NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepepet Aib Sosial

Sulastri kecil berlari menghampiri Kinar, ibunya. Dengan wajah mungil yang memerah padam, bocah itu meniru gaya ibunya saat sedang tegas: kedua tangan mungil bertolak pinggang, dagu diangkat menantang.

"Tante Jahat! Jangan mimpi mau bully Budhe Mira! Rumah Mbah Kung nggak nerima tamu kayak Tante. Pergi sana!"

Sulastri mungkin belum paham rumitnya intrik orang dewasa, tapi hatinya sebening embun. Dia tahu Budhe Mira sedang butuh perlindungan.

Dan saat amarah murni anak itu meletup, alam di sekitarnya merespons tanpa suara. Tanaman di pot teras yang tadinya segar, mendadak menggulung daunnya seolah ikut merasa terancam.

Angin di pekarangan rumah Pak Kosasih yang asri tiba-tiba berhenti berhembus, menciptakan keheningan ganjil yang luput dari perhatian orang dewasa.

Siska, si tamu tak diundang itu, terperangah sejenak. Namun, wanita muda yang terbiasa hidup manipulatif itu segera memutar bola mata.

Ia menatap Mira dengan sorot mata meremehkan, lalu merengek dengan nada dibuat-buat.

"Mbak Mira, aku tahu Mbak nggak suka sama aku. Tapi perlu banget ya ngehasut Mbak Kinar buat jelek-jelekin aku?"

"Sampai ngajarin anak kecil ngusir tamu segala?" Siska mendesis, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar tetangga.

"Si Lastri ini masih bau kencur, mana ngerti dia urusan ginian kalau bukan ibunya atau tantenya yang nyuruh?"

Siska melirik sinis ke arah keluarga besar yang berkumpul di teras. Dalam hatinya, ia mencemooh Mira.

Dasar wanita mandul yang sok suci, batinnya. Dulu dia penakut, kok sekarang berani ngelawan? Pasti gara-gara si Kinar janda kaya ini pulang kampung.

"Siska, tutup mulutmu!" Mira yang biasanya selembut kapas kini meledak. Wajahnya merah padam, napasnya memburu.

Kesabarannya habis. "Kamu maksa aku buat bongkar niat busukmu di sini? Kamu mau pergi sendiri, atau aku teriak pakai toa masjid biar satu desa tahu kelakuanmu?!"

Kepala Mira pening bukan main. Siska memfitnahnya semudah membalikkan telapak tangan, playing victim seolah dialah korban kedzaliman keluarga Hidayat.

"Mira, sabar, Mir... Istighfar," Kang Jaka Hidayat yang baru muncul dari samping rumah tergopoh-gopoh mendekat.

Ia bingung melihat istrinya gemetar menahan amarah. "Jangan emosi, nanti kamu sakit."

Melihat Jaka datang, Siska langsung mengubah mode. Wajah judesnya berganti sendu, matanya berkaca-kaca persis adegan sinetron azab.

Tubuhnya dilenggokkan sedikit, mencoba memamerkan lekuk tubuhnya yang lebih sintal dibanding Mira.

"Mas Jaka... Liat tuh Mbak Mira," rengeknya manja, mencoba meraih lengan Jaka.

Kang Jaka mengernyit jijik, reflek mundur selangkah. "Siska, tolong jaga sopan santun. Rumah kami sedang tidak menerima tamu. Silakan pulang."

Siska menghentakkan kakinya ke ubin teras. "Mas Jaka! Kok tega sih?!"

Ia menoleh ke arah Mak Sari dan Abah Kosasih yang duduk diam di lincak bambu. "Bude Sari, Pakde Kosasih... Liat tuh, Mbak Mira nggak punya tata krama."

"Masak tamu diusir? Kalau orang kampung tahu, mau ditaruh di mana muka keluarga Hidayat?"

Mak Sari yang sedari tadi menahan diri sambil mengipasi wajahnya dengan kipas anyaman bambu, akhirnya meletup.

Pletak! Kipas anyamannya memukul tiang kayu dengan keras.

"Heh, Siska! Kamu itu punya muka berapa lapis sih? Datang tak diundang, malah ngatur-ngatur rumah orang!"

Suara Mak Sari tajam, khas ibu-ibu desa yang kenyang makan asam garam kehidupan. "Bude tadinya mau diem, tapi mulutmu itu minta disambelin!"

