Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Detik yang Berbisik dalam Sunyi
Malam kembali turun menyelimuti kota Jakarta, membawa udara dingin yang seolah menembus dinding-dinding tebal rumah sakit. Di dalam kamar perawatan VVIP itu, suasana begitu tenang, hanya diisi oleh suara napas yang teratur dan bunyi detak konstan dari mesin pemantau jantung di samping tempat tidur. Cahaya lampu ruangan telah diredupkan, menyisakan pendaran remang-remang yang menciptakan bayangan panjang di lantai marmer.
Nala duduk di kursi malas yang kini sudah terasa seperti rumah keduanya. Matanya menatap sosok pria yang terbaring di depannya. Raga tampak jauh lebih tenang malam ini. Perban yang membungkus wajahnya masih putih bersih, menutupi misteri besar tentang bagaimana rupa wajahnya nanti setelah semua operasi rekonstruksi itu selesai. Namun bagi Nala, pria di depannya bukanlah sebuah misteri. Dia adalah seseorang yang telah memberikan segalanya, seseorang yang telah membuktikan bahwa cinta bisa membuat pria yang paling angkuh sekalipun bertekuk lutut pada takdir.
Nala beranjak dari kursinya, mendekat ke tepi tempat tidur. Ia meraih botol losion pelembap dan mulai mengoleskannya ke lengan Raga yang tidak terinfus. Gerakannya sangat perlahan, hampir seperti belaian. Ia tahu bahwa kulit Raga terasa kering karena terlalu lama berada di ruangan berpendingin udara.
"Mas Raga belum tidur?" tanya Nala dengan suara yang sangat rendah, hampir berbisik.
Raga membuka matanya perlahan. Dalam remang cahaya, mata hitam itu tampak berkilat. "Belum," jawab Raga singkat. Suaranya masih terdengar parau dan sedikit berat, namun sudah jauh lebih jelas daripada beberapa hari yang lalu.
Nala terus memijat lembut lengan suaminya. "Apa ada yang sakit? Mau aku panggilkan suster untuk memberikan obat pereda nyeri?"
Raga menggelengkan kepalanya sedikit. "Tidak perlu. Hanya sedang berpikir."
Nala meletakkan botol losion itu kembali ke meja. Ia menggenggam tangan Raga, menjalin jari-jemarinya di sela-sela jari pria itu. "Apa yang sedang dipikirkan? Tentang kantor? Pak Hadi bilang semuanya baik-baik saja. Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun."
Raga diam sejenak. Ia menatap langit-langit ruangan yang gelap. "Bukan kantor. Aku memikirkan tentang perban ini. Dokter bilang lusa adalah tahap pertama pembukaan balutan di area telinga dan rahang bawah."
Nala bisa merasakan tangan Raga sedikit menegang dalam genggamannya. Ia menyadari bahwa di balik kewibawaannya, Raga sedang mengalami ketakutan yang luar biasa. Ketakutan untuk kecewa, ketakutan untuk kembali melihat monster di dalam cermin, dan ketakutan bahwa semua penderitaan ini tidak akan mengubah apa pun.
"Mas takut?" tanya Nala dengan kejujuran yang menusuk.
Raga menarik napas panjang. "Aku sudah terbiasa hidup dalam bayang-bayang, Nala. Selama lima tahun, topeng perak itu adalah pelindungku. Sekarang, saat semua itu akan dibuka, aku merasa telanjang. Aku takut jika apa yang ada di balik perban ini justru lebih buruk dari sebelumnya."
Nala mencondongkan tubuhnya, menatap mata Raga dengan intensitas yang penuh kasih. "Dengarkan aku, Mas. Aku pernah bilang ini sebelumnya dan aku akan mengatakannya lagi setiap hari jika perlu. Bagiku, kamu sudah tampan sejak hari pertama aku melihatmu tanpa topeng di studio itu. Luka itu tidak pernah membuatmu menjadi monster. Itu hanya tanda bahwa kamu adalah seorang pejuang."
