NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua belas

Setibanya di sekolah, Meira sengaja pergi ke perpustakaan terlebih dahulu untuk meminjam beberapa buku. Kebetulan suasana di kelas juga masih sepi, hanya ada beberapa murid yang memang terbiasa datang pagi. Termasuk Meira dan Ayara.

Tiga puluh menit berlalu, Meira kembali ke kelas. Ia langsung menjatuhkan diri di bangkunya saat tiba di kelas. Keadaan kelas sudah ramai sekarang. Bersamaan dengan itu Ayara masuk ke kelas bersama Hesty dan Lana setelah sebelumnya mampir ke kantin untuk membeli susu kotak.

"Mei, lo beneran gak Amnesia? Kepala lo baik-baik aja? Otak juga masih di tempatnya, kan?" Hesty menyambutnya dengan pertanyaan-pertanyaan konyol begitu masuk ke dalam kelas. Meira menerima susu cokelat yang diasongkan Hesty padanya seraya berterimakasih.

"Apa sih, lo. Mana ada otak geser cuma gara-gara ketimpa bola, oon!" Lana meraup wajah Hesty untuk menyadarkan temannya itu. "Tapi gue khawatir juga, sih. Gue takut rumus yang ada di otak lo pada loncat keluar."

Meira terkekeh pelan di bangkunya. Tingkah Hesty dan Lana sungguh sangat lucu. "Nggak, kok, semuanya aman." ucapnya.

"Masih kenal kita gak?" Ilham menunjuk dirinya serta Haris dan Abil yang berada di sampingnya. Cowok itu tak sengaja mendengar percakapan antara Meira dan ketiga temannya.

Meira tersenyum lalu menggeleng pelan. "Kalian siapa?" tanyanya dengan ekspresi wajah yang sengaja dibuat bingung.

Ilham yang mendengar itu langsung membulatkan matanya. "Serius, Mei." Cowok itu bernapas lega ketika Meira menggeleng seraya terkekeh pelan. Ia tahu kalau Meira hanya bercanda.

"Eh, btw, kalian udah ngerjain tugas Kimia?"

Pertanyaan dari Lana membuat Ilham dan Haris saling pandang. "Emang ada tugas?" kata mereka berbarengan, membuat Lana menepuk dahinya keras.

Ruang kelas yang tadinya ricuh mendadak lebih kondusif ketika Bu Resma dan satu orang murid perempuan masuk ke dalam kelas. Beberapa siswa yang tadinya akan memanfaatkan waktu untuk mengerjakan tugas langsung mengurungkan niatnya.

"Selamat pagi, semuanya." ucap Bu Resma.

"Pagi, Bu." jawab semua orang kompak.

"Ibu dapat laporan dari Anita kalau gelang dia hilang. Kemarin saat Anita melapor, tadinya Ibu mau ngatasin masalah ini sendirian, dengan berunding bersama kalian. Tapi, Pak kepala sekolah sudah terlanjur tahu." Bu Resma menghela napas di sela bicaranya. "Ibu mohon dengan sangat, minta kejujuran dari kalian."

"Kok bisa hilang, Bu?" tanya Hesty.

"Iya, Bu, kok bisa. Perasaan satu tahun belakangan kelas kita aman-aman aja." tambah murid dari bangku pojok.

"Ibu belum tahu pasti hilangnya kapan. Anita bilang dia lepas gelangnya karena biasanya emang sering dilepas kalau jam olahraga. Tapi jam istirahat di cek lagi gelangnya sudah tidak ada. Jadi kemungkinan hilangnya saat kalian semua ikut pelajaran olahraga."

Meira terdiam beberapa saat mendengar penjelasan dari Bu Resma. Pandangannya beralih pada seorang perempuan yang duduk tepat di belakang Rey. Meira jadi teringat sesuatu.

Meira memaksakan kakinya melangkah menuju kelas. Entah kenapa, sejak kedatangan Rey ke UKS untuk menungguinya, jantungnya tidak bisa dikendalikan. Apalagi saat cowok itu memutuskan memijat pelipisnya. Tak mau menambah penyakit, akhirnya Meira memutuskan pergi ke kelas dan istirahat disana. Ia juga sudah berpesan pada Rey untuk tidak usah mengikutinya.

