NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22. Beban Yang Tak Terucap

Pengumuman itu datang di pagi hari yang padat, saat ruang rapat utama sudah dipenuhi wajah-wajah serius. Meja panjang berlapis kayu gelap menjadi saksi bisu perubahan besar yang akan terjadi. Adit duduk di salah satu sisi, punggungnya tegak, tangannya saling bertaut di atas meja. Meski raut wajahnya tenang, detak jantungnya tidak sepenuhnya stabil.

Ia sudah mendengar desas-desus itu beberapa minggu terakhir. Isyarat halus dari atasan, rapat-rapat yang semakin sering melibatkannya, hingga tanggung jawab yang diam-diam sudah mulai dialihkan ke pundaknya. Namun tetap saja, mendengar keputusan itu diucapkan secara resmi memiliki bobot yang berbeda.

“Atas pertimbangan kinerja, dedikasi, dan kontribusi Saudara Adityawarman selama ini,” ucap salah satu direktur dengan suara mantap, “mulai bulan ini, Saudara resmi menjabat sebagai Kepala Divisi Operasional.”

Ruang rapat sejenak hening, lalu disusul tepuk tangan yang terukur. Tidak berlebihan, tidak pula dingin. Adit berdiri, membungkuk sedikit sebagai bentuk hormat. Ia mengucapkan terima kasih singkat, tanpa pidato panjang. Bukan karena tidak bangga, melainkan karena pikirannya sudah berlari jauh ke depan.

Dalam benaknya, jabatan itu bukan sekadar kenaikan posisi. Ia melihat deretan keputusan penting, potensi konflik internal, risiko kesalahan yang tidak lagi bisa ditoleransi. Ia sadar betul, satu tanda tangan darinya kini bisa menentukan nasib banyak orang.

Sejak hari itu, ritme hidup Adit berubah secara nyata.

Hari-harinya dipenuhi rapat beruntun. Ponselnya hampir tak pernah lepas dari genggaman. Malam-malam yang dulu masih menyisakan waktu untuk duduk santai, kini berganti dengan layar laptop yang menyala hingga lewat tengah malam. Pulang larut bukan lagi kejadian sesekali, melainkan kebiasaan baru yang perlahan menggerus waktu pribadinya.

Di rumah, Naya merasakan perubahan itu dengan jelas.

Lampu ruang tamu sering masih menyala saat jam dinding menunjukkan angka sebelas atau dua belas malam. Naya menunggu di sofa, kadang dengan buku yang tak benar-benar ia baca, kadang hanya memandangi lantai sambil menahan kantuk. Saat suara pintu terbuka, ia selalu bangkit dengan senyum yang sama.

“Kamu belum tidur?” tanya Adit suatu malam, melepas jasnya dengan gerakan lelah.

“Belum,” jawab Naya lembut. “Mas makan dulu. Aku hangatin.”

Adit mengangguk, lalu duduk tanpa banyak bicara. Mereka makan dalam keheningan yang tidak canggung, tapi juga tidak hangat seperti dulu. Tidak ada pertengkaran, tidak ada nada tinggi. Hanya jarak halus yang perlahan terbentuk, nyaris tak terasa.

Percakapan mereka kini lebih sering berisi hal-hal praktis. Tentang jadwal, tentang tagihan, tentang besok pagi. Kalimat-kalimat panjang yang dulu sering mengalir, kini tergantikan oleh kata-kata singkat yang fungsional.

Naya memahami. Ia melihat sendiri beban di wajah suaminya. Maka ia memilih menjadi penopang, bukan penuntut. Ia tidak mengeluh, tidak menagih perhatian. Baginya, rumah harus tetap menjadi tempat paling tenang bagi Adit, meski itu berarti ia harus menyimpan sebagian perasaannya sendiri.

Di sisi lain, Naya juga tenggelam dalam kesibukannya.

Pembangunan kosan yang baru ia rencanakan mulai memasuki tahap awal. Pagi-pagi sekali, Naya sudah bersiap mengunjungi lokasi. Ia mengenakan pakaian sederhana, kerudung yang rapi, dan membawa buku catatan kecil berisi rincian anggaran.

Di atas tanah kosong itu, ia berdiri bersama mandor, memperhatikan garis-garis kapur yang menandai pondasi. Ia bertanya tentang kualitas bahan, sistem drainase, dan jadwal pengerjaan. Setiap detail ia perhatikan dengan serius. Tidak ada keputusan yang ia ambil secara tergesa.

