Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan di Hari Kelahiran anakku
Saat ini aku berada di rumah Mamak. Di ruang tamu yang terasa sunyi, aku mencoba menenangkan diri dan mulai bercerita dengan jujur tentang rentetan kejadian semalam.
Aku melihat Bapak diam menyimak, namun jemarinya menggenggam satu sama lain begitu erat hingga memutih. Ada kilat kekesalan sekaligus kekecewaan mendalam di matanya.
Keputusan Bapak sudah bulat; aku tidak diizinkan lagi pulang ke rumah suamiku. Bahkan saat aku menyinggung soal nasib anaknya nanti, Bapak menyela dengan nada mantap.
"Nggak usah lagi ngarepin dia. Biar Bapak saja yang urus semuanya sampai cucu Bapak selapanan nanti," ujar Bapak tanpa ragu.
Aku hanya bisa tertunduk, tak mampu mengelak. Soal biaya persalinan dan kebutuhan anak pun, aku tahu tak bisa lagi mengandalkan suamiku. Segalanya seolah menemui jalan buntu.
"Pak, nanti habis Dzuhur aku diminta Bu Bidan untuk ke rumah sakit," kataku memecah keheningan.
Bapak melirikku tajam, "Terus suamimu gimana? Apa dia mau tanggung jawab nganterin kamu?"
"Entah dia mau atau nggak, Pak. Aku nggak tahu," jawabku pelan, nyaris berbisik.
Di tengah suasana yang masih tegang dan penuh perdebatan itu, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Tak lama, sosok itu muncul di ambang pintu.
"Assalamu’alaikum, Pak, Mak," ucap Ahmad.
Ia melangkah masuk dengan ragu, lalu mendekat untuk menyalami Bapak dan Mamak. Ruangan itu seketika menjadi semakin dingin.
Kedua orang tuaku hebat dalam menyembunyikan luka. Di depan suamiku, wajah mereka tampak biasa saja, seolah tidak ada kekecewaan yang baru saja aku tumpahkan.
"Ayo, Dek. Bu Bidan sudah menunggu," ajak Ahmad dengan nada manis, memasang muka seolah semua baik-baik saja di depan Bapak dan Mamak.
"Hmm," aku hanya berdehem singkat. Aku melangkah mengikutinya meski hatiku terasa panas. Rasanya ingin sekali aku mencabik wajah dan mulutnya yang penuh kepalsuan itu, namun aku mencoba menahan diri demi situasi ini.
Perjalanan menuju Rumah Sakit Salatiga terasa panjang. Sesampainya di sana, aku langsung dibawa ke ruang persalinan. Aku melihat Bu Bidan sibuk mondar-mandir mengurus berkas administrasi.
Waktu terus berjalan hingga tiba pada puncaknya. Kamis malam Jumat, 28 November 2013, tepat pukul 21.48 WIB, putri pertamaku lahir ke dunia. Bayi perempuan cantik yang kuberi nama Melsha.
Oek! Oek! Oek!
Suara tangisnya pecah, memenuhi ruangan. Namun, kebahagiaan itu dibarengi rasa lelah dan panik. Pasca melahirkan, badanku masih terasa sakit karena jahitan, tapi aku memaksakan diri untuk duduk karena Melsha terus rewel.
Aku ingin menyusuinya, tapi air asiku tak kunjung keluar. Di tengah kepanikan itu, dokter menenangkan dan memintaku untuk tetap rileks agar ASI bisa terstimulasi.
Aku mengangguk pasrah. Setelah sempat kugendong dan kupuk-puk sebentar, suster mengambil Melsha untuk ditempatkan kembali di inkubator. Aku pun dipindahkan ke ruang perawatan.
Saat keluar dari ruang persalinan, rasa syukur membuncah di hatiku. Aku tidak sendirian; aku dikelilingi oleh keluarga besarku.
Ada Bude, Pakde, adikku, dan tentu saja kedua orang tuaku yang paling kusayangi. Kehadiran mereka jauh lebih menenangkan daripada keberadaan suamiku sendiri.
