Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Entah mengapa, tatapan mata Lucien yang dingin membuat bulu kuduk Sisi berdiri. Ada sesuatu dalam sorot mata kelam pria ituz sesuatu yang membuat tubuhnya bergidik hingga ke tulang belakang.
“Kenapa kau diam saja?” tanya Sisi canggung, mencoba memecah keheningan yang terasa mencekik.
Lucien tidak menjawab. Tidak satu kata pun keluar dari bibirnya.
Sisi mengumpat dalam hati. Sejak kapan pria itu suka bicara? Daripada terus mengganggu dan berakhir diturunkan di tengah jalan, yang jelas akan menyulitkan mengingat mereka masih jauh dari Mansion dan daerah ini hampir mustahil mendapatkan transportasi, lebih baik ia diam dan menatap keluar jendela.
Menit demi menit berlalu, tetapi kesunyian itu tetap menggantung berat di antara mereka. Sisi merasa telinganya berdenging. Menyebalkan. Ia memang bukan tipe yang banyak bicara, tetapi ia juga tidak terbiasa dengan keheningan seperti ini. Hidupnya selalu dipenuhi suara ocehan sinis Elowen, sindiran kejam Selvara. Bukan berarti ia merindukan mereka. Hanya saja, tanpa semua itu, suasananya terasa ganjil.
Tiba-tiba tubuh Sisi terhentak ketika Lucien mengerem mobil dengan kasar. Pria itu menatapnya, wajahnya dingin dan tanpa ekspresi, seperti patung es.
“Kenapa kau tidak memberitahuku yang sebenarnya saat aku memilih istri?” tanyanya datar, tapi mengandung tekanan yang tajam.
Sisi membeku. Jantungnya berdegup kencang, antara takut dan bingung.
“Memberitahu apa? Maksudmu apa?” tanyanya, sungguh tidak mengerti.
Apa yang Selvara katakan padanya?
“Bahkan jika aku menikah untuk kelima kalinya, aku tidak akan menikahi anak haram sepertimu.” Suara Lucien rendah, namun penuh amarah. “Ibu tirimu sudah sangat baik memberimu kesempatan. Apa kau pikir keluargaku ini badan amal?”
Dari semua kata yang meluncur dari mulut pria itu, hanya satu yang benar-benar tertanam di benak Sisi.
Anak haram.
Kata itu menghantam jantungnya seperti belati, menusuk berulang kali tanpa ampun hingga dadanya terasa remuk.
Bukankah ia bukan anak haram? Ayah dan ibunya menikah secara sah. Namun ayahnya selalu memperlakukannya seolah ia anak hasil perselingkuhan. Sejak ibunya meninggal, sikap ayahnya berubah dingin. Ia tak pernah dianggap sebagai anak kandung. Bahkan ayahnya memaksanya memakai lensa kontak agar warna mata peraknya tidak terlihat, padahal mata itu sama persis dengan mata ayahnya sendiri.
Sisi pikir ia sudah kebal terhadap tuduhan itu. Ternyata tidak.
Ia tahu itu bukan kebenaran. Namun tetap saja sakit karena yang menyangkalnya adalah ayah kandungnya sendiri.
Senyum pahit terukir di bibir Sisi. Matanya memanas, tetapi ia menarik napas panjang. Ia tidak akan menangis. Tidak di hadapan pria ini.
“Ya,” jawabnya tenang.
Ia tidak berniat menjelaskan kebenaran. Lucien jelas tidak mau mendengar. Keyakinan pria itu sudah tertutup rapat. Lagipula, di mata publik, status itu memang melekat padanya. Jadi untuk apa menyangkal sesuatu yang tak bisa ia buktikan?
“Tapi jangan lupa,” lanjut Sisi dengan suara tetap terkendali, meski dadanya bergejolak, “ada alasan kenapa status itu tidak kusebarkan. Aku bukan tipe yang merendahkan diri atau mencari simpati. Aku menyimpannya untuk diriku sendiri.”
Ia kira Lucien berbeda. Ia kira pria itu tidak suka menghakimi. Bukankah Lucien sendiri berkata ia tidak peduli dengan istri-istrinya?
Lalu kenapa sekarang seperti ini?
“Lalu kau ini orang seperti apa?” desak Lucien.
Sisi tidak ingin menjawab. Ia tidak mau membuang tenaga berdebat dengan pria yang pikirannya sesempit ini. Namun Lucien terus menekan.
“Biar aku yang jawab,” katanya dingin. “Kau orang paling sok suci di dunia ini.”
Sisi tersenyum getir.
“Iya. Aku memang begitu.” Napasnya memburu. “Kupikir kau hanya butuh istri untuk menghentikanmu main-main dengan wanita. Kupikir kau tidak peduli siapa aku dan seperti apa aku. Tapi ternyata aku salah.”
Nada suaranya meninggi. Amarahnya meluap tanpa bisa ditahan lagi.
Tanpa menoleh, Sisi turun dari mobil. Ia butuh udara. Ia butuh menjauh sebelum benar-benar kehilangan kendali.
Beberapa langkah kemudian, seseorang menarik lengannya.
“Masuk ke mobil,” perintah Lucien.
Sisi menepis tangannya dengan kasar.
“Meski aku tidak punya apa-apa, aku masih punya harga diri,” balasnya tajam.
Ia melangkah lagi, tetapi berhenti saat mendengar ancaman Lucien.
“Kembali ke mobil. Kuberi kau satu menit. Aku bukan orang yang sabar.”
Sisi sudah tahu itu.
“Terserah kau,” jawabnya dingin.
Ia meninggalkan Lucien di sana.
Pria itu benar-benar bajingan.
***
Lucien kembali ke mobil dengan amarah membara. Ia tidak percaya Sisi berani meninggalkannya begitu saja.
Ia menginjak gas dan melaju pergi.
Saat tiba di mansion, ibu dan adiknya menyambut dengan wajah heran. Mereka menunggu dengan antusias, ini kunjungan pertama Lucien ke keluarga istrinya. Namun antusiasme itu berubah menjadi kecemasan ketika mereka menyadari Lucien pulang sendirian.
“Mana Sisi?” tanya ibunya.
“Kenapa Kakak pulang sendiri?” Lyra ikut bertanya, cemas.
“Aku tidak tahu,” jawab Lucien singkat, frustrasi.
Ia duduk di sofa dan memerintahkan pelayan.
“Air.”
“Apa maksudmu tidak tahu?” Ibunya mendesak. “Kalian pergi bersama!”
Lucien tidak menjawab. Ia meneguk airnya, lalu hendak naik ke atas. Namun suara ibunya menghentikannya, wanita itu baru saja menelepon keluarga Caldwell.
“Ibunya Sisi bilang kalian pergi bersama!” bentaknya panik. “Lalu kenapa kau bilang tidak tahu, Lucien?”
“Dia sudah hilang dariku,” jawab Lucien dingin.
Ibunya hampir pingsan.
“Apa yang kau katakan? Kau ini suami macam apa? Demi Tuhan, Lucien! Apa kau berniat menceraikannya juga?”
Namun bagi Lucien, kemarahan ibunya tak lebih dari angin lalu.