Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.
Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.
Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.
Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Sumpit Melawan Tiga Belas Preman
Cahaya lentera berpendar di atas meja, menimpa meja kayu besar di tengah ruangan tempat peta gudang qi Paviliun Tianlu cabang Hongluo terbentang. Garis-garis merah menandai jalur patroli, silang hitam menunjukkan titik lemah, sementara catatan kecil tertulis tangan dengan rapi.
Madam Luo duduk di kepala meja. Tatapannya jatuh ke peta, lalu terangkat ke satu per satu wajah di sekelilingnya. “Tiga hari lagi,” katanya. “Malam tanpa bulan.”
Tetua Feng mengusap janggutnya perlahan. “Inspeksi Zhao memindahkan sebagian besar kekuatan Paviliun ke selatan. Patroli Hongluo akan jarang, tapi bukan berarti kosong.”
Li Shen berdiri di sisi meja, satu tangan bertumpu pada kayu. Ia mengamati tanda-tanda di peta dengan saksama, namun alisnya sedikit berkerut, bukan ragu, melainkan berhitung. “Aku belum hafal jalur bawah tanah wilayah ini,” ucapnya jujur. “Gudang qi Hongluo dibangun bertingkat. Kalau salah masuk, kita bisa terjebak.”
Hua’er mengangkat kepala. Belati berhenti berputar di jarinya. “Biar aku yang memimpin. Lorong lama di bawah gudang sudah runtuh separuh. Orang luar pasti akan lebih mudah tersesat tapi aku tahu jalan pintasnya.”
Li Shen menoleh padanya sesaat, lalu mengangguk.
Tetua Feng menambahkan, “Cabang timur akan jadi umpan. Serangan kecil dan cepat, cukup ribut untuk menarik perhatian.”
“Jadi aku yang akan masuk gudang utama bersama Hua’er,” lanjut Li Shen. “Lalu memutus meridian qi-nya dari dalam?”
“Tepat sekali,” jawab Tetua Feng.
Madam Luo mengetukkan kipasnya ke permukaan meja sampai berbunyi Tok. “Bagus. Kalau begitu mulai besok, kita akan menyebarkan rumor Penolak Langit lebih masif. Jangan sebut Selendang Merah. Biarkan rakyat yang mengaitkannya sendiri.
Saat itulah pintu kayu didorong terbuka. Mei Lan masuk dengan dua keranjang belanjaan, napasnya sedikit terengah. Butiran keringat membasahi pelipisnya.
Madam Luo menoleh. “Luo Pang di mana?”
Mei Lan mengerjap, lalu menggeleng. “Tadi dia bilang lupa beli garam.”
Hua’er berhenti memutar belati. Li Shen mengangkat kepala.
Madam Luo menatap pintu yang tertutup, ekspresinya tetap tenang, terlalu tenang. “Seingatku aku tidak menyuruhnya membeli garam.”
Bar tua itu berbau menyengat seperti tempat orang kalah belajar bertahan hidup. Lantai kayunya lengket, akibat arak murah yang tumpah dan mengering.
Di sudut ruangan, dua tubuh terikat pada tiang. Luo Pang tertunduk. Rambutnya basah oleh arak, membasahi rambut, dahi dan pipi. Salah satu matanya bengkak parah, kelopak bawahnya menghitam, nyaris menutup pandangan. Bibirnya ikut biru di sudutnya, darah mengering bercampur cairan alkohol.
Di sampingnya, seorang remaja. Usianya sekitar enam belas tahun. Tubuhnya kurus. Pipi kirinya memar ungu. Bibirnya pucat, tangan gemetar bukan karena menangis, tapi karena menahan setiap tamparan yang datang.
Tiga belas preman mengelilingi mereka. Pemimpinnya yang berkepala botak duduk santai di atas meja, kaki disilangkan. Bekas luka panjang membelah pipinya, menarik senyum bengkok ke satu sisi. “Dewasa dihajar, bocah ditoleransi,” ejeknya sambil tertawa. “Kami ini baik, tahu.”
Salah satu preman menyambar botol arak dan menumpahkannya ke wajah Pang, sebelum meninju perutnya satu kali sampai udara keluar dari paru-parunya dalam suara singkat yang memalukan. “Minum sekalian!”
“Kau pikir bisa ganti rugi, hah?” sahut yang lain, tertawa. “Arak gratis buatmu. Jangan sia-siakan!”
