Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 32: Pamer Sang Arbiter
Pagi itu, Flower’s Patisserie tidak hanya dipenuhi oleh aroma ragi, tetapi juga oleh atmosfer yang anehnya terlalu... ceria. Caspian berdiri di balik meja dapur dengan celemek biru yang dipaksa pas di tubuhnya, tangannya bersedekap, dan senyum sombong tersungging di wajahnya.
Di depannya, seorang pelanggan tetap—seorang pria paruh baya yang biasanya selalu mengeluh tentang encok dan cuaca buruk—sedang mengunyah sepotong brioche buatan Caspian. Tiba-tiba, pria itu berdiri tegak, matanya berbinar, dan ia mulai menyanyikan lagu opera dengan suara bariton yang menggelegar sambil menari kecil menuju pintu keluar.
"Aku merasa seperti bisa mendaki gunung tanpa alas kaki!" seru pria itu sebelum melompat keluar pintu.
Reggiano, yang sedang menguleni adonan di meja sebelah, berhenti. Ia menatap pintu yang masih bergetar, lalu menatap Caspian dengan tatapan datar yang sangat tajam. "Caspian. Apa yang kau masukkan ke dalam adonan itu?"
Caspian tertawa, tawa yang terdengar sangat puas. Ia mengambil sebuah croissant keemasan dari loyang dan memutarnya di ujung jari seolah-olah itu adalah koin perak.
"Bukan bahan kimia, Herbert! Ini adalah murni keajaiban dimensi," Caspian berjalan mendekat, membusungkan dadanya dengan pamer. "Kau lihat tadi? Pak Tua itu biasanya datang dengan wajah seperti habis menelan cuka. Tapi setelah makan 'Roti Sukacita' buatanku? Dia merasa seperti baru saja memenangkan lotre antar-galaksi!"
Caspian menyandarkan sikunya di bahu Reggiano, sebuah tindakan yang biasanya akan dihadiahi sikut di rusuk, tapi kali ini Reggiano terlalu bingung untuk bereaksi.
"Dengar ya, Reggi," Caspian memulai celotehnya dengan nada menggurui. "Kau mungkin jago membuat roti yang mengenyangkan perut. Tapi aku? Aku membuat roti yang mengenyangkan jiwa! Berkat sisa-sisa otoritas Zadkiel yang kugunakan untuk 'menghangatkan' adonan, setiap roti sekarang memiliki jejak emosional. Aku menyebutnya 'Gastronomi Otoritas'. Keren, kan?"
Reggiano mengambil roti dari tangan Caspian, mencium aromanya, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati. "Kau bermain-main dengan emosi manusia, Caspian. Itu berbahaya."
"Oh, ayolah! Jangan jadi orang tua yang membosankan," Caspian melambai-lambaikan tangannya. "Lihat itu, Elena sedang makan muffin buatanku di sudut sana. Lihat ekspresinya!"
Mereka menoleh ke arah Elena. Gadis kecil itu baru saja menghabiskan satu suap muffin blueberry. Seketika, Elena berdiri di atas kursinya, mengenakan celemeknya sebagai jubah, dan memegang sendok kayu seolah-olah itu adalah pedang legendaris.
"Aku adalah Ksatria Mawar! Aku tidak takut pada monster kolong tempat tidur!" teriak Elena dengan keberanian yang mendadak meluap-luap.
Reggiano menghela napas panjang. "Dia baru saja makan 'Muffin Keberanian', bukan?"
"Seratus poin untuk Eksekutor!" Caspian bertepuk tangan. "Bayangkan potensinya, Reggi! Kita bisa menjual 'Roti Kedamaian' kepada pasangan yang sedang bertengkar, atau 'Baguette Kebijaksanaan' kepada politisi yang bodoh. Kita tidak hanya akan kaya, kita akan menguasai moralitas kota ini melalui karbohidrat!"
Seraphine masuk ke dapur, wajahnya tidak seceria Caspian. Ia melihat Elena yang masih berteriak-teriak tentang menaklukkan naga di ruang tengah.
"Caspian," suara Seraphine tenang namun mengandung peringatan. "Zadkiel menjaga timbangan dengan kaku karena dia tahu bahwa emosi yang dipaksakan selalu memiliki bayangan. Kau memberikan mereka kebahagiaan instan melalui frekuensi dimensi. Tapi apa yang terjadi ketika efeknya hilang?"
