"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Zane
Malam itu, rutinitas baru Salena dimulai. Setelah memastikan pintu kamarnya terkunci dan lampu utama dipadamkan, ia bergelung di balik selimut tebalnya. Cahaya biru dari layar iPad menerangi wajahnya yang tampak serius, seolah sedang meneliti dokumen hukum yang paling rumit di dunia. Padahal, objek penelitiannya masih sama: Zane Sebastian Vance.
Pikirannya melayang kembali ke kejadian di kantin siang tadi. Cara Zane menolak Elin begitu kejam, begitu dingin.
"Mungkin dia punya seseorang di New York," gumam Salena pada kegelapan kamar. Ada rasa lega kecil yang aneh saat memikirkan kemungkinan itu, setidaknya itu menjelaskan kenapa Zane tidak menggubris wanita-wanita alay di kampus. Tapi di sisi lain, rasa penasaran itu justru semakin menyiksa. Jika dia punya kekasih, kenapa tidak ada jejaknya sama sekali di media sosial?
Salena mulai melakukan deep scrolling. Ia melewati foto-foto balap mobil, foto-foto model high-fashion, hingga ia sampai pada unggahan dari sekitar dua tahun yang lalu.
Jarinya terhenti.
Itu adalah sebuah foto di sebuah studio tato yang terlihat vintage di sudut Brooklyn. Zane di foto itu terlihat sedikit lebih muda, mungkin baru berusia 19 tahun. Ia mengenakan kaos dalam putih yang memamerkan bahunya yang kokoh, dan ia sedang duduk di kursi seniman tato.
Di sampingnya, berdiri seorang pria berambut cokelat yang merangkul bahu Zane dengan akrab—(seorang pria yang Salena lihat itu adalah Phoenix) berdasarkan cerita yang pernah ia dengar samar-samar tentang "saudara" Zane di Manhattan. Mereka berdua tertawa lepas ke arah kamera.
Zane sedang memamerkan pergelangan tangannya yang baru saja selesai. Dan di sana, untuk pertama kalinya, Salena melihat Zane tersenyum.
Bukan seringai mengejek, bukan senyum sinis yang biasa ia berikan di kampus, tapi senyum yang benar-benar tulus. Matanya menyipit, memperlihatkan binar kehidupan yang seolah sudah padam sejak ia menginjakkan kaki di Islandia.
"Sial..." bisik Salena tanpa sadar. "Senyum itu... benar-benar mematikan."
Salena memperhatikan bagaimana garis wajah Zane melunak saat tertawa. Ia terlihat begitu manusiawi, begitu hangat. Sangat kontras dengan sosok "Dewa" yang angkuh dan dingin yang ia kenal sekarang.
Salena memperbesar foto itu, fokus pada detail tato di pergelangan tangan Zane yang masih kemerahan. Ia membandingkan pria di foto itu dengan pria yang tadi siang menghancurkan hati Elin di kantin. Apa yang terjadi dalam dua tahun sampai senyum itu hilang? Apa hubungannya dengan pria di sampingnya itu?
"Dia setia pada masa lalunya, bukan pada kekasih yang jauh," simpul Salena pelan.
Tanpa ia sadari, tangannya menyentuh layar, tepat di atas wajah Zane yang sedang tersenyum. Salena segera menarik tangannya kembali seolah layar itu baru saja membakar jarinya. Ia merasa seperti pengintip, seorang pengagum rahasia yang ia benci sendiri keberadaannya.
"Kau benar-benar sudah gila, Salena Blair Ashford," umpatnya pada diri sendiri.
Ia mematikan iPad-nya dengan kasar dan memejamkan mata, namun bayangan senyum Zane di studio tato itu seolah menempel di balik kelopak matanya. Malam itu, Salena menyadari satu hal: ia tidak hanya membenci Zane karena dia urakan, tapi ia mulai membenci dirinya sendiri karena tidak bisa berhenti mencari tahu tentang pria itu.
.
.
