Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pemungutan Suara Iblis
Kematian Bimo bukan lagi sekadar berita kriminal; itu adalah trauma nasional. Ribuan orang melempar ponsel mereka ke dinding, namun layar-layar yang retak itu tetap menyala, menampilkan hitung mundur berwarna merah darah di aplikasi TikTok yang tidak bisa ditutup.
Bab 4: Pemungutan Suara Iblis
Pukul 02.15 pagi. Suasana di media sosial berubah dari rasa ingin tahu menjadi paranoia murni. Setiap pengguna TikTok di Indonesia mendapati layar mereka terkunci pada sebuah fitur baru yang muncul secara paksa: "VOTE THE NEXT ANATOMY".
Daftar nama yang muncul di sana bukan orang sembarangan. Semuanya adalah influencer atau tokoh publik yang sedang tersandung skandal. Ada politikus korup, ada selebgram yang baru saja melakukan penipuan investasi, dan ada seorang guru yang dituduh melakukan kekerasan.
Di sebuah apartemen studio yang berantakan, Maya, seorang jurnalis investigasi independen, menatap layar HP-nya dengan tangan gemetar. Namanya tidak ada di daftar, tapi dia tahu ini adalah awal dari anarki digital.
"Ini gila," bisik Maya. "Dia bikin kita jadi algojo."
Kolom komentar di fitur vote itu bergerak secepat kilat.
user_anon: Pilih si Angga aja! Dia kan penipu investasi, biar mampus!
keadilan_rakyat: Gue vote si Anggota DPR itu. Biar dia tahu rasanya dibedah.
Orang-orang, karena rasa takut akan nyawa mereka sendiri, mulai menekan tombol vote dengan beringas. Mereka pikir, selama ada orang lain yang dipilih, akun @anatomi_maut tidak akan mendatangi rumah mereka. Mereka lupa bahwa dengan memilih, mereka baru saja menandatangani kontrak dengan iblis yang sama.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke DM Maya. Pengirimnya: @anatomi_maut.
"Kamu tidak memilih, Maya. Kamu pikir moralitasmu lebih tinggi dari mereka? Cek folder 'Draft' di laptopmu."
Maya tersentak. Dia membuka laptopnya yang seharusnya dalam keadaan mati. Laptop itu menyala sendiri, menampilkan folder draft artikel yang sedang dia kerjakan—sebuah investigasi tentang asal-usul sebuah server gelap yang diduga digunakan oleh sindikat perdagangan organ manusia di Deep Web.
Kursor di laptopnya bergerak sendiri, menghapus seluruh isi artikelnya dan menggantinya dengan satu kalimat besar:
"AKU BUKAN SINDIKAT. AKU ADALAH DATA YANG MENJADI DAGING."
Di layar TikTok, hasil pemungutan suara akhirnya berhenti. Nama yang terpilih dengan suara terbanyak adalah Reno, seorang prankster yang terkenal karena sering membuat konten melecehkan orang-orang di jalan demi views.
Seketika, sebuah notifikasi siaran langsung muncul di layar jutaan orang: [LIVE: RENO_PRANKS - PERMINTAAN MAAF TERAKHIR].
Reno terlihat sedang berada di dalam mobilnya, mencoba kabur dari Jakarta. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap. "Guys... tolong... gue nggak bermaksud jahat sama konten-konten gue selama ini. Gue cuma butuh uang! Jangan tonton gue! Tolong report live ini!"
Reno berteriak histeris, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan tol yang sepi. Namun, keanehan terjadi. Radio mobilnya tiba-tiba menyala, memutar suara rekaman jeritan Rara dan Bimo yang dipadukan dengan denting instrumen bedah.
@anatomi_maut: Kamu suka lari, Reno? Mari kita lihat seberapa cepat saraf penggerakmu bekerja saat aku memutusnya satu per satu.
Tiba-tiba, setir mobil Reno terkunci. Remnya blong. Pedal gas justru terinjak sendiri hingga menyentuh lantai mobil. Kecepatan mobil melonjak ke 160 km/jam.
"NGGAK! BERHENTI! TOLONG!"
Di layar HP para penonton, muncul sebuah grafik interaktif baru di atas video Reno: sebuah anatomi kaki manusia. Sebuah garis merah berkedip di bagian Tendinitis Achilles.
Klik.
Suara tek yang sangat keras terdengar dari dalam mobil. Reno menjerit sejadi-jadinya. Pergelangan kaki kanannya mendadak putus dari dalam kulit, seolah ada gunting raksasa yang memotong uratnya tanpa menyentuh daging luarnya. Kakinya terkulai lemas, tak lagi bisa menginjak pedal apa pun.
Mobil itu melesat tak terkendali menuju pembatas jalan.
Para penonton bukannya merasa kasihan, banyak dari mereka justru mengirim stiker "Tertawa" dan "Api". Mereka sudah terinfeksi kegilaan ini. Mereka merasa aman karena "bukan mereka" yang ada di dalam mobil itu.
"Kalian jahat..." rintih Reno ke arah kamera HP-nya yang menempel di dashboard. "Kalian yang milih gue... kalian pembunuhnya..."
BRAKKKKKK!
Mobil itu menghantam pembatas jalan dengan kecepatan tinggi dan terguling berkali-kali. Kamera HP tetap menyala, memperlihatkan tubuh Reno yang terjepit di antara logam mobil yang ringsek.
Namun, Reno tidak mati seketika.
Dari lubang ventilasi AC mobil yang hancur, keluar cairan hitam kental yang mulai membentuk tangan-tangan kecil. Tangan-tangan itu membawa potongan silet kecil yang bersinar di bawah lampu jalan.
@anatomi_maut: Sesi foto dimulai. Senyum, Reno.
Live itu tidak berakhir dengan ledakan, tapi dengan suara sayatan daging yang sangat ritmis, disaksikan oleh jutaan mata yang sekarang mulai menyadari: siapa pun yang ikut memberikan suara, kini memiliki "tanda" merah kecil di profil TikTok mereka.
Tanda itu berbentuk sebuah mata yang menangis darah.
[WHO IS NEXT] HAHAHAHAHAHAHA
cukup seru sih terlihat menjanjikan
ok next