Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Mesin perahu itu akhirnya menyerah tepat saat fajar mulai mengintip dari balik cakrawala. Suaranya yang terbatuk-batuk berakhir dengan satu desisan panjang sebelum benar-benar bungkam. Yoga mencoba menarik tuas starter berkali-kali hingga tangannya lecet, namun yang terdengar hanyalah keheningan yang menyesakkan di tengah laut yang mulai berubah warna dari hitam menjadi abu-abu kebiruan.
"Sudah habis," ucap Yoga lesu, tangannya jatuh di samping tubuhnya. "Kita terombang-ambing."
Risky berdiri, menyeka butiran air laut dari wajahnya. Ia menatap ke depan. Di sana, sekitar satu mil dari posisi mereka, sebuah garis hijau tua membelah kabut. Itu bukan daratan besar, melainkan salah satu pulau kecil di gugusan terluar dekat Batam—sebuah titik yang lebih pantas disebut gundukan hutan di tengah karang daripada sebuah pemukiman.
"Dayung," perintah Risky singkat. Ia mengambil sebilah papan kayu yang biasanya digunakan untuk menutup palka perahu. "Pak Baskoro, Debo, bantu aku. Kita tidak bisa diam di sini saat matahari benar-benar terbit. Helikopter itu akan kembali."
Selama hampir dua jam, mereka berjuang melawan arus. Otot-otot lengan Almira terasa panas membakar saat ia ikut mengayuh dengan papan kecil. Keringat bercampur dengan air garam, membuat matanya perih. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, ia melihat Risky. Pria itu mengayuh dengan kekuatan yang seolah tidak ada habisnya, meski luka di pelipisnya kembali terbuka dan mengalirkan darah segar yang mengering di pipinya.
Perahu mereka akhirnya menabrak pasir kasar yang bercampur dengan pecahan karang. Mereka melompat turun, menyeret perahu itu masuk ke bawah naungan pohon-pohon bakau yang rimbun agar tak terlihat dari udara.
"Selamat datang di tempat yang tak ada di peta," napas Risky tersengal. Ia jatuh terduduk di atas pasir yang lembap.
Pulau itu terasa mati. Tidak ada suara burung, hanya desau angin yang melewati sela-sela pohon kelapa dan deburan ombak yang konstan. Pak Baskoro membantu Debo turun, sementara Almira segera mendekati Risky. Ia merobek bagian bawah kaosnya—bagian yang masih relatif bersih—untuk membalut luka di kepala Risky.
"Kau harus istirahat, Risky. Kau sudah memaksakan diri sejak di Singapura," bisik Almira. Jemarinya yang gemetar menyentuh kulit wajah Risky yang panas.
Risky memejamkan mata sesaat, menikmati sentuhan tangan Almira. "Kita tidak punya kemewahan untuk istirahat, Al. Jika mereka menemukan perahu ini, mereka akan menyisir setiap inci pulau ini. Kita harus masuk lebih dalam ke arah perbukitan batu di tengah."
Mereka mulai berjalan menembus hutan yang rapat. Debo membawa tas berisi laptop dan hardisk itu dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah bayi yang nyawanya bergantung pada tiap langkahnya. Pak Baskoro berjalan di belakang, sesekali menoleh, memastikan tidak ada jejak kaki yang terlalu mencolok tertinggal di tanah yang gembur.
Setelah mendaki sekitar tiga puluh menit, mereka menemukan sebuah ceruk di bawah tebing batu yang tersembunyi oleh akar-akar pohon beringin raksasa. Tempat itu kering dan memberikan pandangan luas ke arah laut.
"Kita bertahan di sini sampai gelap," ucap Risky. Ia memeriksa isi tasnya—dua botol air yang tinggal setengah dan beberapa biskuit yang sudah hancur. "Yoga, cari kayu kering, tapi jangan nyalakan api. Kita hanya butuh untuk menandai area kalau ada binatang liar."
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Kelelahan yang luar biasa akhirnya mengalahkan rasa takut. Debo dan Pak Baskoro langsung tertidur di atas tanah yang dialasi daun kering. Yoga duduk berjaga di mulut ceruk, menatap laut dengan tatapan kosong.
Almira duduk di samping Risky, memandangi laut lepas dari celah bebatuan. "Risky, tentang video itu..."
Risky menghela napas, kepalanya bersandar pada dinding batu yang dingin. "Kau masih memikirkannya?"
"Bagaimana aku tidak memikirkannya? Semua yang kita alami, semua penjebakan ayahku, semuanya bermula dari sana. Ibumu... dan ayahmu." Almira menatap tangannya yang kotor. "Aku merasa kita berdua seperti korban dari sebuah dosa yang tidak pernah kita buat. Kita seperti dua orang yang terikat oleh rantai yang sama, tapi ujung rantainya berbeda."