Caspian terdiam, senyum pamer di wajahnya sedikit memudar. "Yah... mereka mungkin akan merasa sedikit... datar?"
"Mereka akan merasa hampa," lanjut Seraphine. "Kau tidak hanya memanggang roti; kau sedang meminjamkan 'hukum perasaan' kepada mereka. Jika kau terus melakukan ini, orang-orang akan kecanduan pada rotimu bukan karena rasanya, tapi karena mereka tidak bisa lagi merasa bahagia tanpanya."
Reggiano menatap Caspian kembali. "Kau mendengar itu, Arbiter? Kau bukan sedang membuat roti, kau sedang membuat obat bius dimensi."
Caspian terdiam sejenak, menatap roti-roti indahnya yang berjejer di etalase. "Zadkiel tertawa lagi di dalam kepalaku," bisiknya pelan. "Dia bilang, manusia memang makhluk yang mudah dimanipulasi melalui keinginan terkecil mereka. Dia bilang aku mulai memahami bagaimana cara 'mengatur' sebuah kebun."
Caspian melepaskan celemeknya dengan kasar. Rasa pamer yang tadi meluap-luap kini berubah menjadi rasa dingin yang menusuk. "Aku... aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin membuat mereka merasa lebih baik."
Reggiano menepuk bahu Caspian, kali ini dengan genggaman yang memberikan kekuatan. "Latihannya belum selesai, Caspian. Kekuatan besar bukan untuk dipamerkan melalui trik murah, tapi untuk dijaga agar tidak merusak kesederhanaan hidup yang kita perjuangkan."
Caspian mengangguk pelan. Ia mengambil nampan berisi roti-roti "ajaib" itu. "Aku akan membuangnya. Atau memberikannya pada burung-burung dimensi di belakang."
"Jangan dibuang," ucap Reggiano sambil mengambil kembali satu roti. "Berikan padaku. Aku akan mempelajarinya bersamamu. Kita akan cari cara agar keajaibanmu hanya memberikan rasa lezat, bukan manipulasi jiwa. Kita mulai lagi dari awal, Caspian. Tanpa bantuan Zadkiel."
Caspian menatap sahabatnya, lalu tersenyum tipis. "Baiklah, kawan. Tapi kau yang cuci piringnya kali ini, ya? Menjadi Arbiter itu sangat menguras tenaga."
Reggiano mendengus. "Kembali ke dapur, Caspian. Masih ada seratus donat yang harus digoreng secara manual."
Caspian Menyadari Bahaya Kekuatannya.
Eksperimen "Roti Emosional" menjadi pelajaran berharga bahwa kekuatan dewa tidak bisa dicampuradukkan dengan kebutuhan manusia tanpa risiko besar. Namun, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Matahari baru saja naik di Distrik 7, namun suasana di dalam Flower’s Patisserie tidak lagi terasa seperti toko roti biasa. Di sudut-sudut ruangan, di antara sela-sela lantai kayu dan bingkai jendela, sulur-sulur hijau zamrud mulai merayap keluar. Mereka bukan tanaman biasa; daun-daunnya berpendar perak kebiruan, dan setiap kali angin berhembus, terdengar suara gemerisik yang terdengar seperti bisikan ribuan tahun yang lalu.
Seraphine berdiri di tengah ruangan, memegang kunci perak Malachai yang kini terhubung dengan akar raksasa yang menembus lantai dapur.
"Caspian, kemarilah," panggil Seraphine. Suaranya terdengar jernih di tengah suasana hutan yang mulai tumbuh di dalam ruangan. "Aku telah menemukan cara untuk menstabilkan 'racun' otoritas Zadkiel yang ada di dalam dirimu. Akar Yggdrasil ini akan bertindak sebagai penyaring. Setiap kali energimu meluap, akar-akar ini akan menyerapnya dan mengubahnya menjadi nutrisi kehidupan."
Caspian melangkah maju, menatap ngeri ke arah meja pajangan roti yang kini sudah ditumbuhi lumut bercahaya. "Nona Florence, aku menghargai niat baikmu untuk menyelamatkan kewarasanku, tapi... pelanggan kita akan mengira mereka sedang masuk ke dalam perut hutan Amazon, bukan toko roti."
