NovelToon NovelToon
The Horn Land

The Horn Land

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sutrisno Ungko

fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tantangan

Sesaat kemudian dari arah pintu, masuk seorang perempuan berusia 41 tahun bersama seorang anak usia 6 tahun. cantik memiliki paras ibunya.

“Maaf tuan mengganggu waktunya.”. Ia melangkah masuk kedalam ruangan.

“Oh Ayla. Bagaimana kabarmu?” tanya Jhuma, ia mengenal wanita itu. Mantan istri Regen Manollion yang sudah menikah lagi. Namun suaminya meninggal pada saat menyelamatkan Regen beberapa waktu yang lalu.

“Seperti yang kamu lihat Tuan. Sebelumnya aku ucapkan selamat, tuan menjadi pengganti baginda Owen .. aku datang meminta bantuanmu untuk menampungku. Sejak suami keduaku meninggal, aku tak punya tempat tinggal lagi. Karena diambil lagi oleh pemilik lama. sejak berubahnya kekuasaan di Kaitaia, rumah-rumah yang ditempati prajurit Kekaisaran diambil lagi oleh warga. Kini aku terlunta-lunta tuan, aku minta kebijaksanaanmu..”

Jhuma masih terdiam, namun fikirannya melayang memikirkan rakyat lain yang kurang lebih sama dengan yang dihadapi mantan istri sahabatnya ini. Banyak janda diluar sana baik istri prajurit Kekaisaran maupun para pejuang yang tak punya tempat tinggal karena peralihan kekuasaan.

“Dimana Anak-anak mu kini?” tanya Jhuma.

“Bilbo mengikuti ayahnya ke Whangarei, sementara yang kedua aku tak tahu lagi dia dimana, kadang kala dia menemuiku, sering juga kami tak bertemu berhari-hari. Tapi keadaannya juga sedang tidak baik. Ia sering mabuk-mabukan bersama teman-teman seusianya.”

“Hmm,. Baiklah Ayla. Sementara kamu bisa tinggal disini. Sambil menunggu Regen pulang. Aku berharap kalian bisa bersama kembali.” Jhuma tersenyum. Ia tahu temannya itu masih mencintai wanita ini.

“Sepertinya ia tak akan menerimaku lagi ser.” kata Ayla, wajahnya sedih.

“Semoga bisa, suami keduamu meninggal karena membelanya. Menjadi tanggung jawabnya kini untuk menjagamu dan anak-anak…. Baik. Tinggalah., ada beberapa pelayan di belakang sana. Mereka akan menyiapkan tempat tinggalmu.” kata Jhuma.

“Terima kasih ser.” kata Ayla sambil membungkuk memberi hormat. Ia kemudian menuju ruangan belakang dimana sudah dijemput dua orang pelayan.

Tak lama kemudian. Pintu kembali di ketuk, Alexander kembali masuk ruangan itu.

“Maaf mengganggu tuan. Ada kabar tak baik yang datang.”

“Apa itu? “ Tanya Jhuma.

“Terjadi kegaduhan tadi pagi., sekelompok pemuda membakar sebuah rumah.”

“Pemuda dari mana? Mengapa mereka membakar rumah itu?”

“Di Kaitaia ini ada sekelompok pemuda yang mengatas namakan Republikan. Yang terus menggagas perubahan kepemimpinan setelah perebutan kekuasaan. Mereka menginginkan sistem Republik menggantikan kekuasaan Kaisar, apalagi setelah meninggalnya Ser Owen . Mereka menganggap ini saatnya sistem itu dipakai.”

“Republik?.. seperti apa itu?”

“Aku juga tak paham ser.”

“Siapa pemimpin mereka?”

“Ia bernama Otto, sudah ditangkap bersama 4 orang pemuda lain”

“Otto? mungkinkah adik dari Ser Regen?”

