NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: GEMA DALAM DISTORSI

Udara di London sore itu terasa seperti kaset lama yang kusut—lembap, dingin, dan penuh dengan gangguan statis yang tak kasatmata. Bagi Elara Vance, setiap sudut kota ini bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah museum tanpa dinding yang memamerkan fragmen-fragmen masa lalu yang gagal ia kubur. Ia melangkah menyusuri trotoar Southbank, membiarkan angin musim gugur yang tajam menusuk mantel tipisnya. Namun, rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang mendengung di telinganya, sebuah frekuensi rendah yang selalu muncul setiap kali ia sendirian dengan pikirannya.

Sepuluh tahun telah berlalu sejak ia terakhir kali mendengar suara itu, namun memori tentang Arlo masih seperti tato di bawah kulitnya—tidak terlihat oleh orang lain, namun terasa perih setiap kali ia bergerak terlalu cepat. Elara berhenti di depan sebuah toko musik tua, "The Sound of Yesterday", sebuah bangunan yang nampak hampir kolaps di antara gedung-gedung beton minimalis yang sombong di sekitarnya. Pintu kayunya yang mulai mengelupas seolah menjadi pintu masuk ke dimensi lain.

Tanpa alasan yang jelas, kakinya melangkah masuk. Gemericik lonceng di atas pintu menyambutnya dengan nada yang sumbang. Di dalam, aroma kertas tua, kayu yang lembap, dan piringan hitam yang berdebu langsung menyergap indranya. Aroma itu adalah mesin waktu yang paling kejam.

Di sudut ruangan, sebuah pemutar piringan hitam otomatis sedang berputar, jarumnya menari di atas piringan hitam yang tergores. Detik pertama instrumen itu mengalun—suara synthesizer yang mengawang, penuh reverb, dan seolah datang dari balik kabut tebal—jantung Elara berhenti berdetak sejenak. Itu adalah melodi yang ia kenal. Bukan sekadar lagu, tapi sebuah frekuensi yang pernah menjadi soundtrack dari kehancurannya.

"Do you think I have forgotten?"

Lirik itu menyelinap masuk ke celah-celah pertahanannya yang paling kokoh. Elara memejamkan mata, dan seketika, dinding toko musik itu runtuh. Ia tidak lagi berada di London tahun 2024. Ia kembali ke sebuah kamar kecil yang pengap di pinggiran kota Manchester, sepuluh tahun yang lalu.

Dalam ingatannya, kamar itu berantakan dengan kabel gitar yang melilit seperti ular, botol-botol bir kosong yang menjadi asbak dadakan, dan cahaya lampu kuning yang redup. Di sana, di atas ranjang yang pernya sudah berderit, Arlo duduk dengan gitar listrik di pangkuannya. Rambutnya yang gelap selalu berantakan, menutupi sebagian matanya yang selalu tampak seperti sedang mencari sesuatu yang hilang di kejauhan.

"Lagu ini tentang apa?" tanya Elara muda dalam ingatannya, suaranya lembut, hampir tenggelam dalam gumaman amplifier. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arlo, merasakan detak jantung pria itu yang tenang namun konstan.

Arlo tidak langsung menjawab. Jemarinya yang panjang dan penuh bekas kapalan bergerak lincah di atas senar, menciptakan distorsi yang terdengar seperti tangisan yang tertahan, sebuah suara yang melayang di antara kebahagiaan dan keputusasaan. "Tentang kamu," jawabnya pelan, suaranya serak karena terlalu banyak merokok dan kurang tidur. "Tentang bagaimana, bahkan jika dunia ini berakhir dan kita tidak lagi saling mengenal, aku akan tetap mencari bagian dari dirimu di setiap lagu yang kudengar. Kau adalah hantu yang paling aku cintai, El."

Kembali di masa kini, Elara membuka mata. Napasnya memburu. Lagu itu masih berputar, mencapai bagian klimaks di mana suara gitar elektrik mulai meraung, menciptakan lapisan suara yang megah namun menyayat hati. Ia merasa sesak. Bagaimana mungkin sebuah lagu bisa memiliki massa? Bagaimana mungkin melodi ini terasa begitu berat di pundaknya, seolah-olah Arlo sendiri yang sedang menekan bahunya, memaksanya untuk menoleh?

