alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga puluh
Luka masih kelihatan lemah, bocah 5 tahun itu terkulai dalam pelukan langit, luka masih berada dalam gendongan langit yang mengamati alia merapikan tempat tidur bocah itu.
Alia menunjuk tempat tidur luka yang sudah rapi, meminta langit meletakkan putranya itu ke tempat tidur. Langit dengan penuh kehati-hatian, meletakkan tubuh lemah bocah tampan itu dengan gerakan lembut.
Ternyata luka masih tertidur, langit menarik selimut dan menyelimuti luka. Setelah puas mengamati wajah putranya, langit keluar menuju ruang tamu yang terlihat berantakan oleh mainan luka.
Senyuman manis terlihat dari wajah langit yang mulai terlihat tenang, tangannya dengan lincah merapikan mainan itu dan memasukkan ke dalam box mainan luka.
Alia yang membawa minuman dari dapur, tertegun melihat langit yang duduk lesehan di lantai merapikan mainan luka, segaris senyum di bibirnya terlihat mengembang indah, alia meletakkan teh hangat itu di atas meja.
Mata indah alia masih mengamati langit yang tidak menyadari kehadirannya, wajah tampan di hadapannya itu terlihat bahagia. Alia tidak percaya, mengapa pria di hadapannya ini bisa berubah sedrastis ini, kemana kebrengsekannya pergi, kemana senyum separuh menyebalkannya itu pergi.
Langit berdiri bertolak pinggang, menatap box mainan itu puas, hembusan nafasnya lega melihat mainan luka tersusun dengan rapi.
Alia yang berdiri di belakang langit hanya mengamati pria itu dalam diam, pria itu sudah membuka jasnya, meninggalkan kemeja putih, yang lengan bajunya di gulung sampai batas lengannya. Ototnya yang menonjol, terlihat mengakar di lengan kekarnya itu, membuat pria itu terlihat gagah..dan juga tampan.
Pria itu membalikkan tubuh kekarnya, tubuhnya terlihat sedikit tersentak, wajah tampannya terlihat kaget, mata elangnya melebar ia tidak menyadari keberadaan alia yang berdiri di belakangnya.
"Itu teh kamu"
Suara alia terdengar parau, rasa malu menggeletar indah di hatinya, wajahnya merona merah. Ia menunjukkan teh yang ada di atas meja,Langit mengangguk dengan senyuman penuh terima kasih,
"Terima kasih alia" ucapnya sangat tulus.
Langit melangkah dan duduk di sofa dengan tenang, meraih gelas itu dan menyesapnya tenang. Alia yang menyadari bahwa ada debar aneh di hatinya, dengan cepat kembali ke belakang, mengantar nampan yang sedari tadi dipegangnya.
"alia..."
Panggilan langit yang ternyata mengikuti alia ke dapur, berdiri di ambang ruang tengah dan dapur, membuat alia terkejut menolehkan kepalanya cepat.
"Ya..?"
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, ini tentang luka di sekolah"
Langit menarik kursi di meja makan itu, meletakkan gelas teh yang ia bawa dari ruang tamu.
"Ada apa dengan luka?" Tanya alia penasaran.
Tangannya dengan lincah meletakkan nampan itu ke rak piring kembali, alia tidak duduk di kursi, ia memilih tetap berdiri di dekat wastafel dan bersandar di sana.
Alia ingin menjaga jarak dengan langit, ada sesuatu dihatinya yang berdebar tak menentu, debaran yang menghasilkan denyutan di jantungnya, sakit namun juga indah, denyut yang berdegub jika ia berdekatan dengan pria itu.
"Tadi aku ke sekolah luka, kepala sekolahnya memintaku untuk kesana.."
Kerutan kening alia terlihat penasaran, matanya memicing penuh tanya.
"Untuk apa?"
Langit menggelengkan kepalanya pelan, wajah tampannya berubah sendu.
"Luka berkelahi dengan temannya—"
" mengapa kepala sekolah itu memanggilmu dan bukan aku?, dan bagaimana beliau tahu nomor ponselmu" sambar alia cepat, ia terlihat sangat penasaran, apalagi pria di hadapannya itu menundukkan kepalanya seakan menutupi sesuatu.
"Beliau mendapatkan nomor ponselku dari luka. Alia..." panggil langit lirih, matanya menatap alia sendu.
"Luka ternyata sangat dewasa, dan itu membuat kepala sekolah dan guru kelasnya sedih, luka tidak bertindak sesuai dengan umurnya"
Alia semakin mengernyitkan keningnya, ia melangkah menghampiri langit yang mendongakkan kepala menatapnya, ia menarik kursi dengan mata masih saling menatap.
"Apa maksudmu?, apa artinya itu?"