Botol itu dijejalkan ke mulut Pang. Arak mengalir masuk, membakar tenggorokan. Pang tersedak, batuk keras, tapi dipaksa menelan. Dadanya terasa seperti disiram api.
“Biarkan mereka di sana,” kata si pemimpin sambil melompat turun dari meja. “Sampai malam.”
Tawa makin pecah di sekeliling, sampai mereka meninggalkannya terikat, terkulai di sudut.
Beberapa detik berlalu. Lalu terdengar suara tawa kecil diselingi batuk-batuk. “Hei… antek-antek asing… .”
Semua menoleh.
Remaja di sampingnya melirik sambil menahan napas.
Kepala Pang terangkat tinggi. Matanya merah, bukan hanya karena mabuk, tapi karena sesuatu di dalamnya terlepas. Tawanya membesar, berubah menjadi bahak tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.
Tekanan qi melonjak liar. Bukan qi murni. Bukan ranah tinggi. Melainkan qi rusak, tercampur arak, emosi tertekan, dan sisa tempaan hidup yang tak pernah bersih. Dalam dunia kultivasi, kondisi ini disebut kegilaan meridian yang biasanya berujung kematian.
Namun Luo Pang justru berdiri. Tali di pergelangan tangannya robek oleh hentakan kuat. Ia terhuyung maju, meraih sepasang sumpit dari meja terdekat.
“Dia… mabuk kan?” gumam seorang preman.
“Kenapa bisa lepas semudah itu…?”
“Omong kosong!” Preman pertama menyerang, tinju lurus ke wajah.
Pang menghindar setengah langkah, nyaris jatuh, begitu terus sampai-sampai tinjuan terakhir preman itu meleset dan sumpit milik Pang terlalu lincah hingga menusuk punggung leher lawan tepat di bagiannya yang paling menonjol.
“AARRGH!”
Preman kedua dan ketiga maju bersamaan.
Pang meloncat ke atas meja, terpeleset arak, jatuh telentang, tapi kakinya menyapu, menjegal dua orang sekaligus.
“Gerakannya cepat sekali! BANGSAT—!”
Kursi terangkat, bukan disengaja. Ayunan tangan Pang meleset, kursi malah melayang dan menghantam kepala preman lain yang barusan mengumpat.
“KEPALAKU!”
Merasa muak dengan aksi bodoh bawahannya, Pemimpin Preman bangkit, meraung, menghantam dengan tinju besar. Pang menghindar setengah detik terlambat, pukulan itu menghantam dinding kayu sampai retak.
Pang membalas dengan meraih botol arak, meminumnya sedikit lalu memecahkannya di kepala lawan. Botol pecah berantakan dengan bunyi nyaring dan kepala pemimpin merekapun basah akan cairan merah.
Pang sendiri sampai mengerjap. “Kepala si botak itu sungguh bau.”
Satu per satu, preman jatuh. Entah dengan cara apa Luo Pang menumbangkan mereka, yang jelas kebanyakan tumbang karena sepasang sumpit. Dengan cara yang tidak indah, tidak heroik.
Akhirnya, tiga belas tubuh berserakan. Beberapa merangkak, mengatupkan tangan dengan gemetar. “Ampuni hamba… ampun… .”
Di sudut ruangan, remaja itu masih dalam kondisi terikat, melihat semuanya tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya sejak hari itu, matanya tidak lagi dipenuhi takut. Melainkan rasa kagum.
Di luar bar, udara malam menusuk paru-paru. Pang melangkah keluar dengan terhuyung-huyung. Ia menoleh ke remaja itu, matanya merah. “Kau siapa sebenarnya… Mata-mata?”
Remaja memalingkan wajah. Mengunci mulutnya.
Pang awalnya mendengus, lalu tertawa kecil. “Kenalan yuk. Aku Luo Pang… Kau bisa memanggilku Pang Ge.”
Ia mengulurkan tangan. Remaja ragu sesaat… lalu menyambutnya.
“Bagus,” gumam Pang. “Sekarang ikut aku ke Selendang Merah dan jangan sekali-kali mencoba untuk kabur.” Ia melangkah sebentar lalu berhenti. “Dunia terus saja berputar-putar… Nanti aku kenalkan kau dengan istriku, si Dewi Malam.”
Tubuhnya limbung. Remaja itu reflek memapahnya.
Baru beberapa langkah. Di depan mereka, di bawah lentera jalan, berdiri satu orang dengan bundel kain panjang dipunggung.