Reggiano keluar dari dapur dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya. Ia membawa nampan roti, namun harus melangkah hati-hati menghindari akar besar yang melintang di depan oven. "Seraphine, ini sudah keterlaluan. Tepungku tertutup spora bercahaya, dan adonan roti gandumku tadi pagi tiba-tiba tumbuh menjadi tanaman merambat."
Seraphine mengabaikan keluhan Reggiano dan meletakkan tangan Caspian di atas akar utama yang berdenyut. "Rasakan itu, Caspian. Jangan ditahan. Lepaskan rasa panas yang diberikan Zadkiel padamu."
Caspian menutup matanya. Seketika, pendaran emas yang biasanya menyakitkan di dadanya mulai mengalir keluar, tersedot oleh akar tersebut. Namun, saat energi itu berpindah, seluruh toko roti bergetar. Pohon mawar di sudut ruangan tumbuh setinggi langit-langit dalam hitungan detik, bunganya mekar dengan aroma yang sangat kuat hingga membuat siapa pun yang menghirupnya merasa tenang sekaligus melayang.
"Wah... rasanya seperti beban berat di kepalaku menghilang," gumam Caspian, napasnya menjadi teratur.
"Zadkiel... dia berteriak, tapi suaranya diredam oleh suara hutan ini. Ini luar biasa."
"Harganya adalah ruang ini," sahut Seraphine. "Toko roti ini sekarang adalah bagian dari ekosistem Yggdrasil. Ini adalah satu-satunya cara agar kekuatanmu tidak menghancurkan dirimu sendiri atau merobek realitas Distrik 7. Kita harus belajar hidup di dalam hutan ini."
Reggiano menghela napas, ia memetik sekuntum mawar cahaya yang tumbuh di gagang pintunya. "Pelanggan akan berdatangan sebentar lagi. Apa yang akan kita katakan? Bahwa kita sedang mengadakan tema dekorasi alam yang sangat realistis?"
Tiba-tiba, Elena turun dari lantai atas dengan mata berbinar. Ia tidak takut; sebaliknya, ia berlari dan berayun di salah satu sulur kuat yang menggantung dari langit-langit. "Kak Reggi! Paman Caspian! Rumah kita jadi cantik sekali! Ada kunang-kunang yang bisa bicara di kamarku!"
Caspian tertawa, meskipun ia masih sedikit lemas. "Lihat itu, Reggi. Setidaknya adikmu menyukainya. Mungkin kita bisa mengganti nama toko ini menjadi 'The Jungle Bakery'."
Namun, di tengah keceriaan Elena, Seraphine menatap ke arah pintu depan yang masih tertutup. Akar-akar di lantai tiba-tiba bergetar, berubah warna menjadi merah peringatan.
"Seseorang sedang mendekat," bisik Seraphine. "Dan mereka bukan datang untuk membeli roti. Mereka merasakan frekuensi Yggdrasil yang murni ini. Penyaringan ini memang menyelamatkan Caspian, tapi ia juga menyalakan 'suar' yang sangat terang bagi mereka yang memburu kekuatan ini di dimensi luar."
Reggiano meletakkan nampannya dan meraih sabit emasnya yang tersembunyi di balik meja konter. Aura dingin kembali menyelimuti dirinya. "Baguslah. Aku butuh sesuatu untuk dipotong selain akar-akar ini."
Keadaan semakin rumit. Caspian selamat dari kehancuran mental, namun kini toko mereka menjadi pusat perhatian energi yang sangat besar.
......................
Di lantai atas Flower’s Patisserie, di dalam ruangan yang selalu tertutup itu, Seraphine sebenarnya tidak menyembunyikan rencana jahat. Justru sebaliknya, ruangan itu adalah sebuah "Sanctuary of Hope" (Tempat Suci Harapan).
Saat pintu itu terbuka, cahaya yang terpancar bukanlah kegelapan, melainkan cahaya matahari abadi yang hangat. Di tengah ruangan, Seraphine sedang berlutut di depan sebuah altar mawar yang terbuat dari doa-doa murni. Ia tidak sedang memanipulasi Reggiano atau Caspian; ia justru sedang memberikan seluruh energi hidupnya sendiri untuk menanggung "kutukan" yang seharusnya menimpa mereka.
