Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Bersikap adil
"Semalam, Pandji menemui perempuan itu dan keluarganya untuk membicarakan pernikahan. Ternyata disana ada pria lain, calon suami Elok yang baru," pelan bu Harun.
Suara dan mimiknya terlihat tenang, jauh berbeda dengan hatinya yang bergemuruh mengingat kisah cinta putra sulungnya.
"Calon suami dokter Elok yang baru?" bibir Harry terbuka, lupa mengatupkannya kembali, sulit mempercayai apa yang barusan ia dengar.
"Ya," Bu Harun menatap sendu keponakannya yang terlihat cukup kaget akan apa yang ia sampaikan.
"Tadi malam, Elok dan Ayahnya memutuskan pertunangan secara sepihak. Ayahnya tidak mau punya menantu prajurit biasa seperti Pandji, lebih memilih pria yang berprofesi dokter, sama seperti putrinya," lanjutnya, hampir tak mampu menyelesaikan kalimat itu.
Harry bergelut dengan fikirannya sendiri, memposisikan diri pada adik sepupunya itu, pasti sangat sakit, lima tahun pertunangan bukanlah waktu yang singkat.
"Bibi, Maafkan aku... Secara tidak langsung memaksa Bibi menceritakan hal menyakitkan ini," pelan Harry, merasa tak enak.
Bu Harun tersenyum samar.
"Tidak mengapa, Har. Kamu dan Melitha memang harus tahu ini. Agar ke depannya Melitha tidak merasa jadi perusak hubungan Pandji dan Elok."
Harry menggangguk, mengerti maksud bibinya.
"Bibi... Sekali lagi aku minta maaf... jangan marah padaku... Aku tak ingin Melitha jadi pelarian Pandji karena luka hatinya pada dokter Elok. Aku sayang adikku, tidak rela dia disakiti oleh siapapun," gema Harry dengan nadanya yang tegas.
Bu Harun kembali tersenyum, sama sekali tidak tersinggung, sangat memahami kenapa keponakannya berucap demikian.
"Bibi mengenal putra Bibi Pandji, dia laki-laki yang bertanggung jawab, tidak labil seperti Celo adiknya. Bibi bicara begini bukan bermaksud membandingkan mereka, keduanya sama-sama anak Bibi," ungkapnya, lalu memutuskan kembali ke topik awal pembicaraan.
"Sesuai keinginanmu, Harry... Pandji menyanggupi tiga bulan waktu yang kamu berikan padanya, setelahnya ia akan melamar dan menikahi Melitha. Jadi, Pandji menitipkan ini, untuk biaya hidup Melitha."
Bu Harun mengeluarkan benda pipih dari saku bajunya yang semalam diberikan Pandji padanya.
"ATM?" Harry memandangi benda pipih yang disodorkan padanya.
"Ya, disini ada sejumlah uang, Melitha boleh menggunakannya bebas sesuai dengan kebutuhannya. Ambilah," tangan bu Harun bergerak, meraih tangan Harry yang tidak kunjung menyambut pemberiannya.
"Maaf, Bibi. Aku tak bisa menerimanya..." Harry menggenggam kuat tangannya agar tidak terbuka, tak berani menyambut pemberian bibinya itu.
"Melitha dan Pandji belum menikah, takut kejadian serupa pada Pandji terulang, maaf... bukan maksudku mengingatkan pada kisah pahit Pandji... Aku khawatir kami tak sanggup menggantinya kelak bila tak jadi menikah."
"Jangan cemaskan itu, Harry. Pandji tidak akan minta kalian mengembalikannya. Andaipun kelak mereka tidak jadi menikah, tetap saja janin dalam kandungan Melitha menjadi tanggungan kami, membesarkannya, hingga menyekolahkannya. Ayo, terimalah," kali ini bu Harun lebih memaksa, tangannya memasukan benda pipih itu ke saku kemeja kerja Harry.
"Aku berterima kasih atas kesediaan Pandji dan Bibi yang mau bertanggung jawab atas apa yang telah Celo lakukan pada Melitha."
Harry meraih tangan bibinya, lalu menaruh benda pipih itu kembali di telapak tangan bibinya.
"Melitha sudah dewasa, dia tahu apa yang terbaik untuknya. Berikan saja langsung padanya, Bibi. Bila Melitha mau menerimanya, aku sebagai kakaknya tidak akan keberatan."
Bu Harun mendesah pelan, "Baiklah, Bibi akan memberikannya langsung pada Melitha kalau begitu," menggenggam erat benda pipih yang dikembalikan itu.
"Bibi pamit dulu, kamu pasti buru-buru berangkat berkerja," ucapnya lagi, bersiap untuk pulang.
"Iya, Bibi... sekali lagi mohon maaf, dan terima kasih banyak atas segalanya..." Harry tersenyum.
