Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 29: MEGAH DAN MEWAH PUN BELUM TENTU RAMAH
Mereka keluar dengan menyamar, memakai pakaian seperti orang biasa. Tak ada lagi atribut yang menandakan identitas selain sebuah liontin giok yang tergantung di pinggang. Mei Zhiyi juga disuruh mengganti pakaiannya dengan pakaian seorang pelayan dari keluarga biasa.
Melalui Gerbang Utara, mereka keluar tanpa diketahui. Untung saja Liu Yan tidak membiarkan Mei Zhiyi berjalan kaki. Dia mengizinkannya naik ke dalam kereta dengan alasan bahwa Mei Zhiyi harus melayaninya menyajikan teh dan menyodorkan camilan.
Mei Zhiyi menurut walau hatinya mendumel. Dia merasa kalau akhir-akhir ini Liu Yan agak manja dan seolah selalu memerintahnya di mana-mana.
Bahkan untuk urusan paling kecil pun suka sekali merepotkan Mei Zhiyi. Walau Mei Zhiyi pelayan pribadinya, setidaknya beberapa hal masih bisa dilakukan olehnya sendiri, kan?
“Yang Mulia, sudah tiba.”
Duan Jiu lalu memberi tahu bahwa mereka sudah tiba di pusat kota Shangjing, ibu kota kekaisaran Daqi. Liu Yan melangkahkan kaki turun dari kereta, kemudian membiarkan kereta itu terparkir di depan sebuah gedung yang sedang ramai dikunjungi orang.
Tidak ada yang menyadari bahwa kereta yang barusan berhenti adalah kereta penguasa tertinggi Daqi. Kereta Liu Yan disamarkan menjadi kereta biasa yang sama seperti kereta keluarga lain sehingga sulit dibedakan keaslian identitasnya. Akan lebih baik seperti itu.
Mei Zhiyi ikut turun. Dia mengikuti Liu Yan masuk ke dalam gedung bertuliskan “Gedung Hualou”, yang merupakan sebuah restoran terkemuka di Shangjing. Gedung ini menyajikan pemandangan kota kekaisaran dari atas ketinggian gedung enam lima tingkat.
Ruangan dalam di gedung itu ditata dengan gaya khas kota kekaisaran kuno. Bahkan disediakan sebuah panggung untuk memperlihatkan pertunjukan opera dan musik. Aroma masakah menguar ke udara, bercampur dengan aroma wangi dari setiap pelanggan yang datang.
Begitu sibuk. Begitu meriah. Begitu ramai. Pengunjung berbaur dengan para pelayan yang sibuk menyajikan makanan dan melayani tamu. Riuh dan terasa sangat hidup.
Mei Zhiyi tak pernah menduga kalau sebuah restoran akan seramai ini. Di dunia asalnya, dia tidak banyak mengenal tempat ramai karena hidupnya sebagian besar dihabiskan di dalam markas.
Mereka nyatanya lebih konsumtif dari masyarakat modern. Satu piring sayur bening saja seharusnya dihargai satu tael, kan?
Liu Yan agak kaget begitu mendengar perhitungan Mei Zhiyi. Meski harga makanan di gedung ini memang agak mahal, namun itu juga sepadan dengan yang apa yang didapat oleh para pelanggan. Makanan mewah dan enak, pertunjukkan, juga menikmati pemandangan ibu kota cukup dibayar satu kali saja.
Itu sudah termasuk sangat lengkap. Selain Gedung Hualou, mungkin hanya Gedung Baixiang di blok utara yang bisa dikatakan punya fasilitas lengkap. Hanya saja di sana pemandangan Shangjing tidak begitu jelas karena padatnya rumah-rumah penduduk dan gedung-gedung lain juga punya tinggi yang hampir sama dengannya.
Duan Jiu memperlihatkan sebuah token pada pelayan restoran. Raut wajah si pelayan itu langsung berubah, campuran terkejut dan senang. Dengan senyum lebarnya yang ramah itu, dia mengantarkan Liu Yan dan Mei Zhiyi serta Duan Jiu ke ruang pribadi di lantai tiga.
Tapi sebelum masuk, Duan Jiu minta izin untuk pergi lebih dulu. Setelah diizinkan, barulah dia pergi dan kini hanya tersisa Liu Yan dan Mei Zhiyi. Ruangan pribadi di lantai tiga itu sangat luas dan dekorasinya sangat khas. Bahkan peralatan pun begitu lengkap.