Seraphine memegang sebuah liontin perak yang berisi foto kecil Reggiano, Elena, dan Caspian yang sedang tertawa bersama di depan toko. Ia tersenyum tulus, sebuah senyuman yang penuh kasih sayang ibu.
"Bertahanlah sedikit lagi, anak-anakku," bisik Seraphine lembut. Tangannya yang bercahaya mulai terlihat transparan, tapi bukan karena ia membusuk, melainkan karena ia memindahkan rasa sakit dari luka-luka dimensi Caspian ke dalam tubuhnya sendiri agar Caspian bisa tetap ceria.
Setiap kali Caspian pamer tentang kekuatan barunya, Seraphine-lah yang diam-diam menanggung beban berat dari otoritas Zadkiel agar Caspian tidak merasa sesak. Dan setiap kali Reggiano merasa lelah dengan takdir eksekutornya, Seraphine diam-diam mengirimkan mimpi-mimpi indah agar hati Reggiano tetap lembut.
Tiba-tiba, suara ketukan di pintu terdengar. Itu adalah suara Elena. "Nona Florence? Apakah Anda di dalam? Aku membawakanmu sekuntum mawar yang tumbuh di dapur tadi!"
Seraphine segera merapikan gaun cahayanya kembali menjadi celemek toko roti yang sederhana. Ia menghapus sisa-sisa kelelahannya dan membuka pintu dengan wajah yang berseri-seri.
"Masuklah, Elena sayang," sambut Seraphine dengan pelukan hangat. Ia menerima mawar itu seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga di seluruh jagat raya. "Mawar ini sangat cantik, sama sepertimu."
Di lantai bawah, Caspian dan Reggiano sedang berdebat kecil tentang siapa yang paling jago membuat adonan, tanpa menyadari bahwa wanita di lantai atas itu adalah "Malaikat Penjaga" yang sesungguhnya. Seraphine tidak butuh pengakuan; baginya, melihat Reggiano tidak lagi kesepian dan melihat Caspian memiliki rumah adalah hadiah terbesar.
Malam di Flower’s Patisserie kini bukan lagi malam yang sunyi. Suara gemerisik daun-daun perak yang tumbuh dari langit-langit menciptakan musik alami yang menenangkan. Cahaya dari spora-spora bercahaya melayang di udara seperti kunang-kunang yang tak pernah tidur.
Di tengah hutan mini yang tumbuh di dalam toko itu, Seraphine berdiri di depan sebuah pot besar berbahan keramik putih yang belum terisi apa pun. Di sampingnya, Reggiano berdiri dengan tangan yang masih sedikit kasar karena tepung, menatap kosong ke arah tanah hitam di dalam pot itu.
"Reggiano," panggil Seraphine dengan suara selembut angin malam. "Kau telah menghabiskan bertahun-tahun hidupmu sebagai pelindung. Kau berdiri sebagai perisai bagi Elena, dan kau menjadi pedang bagi musuh-musuhmu. Tapi, pernahkah kau berhenti sejenak untuk membiarkan dirimu dirawat oleh masa lalu?"
Reggiano mengalihkan pandangannya ke arah Seraphine. Matanya yang biasanya tajam dan waspada kini tampak sedikit lebih lelah. "Masa lalu bagiku adalah beban, Seraphine. Aku hanya ingin fokus pada masa depan Elena. Kenangan... seringkali hanya membuat pedangku terasa berat."
Seraphine tersenyum tulus, sebuah senyum yang bisa meluluhkan es yang paling keras sekalipun. Ia mengeluarkan sebuah kantung kain kecil berwarna emas. "Tidak semua kenangan adalah beban. Ada kenangan yang merupakan nutrisi bagi jiwa. Ibumu, Elena Senior, tidak pernah benar-benar meninggalkanmu tanpa sepatah kata pun. Ia menitipkan pesannya di dalam aliran nutrisi Yggdrasil, menunggu saat di mana putranya sudah cukup kuat untuk mendengarnya."
Seraphine menuangkan tiga butir benih yang berpendar ungu pucat ke telapak tangan Reggiano. "Ini adalah Mawar Kenangan. Mereka tidak tumbuh dengan air biasa. Mereka tumbuh dengan niat dan rasa rindu yang murni. Aku ingin kau menanamnya sekarang."