Pusing di kepalanya masih melekat. Sambil berjalan gontai, Meira menundukan kepalanya, memijat kembali keningnya seraya berjalan. Karena tak memperhatikan jalan, tak sengaja Meira menubruk tubuh seseorang di depannya. Kalau saja ia tidak berpegangan pada tembok, ia pasti sudah terjatuh ke lantai.

"Maaf, gue gak sengaja."

Meira mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang ia tabrak. "Gapapa."

Tanpa mengatakan apapun lagi, cewek yang ditabrak Meira langsung berlari menjauh. Meira mengerutkan keningnya heran dengan sikap cewek itu yang sedikit aneh. Meira mengangkat bahunya acuh, kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Meira baru sadar kalau ternyata kelasnya sudah di depan mata. Hanya perlu tiga langkah ia sampai di pintu kelas yang terbuka.

Meira langsung menjatuhkan diri di kursi saat tiba di bangkunya. Kepalanya ia simpan di atas meja dengan tangan sebagai bantalannya. Detik berikutnya, Meira mulai memejamkan mata berharap rasa pusing itu segera hilang.

"Rey, siapa saja yang tidak ikut pelajaran olahraga kemarin?"

Pertanyaan dari Bu Resma membuat Meira tersadar dari lamunannya. Meira menoleh pada Rey yang juga sedang menatap ke arahnya.

"Saya dan Meira, Bu." jawab Rey tanpa mengalihkan pandangannya.

"Kemarin Meira sakit, lo juga kan tau dia di UKS, bukan di kelas." timpal Hesty.

"Iya bener, Rey nungguin Meira di UKS, Bu." tambah Ayara.

Bu Resma menatap Meira dan Rey bergantian. "Kalian tidak ke kelas?"

Rey tak langsung menjawab, tatapannya tetap bertahan pada Meira yang hanya diam saja.

"Kita—"

"Saya berada di kelas, Bu." Meira menyela ucapan Rey cepat. Jawaban Meira membuat semua orang mengerutkan keningnya.

"Mei, bukannya lo di UKS?" ujar Hesty terkejut. "Lo emang gak ikut mapel olahraga, tapi lo kan—"

"Meira memang ke kelas, tapi dia tidak mengambil apapun. Yang saya lihat, Giani keluar dari kelas saat itu." Rey mengalihkan pandangannya dari Meira dan menatap lurus ke arah Bu Resma.

Rey memang tidak menuruti perintah Meira untuk segera kembali pada pelajaran Pak Dika. Cowok itu malah mengikutinya dari belakang. Ia khawatir terjadi hal lain kepada Meira saat di kelas.

"Maksudnya, lo nuduh Gia?" sahut seseorang dari belakang bangku Rey, teman sebangku dari cewek bernama Giani. "Giani gak kemana-mana pas olahraga, dia sama gue dari awal sampai akhir pelajaran." tukasnya.

"Gue berkata sesuai fakta." Rey menegaskan.

"Fakta yang lo berikan itu gak bener. Gi, jangan diem aja dong, lo udah dituduh."

Semua pasang mata menatap ke arah Giani. Termasuk Meira. Cewek itu terlihat mengulum jarinya di atas meja. Gurat ketakutan terlihat dari matanya yang berusaha ia tutupi. Namun, Meira dapat melihatnya dengan jelas. Giani tampak sedang menutupi sesuatu.

"I-itu .. tidak benar, Bu." ucapnya terbata.

Sementara itu, Rey mengatupkan mulutnya. Tatapannya masih lurus ke depan, enggan menoleh sedikitpun pada kedua orang di belakangnya.

"Meira, benar kamu tidak melakukannya?" Bu Resma bertanya pada Meira yang masih diam.

"Meira baru seminggu di kelas ini, Bu, dia mana tahu Anita punya gelang dan sering disimpen di tas pas jam olahraga. Dan juga, Meira belum pernah sekalipun ngobrol sama Anita, apalagi bangku mereka jauh." Ilham ikut bersuara.

