Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMPAT BELAS
Pagi ini, udara masih dingin, embun belum benar-benar menguap dari dedaunan. Langit berwarna abu, dan jalanan kota masih sedikit lengang. Pukul setengah enam.
Mikhasa duduk di kursi belakang taksi, jaket tertutup rapat, matanya menatap keluar jendela. Lampu-lampu jalan beberapa masih menyala.
“Mungkin sebaiknya aku pindah apartemen dekat kantor aja kali, ya,” gumamnya pelan. “Biar nggak harus berangkat pagi buta gini.”
Ia menyandarkan kepala di jok kursi, matanya terpejam sejenak tapi baru beberapa detik, bayangan wajah Liora muncul di pikirannya.
Mikhasa membuka mata. Menoleh ke samping, memperhatikan deretan gedung yang berganti cepat di balik kaca.
Ia menghela nafas. “Aku juga ngerasa kalau Liora mirip banget sama aku,” ucapnya lirih. “Atau jangan-jangan… kita sodara kembar yang terpisah?”
Ia tertawa kecil, meski tak benar-benar lucu. “Ah, tapi mana mungkin. Jelas-jelas aku anak tunggal. Lalu yatim piatu. Saat aku masih kecil, aku tinggal bersama bibi. Dan sekarang hidup seorang diri di ibu kota."
Suara radio di taksi memutar lagu lama — Fix You dari Coldplay — menambah suasana melankolis pagi ini.
“Udahlah, cuma kebetulan mirip aja,” gumamnya lagi. “Kata orang, kita punya tujuh kembaran di dunia ini, kan."
Ia menarik napas panjang, berusaha menepis pikirannya yang tiba-tiba muncul.
Dttt. Drttt. Ponselnya bergetar di pangkuan. Layar menampilkan nama yang sama sekali tidak ingin ia lihat sepagi ini — Axel Mercier.
Mikhasa mendesah, menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat.
“Ya, Tuan,” ucapnya datar, mencoba menetralkan nada suaranya. Ia menarik napas dalam. 'Tenang, Mikha. Bersikaplah baik. Demi misi mulia. Demi kesehatan mental, demi kesehatan Axel.'
Suara bariton itu langsung terdengar di seberang.
“Di mana, sweet heart?”
Mikhasa spontan mendelik, mengerutkan hidungnya. “Sweet heart, sweet heart apaan sih,” gerutunya pelan. Ia menempelkan ponsel di telinga lagi. “Saya sedang menuju kantor, Tuan,” jawabnya setenang mungkin dan sopan.
“Sepagi ini?” tanya Axel, suaranya terdengar agak serak, baru bangun tidur.
“Iya.”
“Hm.” Hening sebentar, lalu suara itu kembali. “Memangnya kamu tinggal di mana sekarang?”
Mikhasa menatap keluar jendela. Dia ingin menjawab ketus, bahwa itu bukan urusan Axel, tapi kemudian menelan kata-katanya lagi. Percuma. Axel tuh kayak tembok. Dikasih marah, diomelin malah ditertawain.
“Jauh,” jawab Mikhasa akhirnya, pendek.
“Di mana?”
“Jauh, pokoknya jauh, Tuan Axel. Jauh banget. Super jauh. Sampe sinyal aja ngos-ngosan ngikutin.”
Suara tawa rendah terdengar dari seberang. “Lucu juga kamu pagi-pagi gini.”
“Bukan niat lucu, Tuan. Saya cuma pengen tenang lima menit aja tanpa interogasi.”
“Hm…” Axel terdengar menahan tawa. “Berapa menit lagi kamu sampai kantor?” suara Axel terdengar di seberang, tenang tapi bikin Mikhasa pengen banting HP.
“Lima puluh menit,” jawabnya setengah malas. Tatapannya kosong ke luar jendela, memperhatikan mobil-mobil yang padat di jalur pagi ini. Ia bersandar, menahan kantuk.
“Hampir satu jam,” komentar Axel lagi.
“Iya.”
Hening beberapa detik. Mikhasa berharap Axel segera menutup telepon, tapi sepertinya pria itu bahkan betah mendengar napasnya aja.
“Tuan,” katanya akhirnya, menahan nada kesal, “maaf, baterai saya lowbat.”