Ini seperti kamar jalur naratatama dalam kelas royal. Entah berapa harga sewanya, tapi dengan status Liu Yan, seharusnya mudah baginya membayar harga tinggi. Jendela kamar ini mengarah langsung pada pusat kota Shangjing yang ramai dan hidup.
Dari sini, Mei Zhiyi dapat melihat luasnya Shangjing hingga ke kejauhan. Angin di awal musim semi bertiup cukup kencang, menggerakkan tirai kain di pinggir jendela yang diasapi oleh dupa pengharum ruangan.
Mata Mei Zhiyi dimanjakan oleh betapa bagusnya pemandangan di luar sana, seolah dia sedang melihat sebuah lukisan gaya realis karya seniman terhebat di dunia.
Di bawah sana, dia juga bisa melihat orang-orang yang sedang sibuk berlalu lalang. Ada penjual manisan haw yang berkeliling sembari memikul batang kayu dibungkus jerami, yang di sekujurnya ditusukkan manisan haw berwarna merah.
Kios pedagang mantou bahkan lebih sibuk lagi. Asap mengepul dari kukusan, aroma mantou isi daging dan sayur membaur dengan aroma bunga dari toko kecantikan di sampingnya.
Jika lompat dari sini, meski tidak mati, kemungkinan akan cacat dan luka parah. Aku penasaran apakah ruang pribadi seperti ini juga bisa digunakan untuk kencan diam-diam dan apakah ada orang yang pernah ketahuan selingkuh lalu dengan panik melarikan diri dengan melompat dari sini.
Liu Yan menggelengkan kepalanya sembari menyesap aroma teh yang diseduh dengan embun pertama musim semi. Isi pikiran Mei Zhiyi begitu bermacam-macam. Tidak hanya soal situasi istana, dia juga sepertinya punya rasa penasaran tertinggi terhadap urusan orang dan pemikirannya agak tidak masuk akal.
Lagi pula, siapa yang berani melompat dari sini? Jangankan melompat, memesan ruang pribadi dengan tujuan tidak bagus juga tidak akan bisa.
Gedung ini menerapkan aturan bahwa penggunaan ruang pribadi hanya bisa digunakan untuk suatu kepentingan yang tidak bersifat romantis. Memang agak membosankan, tapi itulah yang menjadi daya tarik tersendiri dari gedung ini.
“Apakah bagus?”
“Apanya yang bagus?”
“Shangjing di musim semi.”
Mei Zhiyi kemudian menghampiri Liu Yan dan menuangkan teh untuknya. Jika dilihat seperti ini, Liu Yan yang dalam tampilan kasual juga punya pesonanya sendiri.
Dia seperti seorang tuan muda nakal dari keluarga bangsawan kaya, tapi sebenarnya begitu terpelajar dan pikirannya begitu dalam. Wajahnya yang masih saja terlihat dingin itu menyembunyikan sebuah sifat waspada yang tak biasa.
“Shangjing di awal musim semi memang sangat bagus. Berkat Yang Mulia, kota kekaisaran ini bisa mengawali musim semi dengan tenang.”
“Kau sedang memujiku?”
“Apa itu termasuk pujian?”
“Tidak juga. Tanpa aku pun, kota ini masih dapat menjalani hari yang tenang.”
“Tentu tidak mungkin. Tanpa pemimpin yang bijak, Shangjing dan juga kota-kota lainnya di Daqi mungkin akan berantakan.”
Dia sekarang adalah pemegang kekuasaan tertinggi, berdiri di atas jutaan orang. Namun, itu tak membuatnya tenggelam dalam kemewahan dan keindahan. Sebagai Kaisar, Liu Yan lebih tahu cara menikmati hidup sembari melihat apakah rakyatnya bisa hidup damai atau tidak. Tampaknya segala rasa sakit di masa lalu tak memudarkan kecintaannya pada rakyat di negerinya sendiri.
“Meski terlihat megah dan mewah pun, belum tentu ramah,” ucap Liu Yan.
Mei Zhiyi belum pernah melihat seberapa kejam dan jahatnya dunia ini. Dia pasti belum pernah melihat bahwa hati manusia sama keruhnya dengan air sungai dan hidup dan mati dapat diputarbalikkan dengan mudah.