Layar ponsel Salena menyala di tengah kegelapan kamar. Jantungnya hampir melompat keluar saat melihat deretan angka asing yang memanggilnya pukul sebelas malam. Dengan ragu dan sedikit rasa takut, ia menggeser tombol hijau.
"Halo?" suara Salena terdengar waspada.
"Kau tahu, Salena... di New York, orang yang memberikan like pada foto dua tahun lalu biasanya harus membayar denda berupa satu cangkir kopi," suara berat dan serak itu langsung membuat Salena terduduk tegak di kasurnya.
"Zane?! Bagaimana kau bisa dapat nomorku?"
"Grup mahasiswa fakultas. Tidak sulit mencari nama Ashford di sana," Zane terdengar sedang bersandar di suatu tempat, mungkin balkon, karena Salena bisa mendengar sayup-sayup suara angin Islandia yang menderu. "Jadi, kau baru saja mempelajari pergelangan tanganku di studio tato Brooklyn? Bagaimana hasilnya, Nona Peneliti?"
Wajah Salena memerah hebat. "Aku... aku hanya tersesat di Instagram. Jangan besar kepala."
Namun, Zane tidak membalas dengan sindiran tajam seperti biasanya. Sebaliknya, ia mulai berbicara tentang hal-hal yang tidak masuk akal. Ia bercerita tentang betapa anehnya rasa air di Reykjavik, tentang bagaimana dia merindukan suara taksi di Manhattan yang bersahutan, hingga teori konyolnya bahwa domba-domba di Islandia sebenarnya adalah mata-mata pemerintah yang menyamar.
"Kau tahu, Sal? Di New York, ada satu toko pizza di sudut jalan 42 yang penjualnya selalu marah-marah kalau kau memesan tanpa menyebutkan jenis keju dalam tiga detik," cerocos Zane. "Aku rasa pria itu akan pingsan kalau melihat betapa tenang dan lambatnya hidup di sini."
Salena tertegun. Zane yang ini sangat berbeda. Dia tidak dingin, tidak singkat, bahkan cenderung... cerewet. Zane terus mengoceh tentang perbedaan warna langit New York yang abu-abu polusi dengan langit Islandia yang terlalu bersih, hingga membahas betapa konyolnya bentuk topi musim dingin yang dipakai salah satu profesor mereka tadi siang.
Tanpa sadar, sudut bibir Salena terangkat. Ia menutupi mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa saat Zane menirukan suara Profesor Magnus yang sedang marah.
"Kau benar-benar aneh, Vance," bisik Salena, suaranya melembut. "Kau bicara seolah-olah dunia ini hanya tempat bermain mu."
"Dunia memang tempat bermain, Sal. Masalahnya, kau terlalu sibuk menjaga agar mainanmu tidak lecet sampai kau lupa cara memainkannya," balas Zane. Nada suaranya sedikit merendah, terdengar lebih intim.
Salena tersenyum lebar di kegelapan kamarnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa "Dewa New York" yang urakan dan ditakuti itu bisa terdengar se konyol ini. Rasa kantuk yang tadi menyerang mendadak hilang, digantikan oleh rasa hangat yang aneh di dadanya.
"Zane," panggil Salena pelan.
"Hmm?"
"Senyummu di foto dua tahun lalu... itu tidak seburuk yang aku kira."
Hening sejenak di seberang telepon. Salena menggigit bibirnya, menyesali kejujurannya. Namun kemudian, ia mendengar Zane terkekeh pelan—bukan kekehan mengejek, tapi kekehan yang terdengar tulus.
"Tidurlah, Nona Ashford. Jangan sampai kau mimpi buruk tentang tato kupu-kupu lagi," ucap Zane sebelum menutup telepon secara sepihak.
Salena menatap layar ponselnya yang kini sudah gelap. Ia merasa seolah baru saja mengenal sisi Zane yang tidak dimiliki oleh siapapun di kampus itu. Si "Dewa" itu ternyata bisa sangat cerewet, dan anehnya, Salena tidak keberatan mendengarnya sepanjang malam.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