pada mereka. Bahkan, Aurora lebih nyaman dengan mereka ketimbang kedua orang tuanya sendiri.
"Sakit Audrey! Ya kan.....bisa jadi aja." Kesal Alexa karena tiba-tiba di pukul seraya mengusap-usap kepalanya.
"Lo..... Gak gitu kan Ra?" Menatap Aurora lekat, Alice justru ikut-ikutan menaruh curiga tapi juga dengan berharap jika dugaan itu tidak benar.
"Alice!" Tegur Audrey semakin kesal dan tak suka.
"Gue cuma mastiin doang...."
Jujur, ada rasa kecewa di hati Aurora saat dia mendengar kedua sahabatnya tiba-tiba tak lagi menaruh percaya sepenuhnya padanya. Tapi, Aurora mencoba untuk berpikir positif karena itu artinya mereka peduli dengannya.
"Terakhir kali gue liat dia, ya pas gye cerita ke kalian soal Luca yang matahin tangannya waktu itu. Setelah itu, Kenzo emang gak pernah datengin gue lagi." Beritahu Aurora menatap teman-temannya.
"Jadi, setelah hari itu Kenzo gak pernah tampakin dirinya lagi di hadapan lo?" Tanya Audrey. Aurora mengangguk mengiyakan.
"Gila! Bisa langsung berhenti kayak gitu aja itu orang? Gak nyangka gue kalo apa yang Luca lakuin ke dia bisa bikin Kenzo akhirnya jera juga. Sahut Alexa kagum."
"Gue juga berharapnya sih gitu. Tapi rasanya, itu gak mungkin deh. Kalian tahu sendiri kan gimana sifat dia? Kenzo itu bukan tipe orang yang gampang menyerah kalo apa yang dia pengenin belum tercapai. Apalagi soal Aurora. Mustahil buat dia berhenti gitu aja." Tak sependapat dengan sang teman, Aline justru menampakkan keraguannya.
"Gue setuju. Tapi yang terpenting sekarang lo aman dan dia gak gangguin lo lagi, itu aja. Masalah nantinya gimana, kita cuma bisa berdoa danjaga-jaga semoga Kenzo beneran stop buat gangguin kehidupan lo." Balas Alice menambahkan.
"Aminnnn....." Sahut mereka bersama-sama.
Pipi pip....
Bunyi klakson mobil yang tiba-tiba terdengar dan mengejutkan seketika membuat mereka menoleh.
"Udah dateng tuh mas suami." Ucap Audrey melihat mobil Luca yang baru saja berhenti di halaman parkir tak jauh dari tempat mereka berkumpul sekarang.
Membereskan barang-barangnya, Aurora bersiap untuk segera pulang.
"Hay gaya." Sapa Luca dengan senyum ramah pada mereka semua seraya melangkah mendekat.
"Hay Luca." Balas Alexa juga dengan senyum mewakili teman-temannya.
"Baru pulang kantor lo?" Tanya Audrey menebak, karena pakaian Luca masih dengan setelan jasnya sama dengan tadi pagi saat dia mengantar Aurora ke kampus.
"Enggak. Dari rumah gue."
"Kok masih pake setelen jas? Kenapa gak ganti baju dulu?" Tanya Aurora yang masih duduk di tempatnya. Sementara Luca berdiri di sebelahnya.
"Gue baru nyampe rumah pas lo chat. Jadi gue langsung ke sini."
"Duh, so sweet banget sih masnya...." Ucap Alice tersenyum menggoda.
"Takut kalo istrinya pulang duluan gara-gara kelamaan nunggu terus di gondol orang ya?" Tanya Audrey juga ikut menggoda.
"Tenang aja...... Temen kita ini orang yang paling setia kok. Jadi gak akan tergoda sama siapapun." Tak mau ketinggalan, Alexa juga ikut menjahili dua orang temannya itu seraya menepuk-nepuk bahu Aurora dengan senyum yang sangat menyebalkan.
Tak bisa membalas apa-apa, Luca dan Aurora hanya bisa tersenyum menanggapi godaan teman-temannya.
