NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 - The Power Of Umi

Sebenarnya ingin, dan dia mau. Hanya saja jelas butuh waktu, dan belum sekarang karena malam ini keduanya masih harus tetap di rumah sakit. Demi ketiganya bisa nyaman dan tidur dengan tenang, Zain tetap pada keputusannya untuk memindahkan sang mertua ke ruang dengan fasilitas yang lebih baik.

Walau awalnya sempat ditolak dengan alasan hanya sebentar oleh mertuanya, tapi Zain memilih keras kepala. Bukan tanpa alasan dia bersikap demikian, tapi memang dengan ruangan yang dipenuhi beberapa pasien seperti tadi bisa jadi dirinya yang ikut sakit.

Bagaimana tidak? Suasananya memang tidak begitu kondusif walau sudah ditegur. Beberapa kali pasiennya juga menangis, berteriak bahkan melempar segala sesuatu di dekatnya dan Zain menghindari hal itu.

Bisa-bisa dia gila lantaran menahan amarah dengan sikap keras mereka. Terlebih lagi, dengan tindakan keluarga pasien lain yang bicara terlalu keras dan hanya berhenti jika sedang ditegur petugas, setelahnya kembali lagi.

"Harusnya kalian pulang saja, kalau cuma karena umi ... besok juga bisa pulang sendiri."

Selalu, sejak tadi uminya begitu mendukung Nadin untuk pulang. Mungkin terlalu bahagia, bukan karena kepincut menantu kaya, tapi wajah Zain sekilas mirip mendiang suaminya. Wajah tampan khas pria timur tengah, sorot mata tajam dengan postur tubuh gagah yang bisa dia percayai akan menjaga putrinya dengan baik.

Umi Fatimah tidak tahu kebetulan atau apa? Nadin tiba-tiba mendapatkan jodoh yang justru gambaran abinya sewaktu muda. Sama seperti Nadin yang terima dengan sangat baik di keluarga sang suami, Zain juga sebaliknya.

Tidak hanya sekadar diterima biasa, tapi Zain juga seketika mendapat kasih sayangnya. Nadin yang melihat dia diperlakukan dengan begitu lembut terkadang sebal sendiri, terlebih lagi kala mengingat sikap Zain di kelas yang kerap kali tidak manusiawi.

"Besok juga pasti pulang, Umi, biar tidak kerja dua kali ... lagi pula di sini, 'kan bisa tid_"

"Astaghfirullahaladzim, Halwa!!"

Nadin terperanjat kaget kala Umi Fatimah tiba-tiba Istighfar padahal tidak ada hal yang aneh. Nadin pikir uminya marah karena dia salah bicara atau kenapa, tapi ternyata kagetnya wanita itu hanya karena jemuran yang lupa diangkat.

"Umi, kan ada mbak Anis di sebelah, mana mungkin diam saja."

"Anisa pergi ke Lembang ... terus lagi, Umi lupa sepertinya air masih hidup terus ayam dari Bu Rosmana belum diungkep, baru umi cuci, Halwa."

Panjang lebar uminya bicara, dan Nadin hanya menarik napas dalam-dalam. Dia bingung, apa yang sebenarnya diinginkan Umi Fatimah, padahal malam sudah larut, tapi uminya semangat sekali meminta pulang.

"Apa tidak bisa besok saja, Umi?"

"No, harus malam ini," jawab uminya singkat, padat dan berhasil membuat Zain menarik sudut bibirnya tipis.

Entah harus dengan cara apa dia berterima kasih pada sang mertua, tapi dengan uminya yang memaksa pulang dengan segala alasan seperti ini membuat Zain sedikit besar kepala.

Bagaimana tidak? Dia sampai rela mengusir putri semata wayangnya untuk pulang hanya demi bisa menikmati waktu berdua. "Sudah pulang sana, umi tidak nyaman kalau ada orang lain di kamar umi."

Bohong sekali, sengaja cari alasan agar mereka bisa pulang saja sebenarnya. Nadin yang tidak lagi punya alasan untuk melawan uminya terpaksa menurut begitu saja.

Sebelum ada Zain, dia memang sudah terbiasa menghadapi uminya. Selain tidak boleh dibantah, perintahnya juga bersifat mutlak dan tidak bisa ditolak.

Susah payah Nadin ke Yogya demi bisa menjaga uminya, ternyata justru diusir dengan berbagai alasan yang benar-benar tidak bisa diterima akal Nadin.

Suasana malam sudah mulai sepi, lalu lalang kendaraan juga demikian. Dengan taksi online mereka menuju tempat tinggal Nadin, dan sepanjang perjalanan wanita itu terus berpikir keras.

Dia merasa tidak enak pada Zain, merasa bersalah dan khawatir tindakan uminya justru membuat Zain tersinggung, padahal tidak sama sekali.

"Mas."

"Hm?"

Setelah sejak tadi sama-sama diam, kali ini Nadin memulai pembicaraan. Dia merasa memang sangat perlu membahas hal ini, sebelum nanti terjadi kesalahpahaman atau semacamnya. "Maaf ya."

"Maaf untuk?"

"Sikap Umi, kita terpaksa pulang jam segini," tutur Nadin tak enak hati.

Dia tahu Zain mungkin lelah, dan memang sudah seharusnya tidur. Hanya karena Umi Fatimah memaksa pulang, istirahatnya jadi tertunda.

