Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pingsan
Tak terasa, hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba.
Festival kampus yang sejak berminggu-minggu lalu hanya menjadi bahan obrolan kini benar-benar dimulai. Pagi ini, Nara masih berada di dalam kamarnya, berdiri di depan cermin dengan tatapan sedikit kosong. Tangannya merapikan rambut, sementara pikirannya melayang ke banyak hal yang akhir-akhir ini terasa ganjil.
Sejak beberapa hari terakhir, tubuhnya sering memberi sinyal aneh. Rasa mual datang tanpa sebab, kepala mudah pusing, dan yang paling membuatnya resah—bulan ini, siklus haidnya belum juga datang.
Namun Nara menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran buruk.
“Mungkin cuma kecapekan… atau stres,” gumamnya lirih, berusaha meyakinkan diri sendiri.
Ia tidak ingin berpikir terlalu jauh. Terlalu banyak hal yang sudah membuat pikirannya berat belakangan ini. Ia hanya ingin menjalani hari ini dengan normal, membantu festival, lalu pulang tanpa masalah.
Nara tersenyum kecil pada bayangannya di cermin, lalu mengambil tas dan jaket. Ia melangkah keluar kamar dengan langkah ringan, berjalan menuju garasi rumah.
Hari ini, ia memutuskan kembali menggunakan motor Scoopy kesayangannya.
Mesin motor menyala, dan Nara melaju menyusuri jalanan pagi. Angin sejuk menyapu wajahnya, matahari mulai menampakkan diri dengan sinarnya yang hangat namun lembut. Untuk sesaat, Nara merasa sedikit lebih baik. Seolah dunia sedang memberinya jeda untuk bernapas.
Sesampainya di kampus, langkah Nara terhenti.
Matanya membelalak kecil melihat perubahan besar di sekelilingnya. Area kampus yang biasanya terlihat biasa kini dipenuhi dekorasi warna-warni. Umbul-umbul terpasang rapi, panggung besar berdiri megah di tengah lapangan, dan deretan stan makanan mulai sibuk melayani pengunjung.
“Wah…” desah Nara tanpa sadar.
“ HAI NARA”
Suara itu datang tiba-tiba dari samping, membuat Nara refleks menoleh.
“Tasya!” serunya kesal. “Ngagetin tau!”
Tasya terkekeh sambil memasang wajah tidak bersalah. “Maaf, maaf. Tapi serius, festival kali ini keren banget, ya?”
Nara mengangguk. “Iya. Di luar ekspektasi.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri area festival. Musik mulai terdengar, tawa mahasiswa bersahut-sahutan, dan suasana terasa hidup. Nara sempat lupa pada rasa tidak nyaman di tubuhnya.
“itu si Reza kayanya lagi kesusahan deh” Tasya menunjuk ke arah depan.
Nara mengikuti arah pandangnya dan melihat Reza tampak kewalahan mengatur beberapa mahasiswa lain yang mondar-mandir. Wajahnya terlihat tegang.
“Kasihan. Yuk bantu,” ajak Tasya.
“Yuk,” jawab Nara bersemangat.
Mereka membantu sebisanya—mengatur alur pengunjung, membagikan perlengkapan kecil, dan memastikan beberapa stan siap beroperasi. Festival semakin ramai seiring waktu berjalan. Berbagai penampilan mahasiswa ditampilkan di atas panggung, disambut sorak sorai penonton.
Namun di tengah keramaian itu, Nara mulai merasa ada yang tidak beres.
Kepalanya mendadak terasa berat. Pandangannya sedikit berkunang-kunang. Perutnya bergejolak, seolah ingin mengeluarkan sesuatu.
“Sya…” desis Nara pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Tasya yang berada di sampingnya langsung menoleh. “Ra? Lo kenapa?”
Nara mencoba tersenyum, tapi tubuhnya melemah. “aku… gak tahu. Pusing banget”
Reza yang melihat itu segera mendekat. “Nara kenapa?”
“Sya, kita bawa ke ruang kesehatan aja,” ujar reza cepat, wajahnya panik.
Namun belum sempat mereka bergerak, tubuh Nara tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Ia jatuh ke pelukan Tasya, membuat gadis itu terkejut dan hampir ikut terjatuh.
“Nar!” teriak Tasya. “Bangun, Ra… jangan bercanda gini, gue takut!”
Nara tidak menjawab. Wajahnya pucat, matanya terpejam rapat.
Reza menelan ludah. “Kita bawa ke rumah sakit. Sekarang.”