Belum sempat Axel menjawab... klik. Panggilan diputus sepihak. Mikhasa menatap layar ponselnya yang gelap, lalu mendecak pelan. “Terserah kamu, Tuan aneh.” Ia mematikan ponsel sepenuhnya dan menyimpannya ke dalam tas.
Sesampainya di kantor, Mikhasa langsung menuju meja resepsionis.
“Kak maaf, saya pegawai baru. Kantin sebelah mana ya?” tanyanya sopan.
Resepsionis dengan seragam abu elegan tersenyum ramah. “Jalan lurus, belok kanan, nanti ambil kiri. Nah, di situ ada kantin.”
“Terima kasih, Kak.”
Langkah Mikhasa beradu pelan di lantai. Ia mengikuti arah yang ditunjukkan, melewati beberapa karyawan yang pagi-pagi begini semua terlihat bersemangat, kecuali dirinya
Begitu sampai di kantin, ia membeli satu roti cokelat dan sebotol air mineral. Uangnya mulai menipis karena beberapa bulan tidak kerja. Punya sih satu milyar, iya satu milyar tapi masih berupa cek. Nggak tau mau di cairin kapan.
Satu Milyar... uang terima kasih dari Nyonya besar Mercier. Entah uang Terima kasih, entah sogokan. Terserah namanya, yang penting uang.
Mikhasa membawa roti dan air minumnya di tangan. Dia berencana memakannya nanti setelah sampai di ruangannya.
“Nona Mikhasa,” seseorang memanggil.
Mikhasa menghentikan langkah. Seorang pria paruh baya berjas rapi mendekat. Pak Bayu, salah satu asisten Axel.
“Mari ikut saya, Nona,” ucapnya sopan.
Alis Mikhasa langsung berkerut. “Kemana, Pak? Ini belum jam kerja kan? Masih sepuluh menit lagi.”
“Iya, benar. Tapi ini akan dihitung lembur, jadi Anda tenang saja.”
Tanpa banyak bicara, Pak Bayu berbalik, melangkah lebih dulu. Mau tidak mau, Mikhasa mengikutinya, masih dengan roti dan air di tangan.
Beberapa langkah kemudian, mereka berhenti di depan salah satu ruangan besar.
“Silakan masuk, Nona,” ujar Pak Bayu, sedikit menunduk sopan.
Mikhasa menatap pintu itu, lalu menatap Pak Bayu lagi. “Maaf, ini ruangan apa? Bapak ikut masuk nggak?”
Pak Bayu tersenyum kecil. “Tidak. Saya hanya bertugas mengantar Nona ke sini.”
Mikhasa melotot. “Apa?! Jadi saya masuk sendirian?”
“Silakan. Tuan sudah menunggu Anda di dalam.”
“Apa?!!”
Pikiran Mikhasa langsung berkelana liar. Dalam hitungan detik, ia membayangkan adegan seri drama tragis, seorang wanita dijebak atasan, dilecehkan, hamil, lalu diusir. Lima tahun kemudian, mereka bertemu lagi dengan balita yang manggil, “Daddy!”
Mikha buru-buru menggeleng kencang. “Nggak mau! Aku nggak mau! Aku belum siap jadi ibu tunggal versi short drama!”
Mikha buru-buru membalik badan hendak melangkah, tapi tepat saat itu, pintu ruangan terbuka.
Axel keluar, dengan wajah datar. Gerakannya cepat, tanpa banyak bicara, ia langsung mengulurkan tangan dan menarik kerah belakang baju Mikha.
Langkah Mikhasa terhenti paksa.
“Mau ke mana?” suara Axel terdengar santai, tapi matanya menatap tajam.
“Axel, lepasin aku,” protes Mikhasa sambil menepis tangannya.
“Nggak,” jawab Axel ringan, tapi keras kepala. Tanpa memberi kesempatan Mikhasa kabur, ia menyeret gadis itu masuk ke dalam ruangan.
Pak Bayu hanya menghela napas pendek, lalu menutup pintu rapat-rapat di belakang mereka.
Axel baru melepas Mikhasa begitu mereka sampai di dekat meja makan panjang di tengah ruangan.
“Dasar keras kepala,” gumam Axel, menepuk kepala Mikhasa pelan. Gestur yang entah kenapa terasa lebih seperti bossy care daripada marah. Dia lalu menarik kursi dan menyiapkannya untuk Mikhasa.
Mikhasa hanya diam. Terpaku. Matanya membulat menatap deretan hidangan di atas meja. Semuanya tampak seperti sarapan hotel bintang lima.