"Benar, Bu. Saya dari kecil udah temenan sama Meira, gak pernah tuh saya kehilangan barang atau apapun. Meira gak mungkin mencuri." Ayara menyela.

"Kalian kenapa jadi pada belain dia? Kalau benar dia pencurinya gimana? Mana ada maling yang mau ngaku sih!" teman sebangku Giani yang bernama Risa kembali berbicara seraya memberikan tatapan sinis pada Meira.

"Lo gak punya bukti buat nyalahin Meira." Ayara berdiri dari tempat duduknya.

"Bukti apa, kan udah jelas dia bilang sendiri kalau kemarin dia ada di kelas."

"Dia ada di kelas bukan berarti dia juga yang ngambil gelangnya, kan?" kali ini Abil yang berbicara.

Meira memejamkan matanya mendengar keributan dari teman-temannya. Rasa pusing kembali terasa di kepalanya. Wajahnya tampak pucat kembali. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi untuk menetralisir rasa pusingnya.

"Tetep aja—"

"Sudah, cukup! Kenapa malah pada ribut begini!" lerai Bu Resma. "Ayara, duduk!" Bu Resma menegur Ayara.

Ayara memberikan tatapan tajam ke arah Risa yang juga menatapnya tak kalah tajam.

"Meira, ikut Ibu. Kamu bisa jelaskan semuanya di kantor kepala sekolah." Bu Resma memerintah Meira, nada bicaranya tegas. Seolah tidak mau dibantah.

Meira membuka matanya perlahan. "Baik, Bu." katanya lirih.

"Bagaimana dengan CCTV, Bu." Rey memberanikan diri untuk kembali bersuara. "Bukankah di kelas ini ada CCTV?"

Meira yang hendak bangkit dari duduknya langsung mengurungkan niatnya ketika Rey menatapnya lekat. Mengisyaratkan cewek itu untuk tetap diam di tempat.

"Benar juga, Bu, apa kata Rey. Biar lebih jelas siapa sebenarnya yang mencuri uang itu." timpal Ayara cepat. Kamera CCTV yang berada di sudut ruangan seketika menjadi sorotan.

Bu Resma mendesah pelan. "Kalian tidak ingat, ya, CCTV kelas IPA 1 dan 2 rusak dari bulan lalu, baru mau diganti minggu depan sama petugas."

"Sial!" gerutu Ayara. Begitu pula dengan Hesty, ia membuang napas kasar mendengar ucapan Bu Resma.

"Ibu tidak menyalahkan siapapun disini, ini keputusan dari kepala sekolah. Meira, ayo ikut Ibu."

Meira mengangguk pasrah, ia melirik ke arah Rey sekilas. Rasa pusing itu semakin menjadi-jadi saat ia mulai berdiri. Meira meringis pelan, lalu menggelengkan kepalanya berusaha melawan. Baru dua langkah Meira meninggalkan bangkunya, tiba-tiba tubuhnya terasa sangat lemas. Meira tidak bisa menopang lagi berat tubuhnya. Beruntung Rey segera menangkap Meira sebelum cewek itu terjatuh ke lantai.

"Mei!" Ayara orang pertama yang menghampiri Meira.

"Ya Tuhan, Meira kamu kenapa?" seru Bu Resma panik. Ia terkejut melihat Meira yang pingsan, ditambah saat darah segar mulai keluar dari hidung Meira.

"Lo kambuh lagi, Mei." Ayara mengeluarkan tissue dari saku bajunya kemudian mengelap mimisan Meira dengan hati-hati.

"Kebetulan gue yang bawa kuncinya, ayo bawa dia ke UKS." ujar Giani, cewek itu menunjukkan sebuah kunci. Giani adalah salah satu anggota PMR di sekolah itu.

Rey langsung bergegas menggotong tubuh Meira menuju UKS yang lumayan cukup jauh dari kelasnya. Sementara itu, Bu Resma berjalan ke ruangan kepala sekolah untuk memberitahu kalau Meira pingsan.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!