"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Persiapan Menghadapi Ancaman
Minggu pagi, satu hari setelah momen mengejutkan di ruang latihan, suasana antara Suyin dan Xiao Zhen terasa berbeda.
Bukan canggung—tapi lebih seperti ada sesuatu yang berubah secara diam-diam. Seperti pintu yang selama ini tertutup rapat tiba-tiba terbuka sedikit, memperlihatkan cahaya hangat dari dalam.
Xiao Zhen menyiapkan sarapan sendiri—sesuatu yang tampaknya jarang dilakukannya karena Nyonya Qin terlihat sedikit bingung saat melihat bosnya berkutat di dapur.
"Kamu masak?" tanya Suyin heran saat turun ke dapur dan mendapati Xiao Zhen sedang membolak-balik telur dadar.
"Sesekali. Duduk saja." Suaranya terdengar tenang tapi ada sesuatu di sudut matanya—sesuatu yang hangat dan malu-malu.
Suyin duduk di kursi dapur, menatap Xiao Zhen memasak dengan perasaan aneh di dada. Ada hangatnya, ada malunya, ada juga sedikit rasa tidak percaya.
Kemarin malam dia diciumi oleh pria ini. Dan pagi ini pria itu memasak telur dadar untuknya.
Hidup memang tidak bisa ditebak.
"Xiao Zhen."
"Ya?"
"Tentang semalam—"
"Kita tidak perlu membahasnya kalau belum siap," potong Xiao Zhen sambil meletakkan piring di hadapan Suyin. Telur dadar dengan keju, roti panggang, dan salad dari sayuran organik milik Suyin sendiri. "Semua itu nyata. Perasaanku nyata. Tapi aku tidak mau terburu-buru."
Suyin menatap makanan di depannya, lalu menatap Xiao Zhen yang kembali ke kompor untuk mengambil piring miliknya.
"Aku juga tidak mau terburu-buru," ucap Suyin. "Tapi aku juga tidak mau pura-pura tidak terjadi apa-apa."
Xiao Zhen duduk di hadapannya, menatap Suyin sebentar.
"Baiklah. Kita tidak pura-pura. Tapi kita juga tidak perlu mendefinisikan apapun sekarang. Cukup biarkan mengalir." Dia mengangkat cangkir kopinya. "Setuju?"
Suyin mengangkat cangkir tehnya, mengetuknya dengan cangkir Xiao Zhen.
"Setuju."
Mereka sarapan dalam keheningan yang nyaman—sesekali mata bertemu dan keduanya tersenyum tanpa alasan.
Setelah sarapan, Xiao Zhen mengumpulkan Suyin di ruang kerjanya untuk membahas rencana menghadapi ancaman Organisasi Bayangan di acara reuni keluarga Lin lima hari lagi.
Di atas meja sudah ada peta lokasi—tampaknya rumah keluarga besar Lin di kawasan Menteng—dengan beberapa tanda merah dan biru.
"Aku sudah hubungi Lima anggota Klan Xiao yang bisa dipercaya. Mereka akan datang besok untuk koordinasi." Xiao Zhen menunjuk tanda biru di peta. "Dua akan menyamar sebagai tamu, dua di luar area sebagai pengawas, satu lagi di dalam sebagai pelayan."
"Bagaimana kalau Organisasi Bayangan datang dengan lebih banyak orang?" tanya Suyin.
"Kemungkinan besar mereka akan datang dengan empat sampai tujuh orang. Tapi mereka tidak akan gegabah menyerang di tempat terbuka dengan banyak tamu. Mereka akan coba curi gelang diam-diam—atau menculikmu ke tempat sepi dulu." Xiao Zhen menyilangkan tangan. "Jadi kita pastikan kamu tidak pernah sendirian selama acara itu."
"Maksudnya kamu akan selalu di dekatku?"
"Ya. Aku akan menemanimu sebagai..." Xiao Zhen berhenti sejenak, seperti mempertimbangkan kata yang tepat. "...partner."
Suyin menahan senyum. "Partner bisnis?"
Tatapan Xiao Zhen beralih ke Suyin—ada sesuatu yang hangat di sana.
"Partner," ulangnya tanpa embel-embel lain.
Suyin memilih tidak mempermasalahkan kata itu dan kembali fokus ke peta.
"Keluarga besarku tidak tahu apa-apa tentang kultivator. Kalau tiba-tiba ada pertarungan di acara itu, mereka pasti panik dan bisa terluka."
"Itu masalah terbesar," akui Xiao Zhen. "Makanya kita harus pastikan konflik tidak terjadi di dalam ruangan yang penuh tamu. Kalau ada anggota Organisasi Bayangan yang terdeteksi, kita tangani di luar—atau setidaknya di area yang terisolir."