Nala mengelus pinggiran perban di rahang Raga dengan sangat hati-hati. "Dan sekarang, apapun hasilnya nanti, itu tidak akan mengubah posisimu di hatiku. Jika wajahmu kembali sempurna, aku akan bersyukur. Jika masih ada bekas luka, aku akan tetap mencintainya sebagai bukti bahwa kamu telah menyelamatkanku dari maut."
Raga tertegun. Kata-kata Nala mengalir seperti air sejuk yang memadamkan api keraguan di dalam jiwanya. Ia selama ini selalu dikelilingi oleh orang-orang yang memujanya karena kekuasaan atau mengasihaninya karena kecacatannya. Hanya Nala yang menatapnya sebagai seorang pria biasa. Hanya Nala yang mencintainya tanpa syarat.
"Kenapa kau bisa begitu yakin, Nala?" tanya Raga lagi, suaranya sedikit bergetar. "Aku pernah bersikap sangat kasar padamu. Aku memaksamu masuk ke dalam pernikahan kontrak yang dingin ini. Aku bahkan pernah meragukan ketulusanmu."
Nala tersenyum kecil, sebuah senyuman yang tampak sangat anggun di tengah keremangan malam. "Karena aku melihat pria yang melompat dari lantai tiga puluh demi seorang gadis yang katanya hanya bagian dari kontrak. Pria yang rela menghancurkan punggungnya sendiri di atas semen dan kaca agar aku tidak terbentur. Mas Raga, pria jahat tidak akan melakukan itu. Hanya pria yang sangat mencintai istrinya yang mampu melakukannya."
Raga memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan Nala ke seluruh tubuhnya. "Aku mencintaimu, Nala. Aku baru menyadarinya saat aku melihatmu jatuh malam itu. Rasanya seolah seluruh duniaku ikut jatuh bersamamu."
Ini adalah pertama kalinya Raga mengucapkan kata-kata itu secara langsung dan tegas tanpa ada keraguan. Nala merasa matanya memanas. Air mata bahagia perlahan mengalir di pipinya. Ia menunduk dan mencium kening Raga yang tidak tertutup perban, sebuah ciuman yang sarat akan janji kesetiaan.
"Aku juga mencintaimu, Mas Raga. Sangat mencintaimu," bisik Nala.
Malam itu, percakapan mereka berlanjut ke hal-hal yang lebih ringan. Raga mulai bertanya tentang perkembangan lukisan Nala. Ia ingin tahu apakah Nala masih sering pergi ke galeri.
"Aku tidak pernah pergi ke galeri sejak kamu masuk rumah sakit, Mas," aku Nala. "Waktuku habis di sini, atau di kantor untuk memastikan orang-orang itu tidak macam-macam."
"Kau benar-benar menjadi Nyonya Adhitama yang tangguh," puji Raga. "Sera memberitahuku bagaimana kau membungkam direktur logistik minggu lalu. Aku tidak menyangka istriku bisa sekejam itu."
Nala tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu di ruangan yang sunyi itu. "Aku tidak kejam. Aku hanya meniru tatapan matamu yang menyeramkan itu. Ternyata sangat efektif untuk membuat orang diam."
Raga ikut tersenyum di balik perbannya. "Teruslah seperti itu. Dunia bisnis butuh orang-orang yang tahu cara menggigit, bukan hanya menggonggong."
Beberapa jam berlalu hingga tengah malam tiba. Nala melihat Raga mulai tampak mengantuk. Pengaruh obat-obatan pemulihan saraf memang sering kali membuatnya cepat lelah. Nala merapikan selimut Raga dan memastikan posisi bantalnya sudah nyaman.
"Tidurlah, Mas. Aku akan di sini," ucap Nala.
"Nala," panggil Raga, suaranya sudah semakin berat karena kantuk.
"Iya?"
"Besok... saat dokter datang untuk memeriksa kaki... jangan pergi dari sampingku," pinta Raga.
"Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku akan memegang tanganmu sepanjang waktu," janji Nala.
