Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Menyukai Siapa?
Astrid ikut duduk ke sofa sambil membawakan secangkir teh hangat untuk Rangga. Dia duduk tepat di sebelah lelaki itu.
"Aku nggak nyangka kau akan memajang foto kita dulu di sini," celetuk Rangga.
"Kau salah satu orang terpenting di hidupku, tentu saja aku akan memajangnya satu," sahut Astrid.
"Jadi kau memaafkanku?" tanya Rangga.
"Aku akan memaafkanmu kalau kau berhasil menangkap orang yang menguntitku," jawab Astrid.
"Aku akan berusaha. Aku hanya perlu bertemu dengan rekan kerjamu itu saja lagi."
"Aku rasa dia akan kembali lusa nanti. Kalau dia kembali, aku pasti akan memberitahumu."
Bersamaan dengan itu, ponsel Astrid berdering. Perempuan itu lantas pergi sebentar ke kamar untuk mengangkat telepon. Kebetulan ponsel Astrid diletakkan di kamarnya.
Astrid terdengar bicara di telepon. Selanjutnya dia bergegas mengenakan baju dan mengambil kunci mobil.
"Ga, aku baru dapat telepon kalau ada pasien yang..." ucapan Astrid terhenti saat melihat Rangga. Lelaki itu tampak tertidur lelap sekali.
"Kayaknya dia kecapekan banget. Kasihan, budak korporat," komentar Astrid. Ia terpaku menatap Rangga dari ujung kaki hingga kepala. Badan lelaki itu jelas lebih atletis dari sebelumnya. Atensinya juga tak lepas dari bagian bawah perut Rangga.
Astrid menggigit bibir bawahnya. Dia jadi membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Astaga! Apa yang aku pikirkan? Aku harus pergi!" Astrid menepuk jidatnya sendiri. Dia sadar kalau dirinya sudah beranjak dewasa dan harus bisa mengerti kalau perasaan tak bisa dipaksakan.
Astrid mengambil bantal dari kamar. Dia lalu membaringkan Rangga di sofa. Setelah itu, barulah dia pergi.
...***...
Rangga menemukan dirinya terbangun di sofa. Dia kaget saat sadar kalau dirinya masih berada di apartemen Astrid.
"Aku ketiduran..." gumam Rangga sembari merubah posisi menjadi duduk.
"Sudah bangun ternyata." Terdengar suara perempuan yang mendadak muncul dari dapur. Pupil mata Rangga membesar saat melihatnya. Bagaimana tidak? Perempuan itu adalah Dita.
"Kak Dita? Kenapa di sini? Bukankah ini apartemen Astrid?" timpal Rangga tak percaya.
"Maaf ya... Aku nggak pernah bilang sama kamu kalau aku dan Astrid dekat. Aku tinggal bersamanya saat bersembunyi dari kejaran hutang," jelas Dita sembari duduk ke sebelah Rangga. Ia membawakan piring berisi sepotong kue tart vanila.
"A-apa?" Rangga sontak kebingungan. Saat Dita berada di dekatnya, kini dia bisa melihat perempuan itu mengenakan gaun tidur pendek. Belahan dadanya juga terlihat jelas, tampak bergetar-getar saat Dita bergerak.
Rangga menenggak ludahnya sendiri. Apa yang dilihatnya sekarang mengingatkannya pada masa lalu.
"Kau tahu, aku dan Astrid sama-sama menyukaimu," ungkap Dita sambil menyentuh hidung mancung Rangga.
"Hah? Kak Dita bicara apa?" Rangga dibuat semakin kebingungan.
"Kau nggak kangen melakukannya lagi, Dek? Aku ingat apa yang kita lakukan berduaan saat di rumah dulu begitu panas. Aku ingin kita melakukannya lagi," tukas Dita.
"Tapi, Kak--" ucapan Rangga terpotong, karena Dita sigap menyumpal mulutnya dengan ciuman intens.
Mata Rangga terbelalak. Namun ciuman Dita sukses membuat darah disekujur badannya berdesir hebat, dan dia menyukai itu. Alhasil Rangga membalas ciuman Dita.
Perlahan Dita duduk ke pangkuan Rangga sambil terus berciuman. Nafas keduanya kian memburu saat lidah mereka bergulat leluasa.
Tangan Dita lalu perlahan melepas kaos baju Rangga. Kini lelaki itu bertelanjang dada.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Di iringi dengan suara langkah kaki yang mendekat. Buru-buru Rangga melepaskan ciumannya dengan Dita.
"Kalian ngapain?" ternyata orang yang datang adalah Astrid. Dia juga terlihat mengenakan gaun tidur pendek seperti Dita. Hanya saja warnanya berbeda dari Dita.
"Maaf, Trid. Kami nggak bermaksud melakukannya," ucap Dita.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Tapi sepertinya aku yang butuh penjelasan di sini bukan?" kata Rangga.
"Penjelasan apa?" tanya Astrid.
"Tentang kalian berdua? Kenapa kalian memakai pakaian yang sama? Lalu tinggal bersama? Jadi kau yang selama ini tinggal bareng Kak Dita, Trid? Tapi bagaimana dengan Kemal dan Safea?" Rangga merasa tak habis pikir.
Dita dan Astrid tak menjawab. Namun Astrid mendekati Rangga dan langsung mencium bibir Rangga.
Sekali lagi Rangga dibuat terkejut dengan serangan ciuman. Namun ciuman Astrid juga sukses membuat darahnya berdesir hebat.
"Astrid! Hentikan! Kau tahu Rangga mencintaiku!" tanpa diduga, Dita menarik Astrid. Hingga ciumannya dan Rangga terlepas.
Mata Rangga membulat sempurna. Dia panik menyaksikan hal itu. Benar-benar diluar dugaannya.
"Benarkah? Lalu kenapa Rangga selalu mencemaskanku? Bukankah itu tandanya dia mencintaiku?" balas Astrid.
Dita dan Astrid sontak menatap Rangga. Seolah mereka menuntut jawaban.
"Beritahu kami, Ga! Kau itu sebenarnya menyukai siapa?!" timpal Astrid.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