"Ada cara untuk mendeteksi mereka sebelum masuk?"
Xiao Zhen mengangguk. "Kultivator memancarkan energi spiritual yang bisa dirasakan kultivator lain. Anggota Klan Xiao yang berpengalaman akan langsung tahu kalau ada kultivator asing yang datang."
"Aku juga bisa merasakannya?"
"Setelah beberapa hari lagi latihan, mungkin. Tapi belum bisa diandalkan sekarang. Kamu masih terlalu baru."
Suyin mengangguk mengerti. "Baiklah. Latihan dilanjutkan. Tapi ada satu lagi yang perlu kita diskusikan."
"Apa?"
"Meifeng." Suyin menatap Xiao Zhen serius. "Dia yang membocorkan informasi ke Organisasi Bayangan. Tapi kemarin dia juga yang memperingatkan kita. Kita harus bagaimana dengan dia di acara itu?"
Xiao Zhen berpikir sebentar. "Dalam situasi ini, lebih baik biarkan dia di posisi yang bisa kita pantau. Jangan jauhkan dia, tapi juga jangan biarkan dia berkomunikasi bebas dengan orang asing yang tidak kita kenal."
"Kamu mau mengawasi sepupuku sendiri?"
"Bukan mengawasi dengan cara yang kasar. Lebih ke memastikan dia aman juga. Kalau Organisasi Bayangan benar-benar menyerang, Meifeng dan keluarganya juga dalam bahaya." Xiao Zhen berdiri, berjalan ke jendela. "Orang yang sudah berurusan dengan Organisasi Bayangan tidak mudah dilepaskan. Mereka pasti sudah punya informasi tentang Meifeng yang bisa dipakai sebagai tekanan."
Hati Suyin tercelos. "Berarti sepupuku juga terancam?"
"Ya. Apapun yang kamu rasakan terhadap dia sekarang—amarah, kecewa, apapun—itu urusan belakangan. Yang sekarang penting adalah keselamatannya juga."
Suyin menghela napas. Ini rumit. Sangat rumit.
"Aku akan hubungi Meifeng. Bilang bahwa kita sudah tahu situasinya dan minta dia untuk tidak bertindak sendiri selama acara itu. Dia harus tetap dekat dengan suaminya dan tidak keluar area utama."
"Baik." Xiao Zhen kembali ke meja. "Sekarang, ada satu hal lagi."
Dia mengeluarkan sebuah benda kecil dari laci—liontin berbentuk giok hijau yang tergantung di rantai emas tipis.
"Ini adalah formasi perlindungan dari Klan Xiao. Di dalamnya tersimpan energi spiritual yang sudah aku isi semalam." Xiao Zhen mengulurkan liontin itu kepada Suyin. "Kalau kamu dalam bahaya dan barrier spiritual-mu tidak cukup, pegang liontin ini dan konsentrasikan Qi ke sana. Ini akan melepaskan gelombang energi yang bisa mendorong musuh menjauh."
Suyin mengambil liontin itu—hangat di telapak tangan, bergetar lembut.
"Bagaimana cara pakainya?"
"Pakailah di leher selama acara itu. Dan kalau butuh, pegang dengan kedua tangan, tutup mata, alirkan Qi dengan kuat ke dalamnya." Xiao Zhen bangkit berdiri di sisi meja Suyin, membantu memakaikan liontin di leher. "Jangan gunakan kalau tidak perlu—energi di dalamnya terbatas."
Jari-jari Xiao Zhen menyentuh leher Suyin saat mengaitkan rantai—sesaat tapi cukup membuat Suyin menahan napas.
"Sudah terpasang," ucap Xiao Zhen pelan, tapi tidak langsung mundur.
Mereka berdiri sangat berdekatan—Suyin bisa merasakan hangat tubuh Xiao Zhen, mendengar napasnya yang teratur.
"Terima kasih," bisik Suyin.
"Jagalah dirimu baik-baik." Suara Xiao Zhen rendah, penuh dengan sesuatu yang tidak terucap.
Keduanya terdiam sebentar—terlalu dekat, terlalu sadar satu sama lain—sebelum akhirnya Xiao Zhen mundur dengan ekspresi yang kembali ke mode profesional.
"Latihan pagi dimulai satu jam lagi. Bersiaplah."
Siang harinya, Suyin masuk ke ruang dimensi untuk panen rutin sambil menyiapkan pesanan untuk Bu Lina dan Mas Arief yang harus dikirim besok.
WUSH!
Di dalam, Pohon Kehidupan sudah setinggi tiga meter—tumbuh sangat cepat. Daun-daunnya berkilauan keemasan di bawah sinar matahari ruang dimensi.