"Gadis kok gatelnya minta ampun. Kalau ibu-ibu arisan tahu kelakuanmu, nggak bakal ada laki-laki yang mau ngelamar kamu! Bisa jadi perawan tua kamu, paham?!"

Wajah Siska memucat, lalu memerah karena malu dan marah. "Bude... kok ngomongnya kasar... Ini pasti gara-gara hasutan Mbak Mira!"

Mira tertawa sinis. Air matanya sudah kering, digantikan oleh keberanian yang membara. "Kamu nggak mau pergi? Oke."

"Biar aku kasih tahu semua orang kalau kamu ke sini nawarin diri jadi istri muda Mas Jaka! Kamu bilang mau nolong aku? Nolong apanya!"

"Kamu cuma mau ngerebut lakiku!"

Siska panik karena kartunya dibuka. Ia langsung menyambar, "Siapa bilang aku mau ngerebut?! Kita bakal berbagi, Mbak! Poligami itu halal!"

"Mbak Mira kan mandul, nggak bisa kasih Mas Jaka anak. Apa salahnya aku bantu?!"

Siska kemudian beralih menatap Jaka dengan tatapan memuja yang membuat perut Jaka mual. "Mas Jaka, buat apa pertahanin istri mandul kayak gini?"

"Nikah sama aku, Mas. Tahun depan aku jamin Mas Jaka udah gendong bayi! Aku subur, Mas!"

Hening.

Suasana di teras rumah itu mencekam. Angin benar-benar mati.

Wajah Kang Jaka memerah padam menahan murka. "Siska!" bentaknya keras.

"Urusanmu apa?! Dengar ya, biarpun seluruh perempuan di dunia ini mati dan tinggal kamu satu-satunya, aku nggak akan sudi ngelirik kamu!"

"Sinting! Pergi dari rumahku sekarang! Amit-amit aku harus punya istri modelan kamu!"

Kata-kata Jaka bagaikan tamparan telak. Siska ternganga, tak percaya pesonanya ditolak mentah-mentah di depan banyak orang.

Tanpa membuang waktu, Mira mendorong tubuh Siska keluar dari halaman, lalu membanting pintu pagar dengan keras. Brak!

Kang Jaka segera merangkul bahu istrinya yang terguncang hebat. "Mir, sudah... Mir, sudah. Jangan didengerin omongan orang gila itu."

"Masalah anak itu urusan Gusti Allah. Aku nggak ada niat nikah lagi. Cuma kamu istriku."

Mira menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, menangis tanpa suara. Lega, sakit, dan haru bercampur jadi satu.

Ketakutan terbesarnya tidak terjadi. Suaminya setia.

"Ayo makan dulu," suara bariton Abah Kosasih memecah ketegangan.

Kinar menarik tangan ibunya ke dapur untuk menyiapkan makan, meninggalkan Mira dan Jaka sejenak untuk menenangkan diri.

Sulastri kecil berjalan mendekati Mira yang masih sesenggukan. "Budhe..." panggilnya lirih.

Tangan mungil Sulastri menggenggam jari-jari Mira yang dingin. Dan di situlah keajaiban kecil terjadi.

Di titik sentuhan itu, Mira merasakan aliran hangat yang aneh namun menenangkan, seolah beban ribuan kilo di dadanya diangkat perlahan.

Tanpa ada yang tahu, energi kehidupan murni dari Sulastri merambat halus. Vas bunga sedap malam di meja teras yang sudah layu sejak pagi karena panas, perlahan menegakkan kelopaknya kembali.

Warnanya menjadi putih segar, dan harumnya merebak tipis, menyapu sisa-sisa energi negatif yang ditinggalkan Siska.

"Budhe, senyum dong," pinta Sulastri.

Mira menatap keponakannya. Mata anak itu... terlalu dalam, terlalu tua untuk usianya.

Mira tersenyum, kali ini tulus. "Makasih ya, Lastri sayang."

Sementara itu, Siska berjalan pulang membelah jalanan desa dengan hati dongkol setengah mati.

Matahari siang bolong terasa membakar kulitnya, seolah alam semesta pun sedang memusuhinya.

"Sialan! Awas aja si Mira! Liat aja nanti!" umpatnya sepanjang jalan.

Ia tidak habis pikir. Ia lebih muda, kulitnya lebih kencang, badannya lebih berisi. Kenapa Jaka bisa buta begitu?

Kegagalannya menaklukkan Jaka membuat egonya terluka parah.

Sesampainya di rumah sederhananya yang agak berantakan, Siska langsung meneguk air dari teko plastik di dapur dengan rakus.

