Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 Sang Pencuri Takdir
"Jika aku bisa mencuri takdir penguasa milikmu, maka membunuh pun bukanlah hal yang sulit!"
Ming Tian Li, Tuan Muda sekte Bulan Hitam mengeluarkan 8 elemen sekaligus. Delapan elemen itu disatukan dan membentuk pedang elemen. Pedang itu mengendalikan hampir seluruh unsur alam, tapi Erlang Xuan tidak gentar sama sekali.
Swuuuussss
Dhuaaarrrrrr
Ledakan dahsyat mengguncang istana kekaisaran. Dengan gelombang halus, istana kekaisaran hancur untuk kedua kalinya. Ledakan itu berasal dari dua orang yang sedang berhadapan. Keduanya mengeluarkan aura yang sangat kuat. Ming Tian Li dengan aura emasnya, sementara Erlang Xuan dengan aura yang jiwa yang bercampur dengan aura lain.
"Naga penghancur!"
Wuuuussss
Seekor naga emas muncul di langit. Naga tersebut menyerang dengan semburan energi yang dapat menghancurkan apa pun dengan sangat mudah. Hanya dengan semburan itu, bumi bergetar hebat, meski hanya kawah raksasa yang tercipta.
Erlang Xuan mengatur napasnya. Hanya dengan dorongan tangannya, tornado tercipta dan petir muncul entah dari mana. Buka. hanya itu, cahaya dan kegelapan, dua elemen yang tak bisa dikendalikan oleh Ming Tian Li, justru dikendalikan dengan mudah olehnya.
"Naga Langit mengguncang cakrawala!" ucapnya dengan pelan.
Trarrkk
Petir menyambar, langit gelap gulita, dan angin bertiup. Tak cukup sampai di situ saja, cahaya jingga muncul di langit dan membentuk seekor naga raksasa. Dengan satu hembusan napasnya, langit bergetar hebat.
"Hancurkan!" perintahnya.
Roaaaaarrgggg
Naga tersebut meraung dengan keras. Raungannya menciptakan gelombang penghancur yang sangat kuat. Berbeda dengan naga yang diciptakan oleh Ming Tian Li, naga itu justru menyebabkan daratan retak.
Swuuuussss
Dhuaaarrrrrr
Ledakan dahsyat terdengar di langit. Naga raksasa yang ada di langit tidak kenapa-napa. Sebaliknya, naga penghancur musnah tanpa jejak yang tersisa.
"Aku tidak akan kalah!" Pemuda itu berteriak. Auranya menembak ke langit dan membentuk siluet sesosok dewa agung.
"Akulah sang penguasa! Siapapun harus tunduk dan bersujud di bawah kakiku!" katanya.
"Penguasa sejati tidak akan bertindak semena-mena. Seorang penguasa bukan hanya memiliki kekuatan, tapi punya kemampuan untuk melindungi!" Erlang Xuan berkata dengan suara lantang.
"Lalu kenapa kamu membiarkan mereka mati?" Ming Tian Li menunjuk ratusan orang yang tergelatak tak bernyawa di dekat reruntuhan istana.
"Mereka sudah terlalu banyak membunuh!" jawabnya dengan santai.
"Kalau begitu, aku akan membunuhmu!"
Ming Tian Li membuat segel khusus. Tak beberapa lama, siluet dewa agung di langit menyerang Erlang Xuan dengan ribuan tapak dan ribuan cakram.
Dhuaarrr… Dhuaaarrrrrr …
Ledakan beruntun terdengar. Ribuan tapak dan cakram dihancurkan tanpa kesulitan sama sekali. Ruang disekitar siluet dewa agung itu bergeliat. Tak lama kemudian, siluet lain muncul dari ruang hampa.
Wuuuussss
Gelombang energi muncul saat dua siluet itu beradu pukulan. Wujud dari sosok yang hampir serupa memicu munculnya petir surgawi. Petir tersebut menargetkan dua orang yang menjadi penyebab dari kekacauan, yaitu Erlang Xuan dan Ming Tian Li.
"Petir surgawi tidak akan bisa menghentikanku!"
Di saat lawan menghindar petir surgawi, dia justru mendekat. Tentu saja yang dilakukanya membuat Ming Tian Li tersenyum penuh kemenangan. Jika pemilik takdir kehilangan nyawa, maka langit dan bumi akan mengakuinya sebagai penguasa sejati.
"Langit benar-benar mendukungku!" gumamnya.
"Sambar dia sampai mati!" ucapnya.
Di langit, petir surgawi menyambar Erlang Xuan terus menerus. Bukan hanya sambatan biasa, petir tersebut menciptakan sesosok qilin petir. Qilin tersebut menyerangnya terus menerus, tapi serangan itu menghilang tanpa jejak.
