Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02 Lingkaran yang Diperluas
****
Selene Vaughn pertama kali muncul sebagai solusi.
“Dia orang yang tepat,” kata Marcus santai saat memperkenalkan perempuan itu di ruang kerja pribadinya. Nada suaranya ringan, seolah keputusan ini bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. “Konsultan komunikasi. Aku butuh seseorang yang bisa merapikan narasi perusahaan.”
Selene melangkah maju dengan percaya diri yang terlatih. Gaunnya sederhana, senyumnya hangat—terlalu hangat untuk situasi profesional.
“Aku sering mendengar tentangmu,” katanya pada Elena sambil mengulurkan tangan. “Elena Rowena. Tunangan yang selalu tenang.”
Elena menjabat tangan itu singkat. Cukup kuat untuk menunjukkan batas, cukup cepat untuk tidak memberi ruang.
“Biasanya aku disebut asisten yang cerewet,” jawab Elena datar.
Selene tertawa kecil, terkendali. “Aku suka perempuan yang tahu posisinya.”
Elena mengangkat alis tipis.
Begitu juga aku.
Marcus tidak menyela. Ia mengamati pertukaran itu seperti seseorang yang sedang menilai papan catur, bukan percakapan sosial.
*****
Dalam rapat-rapat berikutnya, Selene selalu hadir.
Ia memilih kursi satu jarak dari Marcus—cukup dekat untuk terdengar tanpa perlu meninggikan suara, cukup jauh untuk tidak terlihat intim. Setiap kalimatnya lembut, terukur, dan selalu dibungkus kepedulian.
“Menurut Elena, pendekatan ini akan lebih aman,” ujar Selene suatu hari sambil tersenyum ke arah meja. “Setidaknya untuk menjaga citra publik.”
Elena tetap menatap layar di depannya. Angka-angka bergerak, pola-pola terbentuk. Ia tidak langsung menjawab.
Marcus menoleh. “Pendapatmu?”
“Citra bukan masalah,” kata Elena akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar. “Arus kas yang kau sembunyikan di baliknya yang akan menjadi masalah.”
Ruangan mendadak senyap.
Selene berkedip sekali. Cepat, nyaris tak terlihat.
Marcus menahan senyum. “Kau selalu langsung ke inti.”
“Aku tidak dibayar untuk memutar kata,” balas Elena.
Tatapan Selene bertahan satu detik lebih lama dari yang seharusnya sebelum ia kembali tersenyum.
*****
Makan malam pertunangan pertama dengan tim inti berlangsung kaku. Terlalu formal untuk disebut perayaan, terlalu personal untuk sepenuhnya profesional.
Selene duduk tepat di seberang Elena. Ia menyesap anggurnya perlahan, lalu berkata, “Kau beruntung. Marcus jarang memberi ruang seperti ini pada siapa pun.”
Elena meletakkan garpunya dengan gerakan terkontrol. “Aku tidak menganggap ruang sebagai hadiah.”
Senyum Selene menipis. “Tentu.”
Marcus memandang Elena lebih lama dari yang diperlukan. “Kau keras kepala.”
“Dan kau menyukainya,” jawab Elena tanpa emosi.
Marcus mengangkat gelas. “Untuk kemitraan.”
Elena menyusul, suaranya jernih. “Untuk kejelasan.”
Gelas beradu. Bunyi kaca terdengar bersih—tidak mencerminkan kebohongan yang mulai mengendap di meja itu.
*****
Malam itu, di apartemen, Elena berdiri di depan rak dokumen. Sebuah map baru terselip di antara berkas lama. Tanpa label. Terlalu rapi untuk menjadi kebetulan.
Ia menariknya keluar dan membukanya.
Nama Selene Vaughn tercetak jelas di header. Di bawahnya, beberapa entitas luar negeri terhubung dalam struktur yang legal, bersih, dan disengaja. Terlalu sempurna. Seolah dibuat untuk lolos dari pemeriksaan pertama—dan kedua.
Elena menutup map itu, menyelipkannya kembali persis seperti semula.
Ia tidak bertanya.
Tidak menuduh.
Ia hanya menyimpan pola.
Dari ruang tamu, suara Marcus terdengar rendah. Telepon. Elena tidak berniat mendengar, tapi satu kalimat cukup untuk menancap.
“Belum,” kata Marcus. “Dia belum curiga.”
Panggilan ditutup. Marcus menoleh dan mendapati Elena berdiri di sana.
“Kerja panjang,” katanya ringan.
Elena mengangguk. “Begitulah.”
Ia berjalan melewatinya tanpa ekspresi. Marcus memperhatikan punggungnya yang tegak—terlalu tegak untuk seseorang yang merasa aman.