Padahal, jauh dari lubuk hati Zain yang paling dalam dia amat-amat bersyukur mendengar perintah mertuanya. Dia memang tidak memiliki rencana untuk pulang cepat, tapi jika diperintahkan siapa juga yang akan menolak? Terlebih lagi, dia sudah pastikan jika sang mertua telah mendapat pelayanan terbaik dan juga kondisinya tidak sebegitu parah.

Hanya saja, tidak mungkin dia jujur jika hal ini memang maunya. Zain tersenyum hangat, tatapan sang istri bisa dia mengerti apa maknanya. "Tidak masalah, sebenarnya aku tidak suka di rumah sakit."

Zain cari aman, rasanya alasan itu yang paling benar dan tidak akan menimbulkan masalah. "Kenapa begitu, Mas?"

"Bau obat, aku tidak suka."

Nadin mengangguk mengerti, banyak juga yang tidak Zain sukai. Ya, tidak bisa dipungkiri, sejak awal memang dia ketahui bahwa sang suami memang begitu pemilih. Bebek saja dia tidak suka dengan alasan tidak masuk akal, apalagi jika rumah sakit yang memang bau obat.

.

.

Perpaduan menantu dan mertua yang sangat cocok, kebetulan yang menjadi target mereka masih polos jadi ya percaya-percaya saja. Maklum, dari segi usia memang masih muda, jadi logikanya belum sematang Zain, apalagi Umi Fatimah.

Begitu tiba di kediamannya, Nadin kembali menarik napas dalam-dalam begitu melihat tidak ada kejanggalan sebagaimana yang dikatakan uminya. Tidak ada pakaian yang masih menggantung di jemuran, tidak ada pula ayam yang lupa diungkep atau semacamnya.

Semua sudah rapi dan tertata, memang niat uminya meminta pulang bukan untuk melakukan semua itu sebenarnya. "Umi bohong," gerutu Nadin menatap ayam yang bahkan sudah siap makan, hanya perlu dipanaskan saja andai mau.

Bibirnya mengerucut, sementara Zain yang tak kuasa menahan tawa melihat raut sang istri. "Mungkin umi lupa."

"Masa lupanya separah ini? Umi belum pikun, Mas, cuma rada-rada pelupa."

Zain tertawa sumbang, tidak ada kata yang terlontar dari bibir Nadin dan jatuhnya tidak lucu. "Kenapa ketawa?"

"Tidak."

Tidak, tepatnya Zain tidak lagi mampu menahan rasa gemas pada sang istri yang kini menatap tajam ke arahnya. Kemarin-kemarin masih dia tahan, tapi kali ini Zain benar-benar berani menangkup pipi Nadin dengan kedua tangannya.

Lama dia pandangi, Nadin mengerjap pelan dan bingung sang suami hendak melakukan apa padanya. "Umi ngidamnya apa sih sampai gedenya selucu ini," pungkas Zain sebelum kemudian menggigit pipi Nadin hingga sang istri berteriak sekuat tenaga.

.

.

- To Be Continued -

1
Herlina Anggana
pdhal GK pernah di apa2in Zain kok bsa hmil
Herlina Anggana
itu Zayn LG di kmar mandi nongolin kepala doang ambil ngbrol bhas cinta2n gitu Astaga gak ada cara yg lebih romantis apa zain
Herlina Anggana
komedi romantis nih
Herlina Anggana
🤣🤣🤣🤣🤣 ya Allah capek bgt keram perut gini terus 😄😄🤣🤣🤣🤣 Thor kamu juara pokoknya
Herlina Anggana
mendadak umi🤣
Herlina Anggana
anaku yang manis 😄😄😄 kebayang gemesnya 🤭
Herlina Anggana
kan emang bner2 tu dosen killer jadi kaya balita kan gara2 bucin.. gak sabaran banget
Herlina Anggana
cool family klo lagi ngumpul emang banyol banget ya hari2nya
Herlina Anggana
lemari plastik keranjang cucian kontras bgt sama istana hunian suamimu 😄
Herlina Anggana
tuh kan sayang lagi kan aduh salto juga nih aku
Herlina Anggana
sayang?what sayang?😍😍😍
Herlina Anggana
aku sih dongkol bgt jadi Nadin susah payah,GK d ksih kelonggaran buat nylesaiin soal... asli pelit bgt
Herlina Anggana
susah bgt merubah kebiasaan makan anak kost,yg irit bgt, kebiasaan nahan lapar gitu . adek ku dulu sampe di suapin padahal dah bujang
Herlina Anggana
inget komen orang yg pas habis akad di pegang ubun2nya begitu udah kelar acara istrinya nanya,"yang tadi kamu doa apa pas pegang kepala aku?"
lakinya jawab"lah emangnya suruh doa?"🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Fitria Mai
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Fitria Mai
lucu membacanya ketawa sendiri 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
laahh kalau mau keluar kota naik pesawat bukannya pake pasport, jd atomatis Jihan sama Ronald bawa doongng buat pelengkap surat² keberangkatan jd kenapa ga mikir ke sana... kalau cuma muter keliling doang di situ ga mungkin lagi pake surat².🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hadeuuuhhh pada kenapa siihh.. pak Zain masih hidup masih saja pada mikir aneh, udah lewat seminggu loohh masa masih pada takut.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
biarkan saja Nad mungkin Zan masih butuh rehat untuk maksimalkan energinya yg terkuras habis pasca kecelakaan tenggelam di laut.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ampuuunn si Azka masih saja parnoan yg hororr².
🤣🤣🤣
trs Zeshan yang namanya pengen sesurga itu ga harus yg sudah beristri doang tapi juga buatmu yg jomblo biar tar sapa dapet pasangan yg sholehah jd bisa sesurga juga.🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!