Ia mendekati rak piringan hitam, jemarinya yang gemetar menyentuh barisan sampul album yang kasar. Ia bisa merasakan kehadiran Arlo di sana. Ia membayangkan pria itu berdiri tepat di belakangnya, dengan jaket denim belelnya yang beraroma tembakau dan melati—kombinasi aroma yang hanya milik Arlo. Elara hampir bisa mendengar napas Arlo di tengkuknya, bisikan-bisikan yang tak pernah sempat diucapkan saat perpisahan itu terjadi.

"Kau masih mendengarkannya?" sebuah suara berat menginterupsi lamunannya.

Elara tersentak dan berbalik. Seorang pria tua dengan kacamata tebal, sang pemilik toko, sedang memperhatikannya dengan tatapan kasihan. "Lagu itu... lagu itu punya cara untuk menemukan orang yang tepat di waktu yang salah," lanjut pria itu sambil mengelap piringan hitam lainnya.

"Aku hanya... aku tidak menyangka masih akan mendengarnya di sini," jawab Elara dengan suara yang hampir pecah.

"Itu lagu tentang sisa-sisa," kata pria tua itu lagi. "Tentang hal-hal yang tidak sempat kita katakan, tapi tetap hidup di dalam kebisingan. Kebanyakan orang menganggapnya sebagai lagu cinta. Tapi menurutku, itu adalah lagu tentang kutukan. Kutukan untuk terus mengingat seseorang bahkan saat orang itu sudah tidak ada di dunia yang sama dengan kita."

Elara terdiam. Kata-kata pria itu seperti pisau yang mengiris tepat di inti traumanya. Ia teringat malam terakhir itu. Malam di mana hujan turun begitu deras hingga suara mereka yang berteriak satu sama lain tertelan oleh guntur. Arlo berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip, wajahnya basah oleh air hujan—atau mungkin air mata, Elara tidak pernah tahu pasti. Arlo tidak mengatakan "selamat tinggal". Ia hanya mengatakan, "Aku akan selalu ada di dalam musik, El. Cari aku di sana."

Dan selama sepuluh tahun, Elara justru melakukan hal sebaliknya. Ia melarikan diri dari musik. Ia bekerja di firma akuntansi yang membosankan di mana satu-satunya suara yang ia dengar adalah ketukan papan tik dan angka-angka yang berbaris rapi. Ia menciptakan kesunyian buatannya sendiri. Namun hari ini, benteng yang ia bangun selama satu dekade runtuh hanya karena satu progresif kord yang familiar.

Ia menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah koordinat geografis, namun hatinya masih tertinggal di frekuensi yang sama dengan Arlo. Lagu ini bukan sekadar suara yang merambat di udara; ini adalah undangan. Ini adalah gema yang menuntut untuk didengar.

Elara keluar dari toko itu dengan langkah yang terburu-buru, hampir berlari menembus kerumunan turis di Southbank. Ia ingin menjauh dari melodi itu, namun ke mana pun ia melangkah, ritme lagu itu seolah mengikuti detak jantungnya. Klakson mobil di jalanan terdengar seperti nada synthesizer, dan rintik hujan yang mulai jatuh ke trotoar terdengar seperti perkusi yang lembut.

Ia sampai di apartemennya yang minimalis dan steril—tempat yang ia rancang agar tidak memiliki kenangan apa pun. Ia melemparkan tasnya ke lantai dan duduk di sofa, menatap dinding putih yang kosong. Di sana, dalam keheningan yang mencekam, suara Arlo kembali bergema.

"There's something about you that I can't quite put my finger on..."

"Aku merindukanmu," bisik Elara pada udara kosong. Itu adalah sebuah pengakuan yang sudah terlalu lama ia simpan di bawah lidahnya, sebuah rahasia yang ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di dalam saku. Sebuah notifikasi muncul dari sebuah aplikasi media sosial yang sudah bertahun-tahun tidak ia aktifkan dengan serius. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal, berisi sebuah link Spotify tanpa kata-kata.

Dengan tangan gemetar, Elara menyentuh link tersebut. Aplikasi itu terbuka, dan sebuah judul lagu muncul di layar ponselnya, bersinar di tengah kegelapan apartemennya.

*About You - Demo Version (2014).*

Jantung Elara seolah melompat keluar dari dadanya. Tanggal itu. Tahun itu. Itu adalah tahun mereka berakhir. Dan yang lebih mengejutkan lagi, sampul dari lagu demo itu adalah sebuah foto buram yang ia ambil sendiri menggunakan kamera analog lama miliknya—foto Arlo yang sedang tertidur di sofa dengan gitar di dadanya.