Raga akhirnya terlelap. Nala tetap duduk di sana, memandangi wajah suaminya. Ia tahu bahwa hari esok akan menjadi tantangan besar lainnya. Terapi fisik untuk kaki Raga akan sangat menyakitkan, dan ketegangan menuju pembukaan perban akan semakin memuncak. Namun Nala tidak lagi merasa takut. Ia merasa bahwa selama mereka bersama, tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki.
Keesokan paginya, suasana rumah sakit terasa lebih sibuk. Pak Hadi datang lebih awal membawa beberapa berkas penting dan berita terbaru.
"Nyonya Muda, ada perkembangan mengenai Burhan," ucap Pak Hadi saat mereka berbicara di teras kecil kamar perawatan. "Dia mencoba mengajukan pengampunan dengan alasan kesehatan mental, namun tim hukum kita telah menyerahkan bukti tambahan bahwa dia merencanakan sabotase ini dengan sadar selama bertahun-tahun. Hakim menolak mentah-mentah pengajuannya."
Nala mengangguk puas. "Pastikan dia tidak punya celah. Orang seperti dia harus membusuk di penjara."
"Tentu, Nyonya. Oh, satu lagi. Tuan Bramantyo menanyakan apakah Anda bisa datang menjenguknya siang ini? Dia bilang ada sesuatu yang sangat penting yang ingin dia bicarakan secara pribadi," tambah Pak Hadi.
Nala terdiam sejenak. Ia melirik ke dalam kamar, melihat Raga yang sedang disiapkan oleh perawat untuk sesi terapi. "Katakan pada Ayah, jika itu tentang uang, dia bisa bicara pada pengacara. Tapi jika itu tentang hal lain, aku mungkin akan datang setelah sesi terapi Mas Raga selesai. Aku tidak ingin meninggalkan Mas Raga saat dia sedang berjuang."
Siang harinya, tim fisioterapi datang. Ini adalah momen yang paling ditakuti oleh Raga. Ia harus dipindahkan ke sebuah kursi khusus yang bisa membantu tubuhnya berdiri tegak secara perlahan. Saat proses pemindahan itu dilakukan, Nala bisa melihat otot-otot di leher Raga menegang hebat. Erangan rasa sakit yang tertahan terdengar dari balik perbannya.
Nala menggenggam tangan Raga dengan sangat kuat, persis seperti janjinya semalam. "Tarik napas, Mas. Fokus pada tanganku. Kamu bisa melakukannya."
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Raga. Setiap inci pergerakan saraf tulang belakangnya terasa seperti disayat sembilu. Namun, saat ia merasakan genggaman tangan Nala, ada kekuatan tambahan yang muncul dari entah mana. Raga memaksakan dirinya untuk bertahan. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan wanita yang ia cintai.
Setelah satu jam latihan yang sangat melelahkan, Raga akhirnya kembali dibaringkan di tempat tidurnya. Ia tampak sangat lemas, namun ada binar kemenangan di matanya. Hari ini, ia berhasil menggerakkan ujung kakinya sedikit lebih banyak dari kemarin.
"Bagus sekali, Tuan Raga. Kemajuan ini sangat signifikan," puji dokter saraf yang mendampingi. "Jika konsisten seperti ini, dalam satu bulan Anda mungkin sudah bisa mulai belajar melangkah menggunakan penyangga."
Nala menyeka keringat di wajah Raga dengan handuk hangat setelah para dokter pergi. "Kamu hebat, Mas. Kamu benar-benar pejuang."
Raga tidak menjawab, ia hanya menatap Nala dengan penuh rasa terima kasih. Ia merasa bahwa rasa sakit yang ia lalui hari ini tidak sebanding dengan kebahagiaan saat melihat senyum lega di wajah Nala.
Sore harinya, sesuai janjinya, Nala pergi menemui ayahnya di lantai bawah. Ia berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit dengan langkah yang tenang. Saat ia masuk ke kamar Bramantyo, ia melihat ayahnya duduk di tempat tidur dengan kaki yang digips tebal dan disangga. Di sampingnya, Siska tampak sedang mengupas buah dengan wajah masam.