Refleks, Mikhasa langsung menyimpan roti dan air mineralnya ke dalam tas, seolah malu ketahuan bawa bekal “murahan”.
Axel berdiri di belakangnya. Meletakkan kedua tangannya di atas pundak Mikhasa, lalu mendorongnya pelan hingga gadis itu duduk di kursi yang sudah ia siapkan.
“Sarapan,” ucapnya tenang. “Aku nggak mau asisten pribadiku kerja sambil lapar.”
Mikhasa menelan ludah. Aroma makanan di depannya luar biasa menggoda. Otaknya seperti memberi sinyal bahaya sekaligus kelezatan dalam satu waktu.
Perutnya pun menjerit minta diisi. Tapi tunggu dulu. Ia mengangkat pandangan. Axel sudah duduk di seberang meja, menatapnya dengan ekspresi santai, yang justru bikin ngeri.
“Apakah ini… ada ramuan bergairahnya?” tanya Mikhasa hati-hati, matanya menyipit curiga.
Axel sempat membeku mendengar pertanyaan itu. Lalu tawa kerasnya pecah, menggema di ruangan.
“Otak kamu mesum sekali, Mikha,” katanya di sela tawa.
Mikhasa memutar bola matanya. “Bukan otakku yang mesum, tapi otak kamu.”
“Kok bisa otakku?”
“Karena tiba-tiba ngajak makan,” jawab Mikhasa cepat. “Apa lagi kalau bukan mau bikin aku bernafsu sama kamu. Abis itu kamu bakal seenaknya sama aku, terus aku kabur dalam keadaan hamil, jadi ibu tunggal, lima tahun kemudian kita ketemu lagi dan—”
“Mikhasa.” Axel memotongnya, suaranya rendah namun tegas. “Otakmu benar-benar kacau. Ini cuma sarapan biasa.”
Axel bersandar di kursinya. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Tapi kalau kamu berharap jadi luar biasa… dengan senang hati. Setelah sarapan kita menikah.”
Mikhasa membeku, matanya membulat lebar.
“Dengan begitu,” lanjut Axel santai, “kalau kamu hamil anakku, kamu tetap bersamaku. Mana mungkin aku membiarkan kamu jadi ibu tunggal. Jangan mengarang tragedi sendirian.”
Mikhasa mendelik tajam. Bibirnya sudah siap membalas namun Axel lebih dulu menyodorkan sendok berisi makanan ke arahnya, berhenti tepat di depan bibir Mikhasa. Tatapan matanya mengunci Mikhasa, tak memberi ruang untuk menghindar.
“Buka mulut,” lanjutnya pelan, nadanya berbahaya, “atau kuseret kamu langsung ke kantor catatan sipil. Kita menikah hari ini."
Mikhasa menatap sendok itu seperti sedang menghadapi senjata pembunuh. “Kamu tuh sadar nggak sih kalau cara ngomongmu itu kriminal?” protesnya cepat. Bibirnya bergetar, tapi perlahan… ia membuka mulut. “Aku makan, aku makan. Jangan bawa-bawa pernikahan.”
Axel tersenyum puas. “Bagus.”
Sendok itu masuk ke mulut Mikhasa tanpa ragu, nyaris seperti perintah yang dieksekusi. Axel menunggu sampai Mikhasa mengunyah sebelum menarik tangannya kembali.
“Lain kali,” ucapnya ringan namun menekan, “tinggal patuh sama perintahku.”
Mikhasa menunduk. Beginilah kalau bekerja langsung dengan orang kaya. Seenaknya. Memaksa. Seolah pihak yang lemah tidak punya hak apa pun atas dirinya sendiri.
Sejak remaja, Mikhasa sudah tahu itu. Ia tahu betul bagaimana orang-orang kaya bisa begitu kejam. Bahkan untuk sekadar mengunjungi makam kedua orang tuanya saja, ia tidak lagi bisa. Tanah itu telah berubah menjadi perumahan mewah dengan akses jalan pribadi, tertutup rapat bagi siapa pun yang tidak berhak.
Mikhasa tersenyum sinis. Cek dari Nyonya Besar Mercier terasa seperti borgol tak kasatmata. Sekali ia menerimanya, hak atas dirinya pun ikut terkubur. Axel akan melakukan apa pun yang pria itu inginkan.