Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Perpisahan
Pagi itu Arga terbangun dengan Rama yang menangis lapar di sampingnya. Suara tangisan bayi itu yang membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak, penuh mimpi buruk tentang Safira yang perlahan menghilang.
Dia bangkit dengan susah payah, tubuhnya terasa remuk. Mata bengkak, kepala pusing, tenggorokan kering.
"Sebentar, nak. Sebentar," gumamnya sambil mengangkat Rama dengan hati hati. "Ayah belum tahu harus ngapain. Ibumu biasanya yang urus kamu."
Suaranya pecah di akhir kalimat. Ibumu. Safira. Yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Bagas yang tidur di sofa langsung terbangun mendengar tangisan Rama. Dia masuk ke kamar dengan rambut acak acakan, mata masih sembab.
"Gue bikinin susu ya. Lo duduk dulu," kata Bagas sambil mengambil alih Rama dari pelukan Arga.
Arga hanya mengangguk lemah, duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk. Matanya menatap lantai kosong, pikiran nya kosong.
Saat Bagas keluar membawa Rama, Arga menatap bantal di sampingnya. Dua amplop putih masih tergeletak di sana. Menunggu untuk dibaca.
Tangannya terulur dengan gemetar, meraih amplop yang bertuliskan namanya. Amplop putih polos dengan tulisan tangan Safira yang indah di depannya.
"Untuk suamiku tercinta, Arga Maheswara."
Arga merasakan dadanya sesak hanya dengan membaca tulisan itu. Suamiku. Dia masih ingat saat pertama kali Safira memanggilnya suami. Senyumnya yang malu malu. Pipinya yang merona walau kulitnya pucat.
Dengan tangan yang sangat gemetar, dia membuka amplop itu. Mengeluarkan kertas yang terlipat rapi di dalamnya.
Aroma Safira masih tertinggal di kertas itu. Aroma bunga melati yang selalu menempel di tubuh istrinya. Arga menutup mata sebentar, menghirup aroma itu dalam dalam. Seolah Safira masih ada di sana.
Lalu dia membuka mata, mulai membaca dengan mata yang sudah berkaca kaca.
**Arga, cintaku.**
Dua kata pertama itu saja sudah membuat air matanya jatuh. Cintaku. Safira selalu memanggilnya begitu saat mereka sendirian. Dengan suara lembut yang selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
**Saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi.**
Arga berhenti sebentar. Napasnya tersengal. Tidak. Dia tidak sanggup. Tapi dia harus. Dia harus tahu apa yang Safira tulis.
Dia melanjutkan membaca dengan air mata yang terus mengalir.
**Maafkan aku yang egois, yang memilih pergi tanpa pamit dengan benar. Tapi ini satu satunya cara agar kamu dan Rama bisa hidup.**
"Kamu bukan egois," bisik Arga sambil mengusap air matanya kasar dengan punggung tangan. "Kamu terlalu baik. Terlalu rela berkorban."
**Aku tidak menyesal mencintaimu. Setiap detik bersamamu adalah surga bagiku.**
Arga teringat saat pertama kali mereka bertemu. Safira yang duduk di ayunan taman, menatapnya dengan mata yang penuh kesedihan. Lalu perlahan, kesedihan itu berubah jadi kebahagiaan. Karena dia. Karena cinta mereka.
**Kamu telah mengajariku arti cinta yang tulus, cinta yang rela berkorban.**
"Harusnya aku yang bilang itu," Arga berbisik sambil menangis. "Kamu yang ngajarin aku apa itu cinta tulus. Kamu yang bikin aku percaya cinta lagi setelah Ratih hancurkan semuanya."
**Jagalah Rama, sayang. Besarkanlah dia dengan penuh cinta.**
Arga menatap pintu kamar. Di luar sana Bagas sedang menyuapi Rama dengan susu. Anaknya. Anak dari pengorbanan Safira.
**Ceritakan padanya tentang ibunya yang mencintainya sejak dalam kandungan. Ceritakan bahwa ibunya rela mengorbankan segalanya agar dia bisa hidup.**
"Aku janji," bisik Arga dengan suara yang gemetar hebat. "Aku janji akan ceritakan semuanya padanya. Aku akan pastikan dia tahu betapa hebatnya ibunya."
**Jangan pernah menyalahkan dirimu atas kepergianku. Ini pilihanku, dan aku bahagia melakukannya.**
"Tapi aku tetep nyalahin diri sendiri," Arga menggeleng sambil menangis. "Aku harusnya bisa cegah kamu. Harusnya aku lebih kuat. Harusnya..."
**Jika suatu hari nanti kamu bertemu wanita lain yang bisa membuatmu bahagia, jangan ragu untuk mencintainya. Aku meridhai kebahagiaanmu.**
Arga berhenti membaca. Tubuhnya membeku. Wanita lain? Bagaimana mungkin dia bisa mencintai wanita lain setelah Safira? Bagaimana mungkin ada yang bisa menggantikan istrinya yang sudah mengorbankan segalanya untuk dia?
