NovelToon NovelToon
Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Reinkarnasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘

Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.

​Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.

kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Reuni yang Hangat

Pagi itu, suasana meja makan kediaman Maheswara terasa seperti medan perang yang tenang. Safira sudah turun lebih awal. Ia hanya mengambil segelas air putih dan sepotong roti gandum, lalu kembali ke kamarnya tanpa suara.

Tidak ada yang memanggil. Tidak ada yang bertanya. Di rumah ini, Safira telah belajar menjadi diam sebelum waktunya.

Beberapa menit kemudian, meja makan dipenuhi oleh mereka yang merasa memiliki hak atas nama besar Maheswara. Raga duduk di kursi utama, Ratih sibuk mengatur sarapan dengan senyum yang dipaksakan, sementara Vian sibuk dengan tablet-nya. Raka dan Bima bergabung dengan wajah yang masih memikirkan kejadian di sekolah kemarin.

"Pa," Maya membuka suara, nada suaranya lembut, namun matanya melirik ke arah tangga.

"Papa sudah dengar kejadian di sekolah kemarin?"

Raga menurunkan koran bisnisnya. "Kejadian apa lagi? Safira berulah?"

Maya menghela napas, memasang wajah prihatin. "Kemarin Kak Fira berantem di area parkir. Dia pakai kekerasan sampai Kak Bagas, temannya Bang Bima, jatuh tersungkur. Banyak banget yang lihat, Pa. Aku malu banget, takutnya nama Papa jadi jelek karena dikira punya anak yang kasar."

Ratih langsung mendecak kesal. "Astaga... benar kan apa kata Mama? Anak itu harus dikontrol. Kalau dia berani memukul anak orang kaya seperti Bagas, bagaimana kalau orang tuanya menuntut kita?"

Bima terkekeh hambar, meski tangannya sedikit bergetar mengingat kuncian maut Safira. "Pantas saja. Dia itu memang aneh, Pa. Sekarang sok-sokan jago bela diri."

Raka terdiam. Ia teringat sorot mata Safira yang dingin saat menyebut bahwa mereka terlalu sibuk melindungi orang yang salah. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun ia memilih bungkam.

"Sudahlah," potong Raga dengan suara berat.

"Selama dia tidak mengganggu urusan bisnisku, biarkan saja. Tapi kalau dia sampai memalukan nama Maheswara di depan klien, aku sendiri yang akan mengusirnya."

"Oh iya, Pa," lanjut Maya cepat, ingin mengalihkan pembicaraan ke hal yang menyenangkan. "Jadi makan malam di Restoran SK nanti malam kan? Klien dari Singapura itu pasti suka."

Raga mengangguk. "Ya. Restoran itu sangat sulit ditembus reservasinya. Untung relasi Papa punya akses."

"Safira ikut?" tanya Ratih sekilas, hanya basa-basi.

"Tidak perlu," jawab Raga tanpa ragu. "Biarkan dia di rumah. Dia hanya akan merusak suasana dengan sikap dinginnya itu."

Di balik pintu kamarnya, Safira mendengar semua itu. Ia hanya tersenyum tipis. SK, ya? Menarik sekali, batinnya.

Sore itu di SMA Pelita Bangsa, Safira melangkah menuju gerbang. Namun, langkahnya terhenti saat melihat dua sosok familiar berdiri di dekat halte bus sekolah. Matanya yang biasanya sedingin es, mendadak bergetar.

"FIRA!"

Seorang gadis berambut sebahu dengan gaya enerjik berlari menghampirinya, disusul gadis berkacamata bulat yang tersenyum hangat.

"Calista? Ambar?" gumam Safira tak percaya.

"Gila! Lo beneran di sini!" seru Calista sambil memeluk Safira erat. "Kita baru pindah dari Kota B minggu lalu. Gue sengaja minta bokap pindah ke sini biar bisa jagain lo!"

Ambar tertawa sambil merapikan kacamatanya. "Lo makin cantik, Fir. Dan... rambut pendek ini? Lo kelihatan jauh lebih hidup."

