NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Shadow Golem itu melangkah maju, setiap pijakannya menciptakan retakan kegelapan di tanah Lembah Bisikan. Hawa dingin yang mematikan memancar dari tubuhnya, membuat napas kami berasap.

"Kazumi, monster ini terlalu besar!" seru Pippin panik.

"Jangan menyerah dulu!" balas Ren. Ia mengayunkan kuasnya dengan gerakan artistik yang cepat. "Aku akan menahan serangannya!"

Ren melukis sebuah dinding cahaya keemasan di udara yang seketika mengeras menjadi perisai raksasa.

BRAKK!

Golem itu menghantam perisai Ren dengan tinjunya yang sebesar rumah. Perisai itu retak, tapi memberi aku waktu. Aku menarik benih perakku, dan dalam sekejap, Pedang Bunga Perak kembali berada di genggamanku, bersinar lebih terang dari sebelumnya.

"Kazumi, gunakan kekuatanku!" Pippin terbang ke arahku. Tubuh kecilnya berpendar hebat sebelum akhirnya ia berubah menjadi butiran cahaya yang menempel di punggungku, membentuk sepasang sayap cahaya transparan yang indah.

Dengan sekali kepakan, tubuh mungilku melesat ke angkasa. Aku terbang tinggi, menghindari serangan Shadow Golem yang membabi buta. Dari atas, aku bisa melihat inti monster itu—sebuah kristal hitam yang berdenyut di tengah dadanya.

"Itu adalah ketakutanku, Kazumi..." suara Kaelen bergema, terdengar pedih. "Ketakutanku bahwa aku akan menjadi monster yang menyakitimu. Kau harus menghancurkannya, atau justru memeluknya."

Aku menatap inti kristal itu. Aku menyadari sesuatu; menyerangnya dengan kekerasan hanya akan membuatnya semakin besar, karena monster ini tercipta dari emosi. Aku mendarat perlahan tepat di depan dada monster itu, sementara Ren terus berjuang mempertahankan perisainya yang hampir hancur.

"Kazumi! Apa yang kau lakukan? Cepat serang!" teriak Ren.

Aku tidak mengayunkan pedangku. Sebaliknya, aku melepaskan senjataku dan merentangkan tangan, membiarkan sayap cahayaku meredup. Aku menyentuh permukaan dada Shadow Golem yang dingin dan kasar.

"Kaelen, aku tidak takut padamu," bisikku, suaraku tenang meski air mata mengalir. "Kau bukan monster. Kau adalah orang yang menciumku di gua, orang yang melindungiku dari api. Aku menerima segala bagian darimu, termasuk ketakutanmu."

Cahaya biru dari jantungku mengalir masuk ke dalam tubuh Golem itu. Seketika, raungan monster itu berubah menjadi desahan lega. Tubuh raksasa yang mengerikan itu mulai mencair, bukan menjadi air, melainkan menjadi ribuan kelopak bunga Han biru yang berterbangan tertiup angin.

Bayangan monster itu menghilang, menyisakan kami di ujung lembah yang kini terang benderang. Pippin kembali ke wujud aslinya, tampak sangat lelah, sementara Ren jatuh terduduk karena kehabisan energi lukisnya.

Di depan kami, berdiri sebuah menara hitam yang puncaknya menembus awan merah darah. Menara Sunyi.

"Kau berhasil, Kazumi..." bisikan Kaelen terdengar sangat lemah, seperti napas yang hampir habis. "Tapi ayahku... dia sudah menunggumu di gerbang menara. Dia memegang kunci hidupku."

Aku menoleh ke arah teman-teman baruku. "Kita sudah sampai. Tapi ini akan menjadi bagian yang paling sulit."

Ren berdiri, menggunakan kuasnya sebagai tongkat penyangga. "Aku tidak akan membiarkan lukisan ini berakhir tragis, Kazumi. Ayo kita selesaikan."

Saat kami melangkah menuju gerbang menara, pintu besarnya terbuka perlahan, mengeluarkan aura kematian yang begitu pekat. Raja Dunia Seberang berdiri di sana, tidak lagi dengan jubahnya, melainkan dengan baju zirah hitam yang haus darah. Di tangannya, ia memegang sebuah rantai cahaya biru yang terhubung langsung ke jantung Kaelen yang tak terlihat.

"Selamat datang di pemakamanmu, Penjaga Kecil," ucap Sang Raja dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!