Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Aplikasi kopi keliling
Darrel tampak bingung dan panik, gerobak motornya tiba-tiba menghilang. Beberapa barang dagangannya, seperti gelas plastik, termos kecil, dan sisa gorengan, tercecer di bawah. Dia mengedarkan pandangannya mencari-cari motornya dan matanya tertuju pada mobil Satpol PP yang terparkir di ujung jalan. Beberapa petugas berseragam hijau tampak sibuk mengatur barang-barang sitaan di bak truk.
Jantung Darrel berdegup kencang. Dia langsung berlari sambil menggendong Zoey dan Zayn menghampiri salah seorang petugas.
"Pak! Maaf, Pak! Apa Bapak melihat gerobak motor saya?" tanya Darrel dengan nada cemas.
Petugas itu menatap Darrel dengan wajah datar. "Gerobak motor yang ada jualannya?" tanyanya.
"Iya, Pak! Gerobak motor kopi milik saya," jawab Darrel dengan sedikit gugup.
"Oh, itu. Sudah kami amankan," jawab petugas itu dengan santai.
"Diamankan? Maksudnya, Pak?" tanya Darrel dengan raut wajah bingung.
"Ya, kami sita. Masnya kan, tidak punya izin berjualan di sini," jawab petugas itu.
Darrel terkejut. "Tapi, Pak! Saya kan, cuma jualan buat cari makan di sini, dan saya selalu menjaga kebersihan sebelum meninggalkan tempat ini."
Petugas itu menggelengkan kepalanya. "Maaf, Mas. Peraturan tetap peraturan. Yang melanggar tetap harus ditertibkan," jawab petugas itu.
"Terus, bagaimana saya bisa berjualan kalau motor saya disita? Darimana saya bisa mendapatkan uang untuk menghidupi anak saya?" kata Darrel dengan putus asa.
Petugas itu mengangkat bahunya. "Itu bukan urusan saya," jawabnya. "Makanya kalau tidak mau gerobak motornya disita, jangan berjualan di tempat yang dilarang."
Petugas itu kemudian pergi meninggalkan Darrel yang terpaku di tempatnya, menatap kepergian truk Satpol PP yang membawa gerobak motornya. Dia menarik napas kasar, rasa frustasi tampak jelas di wajahnya.
"Papa jangan sedih," kata Zayn, menatapnya dengan sendu.
"Maafin, Zoey, Papa," timpal gadis kecil itu seraya mengeratkan pelukannya.
Darrel membalas pelukan kedua anaknya dengan erat. Dia merasa sangat malu, anak-anak harus menyaksikan ketidakberdayaannya.
"Kalian tidak bersalah, papa yang salah. Maafkan papa ya, Sayang," kata Darrel dengan suara bergetar. "Papa tidak bisa menjaga gerobak motor kita."
Zoey dan Zayn menggelengkan kepala mereka. "Tidak apa-apa, Papa," kata Zoey. "Yang penting, Papa jangan sedih."
"Iya, Papa. Kita bisa cari cara yang lain untuk mencari uang," timpal Zayn.
Darrel tersenyum mendengar ucapan kedua anaknya. Dia merasa terharu dengan ketegaran mereka.
"Terima kasih, Sayang," kata Darrel. "Papa sayang kalian berdua."
Darrel berjalan gontai sambil menggendong Zoey dan Zayn. Pikirannya berkecamuk. Apa akan dilakukannya tanpa gerobak kopinya. Lalu bagaimana nasib anak-anaknya nanti?
Dia kembali ke tempat biasa motornya mangkal, lalu memunguti barang-barang dagangannya yang masih utuh dan bisa digunakan kemudian memasukkannya ke dalam kantong plastik.
"Papa, kita mau ke mana?" tanya Zoey ketika telah selesai memasukkan barang-barang tersebut.
Darrel tersenyum getir. "Kita pulang, Sayang," jawab Darrel. "Kita istirahat dulu."
Sesampainya di rumah, Darrel menyuruh Zoey dan Zayn masuk ke rumah. Sementara dirinya memilih langsung menemui Bu Murni.