Baginya, kosan bukan sekadar bisnis. Itu adalah hasil dari perjalanan panjang, dari hidup yang pernah begitu sederhana, dari hari-hari sulit yang membentuk ketahanannya. Melihat rencananya perlahan menjadi nyata memberi kepuasan tersendiri. Namun di balik itu, ada ruang sunyi yang tidak sepenuhnya terisi.

Kesibukan mereka berjalan beriringan, namun tanpa disadari, arah langkah itu mulai menjauh. Masing-masing membawa beban sendiri, sama-sama kuat, sama-sama memilih diam.

Ratna tidak pernah benar-benar berhenti mengamati.

Dari balik rutinitasnya yang tampak biasa, ia selalu punya waktu untuk memperhatikan perubahan kecil dalam kehidupan orang lain, terutama keluarga anaknya. Kabar tentang kenaikan jabatan Adit sampai ke telinganya bukan dari Adit sendiri, melainkan dari Rangga yang tanpa sengaja menyebutnya saat makan malam.

“Anakmu sekarang sudah jadi kepala divisi,” ujar Rangga santai. “Kerjanya makin sibuk.”

Ratna hanya mengangguk waktu itu. Namun di dalam kepalanya, kalimat itu bergaung lebih lama dari seharusnya.

Jabatan naik. Penghasilan bertambah. Nama semakin diperhitungkan.

Tapi satu hal tetap sama.

Belum ada cucu.

Pagi itu, Ratna duduk sendirian di ruang tamu rumahnya. Tangannya memutar-mutar cangkir teh yang sudah mulai dingin. Matanya menatap kosong ke depan, seolah sedang menghitung sesuatu yang tak terlihat.

Empat tahun bukan waktu yang sebentar, batinnya. Cukup lama untuk seorang perempuan membuktikan dirinya.

Pikirannya kembali pada satu keyakinan lama yang ia pegang erat: pernikahan tanpa anak selalu punya celah. Dan celah itu, cepat atau lambat, akan menjadi alasan.

“Inilah waktunya,” gumam Ratna pelan.

Ia tidak ingin terlihat tergesa. Ratna tahu betul cara memainkan peran. Ia memilih hari ketika Adit pasti sibuk, ketika rumah Naya lebih sepi, ketika pertahanan itu lebih mudah diuji.

Tanpa memberi kabar, Ratna memutuskan berkunjung.

Di rumah, Naya baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Asisten rumah tangga sudah pulang sejak sore. Naya menyapu halaman sambil menikmati udara yang mulai menghangat. Ia tidak mendengar suara mobil sampai bunyi klakson pendek terdengar di depan pagar.

Naya menoleh. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat ketika melihat Ratna turun dari mobil.

“Ibu?” ucap Naya, refleks menghentikan gerakannya.

Ratna tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya hangat. “Iya, Nay. Ibu kebetulan lewat.”

Tidak ada lewat yang kebetulan, batin Naya. Namun ia tetap membuka pagar dan mempersilakan masuk. Sopan santun tetap ia jaga, meski perasaan tidak nyaman perlahan muncul.

Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Jarak di antara mereka terasa lebih jauh dari sekadar ukuran sofa.

“Adit belum pulang?” tanya Ratna, pandangannya menyapu ruangan.

“Belum, Bu. Mas masih di kantor,” jawab Naya tenang.

Ratna mengangguk, lalu menghela napas panjang seolah prihatin. “Kasihan juga ya. Kerja terus. Sekarang tanggung jawabnya besar.”

“Iya, Bu. Alhamdulillah,” jawab Naya singkat.

Ratna menyesap tehnya, lalu meletakkan cangkir dengan pelan. Gerakannya terukur, seolah ia sedang menyiapkan kalimat berikutnya.

“Sudah hampir empat tahun kalian menikah,” katanya tiba-tiba.

Naya terdiam sesaat. Ia mengangkat pandangan. “Iya, Bu.”

Ratna menatap Naya lebih tajam, senyumnya memudar. “Kamu capek nggak, Nay?”

Pertanyaan itu terdengar seperti kepedulian, namun Naya merasakan sesuatu yang lain di baliknya.

“Capek bagaimana, Bu?” tanya Naya hati-hati.

“Jadi istri,” jawab Ratna pelan. “Ngurus rumah, ngurus suami, tapi belum bisa memberi keturunan.”

Kata-kata itu jatuh satu per satu, tepat di tempat yang paling rapuh.

Naya menelan ludah. Dadanya terasa sesak, namun wajahnya tetap terjaga. “Soal itu, Bu… kami masih berusaha.”