Dalam kemegahan dan keindahan Shangjing yang memesona sebagai ibu kota kekaisaran Daqi ini, berapa banyak darah dan air mata yang harus dikorbankan setiap harinya?
Di kedalaman kediaman para pejabat kaya dan bangsawan itu, berapa banyak nyawa yang harus terkubur sia-sia karena intrik keluarga?
Berapa banyak anak gadis dan anak laki-laki yang kelahirannya disesalkan hanya karena terlahir dari seorang ibu yang tidak punya latar belakang bagus? Berapa banyak remaja yang mengubur mimpi mereka dan hidup dalam tekanan keinginan dan ambisi orang tua mereka?
“Kekuasaan itu seperti pedang bermata dua. Ketika tidak digunakan dengan tepat, maka akan mencelakai banyak orang. Tapi jika digunakan dengan tepat, ujung tajam yang terlihat membahayakan itu justru akan membawa banyak kedamaian,” tambah Liu Yan.
“Aku tentu tahu prinsip ini. Tapi jika kekuasaan dijadikan alat untuk memuaskan keinginan yang tak terkendali, apakah masih pantas diperebutkan dengan begitu sengit? Ketika sebuah kekuasaan menjadi rebutan, orang yang tidak bersalah yang menjadi korban bahkan tak jarang jadi kambing hitam. Kemegahan dan keindahan pun tidak ada artinya lagi. Jadi, Yang Mulia, aku harap kau jadi pemimpin bijak yang bisa memegang kekuasaanmu sendiri, menggunakannya untuk memperjuangkan kehidupan rakyatmu dan dirimu sendiri.”
Mei Zhiyi, tahukah kau bahwa pemikiranmu ini jika didengar orang lain akan berbalik mencelakakan dirimu sendiri? Di dunia yang kejam ini, kekuasaan dapat menentukan hidup dan mati. Pikiranmu sangat bagus. Jika semua orang sepertimu, maka tidak perlu lagi ada seorang kaisar berdarah dingin yang tak memandang siapapun itu.
Tentu saja – Mei Zhiyi tak akan bisa mendengar pendapat Liu Yan soal dirinya. Kata hati hanya bisa disimpan dalam hati. Tapi dengan mendengar pemikiran Mei Zhiyi saja, Liu Yan sudah merasa lega. Setidaknya dia punya pelayan yang tidak cengeng dan bernyali kecil.
“Tanpa kau ingatkan pun, aku sendiri akan mewujudkannya. Sebagai pelayan, kau memang sudah sepatutnya mendukung majikanmu. Tapi, Mei Zhiyi, apakah aku benar-benar majikanmu?”
Mei Zhiyi mengernyit. Kenapa dia tidak mengerti maksud kalimat terakhir Liu Yan?
“Apa maksud Yang Mulia? Bukankah kau memang majikanku?”
Liu Yan menatapnya dalam diam cukup lama, seolah ingin mengetes dan memastikan sesuatu. Tapi, mata Mei Zhiyi dipenuhi dengan kebingungan yang menandakan bahwa dia tidak pura-pura atau tidak sedang menutupi sesuatu.
Bos besar ini kenapa lagi? Apa maksudnya dia bertanya dia majikanku atau tidak? Apakah dia berpikir aku ini mata-mata?
Liu Yan lalu mengalihkan pandangannya. “Bukan apa-apa. Aku hanya menguji apakah kau setia atau tidak.”
Mei Zhiyi ingin berdecak, tapi dia menahannya karena tahu itu tidak sopan. Di depan Liu Yan, dia selalu punya rasa hormat dan batasan, meski terkadang dia suka membantah omongan dan bersikap agak tidak sopan padanya. Hanya saat dia benar-benar kesal baru tidak akan sungkan.
Tiba-tiba saja terdengar suara ribut dari luar yang mengalihkan perhatian mereka dari pembicaraan tadi. Mereka kompak menoleh ke pintu masuk yang tertutup. Sepertinya, di luar sedang terjadi keributan.
“Ding! Misi sampingan telah aktif! Tuan, silakan bereskan keributan di luar!”
Kali ini Mei Zhiyi benar-benar berdecak. Apakah sistem bodoh? Urusan orang kenapa dia yang harus membereskannya?
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei