“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#30
“Yunda, kenalin temen aku.”
“Hai, Rehan.”
“Ayunda.”
“Dirga.”
“Ayunda.”
“Aku Kelan.”
“Ayunda.”
“Mereka anak-anak tekhnik. Temen aku waktu SMA,” ujar Silvia.
Ayunda hanya mengangguk seraya tersenyum. Dia bingung harus ngomong apa.
“Areta mana?”
“Dia gak masuk ada keperluan. Eh, kita kan gak ada kuliah nih, pergi yuk.”
“Ke mana?” Tanya Ayunda.
“Nongkrong. Ke mana aja lah. Ngafe deh yuk.”
“Gue tau kafe yang bagus, dia baru buka. Kebetulan gue kenal sama ownernya.” Dirga memberikan usulan.
“Boleh, jauh gak?” Tanya Silvia.”
“Satu jam lah dari sini.”
“Deket itu sih, gas lah.”
Ayunda ragu entah harus ikut atau tidak.
“Kenapa, Yunda? Ayo ikut aja, kita pulang sebelum jam asrama. Pokoknya nyampe sini sebelum malem.”
Gadis itu masih ragu, tapi pada akhirnya dia pun ikut bersama Silvia dan yang lain nya.
Mereka pergi menggunakan mobil milik Kelan. Jika dilihat dari penampil, Kelan memag berasal dari keluarga yang kayak raya. Dari pakaian dan mobilnya saja sudah terlihat jelas.
“Owh, lo berasa dari kampung?” Tanya Rehan. Dari nada nya dia sepeti sedang merendahkan Ayunda.
“Iya,” jawab Ayunda ragu.
“Owalah pantesan.”
Ayunda merasa sangat tidak nyaman dengan ucapan dan raut wajah Rehan.
Silvia menyikut Rehan karena dia tahu Ayunda sangat tidak nyaman dengan sikapnya.
“Yunda, di desa kamu pasti udaranya sangat sejuk ya? Kapan-kapan aku mau dong maen ke rumah kamu.” Silvia berusaha mencairkan suasana.
“Bukan sejuk lagi, tapi dingin. Bahkan kadang kabut tuh sampe sesek ke hidung.”
“Biasanya di udara yang dingin itu, manusia nya tidak berkembang pesat. Makanya kamu tingginya pas-pasan, iya kan? Hahahah.”
Entah Rehan berniat becanda atau serius dengan ucapan nya, tapi meski becanda itu sangat tidak enak di dengar dan sangat tidak layak.
“Kuliah ke sini dapet beasiswa?” Tanya Dirga. Pertanyaan Dirga memang serius bertanya, bukan karena ingin meragukan Ayunda. Namun bagi gadis itu, Dirga pun seolah sedang merendahkannya yang menganggap dirinya tidak mampu karena berasal dari kampung.
Ayunda menggelengkan kepala pelan. “Biaya sendiri,” jawabnya mantap.
Dirga yang emang bertanya karena ingin tahu merasa bersalah karena Ayunda menganggapnya sedang menyepelekan dia seperti Rehan.
“Eh, maaf. Tapi jujur aku nanya serius. Soalnya kata Silvia kamu termasuk anak yang pintar di kelas.”
Ayunda tersenyum tipis.
Pesanan mereka pun datang. Suasana mulai mencair dan mereka mulai membahas makanan yang ada di hadapan nya.
Namun, hati Ayunda sudah tidak kerasan lagi. Dia sudah terlanjur merasa tidak nyaman berada di sana. Kemudian diam adalah satu-satunya jalan agar dia merasa baikan.
Menjawab seadanya, tidak bicara jika tidak ditanya.
“Kamu kalau di kampung biasanya makan apa? Jajan apa gitu, atau ada kafe gak di sana?” Tanya Rehan.
“Apa banget sih pertanyaannya, Han.” Silvia jengkel.
“Emmm, ada tapi jauh. Yang jelas makanan nya gak sama kayak di sini. Kalau di sini lebih bervariatif, kalau di sana nggak.”
“Paling adanya coreng sama bakwan ya. Hahahah.”
Ayunda hanya tersenyum menjawab pertanyaan Rehan.
“Beli baju juga palingan di pasar ya kan? Tapi bagus sih itu yang kamu pakai. Gak keliatan dari pasarnya.”
“Iya, tapi aku nyaman.”
“Iya itu karena kamu udah biasa. Tapi cocok sih sama kamu. Pas gitu dilihatnya.”