Reggiano menatap benih itu. "Bagaimana caranya? Aku tidak punya bakat untuk menanam. Aku hanya tahu cara memotong."
"Tanamlah dengan tanganmu yang biasanya digunakan untuk melindungi," bimbing Seraphine. "Sentuh tanahnya, dan biarkan energimu mengalir masuk. Jangan berikan amarahmu, jangan berikan rasa bersalahmu. Berikan saja rasa ingin tahumu sebagai seorang anak yang merindukan ibunya."
Reggiano berlutut di depan pot itu. Perlahan, ia memasukkan jari-jarinya ke dalam tanah hitam yang terasa hangat—tanah yang sudah diberkati oleh sihir positif Seraphine. Saat ia meletakkan benih itu, ia merasakan denyut kecil, seolah-olah tanah itu sedang bernapas.
"Bagus," bisik Seraphine, berdiri di belakangnya seperti seorang kakak atau ibu yang bangga. "Sekarang, panggillah dia di dalam pikiranmu. Bukan sebagai 'Benih Pilihan', bukan sebagai 'Eksperimen Sektor Utama'. Panggillah dia sebagai Ibu."
Caspian, yang biasanya berisik, tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur dengan memegang secangkir cokelat panas. Untuk sekali ini, dia tidak pamer atau bercanda. Dia hanya berdiri diam, mengamati sahabatnya dengan tatapan yang sangat mendukung.
"Ayo, Reggi," gumam Caspian pelan. "Lakukan saja. Kalau kau butuh musik latar yang dramatis, aku bisa menyulap beberapa biola dimensi di sini."
Reggiano mendengus kecil mendengar celetukan Caspian, namun ketegangannya sedikit berkurang. Ia menutup matanya. Ia membayangkan wajah ibunya yang samar—senyumnya yang lembut di tengah laboratorium yang dingin, suaranya yang menyanyi pelan saat badai menerjang Distrik 7.
Seketika, tanah di dalam pot itu berpendar. Sebuah tunas hijau muncul dengan kecepatan luar biasa, merambat naik dan membentuk batang yang kuat. Kelopak-kelopak mawar mulai mekar, namun warnanya bukan merah atau putih, melainkan warna transparan yang berisi gambaran-gambaran bergerak seperti proyektor kuno.
Mawar itu mengeluarkan aroma roti gandum yang baru dipanggang dan wangi bunga lavender—aroma yang sangat dikenali Reggiano dari masa kecilnya.
"Ibu..." bisik Reggiano.
Tiba-tiba, suara seorang wanita terdengar dari dalam kelopak mawar itu. Suaranya jernih, penuh kehangatan, dan sama sekali tidak mengandung rasa takut.
"Reggiano... putraku yang pemberani. Jika kau melihat mawar ini, artinya kau sudah menemukan tempat di mana kau tidak perlu lagi bersembunyi. Aku minta maaf karena harus meninggalkanmu dengan sabit itu di tanganmu, dan bukan sebuah buku cerita."
Reggiano terpaku. Tangannya yang besar gemetar saat ia menyentuh kelopak mawar yang mengeluarkan suara itu.
"Jangan pernah merasa bahwa kau adalah monster karena kekuatan yang kau miliki," lanjut suara ibunya. "Setiap duri pada mawar ada untuk melindungi keindahannya. Kau adalah duri itu, Reggiano. Kau melindungi Elena, kau melindungi kebahagiaan. Dan kau tidak sendirian. Aku melihat ada orang-orang hebat di sekitarmu. Si pengelana yang cerewet itu... dan sang penjaga yang bijaksana."
Caspian tersedak cokelat panasnya. "Dia... dia mengenalku? Wah, bahkan ibumu tahu kalau aku cerewet! Itu artinya aku adalah legenda!"
Seraphine terkekeh pelan. "Energi Yggdrasil merekam segalanya, Caspian. Termasuk setiap kali kau mengeluh soal debu di rak roti."
Suara di dalam mawar itu berlanjut, kali ini nadanya lebih lembut lagi. "Reggiano, berjanjilah padaku satu hal. Jangan lupa untuk tersenyum. Jangan biarkan dunia mengubah hatimu menjadi dingin. Kau adalah anakku yang selalu membawakan bunga liar ke meja makan kita. Tetaplah menjadi anak itu, meski kau sekarang adalah seorang Eksekutor."