"Kepala sekolah itu menceritakan, kalau selama ini luka selalu di ejek tidak punya ayah..."
Mata alia membelalak, ia terkejut tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Langit menatap mata indah alia, sementara langit masih melanjutkan ceritanya.
"Selama ini, saat teman-temannya mengejek, luka tidak menangggapi dan itu cukup menganggu menurut kepala sekolah dan gurunya. Sebagai anak kecil, seharusnya luka bereaksi layaknya seorang anak kecil, tapi ternyata selama ini luka menahannya demi...demi kamu, alia"
"Demi aku?" Lirih suara alia bertanya, sorot matanya terlihat sendu, langit mengangguk pelan.
"Iya.., demi kamu, luka tidak ingin membuatmu susah, ia ingin menjadi pria bagimu, luka ingin menjadi pria yang bisa melindungimu, menjadi seseorang yang bisa kamu andalkan"
Alia tertegun, ujung matanya terlihat basah, hatinya terasa tercabik. Jujur ia merasa bersalah terhadap luka, tanpa alia sadari air mata itu jatuh di pipinya yang ranum.
"Tapi tadi, luka meluapkan emosinya. Dia berkelahi dengan anak yang selalu mengatakan bahwa luka adalah anak yang tidak punya ayah, luka marah....
Maafkan aku jingga, luka berkelahi dengan anak itu karena aku, menurut kepala sekolah luka, dia meluapkan amarahnya selama ini, karena aku" jelas langit lagi, wajahnya kini terlihat penuh rasa bersalah.
Alia mendongakkan wajahnya yang basah, isakannya terdengar pilu. Tangannya meraih tissu yang langit ulurkan.
"Apa maksudnya itu?" Tanyanya masih dengan terisak.
"Luka...merasa ia sudah memiliki ayah, makanya dia menunjukkan ke semua orang di sekolahnya bahwa luka memiliki ayah, maafkan aku alia... jika saja aku tidak memberikan nomor ponselku pada luka, jika saja aku tidak mengiyakan permintaannya untuk menjadi ayahnya, ini semua mungkin tidak terjadi"
Langit menundukkan kepalanya dalam seakan ada beban berat yang menggantung di kepala itu. Alia semakin terisak, hatinya benar-benar sedih. Alia merasa bersalah kepada putranya, penjelasan langit barusan semakin membuat hatinya bagai diiris sembilu.
"Maafkan aku alia..." suara lirih langit semakin terdengar lirih.
Alia masih terdiam, namun matanya menatap langit yang masih tertunduk dalam, alia tahu permintaan maaf dari pria ini tulus.
"Kamu memang ayah luka, langit. Kenapa kamu minta maaf?" Lirih ucapan alia membuat kepala langit yang terkulai, menegak terkejut. Mata pria itu membulat sempurna tak percaya akan pendengarannya.
"Ja..jadi, kamu memaafkanku" tanyanya sedikit gugup, binar harap di mata abu-abu itu terlihat indah.
"Sebagai ayah luka, kamu tidak memiliki kesalahan padaku, jadi kenapa kamu minta maaf" ucapan alia terdengar tulus, sorot mata langit semakin berbinar,
"Jadi..kamu mengijinkan luka memanggilku ayah?" Tanya langit lagi memastikan, alia mengangguk pelan, ia menghapus sisa-sisa air mata yang masih tersisa di pipinya.
"Lalu...apakah, apakah kamu bisa memaafkan kesalahanku padamu, alia?"
Jingga tersentak, tubuhnya terlihat membeku. Sorot mata alia berubah, ada rasa takut di mata indahnya itu. Langit menyadari perubahan raut wajah alia, hatinya seperti dicubit, langit merasa sangat bersalah, sebesar itu ternyata luka yang telah ia torehkan dalam hidup alia.
"Aku...aku..." alia tergagap, wajahnya penuh tatapan gugup dan bingung, "aku...."
"Tidak apa-apa, alia. Jika kamu belum bisa memaafkan aku, tidak apa-apa" binar mata langit terlihat sangat lembut.
"Aku akan sabar menunggu maaf dan ampunanmu, aku tahu, perbuatanku kepadamu tidak pantas untuk dimaafkan, tapi ijinkan aku untuk menjadi ayah luka, ijinkan aku melindungimu dan luka" pinta langit, suara beratnya terdengar sangat lembut.
Alia hanya menatap wajah langit seakan ingin memastikan bahwa ucapan pria itu barusan benar-benar tulus dari hatinya. Dan alia menemukan kejujuran di mata itu, mata elang itu terlihat sangat tulus.
"Hhhhhhhh.."
Alia menghembuskan nafasnya yang terasa berat, mata mereka masih saling menatap, tak ada kata, tak ada suara, namun hati mereka saling berbicara.
Bersambung....