Bu Harun balas tersenyum. "Tidak mengapa, Har... Sama-sama." Bu Harun berbalik meninggalkan teras
"Naomi!" Harry kaget tidak melihat putrinya ada di dekatnya. "Kamu dimana, Sayang!" pekiknya cemas.
Mendengar pekikan keponakannya, bu Harun cepat berbalik badan.
"Jangan cemas, Naomi sudah duluan masuk membawa dagingnya," ucapnya sambil tertawa kecil.
Saat asik mengobrol bersama Harry, bu Harun memang sempat melihat gadis batita itu menyeret masuk box daging yang ia berikan.
"Oh, begitu..." Harry langsung nyengir, lalu bergegas masuk. Benar saja, di dalam rumah ia melihat putrinya itu sedang mengetuk pintu kamar mereka dengan box daging tergeletak di lantai bersama bekal tas makanannya.
"Bangun Mamah, nenek katih daging!" teriaknya sambil terus mengetuk. Pintu memang tidak terkunci tapi tangannya belum sampai untuk menggapai gagang pintu.
Klek!
"Berisik, pagi-pagi! Mana Bibimu, suruh dia masak, dasar pemalas!" Soraya mengucek matanya yang masih mengantuk berat.
"Bibi tudah ke tekolah tama mas Adli! No-mi mo matan lendang daging, Mamah!" Naomi menarik-narik tangan ibunya.
Soraya kaget, buru-buru melihat ke jam dinding, benar saja, dia bangun kesiangan setelah melihat jarum jam menunjuk angka tujuh kurang sepuluh.
"Kita nggak bisa makan daging, Sayang. Papamu kasih uangnya kesedikitan ke Mama!" sindir Soraya, melirik Harry dengan tatapan masih kesal.
Semalam, begitu mendapat notif transferan dari suaminya, Soraya langsung protes dan mengamuk karena angkanya berubah kecil dari biasa yang diterimanya.
"Dagingnya tudah ada, ini!" tunjuk Naomi. Melihatnya, Soraya gegas mendekati box dan membuka penutupnya.
"Wah, banyak sekali... Kapan kamu belinya, Mas?" Soraya beralih, pandangannya bertemu dengan suaminya.
"Nenek yang antal, Mah! Ayo, di matak dagingnya, No-mi tudah tak tabal matannya!" jawab Naomi mendahului ayahnya, matanya berbinar penuh harap, kembali menarik tangan ibunya menuju dapur.
"Iya, iya sabar! Tunggu Bibimu pulang! Dia sudah dibayar jadi pembantu disini!" Soraya kembali menyindir lebih tajam.
"Cukup, Raya. Tak pantas bicara seperti itu, apa lagi di depan anak," tegur Harry, suaranya rendah, lalu berjongkok di depan putrinya.
"Naomi, kita sudah hampir telat, tolong tunggu Papa di ruang tamu sebentar ya, Papa mau ambil tas kerja Papa dulu."
Naomi mengangguk girang, lalu cepat betanjak, tidak lupa membawa tas bekalnya. Impiannya untuk bisa sekolah saat ini mengalahkan keinginannya memakan masakan daging kegemarannya.
"Raya, jangan pernah lagi bilang Melitha pembantu, dia itu adikku. Aku sengaja memotong satu juta saja untuk diberikan pada Melitha, sedangkan sisanya untukmu masih tujuh kali lipat banyaknya," bahas Harry, setelah putrinya tidak di sana.
"Aku bosan Mama selalu saja mengomel bila aku meminta Mama membaginya sedikit untuk keperluan Melitha. Anggap saja itu sewa rumah Melitha ini. Diluaran sana, tidak ada nilai segitu bila rumah sebesar ini."
Selesai berucap, Harry mengangkat daging beku itu dan memasukannya ke dalam peti pendingin.
"Aku berangkat," pamit Harry, meraih tasnya di atas meja makan, niatnya sarapan pagi jadi urung karena waktu yang mepet.
"Oh ya," Harry kembali berucap sebelum bemar-benar beranjak. "Melitha sudah masak, Mama boleh langsung sarapan setelah ini."
"Dan satu lagi, jasa memasak dan membersihkan rumah, jasa mengasuh Adri dan Naomi, dan jasa les privat kedua anak kita masih gratis untuk tiga bulan ke depan. Setelahnya, Mama akan mengurus semuanya sendiri."
"Maksud Mas, apa?"
Harry merasa tak perlu menjawab. Ia terus berlalu, dan membawa Naomi ikut berkerja bersamanya.
Bersambung✍️
kalau pandji bagus tuh, mengakhiri hubungan setelah tau watak Elok dan keluarganya...
Tapi, untuk Harry, semoga nanti ke depannya dapat pasangan yang lebih baik ya