"Kalian semua udah selesai?" Tanya Luca mengalihkan suasana.
"Udah. Makanya kita mau ngembaliin istrinya. Takut di cariin." Jawab Audrey.
"Ye.... Lo kata gue barang apa?" Sahut Aurora cemberut kesal seraya berdiri.
"Kita duluan ya gays?" Pamit Luca mengambil tas Aurora yang dia pegang untuk di bawanya.
"Hati-hati. Gak usah ngebut. Yang penting selamat sampe tujuan." Pesan Aline sebelum keduanya melangkah pergi.
"Aranya jangan sampe lecet sedikitpun. Atau gak, lo yang gue gantung." Sahut Audrey menambahkan namun di akhiri dengan ancaman.
"Audrey! Nyeremin banget sih ancamannya." Tegur Alice menepuk pundak Audrey diiringi ekspresi ketakutan.
"Biar Luca tahu kalo sahabat kita itu berharga. Jadi harus di jaga baik-baik dan gak boleh terluka."
"Iya.... Pasti di jagain dengan sepenuh hati kok.... Kan lo udah liat sendiri kemaren?" Balas Luca diiringi senyuman.
"Emang.... Tapi itu baru 5%. Selebihnya lo belum memenuhi standar."
"Aneh-aneh aja lo Rey. Gak usah dengerin dia. Audrey kadang-kadang emang suka ngacok omongannya." Ucap Aurora menatap keduanya bergantian.
"Kita duluan. Bye bye gays." Pamit Aurora. Kali ini benar-benar melangkah pergi agar tak ada lagi obrolan aneh diantara mereka.
"Bye bye Ara, Luca." Sahut Audrey tersenyum puas menatap kepergian mereka.
"Aline ayo pulang, gue udah ngantuk." Ajak Alice setelah mobil Luca pergi. Padahal, barang-barangnya saja masih berserakan dan belum ada satupun yang dia rapikan.
"Ayo." Setuju dengan ajakan sang saudara kembar, Aline bangkit dari duduknya seraya merapikan barang-barangnya juga Alice ke dalam tas.
"Gue nginep di rumah kalian ya? Di rumah cuma ada pembantu." Ucap Alexa meminta.
"Orang tua lo belum balik juga dari Belanda?" Tanya Audrey.
"Belum. Gak pengen balik kayaknya mereka. Lupa kalo disini juga ada anaknya yang perlu di perhatiin dan di urus." Keluh Alexa dengan nada penuh kekecewaan.
"Huss! Alexa Khaizuran. Gak boleh ngomong kayak gitu. Mereka di sana kan kerja, bukan buang-buang waktu gak jelas. Buat lo juga." Nasehat Aline tak suka.
"Iya tau. Tapi kadang gue kesel aja karena mereka lebih keseringan pergi daripada di rumah."
"Gak papa.... Nikmatin aja. Lo kan masih punya kita yang selalu ada buat lo." Ucap Alice memberi ketenangan seraya merangkul bahu Alexa dan tersenyum.
"Ya udah yuk, cus pulang." Ajak Audrey setelah memastikan tak ada satupun barang-barang mereka yang tertinggal.
Berbeda dengan Audrey dan Si kembar yang menggunakan mobil, Alexa justru lebih suka menggunakan motor untuk pergi kemana-mana.
Menyalakan motornya, Alexa lebih dulu meninggalkan tempat itu baru di susul mobil Alice dan Audrey.
***
Perjalanan antara rumah Audrey dengan rumah mereka membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Belum lagi, kalo macet, akan semakin lama.
"Tadi gimana ngerjain tugasnya?" Tanya Luca membuka obrolan di tengah keheningan.
"Kayak biasanya. Gak ada yang spesial."
"Selain lo sama Audrey, mereka bertiga juga ikut ngerjain tugas atau gimana?"
"Ngerjain tugas juga."
"Udah makan malem belum?" Menghentikan mobilnya karena lampu merah, Luca menatap Aurora.
"Belum. Tadi gak sempet."
"Mau makan apa?"