"Assalamu'alaikum, Bu," ucap Darrel saat berada di depan rumah Bu Murni.
"Wa'alaikumsalam," jawab wanita paruh baya itu. "Eh, Mas Darrel. Ayo, masuk."
"Tidak usah, Bu. Saya ke sini cuma mau ngasih uang titipan dagangan Ibu." Darrel lantas memberikan sejumlah uang pada Bu Murni.
"Terima kasih, saya terima ya, Mas," kata Bu Murni.
"Untuk sementara saya mungkin tidak jualan, Bu," beritahu Darrel.
"Loh, kenapa?" tanya Bu Murni dengan heran.
"Emmm... Gerobak motor saya disita Satpol PP, Bu." Darrel terpaksa berbicara terus terang.
"Astaghfirullah..." Bu Murni tampak begitu terkejut. "Yang sabar ya, Mas."
"Terima kasih, Bu." Darrel kemudian pamit. Bu Murni menatap pria dua anak itu dengan pandangan prihatin.
"Papa..." seru Zoey sambil berlari mendekat, ketika melihat Darrel telah kembali lalu memeluk kaki sang ayah.
"Papa sudah pulang? Kok, cuma sebentar, Pa?" tanya Zayn seraya menghentikan kegiatannya.
"Iya, Sayang. Kan, papa cuma ngasih uang doang sama Bu Murni. Sesudah itu ya, langsung pulang," sahut Darrel dengan sabar.
"Papa, Zoey lapar," rengek Zoey kemudian.
"Zayn juga, Papa," Zayn menimpali.
"Baiklah, papa akan memasak. Kalian lanjutkan bermainnya, ya," ujar Darren sembari mengusap kepala kedua anaknya.
"Masak yang enak ya, Papa," pinta Zayn dan Zoey bersamaan.
"Siap, Tuan dan Nona," jawab Darrel tersenyum sambil menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf O.
Setengah jam kemudian ayam goreng dan tumis brokoli wortel telah siap. Darrel mengajak makan anak-anaknya setelah sebelumnya mencuci tangan.
"Hmmm... Masakan Papa, enaaak," seru Zoey sambil tersenyum dan memejamkan mata.
"Iya, masakan Papa yang terbaik," Zayn membenarkan ucapan adiknya. "Nanti Zayn mau belajar masak sama Papa."
Darrel tersenyum. "Terima kasih, Sayang. Kalian makan yang banyak, ya," ucapnya sambil mengusap kepala dua bocah kesayangannya itu.
Sambil menemani anak-anaknya makan, Darrel termenung memikirkan semua yang telah terjadi dan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya. Hidup terus berlanjut tidak mungkin dirinya hanya diam tanpa ada tindakan apapun.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul dalam benaknya. Ide yang mungkin bisa mengubah hidupnya.
"Aplikasi Kopi Keliling!" gumam Darrel.
Dia teringat dengan banyaknya pedagang kopi keliling seperti dirinya. Mereka semua kesulitan mencari pelanggan. Mereka harus berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, menawarkan kopi mereka.
Bagaimana jika ada sebuah aplikasi yang bisa menghubungkan pedagang kopi keliling dengan pelanggan? Pelanggan bisa memesan kopi melalui aplikasi, dan pedagang kopi bisa langsung mengantarkan kopi tersebut ke tempat pelanggan.
"Ini ide yang bagus!" kata Darrel dengan penuh semangat.
Tapi, bagaimana cara membuat aplikasi? Pengetahuan Darrel di bidang teknologi masih minim dan tidak punya pengalaman di bidang tersebut. Selama ini dia hanya belajar bisnis dan managemen.
"Aku harus belajar!" kata Darrel dengan tekad yang kuat.
.
Minta pengertiannya ya, Gaes...Tolong yang masih numpuk bab, dipersilakan untuk lanjut baca. Satu bab lagi bab 20 penilaian bab terbaik.🤗 Terima kasih 🫰🫶