Ratna mengangguk, tapi sorot matanya tidak menunjukkan penerimaan. “Berusaha itu penting. Tapi usia juga nggak bisa ditipu, Nay.”

Hening kembali menggantung di antara mereka.

Naya menggenggam tangannya sendiri di pangkuan. Ia ingin menjawab banyak hal, ingin mengatakan bahwa ia juga memikirkan itu setiap malam, bahwa doa-doanya tidak pernah berhenti. Namun ia memilih diam. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena lelah menjelaskan sesuatu yang selalu dijadikan ukuran.

Ratna berdiri tak lama kemudian. “Ibu cuma mengingatkan. Jangan sampai Adit terlalu sibuk, lalu kebutuhan lain terlupakan.”

Kalimat itu terdengar ringan, tapi maknanya tajam.

Setelah Ratna pergi, Naya duduk sendirian di ruang tamu. Senyum yang sejak tadi ia pakai perlahan runtuh. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tangannya menyentuh perutnya tanpa sadar, lalu ditarik kembali.

Beban itu tidak diucapkan, tidak dibagi, tapi terasa semakin berat.

Malam itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Lampu ruang tamu sudah diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram. Naya duduk sendirian di sofa, secangkir teh di tangannya sudah dingin sejak tadi. Pikirannya berputar pada satu percakapan yang terus terulang di kepalanya, seperti rekaman yang diputar tanpa henti.

Jangan sampai kebutuhan lain terlupakan.

Kalimat Ratna terdengar sederhana, namun maknanya menempel di benak Naya dengan cara yang menyakitkan. Ia tahu betul apa yang dimaksud ibu mertuanya. Ia juga tahu, ini bukan kali pertama isu itu diarahkan padanya, hanya saja kali ini disampaikan dengan lebih terang, lebih berani.

Pintu rumah terbuka menjelang pukul sebelas malam. Adit masuk dengan langkah lelah. Jas kerjanya masih tergantung di lengan, dasinya sudah dilepas. Begitu melihat Naya masih terjaga, langkahnya melambat.

“Kok belum tidur?” tanyanya sambil mendekat.

Naya tersenyum kecil. “Nunggu Mas.”

Adit duduk di sampingnya. Ia menyandarkan kepala sebentar, memejamkan mata seolah ingin mencuri istirahat singkat. Naya memperhatikan wajah suaminya. Garis lelah di sana semakin jelas dari hari ke hari.

“Ibu ke sini tadi siang,” ucap Naya akhirnya, suaranya pelan.

Adit membuka mata. “Ibu?”

“Iya.”

Adit menghela napas pendek. “Ngapain?”

Naya ragu sejenak. Ia bisa saja mengatakan semuanya, mengulang kalimat demi kalimat Ratna. Namun lidahnya terasa berat. Ia menimbang-nimbang, antara jujur dan menjaga. Akhirnya ia memilih jalan tengah.

“Cuma mampir,” jawabnya singkat. “Nanya kabar.”

Adit menatap Naya, seolah ingin memastikan. Namun ia terlalu lelah untuk menggali lebih jauh. Ia hanya mengangguk. “Ibu memang suka begitu.”

Percakapan berhenti di situ.

Naya menunduk. Ada bagian dari dirinya yang ingin didengar, ingin dimengerti. Namun ia menahan diri. Ia tidak ingin menjadi beban tambahan di tengah kesibukan Adit. Tidak malam ini. Tidak sekarang.

Saat Adit sudah terlelap, Naya masih terjaga. Ia bangkit pelan dan menuju kamar mandi. Di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan.

Ia mengusap wajahnya, lalu menarik napas panjang.

Apa aku kurang?

Atau memang belum waktunya?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa jawaban.

Di sisi lain kota, Ratna duduk di kamarnya dengan perasaan yang justru lebih ringan. Ia merasa sudah menanam benih. Baginya, kata-kata tidak harus langsung menghasilkan reaksi. Cukup ditanam, sisanya akan tumbuh dengan sendirinya.

“Perempuan tanpa anak,” gumamnya pelan. “Cepat atau lambat akan goyah.”

Ia tersenyum tipis.

Ratna tidak tahu, atau mungkin tidak peduli, bahwa setiap ucapannya adalah beban yang dipikul diam-diam oleh Naya.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Adit semakin sibuk, Naya semakin tenggelam dalam urusan kosan dan rumah. Mereka tetap terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Tidak ada pertengkaran, tidak ada suara tinggi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Selamat siang readers

Semoga lulus kontrak ya cerita naya ini...

Like komennya dong.. Terimakasih

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!