“Ya. Ia sering berteriak tentang kebodohan kakaknya yang berperang ke Whangarei demi sistem pemerintahan yang salah.”

“Dimana dia sekarang?”

“Di tahan di penjara bawah tanah.”

“Aku kesana. ”

“Baik”. Alexander menemani Lord Jhuma menuju penjara. 4 orang prajurit lain menemani keduanya menuju tempat itu. Penjara yang terletak dibawah tanah. gelap dan lembab.

Mereka menyusuri jalan setapak tak rata yang diterangi sederet obor untuk menuju ke bagian penjara yang membelakangi arah datangnya angin. Jhuma mendongak untuk memandangi menara-menara hitam tinggi disamping kastel.

Sebuah kepalan batu hitam.

Setelah beberapa saat Jhuma dan Alexander sampai di tempat itu. Sebuah pintu besi terbuka. dan disana ia dipertemukan dengan Otto. Pria berusia 35 tahun. Yang hidup tanpa menikah. Tak bekerja dan sering berkumpul dengan teman-temannya. Ia menolak berperang. Dan juga mengabaikan ibunya. Yang kini hidup sebatang kara dirumah mereka.

“Otto? Kamu melupakan ayahmu yang seorang pejuang handal. Kenapa kamu jadi seperti ini, kakakmu sedang berperang. Kamu bahkan mengabaikan ibumu.”

Otto hanya berdiam saja. Tatapannya tajam. Ia seperti bukan bocah yang di kenal Jhuma beberapa tahun lalu.

“Kenapa kamu menemuiku? Ser?” Tanya Otto dengan wajah yang tak bersahabat.

“Aku hanya memastikan saja keadaanmu, juga memintamu untuk segera kembali pada ibumu. Apa yang telah kamu lakukan bersama teman-temanmu itu telah aku maafkan. Atau jika kamu berkenan. Bergabunglah dengan kakakmu di Whangarei. ia sedang berjuang untuk negeri kita.”

“Maaf tuan pemimpin. Kami memilih untuk menyebarkan paham yang kami yakini saat ini. Dan perang di Whangarei adalah sebuah kesia-siaan.” Kedengkian tersirat di wajah pemuda itu.

“Paham apakah itu? Siapa tahu aku bisa membantumu?”. Jhuma berusaha sabar.

“Membantuku? Benarkah? Baik. Lepas jabatanmu sebagai Leader. Dirikan negara Republik. Beri kebebasan pada rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri. Jika tidak, negara yang kalian bangun ini akan hancur dimasa depan.”

“Kamu bahkan tak berjuang sama sekali, bagaimana bisa menyimpulkan negara ini akan gagal?” Leader masih berusaha meyakinkan.

“Tak perlu berjuang dengan kalian. Kami juga sedang berjuang sendiri untuk negara kami, keyakinan kami. ” kata Otto tegas.

“Dan perjuangan kalian akan sangat berat, karena kami akan menolaknya. ” kata Jhuma, kesabarannya mulai menipis.

“Ha ha ha, tuan yakin bisa bertahan dari serangan balasan Kekaisaran? Kaitaia tak akan menang dengan Whangarei. Sementara Dargaville sedang menuju di tempat ini. Saat itulah kami akan mendirikan negara kami sendiri di Kaitaia.”

Senyum Otto lebar namun ketus dengan mata yang menyiratkan keyakinan. Jhuma merasa tak bisa memaksa adik sahabatnya ini. Ia kini punya rencana lain.

“Baiklah.. aku perintahkan kalian untuk pergi dari kastel ini.” Sambil memerintahkan Alexander membuka pintu penjara.

“Yang mulia..” Tanya Alexander heran dengan sikap pimpinannya ini yang ingin melepaskan para perusuh.

“Bebaskan mereka. ” kata Jhuma singkat.

Dan dua prajurit lain membuka pintu itu. Tak lama kemudian Otto dan sahabat-sahabatnya keluar dan pergi dari kastel. Jhuma mengikuti arah keluarnya mereka. Namun belum beranjak dari tempat itu.