Siapa yang mengirim ini? Dan mengapa sekarang?

Elara merasa seolah-olah sebuah lubang hitam baru saja terbuka di tengah ruang tamunya, siap untuk menariknya kembali ke dalam pusaran emosi yang sudah ia coba hindari seumur hidupnya. Ia tahu, jika ia menekan tombol play, tidak ada jalan kembali. Ia akan ditarik kembali ke dalam kehidupan Arlo, ke dalam semua rasa sakit, semua keindahan, dan semua distorsi yang menyertainya.

Namun, jemarinya seolah memiliki kemauannya sendiri. Sebelum otaknya bisa melarang, ia menekan tombol play.

Dan di sana, di tengah kesunyian apartemennya di London, suara Arlo yang asli—bukan suara dalam ingatannya, melainkan suara yang direkam melalui mikrofon murah bertahun-tahun lalu—terdengar berbisik sebelum musik dimulai.

"One, two... El, kau masih di sana? Aku harap kau mendengarkan ini suatu saat nanti."

Suara Arlo dalam rekaman itu terdengar begitu dekat, seolah pria itu sedang berbisik tepat di samping telinganya, dipisahkan hanya oleh lapisan tipis udara dan waktu yang telah membeku selama sepuluh tahun. Elara mencengkeram ponselnya erat-erat. Goresan-goresan statis dalam audio berkualitas rendah itu justru memberikan tekstur yang menyakitkan; suara napas yang berat, gesekan kain jaket Arlo pada bodi gitar, dan denting korek api Zippo yang sangat khas.

Elara memejamkan mata, membiarkan tubuhnya merosot ke lantai apartemen yang dingin. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, apartemen modernnya yang mahal di London perlahan memudar, digantikan oleh dinding-dinding bata ekspos yang lembap di sebuah flat kecil di Manchester.

Itu adalah tahun 2014, musim panas yang terasa abadi namun sekaligus mencekam. Arlo sering kali terjaga hingga pukul empat pagi, duduk di ambang jendela dengan kaki menjuntai ke luar, menatap lampu-lampu kota yang tampak seperti berlian murah yang berserakan. Elara biasanya terbangun karena suara petikan gitar elektrik Arlo yang tidak dicolokkan ke amplifier—suara senar baja yang kering dan ritmis.

"Kenapa kau tidak tidur?" tanya Elara saat itu, suaranya parau karena baru saja tersadar dari mimpi.

Arlo menoleh, siluetnya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat. "Aku sedang mencoba menangkap sesuatu, El. Ada sebuah melodi yang terus berputar di kepalaku, tapi setiap kali aku mencoba memainkannya, melodi itu lari. Seperti mencoba menggenggam asap."

Elara bangkit dari tempat tidur, mendekati Arlo, dan melingkarkan lengannya di bahu pria itu. Ia bisa merasakan tulang belikat Arlo yang menonjol, tanda bahwa pria itu lebih sering menghabiskan uangnya untuk membeli kaset bekas daripada makanan yang layak. "Mungkin kau hanya perlu berhenti mengejarnya. Biarkan melodi itu yang menemukanmu."

Arlo terkekeh, suara tawa yang pendek dan pahit. "Masalahnya, melodi ini rasanya seperti namamu. Bagaimana mungkin aku berhenti mengejar sesuatu yang adalah alasan aku bernapas?"

Kembali ke masa kini, di lantai apartemennya yang sunyi, Elara merasakan air matanya membasahi pipi. Di dalam rekaman demo yang sedang berputar itu, instrumen mulai masuk. Bukan versi megah yang ia dengar di toko musik tadi, melainkan versi akustik yang mentah. Suara gitar bolong yang dimainkan dengan penuh tenaga, seolah Arlo ingin menghancurkan senar-senar itu bersamaan dengan rasa rindunya.

"I miss you on the train, I miss you in the morning..."

Suara Arlo bergetar saat menyanyikan baris itu. Elara ingat betul bagaimana Arlo membenci kereta api. Arlo bilang kereta adalah simbol dari orang-orang yang terburu-buru meninggalkan sesuatu. Dan ironisnya, Elara-lah yang akhirnya naik ke kereta itu, meninggalkan Arlo di peron stasiun Piccadilly yang dingin tanpa menoleh ke belakang.