Malam itu, aku sempat terlelap. Melsha seolah mengerti kondisi ibunya; ia cukup tenang sehingga aku bisa beristirahat. Namun, tepat pukul 04.00 dini hari, suara tangis kecilnya kembali terdengar.
"Cup, cup, cup... Anak Mamah jangan nangis, ya? Mamah di sini jagain Adek kok," bisikku lembut sambil membopong dan menepuk-nepuk punggungnya pelan. Hanya dengan cara itulah, putri kecilku akhirnya tenang kembali dalam dekapanku.
***
Siang harinya, aku sudah diizinkan pulang. Sebenarnya itu bukan karena kondisiku sudah sepenuhnya pulih, melainkan karena paksaan suamiku.
Ia terus mendesakku untuk meminta izin pulang kepada dokter, hingga akhirnya di catatan administrasi rumah sakit, aku dinyatakan "Pulang Paksa".
Sebelum kami berangkat, Ahmad menitipkan ponselnya kepadaku untuk diisi daya karena baterainya habis. Saat itulah, sebuah pesan masuk dari seorang wanita yang seketika membuat darahku mendidih.
"Say, bisa ketemu nggak? Aku lagi di dekat RSUD nih," tulisnya tanpa tahu malu.
Rasa kesal yang sudah kupendam sejak lama memuncak. Dengan tangan bergetar, aku membalas pesan itu. "Tolong ya, jangan ganggu suamiku kalau nggak ada urusan penting."
Tak butuh waktu lama, balasan darinya masuk. "Emang lo siapa berani atur-atur gue? Selagi suami lo masih mau dekat sama gue, bakal terus gue ganggu!" ucapnya menantang.
"Heh, lo bego apa gimana? Suka banget rebut suami orang. Ingat ya, Ahmad itu sudah jadi ayah dari anakku. Jangan jadi perempuan murahan yang serakah!" balasku tajam.
Bukannya sadar, wanita itu justru balik menghinaku. "Ngaca dong, lo itu jelek kayak gentong! Pantesan suami lo lebih milih gue."
"Dasar wanita gila... bener-bener gila!" gumamku tertahan. Beruntung aku segera menutup tirai ranjang rumah sakit, sehingga tidak ada keluarga atau perawat yang melihatku menggerutu sendirian menahan tangis dan amarah.
Aku tidak mau kalah. Aku membalasnya untuk terakhir kali. "Kalau lo emang suka sama suamiku, temui gue di rumah sakit sekarang juga! Nanti gue kasih suamiku ke lo. Gue juga sudah ogah sama dia.
Masih banyak laki-laki baik dan tulus yang sayang sama gue. Ingat ya, lo sudah hancurin rumah tangga orang, suatu saat karma akan datang buat lo!"
Setelah itu, tidak ada lagi balasan darinya. Aku pun tidak mengharapkan balasan apa pun. Di dalam hati, aku mulai memantapkan diri.
Aku sudah menyiapkan mental jika suatu saat nanti wanita itu benar-benar muncul di hadapanku. Aku tidak akan lagi menjadi wanita yang lemah.
Cih!
"Ngapain juga aku nungguin balasan dari dia? Lebih baik aku fokus sama Melsha," gumamku dalam hati.
Aku menunduk, mengecup lembut kening putri kecilku yang menggemaskan. Kata suster, Melsha punya kulit yang bersih dan wajah yang cantik, mirip bayi oriental.
Melsha Arisma Putri lahir dengan berat 2,7 kg. Sambil tersenyum tipis, aku teringat ucapan suster tadi, "Anaknya mirip sekali sama ibunya, Kak." Kalimat sederhana itu sedikit mengobati luka hatiku.
Pukul 14.39 WIB, waktunya aku berkemas untuk pulang. Sebelum meninggalkan ruangan, aku menyempatkan diri berpamitan kepada ibu-ibu lain yang satu ruangan denganku di Kelas 3. Kamar ini cukup ramai, sehingga selama di sini aku tidak merasa kesepian.
