Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 17.
Hujan sore itu turun lebih lama dari biasanya, seolah kota sengaja menahan langit agar tak segera cerah.
Viera berdiri di balik jendela apartemennya, satu tangan menopang perut yang kini mulai terlihat membulat, tangan lain menggenggam cangkir teh hangat. Tubuhnya jauh lebih sehat dibanding beberapa minggu lalu, tapi pikirannya justru semakin ramai.
Lucca sendiri, tidak ada hari ini. Pria itu mengabari sejak pagi bahwa ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada janji akan kembali cepat. Hanya satu kalimat sederhana, “Aku akan mengabari mu nanti.”
Dan Viera tidak menuntut lebih. Namun entah mengapa, ada rasa tidak nyaman yang tak bisa ia jelaskan.
Di tempat lain, Damian duduk sendirian di apartemen lamanya. Tempat itu kini terasa terlalu besar untuk satu orang. Tak ada suara, tak ada aroma masakan, tak ada langkah kaki yang dulu sering ia anggap remeh.
Ia menatap foto di ponselnya—foto lama, sebelum semua hancur. Viera tersenyum kecil di sana, matanya berbinar karena sesuatu yang dulu hanya ia lihat sebagai kewajiban rumah tangga.
“Aku bodoh,” gumamnya lirih.
Ia memang sadar dirinya bukan raja, dia hanyalah pion. Tapi menyadari semua itu, tidak otomatis membuat rasa kehilangan berkurang. Justru sebaliknya, ia kini hidup dengan kesadaran bahwa ia menghancurkan sesuatu yang tidak bisa digantikan.
Damian menulis pesan pada Viera.
[Apa kabarmu?]
Ia menatap layar lama sebelum akhirnya menghapusnya, dia merasa tidak punya hak lagi. Namun move on bukan soal hak atau logika. Itu soal hati—dan hatinya masih tertinggal pada perempuan yang kini bahkan tidak lagi memandang ke belakang.
Sementara itu di rumah besar keluarga Lucca, udara terasa dingin meski pendingin ruangan tidak menyala.
Lucca berdiri di ruang kerja ibunya. Wanita itu duduk tegak di balik meja kayu gelap, rambut peraknya disisir rapi, sorot matanya tajam dan penuh kendali.
“Kau ingin kembali dengannya?” tanya Nyonya Marrie, sang Ibu tanpa basa-basi.
Lucca mengangguk. “Aku ingin memperbaiki apa yang dulu hancur.”
Ibunya terkekeh pelan, tawa tanpa kehangatan. “Dengan anak orang lain di rahimnya?”
“Itu anakku.”
Mata Nyonya Marrie sempat bergetar karena fakta itu, tapi sorot matanya kembali dingin. “Anak dari perempuan yang keluarganya membunuh ayahmu!”
Kata-kata itu jatuh seperti palu.
Lucca menegang. “Ibu—”
“Jangan menyangkal!” suara Nyonya Marrie meninggi untuk pertama kalinya. “Aku melihat sendiri bagaimana ayahmu sekarat di ruang gawat darurat! Aku mendengar bagaimana rumah sakit itu menerima satu panggilan… dan tiba-tiba semua berubah. Dokter menarik diri, dan ayahmu… mati di depanku karena penolakan rumah sakit!”
Lucca membeku. “Ibu… tidak pernah menceritakan ini padaku.”
“Karena kau sudah cukup hancur saat itu,” balas ibunya dingin. “Dan sekarang kau ingin kembali pada keluarga yang menghancurkan kita?”
Lucca menarik napas dalam. “Viera tidak tahu apa-apa, dia tidak bersalah.”
“Aku tidak peduli...!!!” Nyonya Marrie berdiri. “Aku melarang hubungan kalian! Jika kau tetap keras kepala, aku yang akan menyelesaikannya.”
