Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Setelah pesta usai
Pintu kamar luxury suite itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci seluruh kebisingan pesta di luar sana. Kamar itu kini hanya menyisakan keheningan yang dibalut aroma mawar dan lilin aromaterapi. Zora masih berdiri mematung di dekat ranjang, sementara Dimas sibuk melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya sedikit digulung.
Zora menunduk, meremas jemarinya yang dingin. "Mas..."
Dimas menghentikan gerakannya, menatap sang istri dengan tatapan yang selalu tenang. "Ya, Sayang?"
"Maafkan aku," suara Zora bergetar. Ia memberanikan diri melangkah mendekat, menatap mata suaminya yang lelah namun teduh. "Maaf karena pikiranku begitu pendek. Maaf karena sempat meragukanmu, bahkan... aku tega membuatmu tidur di luar malam itu. Aku benar-benar istri yang buruk."
Dimas terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Zora bisa merasakan hangat tubuhnya. Kedua tangannya terangkat, membingkai wajah Zora dengan lembut.
"Aku juga minta maaf,sayang," bisik Dimas lembut. "Aku terlalu egois dengan kejutan ini. Aku hanya ingin semuanya sempurna, ingin melihat wajah bahagiamu saat melihat keluarga kita berkumpul. Aku tidak menyangka kerahasiaanku justru melukaimu."
Zora menggeleng pelan, air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh satu per satu. "Tidak, Mas. Kamu melakukannya demi aku."
"Sudah, jangan menangis lagi," ibu jari Dimas menghapus jejak air mata di pipi Zora. "Malam ini milik kita."
Dimas merunduk, menyatukan kening mereka. Napas keduanya beradu dalam ritme yang sama. Perlahan, kecupan lembut mendarat di puncak kepala Zora, turun ke mata, dan akhirnya menyapa bibirnya dengan penuh perasaan,sebuah ciuman yang menjadi segel dari segala permohonan maaf.
Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya warm white dari sudut ruangan yang melukis bayangan mereka di dinding. Dimas masih menatap Zora dengan intensitas yang seolah bisa menembus jantungnya. Tangan pria itu perlahan beralih dari pipi Zora, turun ke belakang leher, lalu jemarinya dengan cekatan mulai melepas satu per satu kancing atau pengait yang masih tersisa dari busana pengantin yang membebani tubuh istrinya.
"Mas..." bisik Zora, suaranya nyaris hilang saat merasakan deru napas Dimas di ceruk lehernya.
"Biarkan aku mencintaimu dengan benar malam ini, Zora. Tanpa jarak, tanpa keraguan," sahut Dimas parau.
Sentuhan Dimas terasa seperti aliran listrik yang lembut namun membakar. Saat kain sutra itu meluruh ke lantai, Zora merasa dunia di luar sana benar-benar lenyap. Hanya ada detak jantung suaminya yang berpacu liar di bawah telapak tangannya. Dimas mengangkat tubuh Zora dengan perlahan, memindahkannya ke atas ranjang yang luas dan empuk, seolah ia sedang memindahkan harta paling berharga di dunia.
Di bawah selimut yang dingin, tubuh mereka bertemu dalam kehangatan yang kontras. Dimas tidak terburu-buru; ia mengecup setiap inci wajah Zora,kening, kelopak mata, hingga ujung hidungnya,sebagai tanda penghormatan sebelum benar-benar memilikinya.
Zora melingkarkan lengannya di leher Dimas, menarik pria itu lebih dekat, membiarkan segala rasa bersalah dan kesalahpahaman kemarin menguap, digantikan oleh gelombang kerinduan.
Zora merasakan tubuh Dimas sedikit menegang sebelum pria itu membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduknya meremang,bukan karena takut, melainkan karena besarnya cinta yang terasa hampir berbahaya.
"Kamu adalah obsesiku, Zora... sesuatu yang tidak bisa aku logikakan," bisik Dimas lirih, suaranya berat dan serak tepat di telinga Zora.
Tangan Dimas merengkuh pinggang Zora lebih erat, seolah tak membiarkan ada satu inci pun celah di antara mereka.
"Akhirnya aku bisa bernapas lega karena memilikimu seutuhnya, Jangan pernah pergi, Zora. Semoga kita selalu bersama... sampai maut benar-benar memisahkan kita."
Mendengar pengakuan yang begitu posesif namun tulus itu, Zora merasakan dadanya sesak oleh haru. Ia menarik kepala Dimas, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya. Itu adalah jawaban tanpa kata bahwa ia pun telah menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tangan pria itu.
**
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar restoran hotel, memantul pada peralatan makan yang tertata rapi. Di salah satu meja panjang, keluarga besar itu telah berkumpul. Suasananya begitu kontras namun hangat.
