NovelToon NovelToon
Pesona Duda Memikat Hati Kembang Desa

Pesona Duda Memikat Hati Kembang Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Romansa pedesaan / Anak Genius / Selingkuh / Duda
Popularitas:20.5k
Nilai: 5
Nama Author: IAS

Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.

Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.

Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.

Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.

"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."

Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Kalah 17

Uhuk uhuk uhuk

"Siapa nih yang lagi ngomongin aku?"

Rohan baru saja minum air putih dan tiba-tiba tersedak. Dia merasa ada yang tengah membicarakan dirinya karena selain tersedak, telinganya juga berdengung.

"Yah, Ayah sakit?" tanya Rishi ketika Rohan terbatuk-batuk.

"Oh nggak sayang, Ayah nggak sakit kok. Cuman keselek aja kok. Adek mana, Bang?" jawab Rohan. Saat ini dia sedang ada di teras sambil menikmati suasana malam. Tentu saja pikirannya sedang melalang buana memikirkan apa yang harus dia lakukan di desa ini.

"Adek mainan tadi, terus tiba-tiba udah tidur aja. Oh iya Yah, Abang pengen sekolah,"ucap Rishi.

Degh!

Rohan terhenyak dengan ucapan sang putra. Usia Rishi sudah lima tahun lebih memang dan sudah pas untuk sekolah. Sungguh Rohan lupa akan hal tersebut.

"Ya Tuhan Abang, maaf ayah beneran lupa. Ehmm nanti Ayah cari info ya, Bang. Sekarang Abang bobok gih, temenin adek. Ayah di luar sebentar,"ucap Rohan.

Rishi mengangguk dan kembali masuk ke rumah. Dia juga langsung menuju ke kamar untuk tidur bersama Riesha.

Sedangkan di depan rumah, Rohan masih berdiam diri. Udara malam yang sangat dingin itu membuatnya yang sudah mengenakan jaket tebal tetap saja kedinginan alhasil Rohan menaikkan kakinya dan meringkuk memeluknya,

"Buset dingi bener. Tapi seru, otakku juga berasa dingin jadi bisa mikir. Sekolah ya, hmmm memang udah waktunya sih buat Rishi sekolah. Tapi aku harus nyari info kemana ya? Bestari, masa iya aku harus tanya ke gadis itu sih? Udah sering banget aku ngrepotin dia."

Rohan berbicara sendiri. Otaknya langsung tertuju kepada si kembang desa ketika memikirkan tentang sekolah Rishi. Ia yakin bahwa Bestari pasti tidak akan menolak untuk membantunya. Tapi itu lah letak rasa tidak nyamannya. Rohan merasa tidak enak karena gadis itu sudah banyak membantu.

"Tapi, kalau cuma sekedar nanya, nggak masalah kan?" ucapnya lagi. Rohan lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sebuah pesan ia tulis dan dikirimkannya kepada gadis yang merasuk dalam pikirannya.

Sepuluh menit berlalu, namun tidak ada respon dari Bestari. Rohan mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Agaknya Bestari sudah tidur sehingga tidak membalas pesannya. Akhirnya pria berstatus sebagai duda itu memutuskan untuk masuk ke rumah.

Namun saat kakinya baru akan melangkah masuk, sesuatu yang sangat ia kenal oleh indra penciumannya itu membuat Rohan berhenti. Ia juga langsung membalikkan badannya.

"Maaf Om Dud, aku nggak sempet bales Chatnya Om Dud karena wifi di rumah ternyata habis. Dan aku bikin kopi dulu bentar tadi. Udah mau masuk ya?" Bestari tersenyum lebar. Gadis itu mengenakan switer tebal dan juga balaclava di kepalanya.

"Belum, aku cuma mau ambil teh panas lagi karena teh ku udah dingin,"ucap Rohan. Dia jelas berbohong. Ia memang ingin masuk tapi bukan mengambil teh melainkan ingin tidur karena Bestari tak kunjung membalas pesannya.