"Lho, Nduk? Kok udah pulang? Diantar Jaka?" tanya ibunya, Bu Lik Rini, yang muncul dari pintu belakang.

Siska membanting gelas plastik ke meja. "Boro-boro diantar! Orang sekeluarga itu sakit jiwa semua, Bu!"

"Aku diusir kayak kucing kurap! Apalagi si Mira, wah... dia itu sekarang ngelunjak, Bu! Mentang-mentang ada si Kinar!"

Siska menumpahkan segala kekesalannya, menceritakan kejadian di rumah Pak Kosasih dengan bumbu-bumbu fitnah yang memojokkan Mira.

Bu Lik Rini mendengarkan dengan dahi berkerut. "Kurang ajar! Kalau bukan karena aku dulu yang bantu bapaknya pas susah, si Mira itu nggak bakal jadi orang!"

"Sekarang udah enak dikit, malah sombong!"

Siska terduduk lemas di kursi kayu reyot. Wajahnya berubah sendu, tangannya gemetar mengelus perutnya yang masih rata.

"Bu... kalau keluarga Hidayat nolak, terus nasibku gimana?" Suaranya bergetar menahan tangis ketakutan.

"Perutku ini nggak bisa disuruh nunggu. Bulan depan pasti udah mulai kelihatan buncit."

Siska hamil. Bapaknya entah siapa, hasil hubungan one night stand dengan seorang lelaki perlente di kelab malam kota kabupaten sebulan lalu.

Lelaki itu menghilang bak ditelan bumi, memblokir semua kontaknya. Siska butuh "Bapak" untuk janin ini segera, dan Jaka adalah target paling masuk akal, Keluarga Kosasih sekarang punya duit banyak, kerabat dekat, dan istrinya belum punya anak.

"Sabar, Nduk. Biar Ibu mikir dulu. Harus ada cara biar si Jaka itu mau tanggung jawab, atau seenggaknya keluarga mereka nggak bisa lepas tangan," gumam Rini sambil mondar-mandir.

"Bu, cepetan dong mikirnya," desak Siska panik. "Kalau ketahuan orang kampung aku hamil di luar nikah, kita bakal diusir!"

Mata Bu Lik Rini tiba-tiba menyipit licik. Sebuah ide gila melintas di kepalanya.

"Ketemu!"

"Gimana, Bu?"

"Karena cara alus nggak mempan, kita pakai cara kotor. Kita nggak bisa maksa Jaka nikahin kamu baik-baik, jadi kita harus bikin dia 'terpaksa'," Rini tersenyum miring, senyum yang membuat bulu kuduk merinding.

"Gini rencananya. Ibu bakal kirim kabar ke sana, bilang kalau Ibu sakit keras, sekarat."

"Minta Jaka sama Mira datang jenguk, nginep di sini barang semalam buat nemenin 'bibinya yang mau mati' ini."

Siska mendengarkan dengan seksama, matanya mulai berbinar jahat.

"Nah, pas mereka di sini, kita bikin si Jaka mabuk atau kita kasih obat tidur di kopinya. Terus, kita masukin dia ke kamarmu."

"Kamu acak-acak baju kamu, teriak-teriak pas pagi buta 'Mas Jaka jahat!'. Biar tetangga pada datang."

"Kalau udah kepergok sekamar, dia mau ngelak apa? Mau nggak mau, dia harus nikahin kamu buat nutup aib."

Rencana yang jahat dan nekat. Tapi bagi mereka yang sudah kepepet aib sosial, ini adalah satu-satunya sekoci penyelamat.

"Tapi Bu... nanti namaku jadi jelek dong..." Siska ragu sesaat.

"Heh, otak udang!" Rini menoyor kepala anaknya. "Kamu pilih mana? Nama jelek sedikit tapi punya suami juragan sawah dan anakmu punya bapak sah, atau jadi perawan tua yang punya anak haram dan diludahi orang sekampung?"

Siska terdiam. Ibunya benar. Ia tak tahu kemana mencari lelaki kota itu. Jaka adalah solusi terbaik.

Akhirnya Siska mengangguk, sebuah senyum licik mulai terbit di bibirnya. "Iya, Bu. Aku nurut. Lagian Mas Jaka itu ganteng, duitnya pasti banyak sekarang. Cocok lah sama aku."

"Ya udah, sana istirahat. Jaga kandunganmu. Biar Ibu yang atur drama sakit-sakitan ini."

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!