“Aku pakai baju untuk kenyamanan diri sendiri sih memang. Bukan untuk memanjakan mata orang lain.”
Kelan tersenyum tipis mendengar jawaban Ayunda.
“Oh iya, kegiatan kamu biasanya apa di desa?” Tanya Dirga. “Biasanya seru ya, bisa berpetualang. Aku sempet lihat di YouTube, kalau di desa itu bisa mandi di sungai karena airnya jernih.”
“Iya ka—“
“Lo mandi di hilir, di hulu ada yang berak. Hahahah.” Rehan menyela omongan Ayunda.
“Gak ada sih kalau di desaku. Kamu lihat di desa mana yang kaya gitu?” Tanya Ayunda.
“Pengalaman ya pernah mandi terus ada kuning ngambang lewat?”
“Nggak lah, enak aja. Sorry tapi gue mandi di kamar mandi pakai shower dan air hangat.”
“Oh.” Ayunda menjawab singkat.
Ponselnya berdering.
“Halo, Kak.”
“Di mana?”
“Lagi maen sama temen.”
“Ada suara cowok.”
“Hmmm.”
“Maen sama cowok?”
“Ada Silvia juga.”
“Hanya kamu dan Silvia? Berapa orang kalian di sana?”
“Kami berlima.”
“Berarti cowoknya tiga.”
“Hmmm.”
“Ok.”
Panggilan selesai. Ayunda mengerutkan kening. Dia tidak mengerti kenapa Alex begitu dingin. Meski dia memang cuek, tapi tidak biasanya dia menutup pembicaraan dengan kata yang singkat. Ok!
Baru saja dia hendak menyimpan ponsel, ponselnya kembali berdering.
“Kenapa, Mas?”
“Di mana?” Tanya Elang dengan nada sedikit marah.
“Lagi sama kak Alex?”
“Hmm.”
Ayunda menghela nafas berat.
“Aku sharelok deh.”
Setelah memutuskan pembicaraan, ayunda memberikan lokasi pada Elang. Lokasi keberadaannya saat ini.
Rasa kesal Ayunda bisa dirasakan oleh teman-teman nya yang saat itu ada di sana. Mereka menatap Ayunda dengan tatapan yang berbeda arti.
“Siapa?” Tanya Silvia pelan.
“Mas dan kakak aku.”
“Mereka marah aku ke sini gak bilang. Susah payah aku ijin buat tinggal di asrama dan gak tinggal sama mereka, sekarang malah kayak gini. Tau deh mereka ngapain nanti.”
“Owh, kamu punya kakak? Memangnya sebelumnya tinggal di mana?”
“Grand Agung Asri.”
Mereka saling melirik.
Mungkin ayunda hanya tahu nama komplek tempat tinggal nya dulu bersama Elang. Ayunda tidak tahu jika kompelk itu adalah salah satu kompleks elit di kota tersebut. Jika bukan orang yang memiliki taraf ekonomi kelas atas, tidak akan sanggup membeli rumah di sana.
“Pantes kamu tinggal di asrama, lumayan jauh sih ya rumahnya ke kampus.”
“Iya.”
Kelan tersenyum.
Rehan dan kedua teman laki-laki nya asik membahas mata kuliah mereka yang tidak dimengerti sama sekali oleh Ayunda dan Silvia. Kedua gadis itu hanya menyimak dengan seksama.
“Kamu pernah naik jetski?” Tanya Rehan pada ayunda. Sangat tiba-tiba dan tidak masuk akal karena memang tidak sedang membahas topik tersebut.
“Belum.”
“Sudah kuduga.”
“Pertanyaan lo aneh banget serius.” Silvia mulai jengkel pada Rehan.
“Intinya apa sih? Kamu mau bilang aku orang kampung? Ya emang. Terus kenapa? Gak suka? Ya udah jangan mau lagi jalan bareng kalau ada aku. Simple kan? Kenapa? Karena kamu pikir aku orang kampung jadi aku kekurangan, miskin, gak punya duit dan gak layak temenan sama kalian? Ya udah, gak usah temenan. Lagian kalau bukan karena Silvia, aku juga ogah kok jalan ke sini. Kenapa kalau memang aku gak pernah naik jet ski? Gak wajib kan? Harus banget? Lagian kamu juga naik jet ski memang nya punya sendiri?”
Emosi Ayunda meledak.
Dan itu membuat Silvia dan yang lain nya kaget. Ayunda yang terlihat manis dan lembut itu ternyata bisa seganas itu jika marah.