Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan Sang Mantan
Di sebuah ruang bawah tanah yang lembap dan berbau lumut di pinggiran kota, cahaya bohlam tunggal berayun-ayun, menciptakan bayangan monster yang menari di dinding. Ale terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Tangannya terikat rantai besi ke sebuah tiang beton. Darah mengering di pelipisnya.
Suara langkah kaki yang menyeret terdengar dari kegelapan. Sebuah aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau apek dan keringat menyapa indranya.
"Bangun, Pahlawan Kecil..." suara itu melengking, merayap di kulit Ale seperti kecoa.
Rini Susilowati muncul dari bayang-bayang. Ia tidak lagi mengenakan kebaya emas. Ia mengenakan mantel hitam panjang yang lusuh, namun selendang sutra hitamnya tetap tersampir, berkibar pelan tertiup angin dari ventilasi udara. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya melotot dengan binar kegilaan yang kini mencapai titik didih.
Rini mendekat, lalu tiba-tiba ia menjambak rambut Ale dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk wanita seusianya. Ia menarik kepala Ale ke belakang hingga pemuda itu meringis menahan sakit.
"Mmph... Hmph... Hahahahahaha!"
Tawa Rini meledak tepat di wajah Ale. Ia tertawa hingga air liurnya memercik, tubuhnya berguncang hebat. Ia menarik rambut Ale lebih kencang, memaksa Ale menatap matanya yang memerah.
"Kau lihat, Ale? Kau adalah jantungnya. Kau adalah satu-satunya alasan mengapa keponakanku yang bodoh itu masih bisa berdiri tegak," desis Rini. Suaranya berubah menjadi bisikan yang mengerikan. "Tanpamu, Nirmala hanyalah seonggok daging yang menunggu untuk dicincang. Hari ini, aku tidak hanya akan menghancurkan perusahaannya. Aku akan menghancurkan jiwanya!"
Rini menyeka ingusnya dengan ujung selendang sutranya, lalu kembali tertawa histeris. Ia menari-nari di depan Ale yang tak berdaya. "Di atas sana, anjing-anjingku sedang bekerja. Saham Dizan akan menjadi sampah, dan Nirmala akan datang merangkak padaku, memohon nyawamu... dan saat itu, aku akan memenggal kalian berdua di depan makam Marwan! Hahahaha!"
****
Sementara itu, di gedung Dizan Holding, suasana berubah menjadi pengadilan massa yang dingin. Nirmala melangkah masuk ke ruang rapat utama, namun ia disambut oleh layar besar yang menampilkan grafik saham DIZN. Garis itu tidak lagi turun; garis itu jatuh vertikal. Merah pekat. Titik terendah dalam sejarah perusahaan.
"Selamat pagi, Direktur yang Tak Berdaya," sindir Tuan Prabono. Ia duduk dengan kaki menyilang, memegang secangkir kopi seolah sedang menikmati pertunjukan komedi.
"Lihat ini, Nirmala!" Prabono menunjuk ke arah layar. "Berita tentang penculikan orang dekatmu sudah mulai tercium pasar. Investor panik. Kami, para direksi, telah sepakat untuk melepas sebagian besar saham pribadi kami pagi ini. Dan tebak apa? Para pemegang saham publik mengikuti jejak kami."
"Kalian sengaja melakukannya!" teriak Nirmala, air mata amarah mulai menggenang. "Kalian menghancurkan perusahaan ini dari dalam!"
"Kami menyelamatkan aset kami dari kapten kapal yang sedang tenggelam," sahut direktur lain dengan tawa meremehkan. "Nirmala, dalam dua jam lagi, perusahaan ini akan dinyatakan pailit secara teknis jika harga saham tidak pulih. Dan kau... kau akan dikenang sebagai Dizan terakhir yang menghancurkan warisan ayahnya sendiri."
Nirmala mematung. Ia merasa seolah-olah lantai yang ia pijak runtuh. Tekanan dari para direksi, hilangnya Ale, dan grafik merah yang menghantuinya membuat oksigen di paru-parunya seakan habis. Ia teringat Ale. Di mana kau, Ale? Aku tidak bisa melakukan ini tanpamu...
****
Kembali di ruang bawah tanah, Rini mengambil sebuah ponsel tua. Ia menekan nomor Nirmala, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga Ale yang berdarah.
"Dengar baik-baik, Ale. Berikan suara terbaikmu untuk wanita itu," bisik Rini dengan seringai iblis.
Panggilan tersambung. Di gedung Dizan Holding, ponsel Nirmala bergetar. Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Ale? Ale, kau di mana?!"