"Pohon Kehidupan, aku perlu bicara," panggil Suyin.
"Aku di sini. Apa yang ingin kamu ceritakan?"
"Semalam... Xiao Zhen menciumku." Suyin duduk di rumput, menatap pohon. "Dan pagi ini dia bilang tidak mau terburu-buru tapi tidak mau pura-pura tidak terjadi apa-apa."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Senang. Bingung. Sedikit takut." Suyin menarik lutut ke dada. "Aku pernah dikhianati sebelumnya. Mantan tunanganku pergi dengan sahabat terbaiku tiga tahun lalu. Sejak itu aku tidak pernah benar-benar membuka hati untuk siapapun."
"Tapi sekarang?"
"Sekarang ada seseorang yang terasa berbeda. Tapi aku tidak tahu apakah itu karena dia benar-benar berbeda, atau karena situasi kita yang intens dan berbahaya membuat perasaan ini terasa lebih kuat dari yang sebenarnya."
Pohon Kehidupan terdiam sebentar—suaranya selalu bijak dan tidak terburu-buru.
"Itu pertanyaan yang sangat dewasa. Dan jawabannya tidak bisa aku berikan—hanya waktu yang bisa membuktikannya. Tapi aku bisa katakan satu hal: resonansi spiritual tidak bisa dipalsukan. Energi jiwa yang cocok adalah nyata, bukan ilusi."
"Jadi perasaan ini nyata?"
"Dasar dari perasaan itu nyata. Tapi bagaimana kamu membangunnya di atas dasar itu—itu pilihanmu."
Suyin merenungkan kata-kata itu sambil memetik tomat cherry yang sudah matang, memakan beberapa biji langsung dari tanaman.
"Satu lagi. Kamu bilang Xiao Zhen sudah menutup hatinya untuk waktu yang lama. Apa yang terjadi padanya?"
"Itu bukan ceritaku untuk diceritakan."
"Tapi kamu tahu?"
"Aku merasakan energi jiwa setiap orang yang masuk ke ruang ini. Dan Xiao Zhen... membawa luka lama yang sangat dalam. Luka yang belum sepenuhnya sembuh."
"Luka apa?"
Pohon terdiam lebih lama kali ini.
"Kehilangan. Orang yang sangat dicintai, pergi dengan cara yang sangat menyakitkan."
Suyin merasa hatinya ikut nyeri mendengar itu—padahal dia bahkan tidak tahu ceritanya. Mungkin karena dia sendiri tahu rasanya kehilangan.
"Aku tidak akan memaksanya bercerita kalau belum siap," ucap Suyin pelan.
"Itu keputusan yang bijak."
Suyin menghabiskan sisa sore itu dengan panen—total hasil hari ini hampir dua puluh kilogram berbagai jenis sayuran. Semua disimpan rapi di gudang dimensi untuk disiapkan pengiriman besok.
Progress pencapaian Level 2 juga semakin dekat—tinggal seratus tiga puluh kilogram lagi dan dua puluh jenis tanaman baru.
Saat keluar dari ruang dimensi, Xiao Zhen sedang duduk di ruang tamu sambil membaca dokumen—kacamata tipis bertengger di hidungnya. Pemandangan yang sangat berbeda dari aura keras dan intimidatif yang biasa dia pancarkan.
Seperti sisi lain yang jarang terlihat.
"Kamu memakai kacamata?" tanya Suyin terkejut.
Xiao Zhen langsung melepas kacamata, kelihatan sedikit kikuk—ekspresi yang sangat jarang muncul di wajah pria itu. "Hanya untuk membaca. Tinggalkan saja."
"Kenapa? Kamu kelihatan berbeda." Suyin duduk di sofa seberang, menatap Xiao Zhen dengan senyum iseng. "Lebih... manusiawi."
Xiao Zhen menatapnya dengan datar. "Kamu mau bilang aku biasanya tidak kelihatan manusiawi?"
"Bukan begitu. Tapi kamu biasanya terlihat sangat intimidatif. Seperti CEO sekaligus kultivator kelas atas yang tidak punya kelemahan." Suyin bersandar santai. "Kacamata itu... membuatmu terlihat seperti orang biasa."
"Dan itu hal yang baik atau buruk?"
Suyin tersenyum. "Hal yang sangat baik."
Xiao Zhen menatapnya sebentar, lalu kembali memasang kacamatanya dan fokus pada dokumen—tapi Suyin melihat ujung bibirnya naik sedikit.
Malam itu, setelah makan malam bersama yang kali ini lebih hidup dengan percakapan ringan tentang hal-hal tidak penting, Xiao Zhen mengajak Suyin ke taman untuk latihan malam.