“Iya, tapi lo ketua festival, Reza,” ujar Tasya dengan suara bergetar. “Kalau lo pergi, festival bisa kacau.”
Reza terlihat ragu sesaat, lalu mengangguk. “Lo bener. Gue pesenin taksi sekarang.”
Tangannya bergerak cepat membuka ponsel. Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di pinggir area kampus. Dengan sigap, Reza membantu mengangkat tubuh Nara ke dalam mobil, disusul Tasya yang duduk di sampingnya sambil terus menggenggam tangan sahabatnya.
“Kalian hati-hati, ya,” ucap Reza cemas. “Kalau Nara udah sadar, langsung kabarin gue.”
“Iya,” jawab Tasya singkat. “Gue berangkat dulu.”
Pintu mobil tertutup, dan taksi itu melaju meninggalkan area festival yang masih riuh—tanpa ada yang tahu bahwa hari itu menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pingsan biasa.
★★★
Begitu mobil berhenti di depan klinik kecil dekat kampus, Tasya langsung turun lebih dulu. Wajahnya tegang, tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu belakang dan perawat yang sudah menghampiri.
“Mbak, temen saya pingsan."ucap Tasya cepat, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar tenang.
Perawat itu mengangguk sigap. “Boleh saya lihat dulu?”
Tasya membuka pintu lebih lebar. Nara masih tak sadarkan diri, wajahnya pucat, bibirnya tampak kering. Tasya refleks menggenggam tangan Nara, dingin.
“Dia sempat ngeluh pusing dan mual akhir akhir ini." tambah Tasya, seolah takut jika satu detik saja ia diam, semuanya akan terasa lebih menakutkan.
Perawat itu segera memanggil rekannya. “Tolong ambilkan brankar.”
Tak lama kemudian, sebuah brankar didorong keluar. Tasya membantu mengangkat Nara dengan hati-hati. Dadanya terasa sesak saat melihat tubuh sahabatnya terbaring lemah, tak seperti biasanya yang ceria dan penuh senyum.
Saat Nara dipindahkan ke brankar, kelopak matanya sedikit bergerak. Tasya langsung mendekat.
“Nar… Nar, Lo bisa denger gue gak” bisiknya pelan, meski tak ada respons jelas.
Brankar mulai didorong masuk ke dalam klinik. Suara roda beradu dengan lantai terdengar begitu nyaring di telinga Tasya. Setiap langkah terasa berat, seolah waktu melambat dengan sengaja untuk menguji kesabarannya.
Di dalam ruangan, dokter segera memeriksa tekanan darah dan denyut nadi Nara. Tasya berdiri di samping, bingung harus berbuat apa. Tangannya ingin terus menggenggam Nara, tapi ia takut mengganggu.
“Mbak, bisa ditunggu di luar dulu ya,” ucap salah satu perawat dengan nada lembut namun tegas.
Tasya terdiam sesaat. “Saya… saya temennya. Boleh nemenin bentar aja?”
“Kami perlu ruang untuk pemeriksaan awal. Tenang saja, nanti akan kami panggil.”
Kalimat tenang saja itu justru membuat dada Tasya semakin sesak. Namun ia mengangguk pelan.
“Iya… saya keluar."
Sebelum keluar, Tasya menatap Nara sekali lagi. Wajah itu begitu asing dalam keadaan selemah ini. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hatinya—entah karena terlalu sibuk menikmati festival, entah karena ia tak lebih peka pada perubahan sahabatnya akhir-akhir ini.
Pintu ruangan ditutup perlahan.
Tasya kini berdiri sendiri di lorong klinik yang sepi. Hanya ada beberapa kursi plastik dan poster kesehatan di dinding. Ia duduk perlahan, lututnya terasa lemas.
Tangannya refleks meraih ponsel, menatap layar tanpa benar-benar tahu siapa yang ingin ia hubungi. Reza? Atau Tante Amara?.
Tasya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Cuma kecapean,” gumamnya pelan, lebih seperti doa daripada keyakinan. “gue yakin dia pasti cuma kecapean."
Namun bayangan Nara yang sering mual, wajahnya yang akhir-akhir ini terlihat lebih pucat, dan cerita tentang tubuhnya yang lemah kembali berputar di kepala Tasya tanpa ampun.
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Kenapa lo gak cerita sih, Ra…” bisiknya lirih.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Setiap suara pintu terbuka membuat Tasya refleks berdiri, berharap perawat memanggil namanya. Namun yang datang dan pergi hanyalah orang-orang asing dengan urusan mereka sendiri.