"Mbak, Neng, saya pamit pulang duluan ya. Semoga semuanya diberikan kesehatan, lekas sembuh, dan bisa segera pulang juga," ucapku tulus.
"Amin..." jawab mereka serempak.
"Amin, Amin, Neng. Hati-hati di jalan ya," sahut mbak yang tempat tidurnya tepat di sebelahku.
"Iya, Kak," jawabku singkat sebelum melangkah keluar.
Aku menyerahkan Melsha ke pelukan Mamak agar beliau yang menggendongnya selama perjalanan. Sementara itu, aku berjalan perlahan dituntun oleh Bapak dan adikku.
"Awas, hati-hati jalannya," pesan Bapak lembut. Aku hanya mengangguk pelan.
"Mau digendong saja, Mbak?" tawar adikku melihat langkahku yang masih berat.
Aku baru saja hendak menggeleng, namun suamiku yang tampak tidak sabaran langsung menyambar tubuhku.
Tanpa banyak bicara, ia menggendongku masuk ke dalam mobil. Sebenarnya aku ingin menolak karena rasa kecewa dan sakit hati ini masih menganga lebar.
Namun, aku memilih diam dan tetap pada pendirianku: jika dalam tiga bulan ke depan tidak ada perubahan pada dirinya, aku pastikan rumah tangga ini tidak akan bertahan lama.
Hatiku berbisik. 'Aku tidak akan membalas amarahmu dengan amarah, tapi aku juga tidak bisa menerima perlakuan kasarmu (baik secara verbal maupun fisik). Aku berhak diperlakukan dengan hormat. Perilakumu yang temperamental itu menyakitiku secara mendalam. Jika kamu tidak bersedia mencari bantuan atau berubah, aku harus memprioritaskan kesehatan mentalku sendiri'
Beberapa menit berlalu, tangis Melsha belum mereda. Ia mulai tampak gelisah mencari puting, tanda ia ingin menyusu.
Aku bergegas membawanya ke ranjang pasien, mencoba sekuat tenaga agar ASI-ku keluar. Namun, meski sudah kucoba berkali-kali, hasilnya tetap nihil.
Tubuhku seolah belum siap memberikannya nutrisi. Akhirnya, aku kembali membopongnya sambil berjalan mondar-mandir hingga ia tenang dan tertidur lelap.
Aku kembali ke ranjang, merebahkan diri di samping Melsha sambil memeluknya erat, mencoba mencuri waktu untuk istirahat. Pukul tujuh pagi, Suster Dinda datang untuk mengecek nadi, tensi, dan suhu tubuhku.
"Semuanya normal, ya, Kak. Oh ya, ini kenapa kok sudah langsung dipakaikan kendit?" tegur Suster Dinda saat hendak mengganti popok dewasa yang aku kenakan sejak pasca persalinan karena pendarahan nifas yang masih banyak.
"Sus, kalau popoknya dilepas saja gimana? Biar diganti pakai pembalut biasa," usulku. Rasanya sungguh tidak nyaman memakai popok dewasa di masa nifas seperti ini.
"Boleh, kalau memang sudah sanggup pakainya sendiri. Nanti kalau bersih-bersih pakai air hangat ya, Kak. Lebih bagus lagi kalau pakai rebusan daun sirih," jelas suster yang kubalas dengan anggukan. Setelah popok dilepas, aku bergegas ke kamar mandi untuk berganti. Rasanya jauh lebih lega, meski tubuh masih terasa kaku.
Selesai dari kamar mandi, fokusku kembali pada Melsha. Aku kembali berusaha menyusuinya, sambil terus merapal doa di dalam hati, “Ya Allah, semoga ASI-ku segera keluar.”
Namun, kenyataan tak seindah harapan. Melsha justru menangis semakin kencang karena tidak mendapatkan apa yang ia cari.
Hatiku hancur melihat makhluk sekecil itu menangis sampai sesegukan karena lapar, sementara aku sebagai ibunya merasa tak berdaya.
Bersambung...