Gambaran di dalam mawar itu memperlihatkan sosok Elena Senior yang sedang memeluk Reggiano kecil. Ia mencium kening putranya dan membisikkan kata-kata yang selama ini hilang dari ingatan Reggiano: "Aku sangat bangga padamu, Reggiano Herbert."
Mawar itu kemudian mekar sepenuhnya, mengeluarkan cahaya emas yang lembut yang menyelimuti seluruh ruangan. Aroma bunganya kini menjadi lebih manis, memberikan rasa damai yang belum pernah dirasakan Reggiano selama bertahun-tahun.
Reggiano tetap berlutut untuk waktu yang lama, kepalanya tertunduk. Air mata yang jarang sekali terlihat di wajah sang Eksekutor kini menetes ke tanah pot itu. Namun, itu bukan air mata kesedihan; itu adalah air mata pelepasan.
"Dia selalu ada di sana," ucap Reggiano parau. "Di dalam akar-akar ini... dia melihat segalanya."
Seraphine mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Reggiano. "Dia adalah bagian dari kehidupan sekarang. Dan melalui mawar ini, kau bisa berbicara dengannya kapan pun kau merasa jalanmu menjadi gelap. Alam tidak pernah membuang cinta, Reggiano. Alam menyimpannya untuk diberikan kembali saat kita paling membutuhkannya."
Caspian berjalan mendekat, menyerahkan cangkir cokelat panasnya yang kedua kepada Reggiano. "Nah, minum ini. Ini cokelat biasa, tanpa tambahan sihir emosional. Tapi kurasa rasanya akan lebih enak sekarang karena hatimu sudah tidak lagi berkarat."
Reggiano menerima cangkir itu dan berdiri. Ia menatap Caspian, lalu menatap Seraphine. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum lebar—sebuah senyum yang benar-benar tulus dan bebas dari beban.
"Terima kasih, Seraphine. Terima kasih karena sudah menunjukkan jalan ini," kata Reggiano.
"Terima kasihlah pada dirimu sendiri, Reggiano," jawab Seraphine dengan lembut. "Kau yang menanamnya. Kau yang memberikannya rindu. Aku hanya membukakan jendelanya."
Elena tiba-tiba berlari masuk ke dapur, masih mengenakan piyamanya. "Ada bau harum! Oh! Bunganya cantik sekali! Apakah itu dari Ibu?"
Reggiano menggendong Elena dan mendekatkannya ke mawar itu. "Iya, Elena. Ibu menitipkan pesan. Dia bilang kau harus jadi anak yang rajin makan roti gandum."
"Eh? Ibu bilang begitu?" Elena memiringkan kepalanya, membuat mereka semua tertawa.
Malam itu, di dalam Flower’s Patisserie yang kini berbentuk hutan cahaya, mereka duduk melingkar di bawah naungan mawar kenangan itu. Caspian mulai bercerita tentang petualangan konyolnya yang lain, Seraphine mendengarkan dengan penuh kesabaran, dan Reggiano... Reggiano hanya duduk di sana, menyesap cokelatnya, merasakan kehadiran ibunya di dalam setiap hembusan angin yang menggoyangkan daun-daun perak.
Toko roti itu bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah. Tempat itu kini benar-benar menjadi sebuah kuil kehidupan, di mana masa lalu yang hangat dan masa depan yang cerah bertemu di bawah bimbingan seorang wanita yang penuh kasih.
"Reggi," panggil Caspian di tengah ceritanya. "Besok buatkan aku croissant rasa lavender. Aku merasa terinspirasi oleh bunga ini."
Reggiano melirik mawar kenangan itu, lalu menatap sahabatnya. "Tentu. Tapi kau yang harus membersihkan semua daun yang jatuh di lantai besok pagi."
"Deal!" seru Caspian gembira.
Di sudut ruangan, Seraphine menatap mereka bertiga dengan mata yang berkaca-kaca karena bahagia. Tugasnya untuk menjaga mereka bukan lagi sebuah misi, melainkan sebuah kehormatan.
Mawar Kenangan Telah Mekar.
Keluarga Herbert dan Caspian kini memiliki cara untuk tetap terhubung dengan akar mereka, membuat ikatan di antara mereka semakin kuat dari sebelumnya.