Zora duduk di samping Dimas, wajahnya tampak lebih segar dengan rona yang tak bisa ia sembunyikan. Namun, perhatiannya teralih pada Wa Apud dan Wa Minah yang tampak kebingungan menatap deretan hidangan di depan mereka.
"Neng, ini teh apa? Bentuknya lucu, tapi kok warnanya hijau begini? Apa tidak apa-apa dimakan?" bisik Wa Apud ragu sambil menunjuk sebuah avocado toast dengan poached egg di atasnya.
"Iya, Neng. Uwa mah biasanya sarapan nasi uduk atau gorengan di pasar. Ini mah piringnya besar sekali, tapi isinya cuma sedikit," tambah Wa Minah sambil terkekeh canggung, merasa tidak enak hati di tengah kemewahan itu.
Bu Lastri yang duduk di seberang mereka tersenyum tulus, tidak ada raut merendahkan sedikit pun di wajahnya. Dengan sabar, ia mengarahkan tangannya.
"Ini namanya Avocado Toast, Wa. Isinya alpukat dan telur setengah matang. Sangat sehat untuk jantung," jelas Bu Lastri lembut. "Lalu yang itu Croissant, roti Prancis yang sangat renyah. Cobalah, jangan sungkan. Di sini, semuanya keluarga sendiri."
Ketegangan di wajah kedua orang tua itu mencair. Suasana sarapan pun berubah menjadi penuh kekeluargaan, diiringi tawa kecil saat Wa Apud mencoba memotong roti dengan pisau yang menurutnya terlalu banyak jenisnya.
Namun, di tengah kehangatan itu, tatapan Bu Lastri perlahan beralih pada putra tunggalnya. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan, sebuah gestur yang menandakan pembicaraan serius akan dimulai.
"Dimas," panggil Bu Lastri. Suaranya tenang, namun memiliki wibawa yang tak terbantahkan.
Dimas mendongak, menghentikan aktivitas makannya. "Iya, bu?"
"Pernikahanmu sudah resmi. Urusan keluarga baik di Garut dan Malang sudah beres dengan cara yang baik," Bu Lastri menjeda sejenak, melirik Zora yang juga mulai menyimak. "Ibu rasa, sudah saatnya kamu kembali fokus sepenuhnya pada perusahaan. Ada banyak posisi dan keputusan besar yang tertunda selama ini.Ibu ngin kamu membuktikan bahwa setelah menikah, kamu bisa jauh lebih bertanggung jawab memimpin perusahaan kita."
Meja yang tadinya riuh dengan tawa Wa Apud, seketika hening. Zora merasakan genggaman tangan Dimas di bawah meja mengerat. Sebuah tantangan baru baru saja diletakkan di atas meja, tepat di samping sarapan mewah mereka.
Keheningan di meja makan itu terasa begitu padat. Wa Apud dan Wa Minah yang tadinya sibuk mengunyah, kini perlahan meletakkan sendok mereka, sadar bahwa pembicaraan ini serius.
Dimas meletakkan serbet kainnya di atas meja dengan gerakan yang sangat tenang,tipikal seorang pria yang memegang kendali penuh atas emosinya. Ia menatap sang ibu tanpa ragu, lalu beralih sejenak melirik Zora. Genggaman tangannya pada jemari Zora di bawah meja tidak terlepas, justru semakin mengunci.
"Aku mengerti, Bu " suara Dimas terdengar rendah namun bergema tegas di ruangan itu. "Aku tahu tanggung jawab yang menungguku di kantor pusat."
Dimas menjeda, menarik napas panjang sambil menegakkan punggungnya.
"Berikan aku waktu satu minggu untuk menyelesaikan urusan pribadi. Setelah itu, aku akan kembali ke kursi pimpinan."
Bu Lastri tersenyum puas, sebuah senyum kemenangan seorang ibu yang tahu putranya telah "kembali".
"Bagus.Ibu senang mendengarnya, Dimas.Ibu yakin kamu dan Zora bisa melakukan ini dengan baik." balas Bu Lastri sambil menyesap tehnya dengan anggun.
Zora merasakan debaran jantungnya tidak karuan. Ia senang melihat sisi hebat suaminya, namun ada rasa cemas yang menyelusup. Dunia Dimas yang sebenarnya baru saja terbuka dan ia harus bersiap dengan segala sesuatunya.
Dimas menoleh ke arah Zora, memberikan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Kamu siap untuk mendampingiku kan sayang?"
Bersambung...
zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan
thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,
buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,
adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
g bljr dr msalt kemarin
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
ternyata paksu Dimas 😍
y Dimas persiapan 👍