“Perintahkan mata-mata mengikuti mereka. Lakukan dengan senyap. Aku ingin tahu siapa pemimpin mereka dan dimana mereka tinggal.” Kata Jhuma.

“Baik ser. ” kata Alexander sigap. ia kini tahu rencana sebenarnya.

***

Dua hari kemudian,

Masalah lain datang. Enoch West anggota Iblis Merah memberikan laporan di Kastel. Ia memang diperintahkan Jhuma untuk memantau perkembangan pos di perbatasan Dargaville.

“Isu bajak laut yang akan menyerang Dargaville ternyata tak terjadi tuan. Meskipun memang ada yang melihat sekelompok kecil mereka di pesisir utara. Namun setelah sebulan tak ada lagi tanda-tanda pergerakan mereka. Sehingga pemimpin wilayah Dargaville kini bersiap menuju Kaitaia. ” Lapor Enoch.

Jhuma siang itu seperti biasa ditemani Master Sorush.

“Ini berita buruk, jika seluruh kekuatan Dargaville saat ini datang. Kita tak punya cukup kekuatan untuk menahan mereka diperbatasan, karena hanya ada 50 orang pasukan yang ada disana.”

“Benar. Ser Osiris Phagan, meminta petunjuk atau tambahan pasukan. Ia siap mempertahankan perbatasan sampai menunggu pasukan inti dari Whangarei pulang.” kata Enoch.

Sesaat semua terdiam. seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Belum ada kabar perkembangan perang di Whangarei. perlawanan mereka alot.” kata Jhuma.

“Jika benar, pasukan Dargaville datang, menurutku sebaiknya pasukan perbatasan mundur. Jangan korbankan mereka. Dan kita kumpulkan kekuatan yang tersisa disini.” kata Master Sorush memberikan Pertimbangan.

“Benar….“ Sesaat Jhuma berfikir. hanya itu cara yang ada.

“Enoch, kamu kembalilah ke pos perbatasan Dargaville bersama Robert Beale, Jika benar pasukan musuh menuju di Kaitaia. Tarik pasukan perbatasan. Kita akan tahan mereka di sini. Segeralah kembali kesana.” Perintah Jhuma.

“Baik Ser. ” Enoch West Segera beranjak pergi, tepat dipintu, ia berpapasan dengan Alexander yang masuk dengan tergesa-gesa. Sepertinya juga akan melaporkan sesuatu.

“Kabar buruk tuan.” kata Alexander. ia bahkan belum sempat duduk.

“Apa itu? Sampaikan segera”.

“Dua mata-mata kita yang kita perintahkan mengikuti Otto sampai saat ini hilang. Tak ada kontak dengan mereka.” kata Alexander.

“Bagaimana bisa terjadi? Apa kamu sudah mencari mereka?”

“Sudah tuan. Dan sampai saat ini tak ada kabar. Sudah sepekan setelah kepergian mereka..”

“Ke arah mana mereka mengikuti Otto?”

“Arah timur ke village White snow.”

“Bawa beberapa prajurit menuju kesana. Cari mereka disetiap sudut wilayah itu. Ajak serta William Meredith.“ Perintah Jhuma.

“Baik tuan.” segera Alexander bergegas. Ia tahu lokasi yang dimaksud.

Ruangan itu kembali sepi.

Tersisa Jhuma dan Master Sorush. yang juga sedang dalam fikirannya masing-masing, Ada banyak tantangan saat ini ; Perang Whangarei, serangan Dargaville dan gangguan Republikan. juga kondisi warga yang mulai gelisah soal ketersediaan bahan makanan dan keamanan yang belum terjamin setelah terjadi perubahan kekuasaan.

***

1
Widiarto Andu
👍
Widiarto Andu
𝐭𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐬𝐢𝐡..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!