Ini adalah Calista dan Ambar. Sahabat sejati Safira sejak SMP di Kota B. Mereka adalah orang-orang yang tahu bahwa Safira adalah seorang jenius , mereka yang menemaninya membangun restoran pertama dari nol. Di depan mereka, Safira tidak perlu memakai topeng.

"Ayo nongkrong! Gue kangen banget dengerin tentang keluarga lo yang gila itu," ujar Calista antusias.

Safira tertawa. Tawanya terdengar tulus, sebuah pemandangan langka yang tidak akan pernah dilihat oleh keluarga Maheswara. "Ayo. Aku traktir di kafe ."

Malam harinya, rumah Maheswara sunyi bagi Safira. Sebuah pesan masuk dari Ratih di grup keluarga—yang Safira hanya menjadi penonton di dalamnya.

Ratih: "Kami berangkat ke SK sekarang. Safira, jangan berani-berani keluar kamar atau bikin malu kalau ada pelayan rumah yang lihat."

Safira hanya membaca pesan itu tanpa minat. Ia justru sedang bersiap-siap. Ia mengenakan dress hitam sederhana namun sangat elegan, dipadukan dengan blazer putih. Penampilannya sangat berkelas, sangat jauh dari citra "anak sial" yang selama ini dilekatkan padanya.

Sementara keluarga Maheswara sedang memuji kemewahan Restoran SK, mengagumi desain interiornya, dan mencoba mengambil hati klien penting mereka, Safira justru berada di sebuah kafe rooftop yang tenang bersama Calista dan Ambar.

"Jadi, keluarga lo masih belum tahu kalau lo yang punya SK?" tanya Ambar sambil memotong steak-nya.

Safira menyesap wine non-alkoholnya pelan. "Belum. Dan jangan sampai tahu. Aku ingin mereka merasa sangat terhormat bisa makan di sana, tanpa sadar bahwa uang yang mereka bayarkan masuk ke kantongku."

Calista tertawa terbahak-bahak. "Lo bener-bener iblis yang imut, Fir. Gue suka gaya lo!"

"Kota J nggak seburuk yang gue kira," gumam Safira sambil menatap lampu kota yang berkilauan. "Selama aku punya kalian, dan selama aku punya kekuatanku sendiri."

Di kejauhan, di dalam gedung Restoran SK, Raga sedang membanggakan kesuksesannya kepada kliennya. Ia tidak tahu, bahwa di ruangan kantor utama tepat di atas kepalanya, Andi sedang memantau CCTV meja mereka atas perintah Safira.

"Bos," Andi mengirim pesan suara ke Safira.

"Ayahmu baru saja memesan menu termahal kita dua kali lipat untuk pamer pada kliennya."

Safira membaca pesan itu dan hanya tersenyum miring. Pamerlah sesukamu,sesekali memperkaya anak sial mu ini.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah kembali ke masa lalu, Safira merasa benar-benar memegang kendali. Ia tidak lagi berharap pada meja makan yang sunyi di rumah itu, karena ia telah membangun mejanya sendiri dengan orang-orang yang benar-benar mencintainya.

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas.

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kalea rizuky
keren novelnya
shanairatih
ga sabar nunggu lanjutanny😍
Cty Badria
up y byk Dan panjang ceritany 💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Wahyuningsih
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
semoga UAS nya lancar dan hasilnya memuaskan ya 🙏🙏🙏
MataPanda?_
semangat trus kak.. 💪
Lala Kusumah
syukurlah Fira akhirnya keluar dari rumah Maheswara 👍👍👍💪💪😍😍😍
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
penyesalan pasti datng terlambat
Wahyuningsih
gas thor 💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Lala Kusumah
makasih updatenya, kalau bisa double atau crazy up ya 🙏🙏🙏
Yusrina Ina
author up nya tidak cukup ni 🤭🤭🤭 tambah lagi ya 🙏🙏🙏. terima kasih semangat 💪💪💪 lagi up nya.
MataPanda?_
bagus kak MC y gk neko"ceritanya bagus semangat trus kak 😄
Lala Kusumah
Safira emang hebaaaaaatt baik hati dan tidak sombong 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!