Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 GEJOLAK HASRAT DAN PANGGILAN PULANG
Rabu, 1 April 2025, Musim Semi
Malam merayap sunyi di Monte Carlo, namun lampu-lampu di gedung pencakar langit Valerius Defense & Security Group masih menyala terang, menunjukkan otoritas yang tak pernah tidur. Di dalam ruang kerja pribadinya yang sangat luas, Liam Maximilian Valerius akhirnya menyandarkan punggungnya yang kaku. Tumpukan berkas keamanan militer dan strategi pertahanan global telah menyita seluruh energinya sejak matahari terbit.
Dengan langkah yang tetap tegap meski kelelahan menghantam, Liam membuka pintu kamar istirahat yang terletak di balik rak buku ruang kerjanya. Sebelum merebahkan diri, ia memilih untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air hangat, ia mencoba menghapus bayangan wajah "Aurel" yang terus menghantuinya sejak pertemuan di London. Namun, semakin ia mencoba melupakan, semakin kuat ingatan itu mencengkeramnya.
Liam keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan celana santai, membiarkan dada bidang dan perut sixpack-nya terekspos udara dingin ruangan. Ia merebahkan tubuh besarnya di ranjang king-size, dan dalam hitungan detik, rasa lelah membawanya ke dalam tidur yang dalam.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Di dalam tidurnya, Liam terseret kembali ke malam lima tahun yang lalu. Namun kali ini, segalanya terasa ribuan kali lebih nyata. Ia bermimpi berada di kamar hotel yang remang-remang itu lagi. Di bawah kungkungan tubuhnya, seorang wanita merintih. Wajahnya adalah perpaduan antara kepolosan Olive dan ketegasan Aurel.
"Liam... hhh... perih..." suara lembut itu memicu kegilaan di dalam nadinya.
Dalam mimpi itu, Liam merasakan setiap inci kulit porselen sang wanita di bawah telapak tangannya. Suara kulit yang saling bertepuk keras plak, plak, plak bergema di dinding kamar saat Liam memacu gerakannya dengan liar. Desahan napas yang memburu dan erangan nikmat yang dalam memenuhi indra pendengarannya.
"Ahhh... Liam... le-lebih... hhh..."
Liam merasuki wanita itu dengan kekuatan penuh, merasakan kehangatan yang menjepit kelaminnya yang besar dan panjang. Suara remasan pada seprai satin dan gesekan tubuh yang basah karena keringat menciptakan simfoni yang menggairahkan. Setiap kali tubuh mereka bertumbukan, suara plak yang nyaring dari kulit yang saling menghantam kulit membuat gairah Liam memuncak hingga ke ubun-ubun.
Erangan wanita itu berubah menjadi jeritan nikmat saat Liam menekan titik terdalamnya. "Liam! Hhhh... Liam!"
Liam terbangun dengan sentakan hebat, napasnya memburu seolah baru saja berlari maraton. Jantungnya berdegup kencang di balik dada bidangnya yang naik turun. Ia meraba area bawah perutnya dan mengumpat dengan suara serak. Kelaminnya menegang hebat, berdenyut keras menuntut pelepasan, dan ia menyadari dirinya baru saja mengalami ejakulasi yang kuat akibat mimpi basah yang sangat erotis itu.
"Sialan!" umpat Liam dengan frustrasi yang murni.
Ia segera bangkit dan berjalan ke kamar mandi, mengguyur kejantanannya yang masih tegak dengan air dingin yang membekukan. Sambil memejamkan mata, tangannya bergerak sendiri, mencoba meredakan sisa-sisa gairah yang masih membakar. Di dalam kegelapan kamar mandi, bayangan wajah Aurel bibir hatinya yang merah alami dan matanya yang hazel membuat Liam semakin gila. Ia membayangkan wanita itu ada di sini, di bawah kekuasaannya, mendesah namanya hingga fajar tiba.
Setelah berhasil menenangkan diri, Liam keluar dengan rambut basah. Ia melirik jam; masih tengah malam buta. Namun, rasa penasaran dan obsesi telah mengalahkan kewarasannya. Ia meraih ponsel dan menekan nomor Marcus.