Pria itu juga tersenyum kaku, aroma kopi yang dibawa oleh Bestari sangat membuat dirinya ingin meminumnya. Dan entah mengapa otaknya sekarang menjadi berbeda. Setiap mencium aroma kopi maka yang terlintas adalah sosok gadis itu.

"Oh iya, ayo duduk. Maaf ya udah ganggu kamu malam-malam begini. Tapi Bestari, kenapa membawa dua cangkir kopi?" tanya Rohan sambil mempersilakan Bestari duduk.

"Oh ini aku mau nawarin Om Dud. Siapa tahu kali ini mau nyoba. Kali ini aku bikinnya pake metode filter, jadi rasanya lebih light. Biji kopinya dari lereng Gunung Merapi. Coba deh, Om,"sahut Bestari.

Gluph!

Rohan menelan saliva nya. Sungguh kopi yang dibawa oleh Bestari kali ini sangat menggoda. Apalagi udara malam dingin seperti ini, sungguh sangat nikmat sekali.

"Kenapa Om, ini nggak pahit kok. Nggak kayak kopi tubruk,"ucap Bestari. Dia sampai mengulurkan cangkir kopi itu tepat di depan wajah Rohan.

Sudahlah, Rohan semakin sulit saja untuk mengabaikan kopi itu.

"Dikit aja. Dikit aja nggak apa kali Rohan. Apa yang kamu takutkan sih?" ucap Rohan dalam hatinya. Agaknya dia mulai goyah.

"tapi, aku udah bertahan sejauh ini buat nggak minum. Tapi ini beneran enak. Dari aromanya aja enak banget. Arghh sial," batinnya lagi.

Dalam hati, Rohan seolah berperang dengan dirinya sendiri. Dan semua itu karena secangkir kopi.

"Oke Bestari, aku coba ya."

Kalah, Rohan akhirnya kalah. Dia kalah dengan apa apa yang sudah dia pertahankan sejauh ini. Dalam hati tercetus sebuah pemikiran bahwa kopi dan Ista adalah dua hal yang berbeda. Dia tidak harus meninggalkan apa yang disukai karena kenangan buruk terhadap seseorang.

"Ya Ista dan kopi adalah dua hal yang berbeda,"batinnya lagi.

Rohan kemudian meraih cangkir itu, mendekatkan ke hidung untuk menghirup aromanya kuat-kuat. Lalu secara perlahan, dia meminumnya.

Bestari tersenyum melihat ekspresi Rohan. Dia tahu pria itu menyukainya. Dan dari cara Rohan meminum kopi itu, Bestari bisa melihat bahwa Rohan bukan orang yang tidak menyukai kopi.

"Entah apa yang membuatnya berbohong. Tapi yang jelas aku seneng karena dia menikmati kopi buatanku ini,"ucap Bestari dalam hati.

Tak ingin mengganggu Rohan yang tengah larut dengan kopinya, Bestari pun juga memilih menikmati kopi miliknya sendiri dan tetap Diam.

Untuk beberapa saat, kesunyian itu pun berlangsung. Tak ada satu kata pun yang terucap. Baik Bestari maupun Rohan, mereka benar-benar hanya menikmati kopi yang awalnya panas kini menjadi hangat.

"Aah maaf Bestari," ucap Rohan ketika dia menyadari bahwa dirinya sudah mengabaikan gadis itu karena kopi yang sudah lama tidak ia sruput itu.

"Nggak apa, Om Dud. Santai aja. Oh iya soal sekolah. Apa Om Dud mau nyekolahin RIshi?' tanya Bestari. Meski Wifi di rumahnya habis, tapi pesan Rohan masih sempat ia baca tadi.

"Iya, untuk sekolah Rishi. Anak itu minta sekolah. Tapi aku nggak tahu tentang sekolahan sekitar sini. Maka dari itu aku nanya ke kamu. Apa kamu ada rekomendasi?" jawab Rohan.

