NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 – Jejak Kaki di Debu

Angin berhembus pelan, menggerakkan daun-daun yang sudah mulai menguning. Keheningan hutan, yang tadi hampir menakutkan, kini terasa seperti teman. Setiap langkah Defit membawa kembali ingatan yang lebih jauh ke dalam kegelapan ke tempat-tempat di mana ia dulu pernah merasa hidup, tetapi kini hanya menemukan ruang kosong.

Ia melangkah di jalan setapak yang biasa dilalui. Jalan ini tidak berubah tetap seperti yang ia ingat, tetapi perasaan yang ada di dalamnya jauh berbeda. Tanah yang dipijaknya terasa lebih berat, seakan menyimpan sejarah yang tak bisa dilupakan.

Defit berhenti, menatap ke bawah. Di tanah, ada jejak kaki kecil, samar namun jelas. Ia mengenalinya.

Jejak itu miliknya. Tapi bukan hanya miliknya.

Sudah bertahun-tahun sejak ia meninggalkan desa itu. Namun di sini, jejak itu masih ada, menunggu. Seolah menunggu kepulangannya.

Mereka tahu.

Defit menelan ludah, menyeka peluh yang menetes di keningnya. Perasaan itu kembali ketakutan yang telah lama ia kubur. Namun kali ini, ketakutan itu bukan untuk dirinya. Ia hanya bisa memikirkan satu hal: Maya.

"Maya..." bisiknya, nyaris tak terdengar.

Di rumah keluarga besar itu, Maya bangun dari tidurnya, terjaga oleh suara gemerisik di luar jendela. Pagi itu, wajahnya lebih pucat dari biasanya. Selama beberapa hari terakhir, perasaan tidak enak semakin membebani dirinya, meskipun ia berusaha mengabaikannya.

Setiap detik yang berlalu di rumah itu semakin menambah jarak antara dirinya dan Defit. Setiap percakapan dengan keluarga terasa seperti kutukan yang semakin mengisolasi dirinya. Dan saat Defit pergi, ia merasa bukan hanya dirinya yang pergi, tetapi juga bagian dari jiwanya yang telah hancur.

"Istriku…" kata-kata itu terngiang di benaknya. Ada sebuah suara yang terus memanggilnya, bukan dari luar, tetapi dari dalam hatinya. Namun ia merasa seolah seluruh dunia tidak mengizinkannya untuk berbicara atau mendengar apa yang benar.

Di luar rumah, di halaman yang tertutup rapat oleh tembok batu, sesuatu yang lebih gelap dari ketidakpastian sedang menunggu.

Defit tiba di ujung desa.

Di sana, sebuah rumah tua, yang hampir hancur, berdiri sendirian. Rumah itu tidak banyak berubah, tetapi ia bisa merasakan perubahan yang jauh lebih besar sesuatu yang menyentuh dirinya lebih dalam daripada yang ia duga.

Ia menatap rumah itu lama, mengingat masa-masa ketika ia dulu ingin kembali. Ketika ia dulu merasa bahwa di sini, di dalam ruang-ruang ini, ada tempat bagi dirinya.

Namun, ia tahu sekarang tempat itu sudah tidak ada lagi.

"Maya, kau harus tahu…" ucapnya dengan suara gemetar. "Aku melangkah untuk kita. Untuk kita, bukan hanya aku."

Di dalam rumah, Maya merasakan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Suatu kehampaan yang tidak bisa diabaikan. Meskipun keluarganya menekannya, mencoba mengikatnya dalam kebisuan yang lebih dalam, Maya tahu perasaannya lebih kuat dari sekadar ketakutan akan kehilangan. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang datang, sesuatu yang berhubungan dengan Defit.

Ia berdiri, menatap cermin di kamarnya. Cermin itu mencerminkan wajah yang tak dikenalnya wajah seorang wanita yang takut. Tetapi bukan hanya takut kehilangan. Ada rasa bersalah yang menggerogoti. Kenapa ia tidak bisa berdiri untuk suaminya?

"Maya," bisiknya pada bayangannya, "apa yang sedang terjadi pada kita?"

Di luar rumah, Defit berdiri di tepi sungai, memandangi air yang mengalir cepat.

Bayangan yang tadi melintas di kepala mulai memudar. Perasaan yang ada di dada lebih kuat daripada semuanya. Ada sebuah kebenaran yang perlahan mengalir, seperti air sungai yang tak bisa dihentikan. Defit tahu ia harus pergi. Ke mana? Tidak ada jawaban. Tapi jika ia tidak pergi, jika ia tidak meninggalkan tempat ini ia akan mati di dalamnya, seperti seseorang yang mati tanpa pernah memahami hidupnya.

Dan mereka akan menang.

Namun ia tidak takut lagi. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Bagaimana bisa ia kembali ke tempat itu, ke keluarga yang tak pernah benar-benar menerima dirinya? Bagaimana bisa ia kembali ke rumah yang hanya mengingatnya sebagai aib?

Ia sudah menemukan jawabannya.

Di rumah besar keluarga istrinya, suasana berubah menjadi semakin tegang.

Maya berjalan menuju pintu depan, matanya tertuju pada jalan setapak di luar rumah. Ia berdiri di ambang pintu, menunggu, seakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya akan datang.

Dari kejauhan, ia melihat sosok yang ia kenal Defit. Tanpa menunggu lebih lama, ia berlari menuju ke arahnya.

Defit berbalik, melihat Maya berlari ke arahnya, wajahnya pucat, matanya penuh harapan yang terpendam.

“Maya...” bisik Defit, suara seraknya nyaris tak terdengar. “Aku… aku datang untuk kita.”

Maya tiba di hadapannya, terengah-engah. Ia memeluk Defit erat, dan dalam pelukan itu, mereka tidak berbicara hanya merasakan.

Defit merasakan kehangatan tubuhnya, tetapi juga rasa sakit yang mengiris, seolah ia telah meninggalkan bagian dari dirinya sendiri di tempat yang jauh. Namun saat itu juga, ia merasakan kekuatan yang mulai tumbuh. Bukannya dirinya yang rapuh melainkan dunia di sekitarnya yang mulai terbelah.

"Maya," kata Defit pelan, "Aku tidak bisa kembali ke sana. Ke tempat itu. Tempat yang mereka ciptakan untuk kita, yang mengubah segalanya… Tapi aku ingin kita membangun sesuatu yang baru. Sesuatu yang bebas dari bayang-bayang mereka."

Maya mengangguk. "Kita bisa, Defit. Kita bisa bersama. Tidak peduli apa yang terjadi."

Defit menatapnya, matanya penuh tekad yang baru. Ia tahu, meskipun jalan mereka tidak akan mudah meskipun dunia di sekitar mereka akan terus berusaha menggulingkan apa yang mereka bangun mereka akan tetap berdiri. Bersama.

Malam itu, Defit dan Maya berjalan bersama di jalan setapak menuju dunia yang baru, tidak lagi terikat oleh masa lalu, tidak lagi dibelenggu oleh ketakutan yang dulu membungkam mereka.

Karena di dalam langkah mereka, kini ada kebebasan yang lebih kuat dari segalanya.

Dan meskipun dunia di sekitar mereka gelap, mereka tahu satu hal: mereka tidak akan pernah lagi berjalan sendirian.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!