"Halo, Tuan?" suara Marcus terdengar parau, jelas sekali ia terbangun dari tidur nyenyaknya, namun ia tidak berani memprotes.
"Hubungi Aurel di London sekarang," perintah Liam dingin, seolah-olah ia tidak baru saja melakukan hal intim dengan bayangan wanita itu.
"Sekarang, Tuan? Ini hampir jam dua pagi di London."
"Aku tidak peduli. Buat dia menandatangani kontrak kerja sama. Katakan perusahaanku membutuhkan desain seragam eksklusif untuk divisi pengawalan diplomatik, atau apapun alasannya. Aku ingin dia ada di Monte Carlo minggu depan. Berikan penawaran gaji yang tidak bisa dia tolak."
Liam mematikan telepon tanpa menunggu jawaban. Ia tahu Marcus akan menyelesaikannya.
London, Apartemen Olive
Olive tersentak saat ponsel di nakasnya bergetar. Ia sedang terjaga, duduk di samping ranjang Alex yang untungnya tidur dengan sangat tenang malam ini. Dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan putranya, Olive melangkah keluar kamar dan mengangkat telepon dari nomor internasional yang tidak dikenal.
"Halo? Dengan Aurel di sini," ucap Olive sesopan mungkin, meski hatinya sedang menyumpahi siapa pun yang berani menelponnya di jam tidur seperti ini.
"Selamat malam, Nona Aurel. Saya Marcus, perwakilan dari Valerius Defense & Security Group di Monako."
Olive tertegun. Valerius? Pria tinggi di koridor itu?
"Kami sangat terkesan dengan koleksi 'Butterfly-E' Anda di London. Atasan saya, Tuan Liam Valerius, secara khusus meminta Anda untuk merancang seragam protokoler dan busana diplomatik untuk divisi elit kami di Monte Carlo. Ini adalah kontrak jangka panjang dengan kompensasi yang... sangat luar biasa besar."
Marcus menyebutkan angka yang membuat Olive terdiam. Jumlah itu lebih dari cukup untuk menjamin biaya pengobatan psikologis Alex dan sekolahnya hingga universitas tanpa Olive harus bekerja keras lagi sebagai desainer lepas.
"Tapi saya harus ke Monte Carlo?" tanya Olive, suaranya bergetar antara cemas dan rindu.
"Benar, Nona. Akomodasi untuk Anda dan putra Anda akan ditanggung sepenuhnya di penthouse terbaik perusahaan."
Setelah menutup telepon dan meminta waktu untuk berpikir, Olive kembali menatap Alex yang tertidur. Pikirannya melayang. Kembali ke Monte Carlo berarti kembali ke sarang singa. Ia memikirkan Brian, kakaknya yang mungkin sekarang sudah bertunangan dengan Vera. Ia memikirkan Zee yang mungkin sudah menikah dengan Kenzo.
Apakah aku siap? batin Olive.
Ia tahu risiko terbesar adalah identitasnya terbongkar. Namun, saran dokter psikolog terus terngiang di telinganya: Alex butuh figur ayah. Di London, pencariannya nihil. Mungkin di Monte Carlo, tempat segala mimpi buruknya bermula, ia bisa menemukan jawaban tentang siapa pria di malam itu.
"Demi Alex," gumam Olive penuh tekad. "Aku akan kembali sebagai Aurel Natasha. Aku akan menghadapi semuanya."
Olive membayangkan reaksi keluarganya. Cacian, makian, atau penghinaan dari publik karena ia pulang membawa anak tanpa suami. Namun, melihat wajah damai Alex, semua rasa takut itu memudar. Ia harus kuat. Sang Kupu-Kupu Emas tidak akan kabur lagi. Kali ini, ia akan terbang kembali ke rumahnya, meski sayapnya mungkin akan terbakar oleh rahasia yang ia bawa.
Tanpa Olive ketahui, di belahan dunia lain, Liam sedang menatap foto Alex yang ia dapatkan secara ilegal. "Kita lihat seberapa lama kau bisa bersembunyi di balik nama Aurel, Olivia," desis Liam dengan senyum smirk yang mematikan.