“Ibu, aku mohon… jangan libatkan Viera dalam hal ini.” Nada suara Lucca tetap tertahan dan lembut. Bagaimanapun, perempuan di hadapannya adalah orang yang paling terluka—kehilangan suami telah meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Ibunya menatap putranya dengan tatapan aneh, lalu tersenyum tipis. Senyuman yang membuat Lucca merasa ada sesuatu yang salah. “Kau terlalu lembut, Lucca. Itu lah... kelemahanmu.”
Dua hari kemudian, Viera menerima kunjungan tak terduga.
Seorang wanita elegan berdiri di depan pintu apartemennya, diiringi dua pria berpakaian hitam. Tatapannya dingin, sikapnya penuh otoritas.
“Kau masih mengingatku, bukan?” katanya pelan, tapi suaranya dingin. “Aku ibu David.”
Viera terdiam sejenak, lalu membuka pintu lebih lebar. “Silakan masuk.”
Para pengawal Viera berdiri ragu-ragu, mereka ingin melindungi Viera, tapi satu lirikan tajam dari Nyonya Marrie membuat mereka seketika menunduk. “Kalian tidak perlu masuk! Dan jangan ada yang berani melapor pada putraku kalau aku datang kesini!“
Dan entah bagaimana, akhirnya mereka menurut.
Di dalam apartemen, suasana langsung menegang.
“Aku tidak akan berlama-lama,” kata Nyonya Marrie. “Aku datang untuk memperingatkan mu.”
Viera menelan ludah. “Tentang apa?”
“Tentang putraku, David. Tentang masa lalu yang seharusnya tidak kau bangunkan kembali.”
Viera mengerutkan kening. “Jika maksud Anda soal hubungan kami, itu bukan urusan—”
“Itu urusanku,” potong wanita itu tajam. “Karena keluargamu lah yang membuat ayahnya mati!”
Dunia Viera seolah berhenti berputar. “Apa… maksud Anda?”
Nyonya Marrie melangkah mendekat. “Ayah David mengalami serangan jantung bertahun-tahun lalu, saat kami mendapatkan intimidasi dan ancaman dari keluargamu agar David menjauh darimu. Rumah sakit tempat dia dibawa, berada di bawah pengaruh keluarga orang tuamu. Satu telepon, dan satu perintah dari orang tuamu. Dan pertolongan dihentikan, hingga suamiku meninggal!”
Viera terhuyung mundur. “Itu… tidak mungkin.”
Air mata Viera jatuh tanpa bisa dicegah.
“Aku tidak tahu…” suaranya gemetar.
“Jadi dengarkan aku baik-baik, jauhkan dirimu dari anakku! Jika kau tetap keras kepala, aku tidak menjamin keselamatan emosional mu… atau anakmu.”
Viera refleks memeluk perutnya untuk melindungi. “Anda mengancamku?”
“Aku memperingatkan! David tidak perlu tahu pertemuan ini. Dan kau… jika masih punya hati nurani, lepaskan dia.”
Lalu Nyonya Marrie berbalik pergi, pintu apartemen tertutup tanpa suara keras. Tapi di dalam diri Viera, sesuatu runtuh sepenuhnya.
Malam itu Viera menangis tanpa ditahan, karena kebenaran yang terlalu pahit. Ia akhirnya mengerti, Lucca pergi bukan hanya karena diusir dan juga bukan hanya karena diancam. Tapi karena ada nyawa yang benar-benar melayang akibat keputusan keluarga Viera. Dan dia, adalah bagian dari kejahatan keluarganya itu.
Saat Lucca datang keesokan harinya, Viera sudah tenang. Bahkan terlalu tenang sampai membuat Lucca kebingungan.
“Kau terlihat pucat,” kata Lucca khawatir.
“Aku baik-baik saja.”
“Ada yang terjadi?”
Viera menggeleng. “Tidak ada.”
Namun saat Lucca pergi, Viera menatap bayangannya di cermin.
“Apa aku pantas bahagia?” bisiknya.
Ia menyentuh perutnya pelan.
“Apa aku pantas dicintai… setelah semua ini?”
Di luar, hujan kembali turun. Dan di antara rahasia, dendam, dan cinta yang belum sepenuhnya sembuh... badai baru mulai membentuk dirinya.