"Sudah cukup main-mainnya!" Ia menunjuk petir berwujud qilin. Tentu saja hal itu membuat petir surgawi murka. Qilin itu menyerangnya dengan serangan bertubi-tubi.
"Petir surgawi tidak mengecewakanku!" Erlang Xuan mengumpulkan petir di telapak tangannya. Saat wujud petir surgawi mendekati, ia menyerang dengan tapak.
Wuuuuzzzz
Gelombang petir menyebar di langit, disusul oleh gemuruh yang membuat langit seolah mau runtuh. Dibawah semua orang sangat khawatir, hanya Ming Tian Li yang tertawa. Ia menunggu hingga mayat Erlang Xuan jatuh, tapi tidak pernah terjadi.
"Sial, aku hanya membuang-buang waktu saja!" Ming Tian Li mengeluarkan pedangnya lalu menyerang Erlang Xuan dengan kekuatan pedang.
Traaaanngggg
Dentingan logam terdengar saat dua pedang berbenturan. Benturan kedua pedang menciptakan siluet naga yang bertolak belakang. Pedang bintang suci memunculkan naga emas, sementara pedang milik Ming Tian Li justru memunculkan naga hitam.
Dhuaaarrrrrr
Dua naga berbeda warna bertarung di langit. Kilatan dan benturan kedua siluet naga tersebut membagi langit menjadi dua sisi, yaitu sisi gelap dan sisi terang.
Dhuaaarrrrrr
Ledakan kembali terdengar. Ledakan itu disusul oleh dua orang yang jatuh dari langit. Keduanya sama-sama terluka, tapi Ming Tian Li lebih memprihatinkan. Lukanya semakin parah karena kekuatan misterius menyerangnya terus menerus.
"Bagaimana bisa?"
Meski lukanya sembuh dengan sendirinya, tetap saja ia tidak terima dengan lukanya yang sangat parah. Terlebih lagi, lawannya hanya menderita luka dalam ringan, bahkan hampir tidak terluka sama sekali.
"Yang tadi itu hanya pemanasan. Sekarang aku akan serius!"
Suasana kembali tegang. Kali ini, kekuatan jiwa yang sangat kuat saling bertabrakan. Dua kekuatan yang sama-sama tersegel, kini terlepas. Kain segel mata 7 bintang, dan gelang segel 9 matahari terbakar di udara.
"Gawat!" Zhang Xue panik. Dia tahu sekuat apa kekuatan yang tersegel. Apalagi dua kekuatan yang saling bertabrakan akan memicu hukuman langit.
Swiiiiizzzzzz
Dhuaaarrrrrr
Gelombang transparan bertabrakan. Tabrakan kedua gelombang itu memicu ledakan yang sangat keras. Dibandingkan dengan sebelumnya, ledakan kali ini jauh lebih menakutkan. Pasalnya, tanah menjadi kering kerontang, nyaris tidak memiliki energi kehidupan.
"Pertarungan akan selesai jika salah satu dari kita terbunuh!" Ming Tian Li berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia melawan kekuatan jiwanya, sementara Erlang Xuan justru membiarkan kekuatan itu mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Tidak akan ada yang mati!" gumamnya.
Jauh dari tempat pertarungan, seorang pria paruh baya tengah bersiap menyelamatkan Ming Tian Li. Pria itu membawa gelang penyegel, sementara dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Wuuuussss
Traangg
Traaaanngggg
Dentingan logam terdengar nyaring. Area seluas puluhan mil terkena efek dari ledakan kekuatan jiwa. Meski begitu, hanya beberapa orang saja yang menjadi korban.
Dhuaaarrrrrr
Ledakan keras terdengar untuk kesekian kalinya. Ledakan tersebut menyebabkan keduanya terlempar beberapa meter. Semakin lama, kekuatan jiwa yang dikeluarkan semakin kuat.
"Sial, aku hampir tidak bisa mengendalikan diri, sementara dia masih bisa mengendalikan dirinya!" Ming Tian Li mengumpulkan kekuatan jiwanya di satu titik. Dia berniat mengakhiri pertarungan ini sebelum kekuatan jiwa membuatnya lepas kendali.
"Tetap tenang, dan biarkan kekuatan itu mengalir. Jangan melawannya, tapi arahkan kekuatan itu. Kamulah Tuan dari kekuatan itu, bukan sebaliknya!"
Kata-kata pria misterius yang muncul di mimpinya terngiang-ngiang di telinganya. Kekuatan jiwanya dibiarkan mengalir begitu saja, tapi tetap saja kekuatan itu diarahkan agar tidak lepas kendali. Dengan cara itu, kesadarannya tetap terjaga, meski kekuatan itu terlalu besar dan tak bisa dikendalikan sepenuhnya.