Risky meraih tangan Almira, menggenggamnya erat. Kali ini, genggamannya tidak lagi terasa penuh keraguan seperti di hotel. "Rantai itu sudah putus semalam, Al. Saat video itu terkirim, kita sudah bukan lagi 'anak dari seseorang'. Kita adalah orang-orang yang berdiri di atas pilihan kita sendiri. Ayahku memilih kegelapan, tapi aku memilihmu. Dan aku akan terus memilihmu, tidak peduli seberapa kotor darah yang mengalir di nadiku."
Almira menatap Risky, merasakan ketulusan yang murni dalam kata-katanya. Di tengah pulau terpencil ini, dikelilingi oleh musuh yang bisa muncul kapan saja, ia merasa menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar pembersihan nama baik. Ia menemukan seseorang yang rela menghancurkan dunianya sendiri demi membangun dunia baru bersamanya.
"Kenapa kau begitu yakin kita akan selamat?" tanya Almira pelan.
"Karena ibumu tidak memberikan hidupnya hanya agar kita mati di pulau tanpa nama ini," Risky tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan. "Dia meninggalkan bukti itu bukan untuk membalas dendam, tapi untuk memberi kita senjata. Dan kita belum selesai menembakkan semua pelurunya."
Tiba-tiba, suara dengungan pelan terdengar dari arah langit. Bukan helikopter. Suaranya lebih halus, seperti lebah raksasa.
"Drone," desis Yoga, langsung merunduk masuk ke dalam ceruk.
Risky menarik Almira masuk lebih dalam ke kegelapan gua. Mereka menahan napas. Di luar, sebuah drone pengintai berwarna hitam metalik melayang rendah di atas garis pantai, kameranya yang canggih menyapu area bakau tempat mereka menyembunyikan perahu tadi.
"Mereka tahu kita ada di sini," bisik Debo yang sudah terbangun, wajahnya tampak sangat ketakutan.
"Mereka belum melihat kita," Risky mencoba menenangkan. "Tapi mereka tahu arah perahu kita berhenti. Drone itu akan memanggil tim taktis. Kita tidak bisa menunggu sampai gelap. Kita harus bergerak sekarang ke arah sisi lain pulau, tempat karang-karang tajam berada. Kapal besar tidak bisa merapat di sana, dan helikopter sulit mendarat karena angin yang tidak stabil."
"Tapi lewat mana? Hutannya semakin rapat di sana," tanya Pak Baskoro.
"Lewat jalur air bawah tanah," Risky menunjuk ke arah bagian belakang gua yang semakin menyempit. "Kakekku dulu sering bercerita tentang gua-gua karang di pulau ini yang tembus ke laut di sisi utara. Itu satu-satunya cara untuk keluar tanpa terlihat dari udara."
Mereka mulai merangkak masuk ke celah batu yang sempit. Air dingin mulai menggenangi kaki mereka, bau lumut dan kelembapan yang mencekam memenuhi udara. Almira merasa sesak, namun genggaman tangan Risky di depannya terus menuntunnya.
Di tengah perjalanan di dalam gua yang gelap, Risky berhenti sejenak. Ia membalikkan badan, menatap Almira yang ada tepat di belakangnya. Di bawah sinar senter kecil yang mulai meredup, matanya tampak sangat lembut.
"Al, jika terjadi sesuatu di depan... jika kita terpisah..."
"Jangan bicara begitu," potong Almira.
"Dengarkan aku," Risky memegang wajah Almira. "Hardisk itu ada di tas Debo, tapi salinan kuncinya ada di kalungmu. Jika hanya satu dari kita yang bisa keluar dari pulau ini, pastikan itu kau. Bawa Ayahmu dan Debo ke perwakilan jurnalis internasional di Batam. Jangan percaya polisi lokal."
"Kita akan keluar bersama-sama, Risky. Kau dengar aku? Tidak ada yang tertinggal lagi," Almira menegaskan, suaranya bergema di dinding gua yang basah.
Risky tidak menjawab, ia hanya mencium kening Almira lama, seolah sedang menyimpan aroma dan rasa itu untuk terakhir kalinya. Mereka kembali merangkak, menembus kegelapan yang semakin dalam, sementara di luar sana, tim pembunuh elit mulai mendarat di pantai, siap untuk mengubur kebenaran di bawah pasir pulau yang terlupakan itu.
Jawaban itu memang sudah ada di tangan, tapi sekarang, pertanyaannya adalah: seberapa besar harga yang harus mereka bayar untuk membawanya pulang?