"Tidak akan ada yang bisa gantiin kamu," bisiknya sambil menggeleng keras. "Tidak akan pernah ada."
**Tapi tolong, jangan lupakan aku sepenuhnya. Simpan aku di sudut hatimu, sebagai kenangan indah yang pernah singgah dalam hidupmu.**
"Kenangan?" Arga tertawa pahit sambil menangis. "Kamu bukan sekadar kenangan, Safira. Kamu adalah bagian dari jiwa aku. Bagian yang sekarang hilang dan nggak akan pernah bisa diganti."
**Sampai kita bertemu lagi di surga, Arga. Aku akan menunggumu di sana.**
Arga menutup matanya, membayangkan Safira yang menunggunya di surga. Dengan senyum indahnya. Dengan gaun putih yang selalu dia pakai. Dengan mata yang penuh cinta.
**Cintaku yang abadi, Safira.**
Arga memeluk surat itu dengan sangat erat. Menekannya ke dadanya sambil menangis sejadi jadinya. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, isak tangisnya pecah memenuhi ruangan.
"SAFIRA!" teriaknya dengan putus asa. "SAFIRA KUMOHON KEMBALI! AKU... AKU NGGAK SANGGUP TANPA KAMU!"
Bagas yang mendengar teriakan itu langsung berlari masuk dengan Rama di gendongan. Dia melihat Arga yang jatuh berlutut di lantai, memeluk kertas dengan erat sambil menangis keras.
"Arga!" Bagas meletakkan Rama di ranjang dengan hati hati, lalu berlutut di samping Arga. "Ga, kumohon jangan kayak gini. Lo harus kuat."
"Aku nggak bisa kuat!" Arga berteriak sambil menatap Bagas dengan mata yang merah bengkak. "Gimana caranya aku kuat kalau separuh jiwa aku udah hilang?! Gimana caranya aku tersenyum kalau orang yang bikin aku mau hidup lagi udah pergi?!"
Bagas tidak tahu harus bilang apa. Dia hanya memeluk Arga dengan erat, membiarkan sepupunya menangis di bahunya.
"Gue di sini, Ga. Gue nggak akan ninggalin lo. Kita hadapi ini bareng bareng."
Tapi Arga tidak mendengar. Dia hanya terus menangis sambil memeluk surat Safira. Menangis untuk istrinya yang sudah pergi. Menangis untuk cinta yang harus dia lepaskan. Menangis untuk masa depan yang seharusnya mereka jalani bersama tapi sekarang harus dia jalani sendirian.
Di ranjang, Rama tiba tiba menangis. Tangisan keras yang seolah merasakan kesedihan ayahnya. Arga mengangkat wajahnya yang basah, menatap Rama yang menangis dengan tangan kecil terkepal.
Dan entah kenapa, melihat Rama menangis seperti itu membuat sesuatu di dalam diri Arga bergerak.
Rama menangis karena dia merasakan kesedihan ayahnya. Bayi yang baru lahir itu merasakan kehilangan ibunya walau dia bahkan belum sempat mengenal Safira dengan baik.
Arga berdiri dengan susah payah, berjalan ke ranjang dengan langkah gontai. Dia mengangkat Rama dengan lembut, memeluknya sambil masih memegang surat Safira di tangan lain.
"Maafkan ayah, nak," bisiknya sambil mengusap air matanya sendiri dan Rama. "Ayah janji akan kuat. Demi kamu. Demi ibumu yang sudah mengorbankan segalanya."
Rama perlahan berhenti menangis saat berada di pelukan Arga. Mata emasnya yang mulai berubah coklat menatap wajah ayahnya dengan tatapan yang entah kenapa terasa mengerti.
"Ibumu bilang kamu istimewa," Arga berbisik sambil tersenyum di antara air matanya. "Kamu anak ramalan. Penjaga dua alam. Dan ayah akan pastikan kamu tumbuh jadi anak yang hebat seperti yang ibumu harapkan."
Dia mencium kening Rama dengan lembut. Lalu menatap surat di tangannya lagi.
"Terima kasih, Safira," bisiknya sambil memeluk surat dan Rama bersamaan. "Terima kasih untuk surat ini. Terima kasih untuk Rama. Terima kasih untuk semua cinta yang kamu berikan. Aku akan jaga Rama dengan baik. Aku janji."
Dan saat itu, dengan Rama di pelukan dan surat Safira di tangan, Arga membuat janji pada dirinya sendiri.
Dia akan kuat. Dia akan jadi ayah yang baik. Dia akan membesarkan Rama dengan penuh cinta.
Karena itu yang Safira inginkan. Karena itu cara terbaik untuk menghormati pengorbanan istrinya. Walau hatinya hancur. Walau setiap hari akan terasa berat tanpa Safira. Dia akan terus hidup. Demi Rama. Demi cinta yang tidak akan pernah mati walau orangnya sudah pergi.