"Gak tau. Terserah lo aja."
"Yakin terserah gue? Nanti lo kecewa karena gak sesuai ekspektasi?"
"Selalunya lo terus kan yang nurutin gue? Jadi mulai sekarang giliran lo, kita ganti-gantian. Gue juga pengen tau lebih banyak tentang lo. Gak cuma lo doang yang tau semua tentang gue tapi gue gak tau apa-apa tentang lo."
Kaget mendengar Aurora yang tiba-tiba ingin mengenalnya lebih dalam membuat Luca seketika tercengang. Beruntung, bunyi klakson dari arah belakang menyadarkan.
"Ohh.... Oke." Ucap Luca masih dengan kebingungannya seraya melajukan mobilnya kembar karena lampu sudah berubah hijau.
***
Menghentikan mobilnya di bahu jalan, Aurora di buat bingung karena itu bukan cafe atau restoran. Melainkan warung angkringan di pinggir jalan.
"Luca?" Panggil Aurora menatap Luca penuh keraguan. Apa benar mereka akan makan malam di tempat itu?"
"Hm?" Gumam Luca seraya melepas sabuk pengaman.
"Lo yakin kita makan malem disini?"
"Iya."
Terlihat masih belum percaya jika Luca membawanya ke tempat seperti itu, Aurora pun melepas seatbeltnya untuk menyusul Luca yang sudah lebih dulu turun.
Baru akan memgang handle, pintu mobil sudah lebih dulu di buka Luca.
"Kenapa? Lo.... Gak suka sama tempatnya karena~" Tanya Luca saat melihat ekspresi sang istri yang tak biasa seraya mengulurkan tangannya membantu Aurora untuk turun dari mobil.
"Bukan.... Gue suka kok sama tempatnya. Walaupun di pinggir jalan, tempatnya tetap rapi dan bersih." Cepat-cepat memotong ucapan Luca, Aurora tak ingin ada salah paham diantara mereka. Lagipula, dia juga jujur apa adanya. Walupun hanya di lihat dari luar, tapi warung angkringan itu memang terlihat bersih dan rapi.
Dia memang sama sekali tak masalah mau makan di tempat manapun, asalkan bersih dan rapih. Yang menjadikannya dari tadi tak berhenti terkejut dan bingung adalah karena Aurora pikir Luca tak akan pernah mau datang ke tempat pinggir jalan seperti ini.
Masuk ke dalam sana, Aurora terpaku dengan makanan yang di sajikan di atas gerobak angkringan. Sementara Luca, menghampiri penjual yang ada di bagian samping belakang mengambil piring sekaligus memesan minuman.
"Lo mau makan apa? Ambil aja sesuka lo." Ucap Luca seeaya menyerahkan piring plastik di tangannya.
"Lo.... Udah biasa ke sini?" Melihat beragam menu yang di sajikan membuat Aurora bingung ingin memilih yang mana.
Ini kali pertamanya dia makan di warung angkringan, jadi dia tak tahu harus mencoba yang mana lebih dulu. Sedangkan Luca justru terlihat enjoy dan mengambil apapun yang dia suka hingga 2 piring miliknya terissi penuh. Mungkin karena dia sudah terbiasa.
"Dulu jaman SMA sering. Ini tempat tongkrongan gue bareng anak-anak kalo lagi gak ngumpul di basecamp. Sampe sekarang pun masih sering ke sini kalo kita lagi ada waktu luang." Menyerahkan capitan yang baru saja dia gunakan, Luca secara tidak langsung meminta Aurora untuk mengambil makanan pilihannya.
Tak tahu harus memilih yang mana, Aurora hanya mengambil sesuatu yang menurutnya enak dan dia suka. Seperti gorengan, sate ayam, sate telur puyuh, sosis dan satu bungkus nasi + kering tempe.
"Yakin cuma itu doang? Gak mau nambah lagi?" Tanya Luca bingung karena menurutnya itu terlalu sedikit. Apa nanti istrinya itu akan kenyang?
"Ini aja. Nanti kalo kurang bisa ambil lagi."