Jika saja ia tahu.
Elena tidak menunggu pengkhianatan terjadi.
Ia sedang menghitung waktu.
Elena tidak langsung tidur malam itu.
Ia duduk di tepi ranjang dengan lampu yang redup menyala, membiarkan apartemen tenggelam dalam keheningan yang terasa terlalu sadar. Kota di luar tetap bergerak lampu, kendaraan, suara jauh—namun di dalam ruangan itu, waktu seperti melambat.
Pikirannya menyusun ulang potongan-potongan kecil.
Selene.
Map tanpa label.
Kalimat Marcus.
Bukan fakta besar yang mengganggu Elena melainkan pola. Dan pola jarang berbohong.
Ia bangkit perlahan, berjalan ke arah meja kerja kecil di sudut kamar. Tablet menyala dengan sentuhan ringan. Beberapa file terbuka laporan publik, struktur perusahaan, dan jaringan afiliasi yang tampak legal.
Di permukaan, semuanya bersih.
Terlalu bersih.
Elena memperbesar satu bagan koneksi. Nama Selene muncul sebagai konsultan eksternal. Wajar. Profesional. Tidak mencurigakan.
Namun satu jalur dana berputar terlalu rapi—masuk, keluar, kembali lagi melalui perusahaan berbeda.
Lingkaran tertutup.
Seseorang sedang menyembunyikan sesuatu dengan cara yang indah.
Dan keindahan seperti itu… selalu disengaja.
Elena mematikan layar tanpa menyimpan apa pun. Tidak perlu. Ia sudah mengingat dengan polanya.
Di ruang tamu, pintu balkon terbuka dengan pelan. Marcus berdiri di sana, punggungnya menghadap ke ruangan, ponsel di telinga.
“Kita tidak bisa terburu-buru,” katanya rendah. “Selama dia tidak melihat—kita aman.”
Hening.
Marcus menghela napas pendek. “Aku tahu. Tapi aku tidak akan membuat kesalahan.”
Elena berdiri di ambang lorong. Ia tidak berniat menyadap, namun kata-kata yang jatuh terlalu jelas untuk diabaikan.
Marcus menutup telepon dan berbalik.
Untuk sepersekian detik, ekspresinya kosong. Seperti seseorang yang baru saja melepas topeng.
Lalu senyum itu kembali.
“Kau belum tidur?”
“Belum mengantuk,” jawab Elena tenang.
Marcus mengangguk. Tatapannya mencari sesuatu di wajah Elena—reaksi, kecurigaan, tanda-tanda.
Tidak ada.
Hanya ketenangan yang membuat orang lain ragu pada pikirannya sendiri.
“Kau terlalu banyak bekerja,” kata Marcus.
“Kau juga,” Elena membalas.
Sunyi menggantung di antara mereka. Tipis. Tajam.
Marcus menutup pintu balkon. “Kita perlu liburan,” katanya ringan. “Sebelum semuanya semakin sibuk.”
Elena menatapnya beberapa detik.
“Liburan tidak menghentikan masalah,” ujarnya. “Hanya menundanya saja.”
Marcus tertawa kecil. “Kau selalu terlihat realistis.”
“Aku hanya tidak suka kejutan,” jawab Elena.
Namun di dalam dirinya, ia tahu
kejutan sedang disiapkan.
Dan kali ini, ia berniat menyambutnya dengan mata terbuka.
Marcus melewatinya menuju ke kamar. Langkahnya stabil. Terkontrol.
Elena menunggu sampai suara pintu tertutup.
Barulah ia menghembuskan napas pelan.
Lingkaran itu sudah diperluas.
Dan seseorang di dalamnya mulai lupa…
bahwa Elena tidak pernah berdiri tanpa melihat jalannya sendiri.
Ia tersenyum tipis.
Permainan ini baru saja menjadi menarik.
Elena mematikan lampu kamar tanpa terburu-buru. Gelap menyelimuti ruangan, namun pikirannya justru terasa semakin terang. Ia membaringkan diri, bukan untuk tidur—melainkan untuk membiarkan semua kemungkinan bergerak bebas di kepalanya.
Marcus percaya ia mengendalikan situasi.
Selene percaya ia tidak terlihat.
Keduanya salah.
Dan kesalahan terbesar mereka bukan pada tindakan
melainkan pada keyakinan bahwa Elena masih berdiri di luar lingkaran itu.
Padahal sejak awal…
dialah yang menentukan seberapa luas lingkaran tersebut akan menutup.
Malam itu terasa sunyi.
Namun bagi Elena, keheningan selalu berarti satu hal yaitu sesuatu sedang bersiap untuk jatuh.