Rini tidak memberikan ponsel itu pada Ale. Ia justru mendekatkan mulutnya ke mikrofon dan tertawa. Tawa histeris yang paling mengerikan yang pernah didengar Nirmala.
"Hmph... Hahahaha! Halo, Keponakan tersayang! Apa kau menikmati grafik sahammu yang merah merona?" suara Rini melengking tajam. "Dengar, Nirmala... Jagoanmu ini sedang mencicipi dinginnya besi rantai. Jika kau ingin dia tetap bernapas sampai matahari terbenam, serahkan surat pengunduran dirimu dan berikan seluruh aset pribadimu padaku sekarang juga!"
"Bibi Rini! Jangan sentuh dia! Ambil semuanya, tapi lepaskan Ale!" jerit Nirmala di depan para direktur yang kini tersenyum puas.
Rini menjambak rambut Ale sekali lagi, memaksa Ale berteriak menahan sakit. "Hahahaha! Kau dengar itu, Nirmala? Itu adalah melodi kehancuranmu! Kau akan jatuh dengan hina, kehilangan perusahaan, kehilangan kekasih, dan akhirnya kehilangan nyawamu sendiri! Aku akan menunggumu di neraka yang kubangun ini!"
Rini mematikan telepon, lalu melemparkan ponsel itu hingga hancur berkeping-keping. Ia menyeka air mata bahagianya dengan tisu, menyeka ingusnya, dan kembali menari di kegelapan.
"Kemenangan! Kemenangan mutlak!" teriak Rini, suaranya parau oleh tawa gila.
Di gedung Dizan Holding, Nirmala jatuh terduduk di atas lantai marmer. Para direktur mulai melangkah keluar, meninggalkan sang pewaris dalam reruntuhan harga diri dan cinta yang sedang dipertaruhkan di ujung belati bibinya sendiri.
****
Lantai bursa saham Jakarta bergetar. Layar raksasa yang menampilkan kode DIZN masih memerah pekat, seperti luka menganga yang siap menelan seluruh warisan keluarga Dizan. Para pialang berteriak, panik menjual aset mereka seolah-olah gedung Dizan Holding sedang dirubuhkan oleh gempa bumi. Di ruang rapat, Tuan Prabono dan komplotannya sudah siap mengangkat gelas sampanye, merayakan kematian karir Nirmala yang tinggal menghitung menit.
Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah keajaiban finansial terjadi.
Sebuah pesanan beli (buy order) masuk dalam volume yang sangat masif. Tidak hanya sekali, tapi beruntun—jutaan lembar saham disapu bersih dari pasar dalam hitungan detik. Garis grafik yang tadinya jatuh vertikal tiba-tiba terhenti, melambat, dan perlahan-lahan mulai menanjak naik dengan sudut yang tajam.
"Apa yang terjadi?!" seru Tuan Prabono, wajah liciknya berubah pias saat melihat layar monitornya. "Siapa yang berani membeli sampah ini di titik terendah?!"
****
Di kantor pusat Suteja Group yang baru saja ia kuasai kembali, Januar Suteja duduk di depan barisan layar komputer. Matanya tajam, tidak ada lagi jejak kelemahan yang ia tunjukkan saat disekap dulu. Di sampingnya, tim pialang terbaiknya bekerja dalam senyap namun mematikan.
"Borong semuanya," perintah Januar, suaranya dingin dan mutlak. "Jangan biarkan satu lembar saham pun jatuh ke tangan komplotan Rini. Gunakan seluruh dana cadangan Suteja Group."
Asistennya ragu sejenak. "Tuan Suteja, ini sangat berisiko. Kita baru saja pulih. Jika harga saham Dizan tidak naik, kita akan ikut tenggelam."
Januar menoleh, kilat matanya mengingatkan pada masa kejayaannya. "Nirmala mengembalikan Suteja Group padaku tanpa syarat, di saat dia bisa saja menjadikannya anak perusahaan Dizan. Dia memberikan nyawa pada keluargaku. Hari ini, aku akan menjadi perisainya. Masukkan sepuluh juta dolar lagi. Sekarang!"
Di gedung Dizan Holding, Nirmala menatap layar TV dengan mulut ternganga. Air mata yang tadinya merupakan tanda duka, kini membeku dalam keterkejutan. "Januar..." bisiknya. Ia menyadari bahwa pria yang dulu ia putuskan pertunangannya itu sedang melakukan pengorbanan terbesar demi dirinya. Saham DIZN meroket hijau, menghancurkan rencana mosi tidak percaya para pengkhianat dalam satu serangan fajar yang tak terduga.