"Lo suka keong gak? Di sini itu yang paling enak sate keongnya."
"Boleh. Satu aja tapi." Mengambil sate keong yang dia maksud, Luca meletakkannya di piring Aurora.
"Kenapa masih bingung gitu mukanya?" Tanya Luca lagi seraya mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman.
Salah satu tempat duduk lesehan tak jauh dari mereka berdiri menjadi pilihan.
"Gue gak nyangka aja kalian bisa semerakyat itu. Gue pikir....."
"Kayak anak-anak muda di luar sana yang sukanya tawuran, keluyuran gak jelas, terus buang-buang duit orang tua buat ngelakuin hal-hal yang gak berguna, gitu maksud lo?" Walau mengatakannya dengan nada santai juga diiringi senyuman, membuat Aurora seketika terdiam karena rasa bersalah telah salah pikiran.
"Lo pasti tau dong rumus fisika gaya berbanding lurus sama tekanan? Kalo hidup lo banyak tekanan, itu artinya lo kebanyakan gaya. Hidup itu perbanyak usaha bukan kebanyakan gaya. Lagian, buat apa kita mentingin gaya kalo yang ngebadain cuma penilaian dan pandangan orang lain tentang kita. Bukan sesuatu dari dalam diri kita yang seharusnya bisa mereka lihat tanpa menggunakan mata. Misal, dengan attitude kita yang baik sama semua orang, ngebantu orang lain yang sedang membutuhkan, atau apapun itu." Ucap Luca lagi menambahkan. Walau terdengar serius tapi Luca mengatakannya dengan santai diiringi candaan.
Keduanya belum menyantap makan mereka karena minuman yang tadi Luca pesan belum datang.
"Silahkan mas." Ucap sang pemilik warung seraya meletakkan dua gelas minuman di meja Luca. Secangkir kopi hitam dan segelas es teh.
"Makasih mas." Ucap Aurora mengangguk dan tersenyum ramah.
"Es teh. Minuman kesukaan lo." Ucap Luca menyodorkan segelas es teh di depan Aurora yang terlihat begitu menyegarkan.
"Thank you Luca." Ucap Aurora dengan senyuman.
"Your welcome." Bals Luca juga dengan senyuman. Setelahnya, dia mulai membuka bungkusan nasi di piringnya lalu mulai memakannya. Begitupun dengan Aurora.
"Bukannya lo sendiri juga kayak gitu ya Ra?" Tanya Luca tiba-tiba di tengah-tengah sesi makan mereka.
"Huh?" Kaget Aurora bingung. Dia tak mengerti apa maksud dari pertanyaan Luca waktu itu.
"Aline banyak cerita tentang lo pas kita pergi ke pasar malam dulu. Lebih tepatnya gue yang nanya sih. Dari banyaknya hal yang gue tau, ada satu kesimpulan yang gue tangkep dari diri lo."
"Apa?"
"Lo itu bukan cewek yang neko-neko. Keliatan cuek tapi sebenarnya peduli. Kalo di depan umum sok cool dan mandiri. Tapi sebenarnya juga punya sifat manja kalo ketemu orang yang pas di waktu yang tepat. Kayak lo sama temen-temen lo. Lo jadi diri lo sendiri kalo lagi bareng mereka dan gue suka itu."
Lagi dan lagi Aurora hanya bisa tersenyum karena untuk kesekian kalinya Luca bisa memahami dirinya dengan sangat baik.
"Gimana? Enak kan?" Tanya Luca meminta penilaian. Melihat Aurora yang menikmati makanannya membuat Luca cukup percaya diri jika keputusannya membawa Aurora ke warung angkringan tidaklah salah.
"Enak. Gak mengecewakan. Recommended lah..." Balas Aurora seraya mengambil sate telor puyuh yang ada di piring Luca lalu memakannya.
"Berarti bisa ya kalo sesekali gue ajakin lo ke sini?"
Tak mengucapkan apa-apa, Aurora hanya tersenyum dan amenganggukkan kepala seraya tetap melanjutkan makannya.