Bestari mengangguk paham, dia lalu tersenyum. Baginya yang warga asli tentu tidak kesulitan mencari sekolah meski itu adalah taman kanak-kanak. Karena Bestari akan merekomendasikan sekolah tempat dirinya dulu bersekolah.

"Besok ayo kita ke sana, sekalian bawa anak-anak Om Dud. Biar mereka kita bisa tahu apa mereka tertarik apa enggak. Siapa tahu Riesha juga jadi mau.Tapi kalau buat Riesha entar dulu aja deh, masih kekecilan. Hanya saja kalau Om Dud memang ada yang mau dikerjakan, memang mungkin Riesha bisa disekolahkan lebih awal,"ucap Bestari panjang lebar.

Rohan setuju dengan pendapat Bestari. Jika ingin mencari sesuatu yang ingin dikerjakan, menyekolahkan Riesha sekaligus adalah jawabannya. Meski rasanya sangat sedih karena harus memasukkan Riesha diumur yang terbilang masih kecil.

"Terimakasih Bestari, dan maaf karena udah banyak ngrepotin kamu. Dan makasih banyak juga untuk kopinya. Aku nggak pernah nyangka bahwa kopi bisa seenak ini,"ucap Rohan. Bibirnya tersenyum, tapi tatapan matanya seperti menunjukkan kesedihan.

"My pleasure, Om Dud. Aku senang bisa bantu Om Dud. Udah aku bilang kan, aku bisa ngelakuin banyak hal. Dan untuk kopinya, next time aku bisa buatin lagi dengan metode dan variasi beans (biji) yang lainnya,"sahut Bestari sambil tersenyum dengan lebar. Sekali lagi dia tidak tahu mengapa tatapan mata Rohan terlihat sakit. tapi bagi Bestari dia tak perlu banyak tahu. Yang penting saat ini, dia senang karena pria itu bisa diajak untuk menikmati kopi bersama.

TBC

1
Esther Lestari
cocok nih anak2 mau ketemu Ista kalau Bestari ikut.
Esther Lestari
Dani sudah sadar akan perbuatannya dan tahu bagaimana Ista, makanya dia datang ke Rohan untuk meminta maaf.
mustika ikha
nah ini nih baru seru pertemuan pertama antara masa lalu dan masa depan, siapakah yang menang dan apakah 2 bocil cuek bebek sm bundanya dan welcome sm ibunnya, eit masih ada apakah masalah antara ista dan rohan juga bakal bestari ketahui, semangaaaat 💪💪💪💪
marie_shitie💤💤
lagi rugi bgt KLO mpe balik m model wanita jalang seperti itu
marie_shitie💤💤
uuuuh Dani kirain si jalang
Nie
bagus anak2 biar bundamu yg sableng itu kepanasan kalo liat kalian bawa ibun baru
ElHi
🤣🤣🤣tuing tuing jadinyaa
GiZaNyA
wahhh kayaknya bakalan seru nihh nanti klo ketemuan antara Ista dan anak2nya... ada Bestari juga gitu lohh🤣🤣
Dew666
💥🪻
Dew666
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹
Dew666
Bagus Dani kasih tau rohan tentang ista biar rohan gak rujuk lagi sama ista
Dewi kunti
semangat mas duda
GiZaNyA
Ista seorang petualang soalnya sekarang... makanya kelakuannya out of the box...
meita
ceritanya bagus tdak berbelit,
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Attaya Zahro
Sama..Q juga gitu,meski habis minum kopi kalo dah rebahan ujung²nya juga merem 😅😅
mustika ikha
wah siapa tuh? dani kah ?
GiZaNyA
wahhh si Dani itu yang dateng...
Vie
tamu be like : "iya aku" 🤭🤭🤭🤭🤭
Vie
kayaknya kafein dalam kandungan kopi tidak berpengaruh pada rohan... 😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!