Tapi kali ini berbeda dari latihan biasa.
"Duduk di sini." Xiao Zhen menunjuk dua batu besar yang saling berhadapan di tepi kolam koi. "Kita akan latihan kultivasi bersama—untuk pertama kalinya."
"Apa bedanya dengan yang sudah kita lakukan?"
"Yang kita lakukan selama ini adalah aku mengajar dan kamu belajar. Ini berbeda." Xiao Zhen duduk di satu batu, menghadap Suyin yang duduk di batu seberang. "Kultivasi bersama artinya kita menyelaraskan aliran Qi kita—membiarkan energi kita mengalir bersama seperti dua sungai yang bergabung. Ini adalah teknik yang hanya bisa dilakukan oleh pasangan resonansi."
"Apa efeknya?"
"Kekuatan Qi kita masing-masing akan meningkat. Selain itu, kamu akan bisa lebih cepat memahami dan merasakan kemampuan kultivasi yang kamu punya." Xiao Zhen mengulurkan tangan. "Pegang tanganku. Tutup mata. Dan biarkan Qi-mu mengalir bebas—jangan dikontrol, biarkan saja."
Suyin meraih tangan Xiao Zhen.
Sensasi hangat yang familiar langsung mengalir—tapi kali ini jauh lebih kuat dari biasanya.
Suyin menutup mata, membiarkan Qi mengalir bebas dari dalam tubuhnya.
Dan tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang luar biasa—seperti ada sungai lain yang bergabung dengan sungainya. Aliran yang lebih besar, lebih dalam, lebih kuat—tapi anehnya tidak asing. Justru terasa seperti... bagian yang hilang yang akhirnya kembali.
Energi Xiao Zhen.
Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, Suyin bisa merasakan sesuatu yang bisa digambarkan sebagai warna—biru gelap dan hijau emas yang saling berputar, mengalir, menyatu.
Indah. Luar biasa indah.
Tanpa sadar, air mata menetes di pipi Suyin.
Entah berapa lama mereka duduk seperti itu. Saat Suyin akhirnya membuka mata, langit sudah penuh bintang.
Xiao Zhen membuka mata di saat yang hampir bersamaan. Tatapannya ketika melihat air mata di pipi Suyin berubah lembut—sangat lembut.
"Kenapa menangis?" tanyanya pelan sambil mengusap air mata Suyin dengan ibu jarinya—tangan lain mereka masih saling menggenggam.
"Tidak tahu. Itu sangat... indah." Suyin tidak punya kata yang lebih tepat.
Xiao Zhen tersenyum—senyum yang tulus dan hangat.
"Ya. Sangat indah."
Tapi Suyin tahu dia bukan hanya bicara tentang kultivasi.
Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga dari taman. Kolam koi beriak pelan, pantulan bintang di permukaannya bergoyang.
Suyin merasakan sesuatu berubah malam itu—bukan hanya dalam kekuatan kultivasi mereka, tapi dalam hubungan mereka.
Sesuatu yang lebih dalam telah terhubung.
Dan keduanya tahu—apapun yang akan terjadi di acara reuni keluarga Lin lima hari lagi, mereka akan menghadapinya bersama.
Senin pagi datang dengan agenda padat.
Suyin harus delivery ke Bu Lina dan Mas Arief sebelum berangkat kerja. Lima anggota Klan Xiao yang disebutkan Xiao Zhen akan tiba siang hari untuk briefing. Dan sore harinya latihan kultivasi intensif dilanjutkan.
Saat Suyin bersiap turun, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Meifeng.
"Suyin. Tadi malam ada yang datang ke rumahku lagi. Orang yang sama. Mereka kasih ultimatum—tiga hari. Aku takut sekali. Tolong."
Suyin memandangi pesan itu lama.
Setahun lalu—bahkan sebulan lalu—dia mungkin akan mengabaikan pesan itu. Membiarkan Meifeng menanggung akibat dari keserakahannya sendiri.
Tapi sekarang... hati Suyin tidak sekeras itu.
Dia membalas:
"Aku tahu, Kak. Jangan bertindak sendiri. Aku sedang urus semuanya. Jaga keluarga Kakak tetap di dalam rumah untuk sementara. Aku akan kasih kabar kalau ada perkembangan."
Suyin meletakkan ponsel, menatap gelang giok di pergelangan tangannya.
Nenek pernah bilang—keluarga itu segalanya. Apapun kesalahan mereka.
"Aku tidak akan biarkan siapapun terluka, Nenek. Aku janji."
Dia mengambil nafas dalam, menegakkan punggung.
Lima hari lagi. Banyak yang harus dipersiapkan.
Tapi Suyin sudah tidak takut lagi.
Karena dia tidak sendirian.