Kenapa hubungan yang begitu kuat bisa hancur begitu saja? Elara mencoba menggali kembali ingatan tentang pertengkaran-pertengkaran terakhir mereka. Masalahnya bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena cinta itu sendiri menjadi terlalu berat untuk dipikul. Arlo adalah seniman yang tenggelam dalam penderitaannya sendiri, sementara Elara adalah seorang wanita muda yang ingin menyelamatkan dunia, namun menyadari bahwa ia bahkan tidak bisa menyelamatkan pria yang ia cintai dari kegelapannya sendiri.

Elara berdiri, kakinya terasa lemas. Ia berjalan menuju cermin di lorong apartemennya. Ia menatap bayangannya; seorang wanita sukses berusia 28 tahun dengan karier stabil, pakaian desainer, dan senyum yang sudah ia latih di depan kaca untuk terlihat "baik-baik saja". Namun, di bawah lampu LED yang terang itu, ia melihat gadis kecil yang hancur sepuluh tahun lalu masih bersembunyi di balik matanya.

Ia menyentuh layar ponselnya, melihat profil pengirim pesan tersebut. Kosong. Tidak ada foto, tidak ada nama, hanya sebuah kode angka yang tidak masuk akal. Apakah ini Arlo? Apakah Arlo masih hidup di suatu tempat, mengawasinya dari kejauhan, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan kedamaian buatannya?

Lagu demo itu berakhir dengan suara hening yang panjang, menyisakan suara statis yang berdesis. Namun, tepat sebelum rekaman itu benar-benar mati, ada satu kalimat terakhir dari Arlo yang tidak pernah Elara dengar di versi radio mana pun.

"El... jika kau mendengar ini, berarti aku sudah menemukan jalan pulang. Sampai jumpa di tempat kita biasa melihat bintang yang tak pernah ada."

Elara terkesiap. "Tempat kita melihat bintang yang tak pernah ada." Itu bukan sebuah metafora puitis bagi orang lain, itu adalah sebuah lokasi spesifik. Sebuah atap gedung tua yang terbengkalai di pinggiran kota, di mana polusi cahaya begitu kuat hingga mereka tidak pernah bisa melihat satu bintang pun, sehingga mereka terpaksa menggambarnya sendiri menggunakan kapur di permukaan semen atap tersebut.

Tangannya gemetar hebat. Pesan ini bukan sekadar nostalgia. Ini adalah koordinat. Ini adalah janji temu yang tertunda selama satu dekade.

Ia tahu apa yang harus ia lakukan, meskipun separuh dari logikanya berteriak bahwa ini adalah kegilaan. Ia tidak bisa terus hidup dalam distorsi ini. Ia tidak bisa terus mendengar gema tanpa mencari sumber suaranya.

Elara mengambil kunci mobilnya, tidak peduli bahwa malam sudah semakin larut atau bahwa besok pagi ia memiliki rapat penting yang bisa menentukan masa depan kariernya. Karena pada saat ini, satu-satunya masa depan yang penting baginya adalah masa lalu yang menolak untuk mati.

Ia melangkah keluar dari pintu apartemen, meninggalkan keheningan yang steril itu. Di telinganya, melodi "About You" masih berputar, namun kali ini bukan lagi sebagai ratapan, melainkan sebagai kompas yang mengarahkannya kembali ke utara, kembali ke tempat di mana semuanya dimulai, dan di mana semuanya hancur.

Malam itu, London bukan lagi kota asing baginya. Setiap lampu jalan yang ia lewati seolah-olah menyala untuk menunjukkan jalan menuju Manchester. Setiap detak jantungnya seirama dengan tempo lagu Arlo.

"Tunggu aku, Arlo," bisiknya di balik kemudi saat mobilnya membelah kegelapan jalan tol M1. "Kali ini, aku tidak akan naik kereta. Kali ini, aku yang akan menjemputmu."

Dan dalam gemuruh mesin mobil, lagu itu kembali berputar di kepalanya, lebih keras dari sebelumnya, mengisi setiap ruang kosong di jiwanya yang telah lama haus akan makna. Babak baru kehidupannya baru saja dimulai, dan ia siap untuk menghadapi setiap distorsi yang akan muncul di depannya.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!