Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Saya sangat menyukai rumahnya.
"Ke rumah lama yang mana, Mas? Rumah yang mana!" suara Arumi pecah, air matanya semakin deras. "Ke rumah Kak Aulia maksudmu? Iya?" lanjutnya tertawa getir. Tawa pendek yang terdengar menyakitkan, penuh rasa malu dan ego yang runtuh sepenuhnya.
Adrian tidak menjawab. Pria itu hanya menarik tangan Arumi ke sisi jalan, lalu menghentikan sebuah taksi yang melintas. Tanpa banyak bicara, ia masuk lebih dulu setelah sopir menurunkan koper mereka ke bagasi belakang.
Arumi ikut masuk. Amarah masih mengendap di dadanya, bercampur dengan perasaan yang tidak bisa ia urai. Wanita itu memilih diam, duduk kaku menatap lurus ke depan. Bibirnya terkatup rapat, menahan sesak yang terus menekan.
Pikirannya kacau. Untuk kesekian kalinya, ia harus merasakan malu seperti ini. Di hadapan orang lain, di hadapan kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
.
.
Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di rumah satu lantai yang luas itu, Aulia duduk berhadapan dengan sepasang suami istri. Pak Dani dan istrinya, Dwi, sudah datang sejak beberapa waktu lalu untuk melihat langsung kondisi rumah tersebut.
Sejak awal, Aulia mendampingi mereka berkeliling tanpa henti. Ia menjelaskan setiap sudut dengan semangat yang sulit ia sembunyikan. Kini ia duduk tegak, berusaha terlihat tenang meski sorot matanya jelas menyimpan harap.
Archio hadir sejak tadi, namun kini duduk sedikit menjauh. Ia membiarkan Aulia berbicara sendiri, memberi ruang penuh untuknya menyelesaikan urusan ini.
"Mbak Aulia," ucap Bu Dwi dengan wajah yang benar-benar berbinar, "setelah saya lihat semuanya, rumah ini sungguh menakjubkan. Sesuai sekali dengan yang saya harapkan."
Ia tersenyum lebar, tidak ragu.
"Saya sangat menyukai rumahnya. Halamannya luas, dapurnya nyaman, kamar-kamarnya juga pas. Rasanya saya ingin segera menempatinya, Mbak."
Nada suaranya mantap, bukan sekadar pujian basa-basi.
Pak Dani mengangguk pelan. "Saya juga sudah cek bagian-bagiannya. Semuanya sesuai dengan yang ditawarkan. Kalau memang harga sudah seperti yang disepakati sebelumnya, saya rasa kami tidak perlu berpikir lama lagi."
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Aulia terasa lega.
"Alhamdulillah kalau Ibu dan Bapak merasa cocok dengan rumahnya," jawabnya tenang, meski antusiasnya terasa jelas.Ia tersenyum, kali ini lebih dalam. "Iya, Pak. Harganya tetap seperti yang kemarin saya sampaikan."
Bu Dwi saling pandang dengan suaminya, lalu kembali menatap Aulia.
"Kalau begitu, kami ingin lanjut ke proses berikutnya, Mbak."
Mereka mulai tampak serius.
Aulia menarik napas pelan sebelum akhirnya meraih sebuah map dari atas meja di sampingnya. Gerakannya tenang, meski di dalam hatinya ada getar yang sulit dikendalikan.
"Semua dokumen rumah sudah lengkap, Pak, Bu," ujarnya lembut. "Kalau memang sudah mantap, kita bisa atur pertemuan untuk proses resminya."
Pak Dani mengangguk. Ia menerima map itu sekilas, tidak membukanya sekarang, hanya memastikan semuanya ada di tangan yang tepat.
"Kita jadwalkan secepatnya," ucapnya mantap. "Supaya tidak berlarut."
Bu Dwi tersenyum puas. Tatapannya kembali menyapu ruangan itu, kali ini bukan sebagai tamu, melainkan seseorang yang sudah merasa memiliki.
Aulia membalas senyum itu. Ada rasa lega yang perlahan menghangat di dadanya. Semua berjalan sesuai rencana.
...****************...
"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu ya, Mbak."
Sepasang suami istri itu akhirnya benar-benar berpamitan setelah kesepakatan awal terjalin. Mereka tak lupa menyalami Archio yang masih duduk sendirian di meja lain sebelum melangkah keluar bersama Aulia.
Aulia mengantar mereka sampai ke teras, masih berbincang ringan seolah semuanya berjalan biasa saja. Setelah Pak Dani dan Bu Dwi masuk ke dalam mobil dan kendaraan itu perlahan meninggalkan halaman, Aulia tetap berdiri di sana beberapa saat, memastikan mobil tersebut benar-benar pergi sebelum ia berbalik.
Namun perhatiannya tertahan ketika sebuah kendaraan lain justru masuk ke pelataran rumah. Aulia memicingkan mata, mencoba mengenali mobil itu, tetapi ia yakin belum pernah melihatnya sebelumnya. Kendaraan tersebut berhenti tepat di halaman, dan sopirnya segera turun untuk membuka bagasi, mengeluarkan beberapa koper besar satu per satu.
Rasa heran membuat Aulia melangkah turun dari teras, mendekat dengan alis yang semakin mengerut. Ketika pintu belakang terbuka dan seorang pria keluar dari sana, langkahnya seketika terhenti.
Adrian.
Pria yang pernah menghancurkan hidupnya kini berdiri di halaman rumah itu.
Belum sepenuhnya hilang keterkejutan yang bersembunyi di balik wajahnya yang tampak tenang, Aulia kini melihat Arumi ikut turun dari mobil dengan wajah sembab dan mata yang jelas membengkak. Entah apa yang telah terjadi, banyak pertanyaan berdesakan di kepalanya, tetapi ia tidak berniat memulai pembicaraan lebih dulu. Ia hanya berdiri di sana, menatap keduanya dengan sikap yang sulit ditebak.
Adrian pun tak kalah terkejut. Sudah lebih dari satu bulan sejak hari itu, sejak terakhir kali ia melihat mantan istrinya, dan sejak saat itu pula ia tidak lagi mengetahui kabar apa pun tentang Aulia.
Tatapannya terpaku pada tubuh langsing wanita yang berdiri di depannya, begitu berbeda dari ingatan terakhir yang ia miliki, ketika Aulia masih terlihat lebih berisi setelah masa kehamilan. Perubahan itu bukan hanya pada fisiknya. Sorot mata Aulia kini memancarkan ketegasan dan ketenangan yang asing baginya, jauh dari sosok yang dulu selalu menatapnya dengan senyum lembut dan penuh pengertian.
Arumi yang menyadari tatapan suaminya tidak lagi sama, sontak diliputi rasa geram. “Mas!” bentaknya lantang, membuat Adrian tersentak dan segera mengalihkan pandangan.
Pria itu berbalik, membantu menurunkan koper dari bagasi, lalu membayar ongkos sopir dengan gerakan tergesa yang berusaha terlihat biasa saja. Setelahnya, tanpa menoleh ke arah Aulia, ia melangkah menuju pintu rumah seolah tempat itu masih menjadi miliknya.
Namun sebelum ia sempat melewati beberapa anak tangga teras, suara Aulia menghentikannya.
“Mau ke mana?”
Wanita itu berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya tajam memperhatikan langkah Adrian yang terasa begitu percaya diri, seolah ia tidak sedang berdiri di rumah yang kini bukan lagi miliknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tuh malah sudah berpelukan bukan dekat lagi tapi nempel