NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Perubahannya kecil.

Tapi terasa.

Arsha sekarang nggak langsung sinis tiap Arka datang.

Kadang malah nungguin.

Kalau Arka telat lima menit, dia pura-pura nggak peduli… tapi matanya terus ke arah jalan.

Arven sadar duluan.

Sore itu Arka lagi bantu benerin rak yang goyang.

Arsha pegangin obeng.

“Om, jangan miring gitu. Nanti jatuh lagi.”

“Iya, bos.”

Arsha ketawa.

Arven berdiri di kasir, memperhatikan.

Tangannya sibuk, tapi pikirannya nggak.

Arkana duduk di meja pojok.

“Dia berubah,” bisiknya ke Arven.

Arven mendengus pelan.

“Dia cuma penasaran.”

“Bukan cuma itu.”

Arven akhirnya nyeletuk keras,

“Sha, stok sirup habis. Cek belakang.”

“Nanti dulu!” jawab Arsha cepat.

“Nanti dulu terus.”

Nada suara Arven mulai beda.

Arsha nengok.

“Kamu kenapa sih?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

Arka berhenti kerja.

Dia bisa ngerasain tegangnya.

“Aku bisa pulang dulu,” katanya pelan.

“Nggak usah,” potong Arven cepat. Terlalu cepat.

Sunyi.

Arkana berdiri.

“Aku cek sirup.”

Dia pergi, ninggalin mereka.

Arven akhirnya bicara, suaranya lebih rendah.

“Kita bilang nggak butuh.”

Arsha langsung balas,

“Aku nggak bilang butuh.”

“Tapi kamu seneng dia di sini.”

“Iya!”

Jawaban itu keluar tanpa mikir.

Arven terdiam.

“Apa salahnya?” lanjut Arsha, suaranya mulai goyah. “Aku cuma pengen ngerasain aja. Sekali.”

Arven rahangnya mengeras.

“Terus kalau dia pergi lagi?”

Itu yang bikin Arsha diam.

Arka berdiri, bingung harus ngomong apa.

Arsha menatap kakaknya.

“Kalau dia pergi lagi… ya udah. Kita udah biasa, kan?”

Kalimat itu terdengar kuat.

Tapi matanya nggak.

Arven melihat itu.

Dan itu yang bikin dia makin marah.

“Kamu nggak biasa,” katanya pelan. “Kita cuma pura-pura kuat.”

Hening.

Arka akhirnya buka suara.

“Aku nggak akan pergi.”

Arven langsung menatapnya tajam.

“Semua orang bilang gitu.”

“Aku beda.”

“Kita nggak kenal Om.”

Arka nggak defensif.

“Makanya aku di sini.”

Arven maju satu langkah.

“Kalau Mama nangis lagi gara-gara Om, aku yang bakal suruh Om pergi.”

Ancaman itu nyata.

Dan Arka nggak tersinggung.

“Deal.”

Arven sedikit terkejut.

“Kalau aku bikin Mama sedih, kamu yang usir aku.”

Arsha melihat dua laki-laki itu.

Sama kerasnya.

Arkana balik dari gudang, berhenti lihat suasana.

“Drama apaan ini?”

Nggak ada yang jawab.

Malamnya—

Aruna duduk sendirian di dapur.

Arsha masuk pelan.

“Ma…”

Aruna tahu.

Ia bisa lihat dari cara anaknya duduk lebih dekat dari biasanya.

“Kamu seneng dia ada?” tanya Aruna pelan.

Arsha nggak langsung jawab.

“Aku nggak tau harus ngerasa apa.”

Aruna mengelus rambutnya.

“Aku takut kamu kecewa.”

“Aku juga takut,” Arsha jujur. “Tapi Ma… aku capek pura-pura nggak penasaran.”

Air mata Aruna hampir jatuh.

“Aku nggak mau kamu sakit.”

“Aku juga nggak mau Mama sakit.”

Hening.

Arsha memeluk ibunya.

“Tapi kalau kita terus nolak… kita nggak pernah tahu dia bakal beneran tinggal atau nggak.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi dewasa banget.

Di luar, Arka masih duduk di mobilnya.

Nggak langsung pulang.

Tangannya di setir.

Dia sadar satu hal—

Meluluhkan anak bukan soal hadiah.

Bukan soal uang.

Itu soal konsisten.

Dan dia baru mulai.

Di dalam rumah kecil itu,

retakan kecil muncul di antara tiga saudara.

Bukan karena benci.

Tapi karena satu dari mereka…

akhirnya berani mengakui kalau dia ingin punya ayah.

Dan itu jauh lebih rumit daripada sekadar menolak.

---

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!