Begitu melihat Nala, wajah Bramantyo tampak sedikit bersinar, namun ada rasa malu yang besar di matanya.
"Nala... kau datang," ucap Bramantyo dengan suara serak.
Nala duduk di kursi yang agak jauh dari tempat tidur. "Ada apa, Ayah? Pak Hadi bilang ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan."
Bramantyo menunduk, ia tidak berani menatap mata putrinya yang kini tampak begitu berwibawa. "Ayah... Ayah ingin meminta maaf, Nala. Ayah sadar betapa jahatnya Ayah selama ini padamu. Ayah menjualmu demi perusahaan, dan Ayah membiarkan Burhan menghancurkan hidupmu."
Nala diam, mendengarkan tanpa ekspresi. Ia tidak ingin terbawa emosi.
"Ayah tahu permintaan maaf ini tidak akan mengubah apa pun," lanjut Bramantyo dengan air mata yang mulai mengalir. "Tapi Ayah ingin kau tahu, bahwa Ayah sangat menyesal. Mendengar Raga melompat demi kamu malam itu... itu membuat Ayah sadar bahwa kau telah menemukan pria yang jauh lebih baik daripada Ayah dalam menjagamu."
Siska mendengus kesal di sampingnya, namun sebuah tatapan tajam dari Nala membuatnya langsung bungkam.
"Aku sudah memaafkan Ayah sejak lama," ucap Nala dengan suara datar namun tegas. "Bukan karena aku melupakan apa yang Ayah lakukan, tapi karena aku tidak ingin menyimpan racun di hatiku lagi. Aku sudah memiliki hidupku sendiri sekarang. Aku adalah istri Raga Adhitama, dan masa laluku di rumah Aristha sudah terkubur."
Nala berdiri, ia tidak ingin berlama-lama di sana. "Fokuslah pada kesembuhan Ayah. Raga sudah menanggung semua biaya rumah sakit ini sebagai tanda terima kasih terakhir karena Ayah telah 'memberikan' aku padanya. Setelah Ayah keluar dari sini, hiduplah dengan tenang dan jangan pernah mencoba untuk mengusik kami lagi."
Nala keluar dari kamar itu tanpa menoleh lagi. Ia merasa beban besar di pundaknya telah benar-benar hilang. Ia telah menyelesaikan urusannya dengan masa lalu, dan kini ia siap sepenuhnya untuk menyongsong masa depan.
Kembali ke kamar Raga, Nala mendapati suaminya sedang menunggunya dengan mata terbuka.
"Bagaimana?" tanya Raga singkat.
Nala tersenyum manis, ia duduk di samping Raga dan menggenggam tangannya kembali. "Sudah selesai, Mas. Tidak ada lagi ganjalan. Sekarang, hanya ada kita."
Raga menarik tangan Nala dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Hanya ada kita," ulang Raga.
Malam itu, mereka kembali dalam kesunyian yang indah. Penantian untuk pembukaan perban lusa nanti terasa tidak lagi menakutkan bagi Raga. Apapun rupa yang akan ia lihat di cermin nanti, ia tahu bahwa ada sepasang mata indah yang akan selalu menatapnya dengan cinta yang sama. Dan bagi Raga Adhitama, itu adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada kekuasaan apa pun di dunia ini.
Di bawah langit malam yang bertabur bintang tipis di balik awan Jakarta, dua jiwa yang pernah hancur itu kini sedang merajut kembali harapan mereka, satu detik demi satu detik, di dalam ruang sunyi yang penuh dengan doa dan cinta yang tulus.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
sangat bagus thor ,sangat bagus,,
qu dulu ,fans garis besar ,fredy S, penulis novel di aera 80 an, karyanya" sangat bagus ,dn novel mu sangat bagus
novel yg sangat bagus
anga,seorang melyeder, ceo kya
ga mampu oplas🙄🤦♀️