"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: DUA PULUH EMPAT JAM
Jam digital di sudut layar menunjukkan 08.12.
Enam belas jam tersisa.
Aira menatap monitor tanpa benar-benar melihat angka-angka di depannya. File log sistem terbuka, baris demi baris kode dan waktu akses memenuhi layar. Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke meja, seolah jarak beberapa sentimeter bisa membantunya berpikir lebih jernih.
Di lantai eksekutif, suasana terasa berbeda.
Lebih sunyi.
Lebih berhati-hati.
Dan entah kenapa—lebih jauh darinya.
Beberapa staf yang biasanya menyapanya pagi itu hanya mengangguk singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada obrolan ringan. Seolah-olah namanya kini membawa potensi masalah.
Isu menyebar lebih cepat dari klarifikasi.
“Aira.”
Ia mendongak. Kepala divisi keuangan berdiri di depan mejanya.
“Pak.”
“Kita perlu revisi ulang laporan kuartal. Dewan minta audit internal dipercepat.”
Aira mengangguk. “Saya akan bantu siapkan datanya.”
Pria itu terdiam sepersekian detik. “Kita semua berharap ini hanya kesalahan teknis.”
Kalimat itu terdengar netral.
Tapi cukup untuk membuat jarak terasa nyata.
Setelah pria itu pergi, Aira mengembuskan napas pelan.
Ia membuka kembali riwayat akses sistem.
05.17.
Angka itu seperti mengejeknya.
Ia tidak pernah datang ke kantor sepagi itu.
Bahkan akses jarak jauh pun tidak pernah ia gunakan tanpa alasan jelas.
Tangannya bergerak lebih cepat, mencoba menelusuri jejak IP.
Tiba-tiba layar berkedip.
Akses ditolak.
File log yang tadi terbuka mendadak terkunci.
Jantungnya berdegup.
Ia mencoba lagi.
“Access restricted.”
Siapa yang membatasi aksesnya?
Dan kenapa sekarang?
Di ruang CEO, Arlan menerima dua orang dari tim IT.
“Log akses sudah kami tarik ulang,” kata salah satu dari mereka.
Arlan berdiri di dekat jendela, wajahnya tak terbaca. “Dan?”
“Ada login menggunakan kredensial admin sementara. Tapi setelah pukul sembilan pagi, jejaknya dibersihkan.”
“Dibersihkan?”
“Manual override.”
Arlan menyipitkan mata. “Siapa yang punya akses admin sementara?”
Staf IT itu ragu sepersekian detik. “Secara resmi… hanya Bapak. Dan satu lagi yang pernah diberikan izin khusus untuk presentasi integrasi sistem.”
Nama itu tidak perlu disebutkan.
Arlan sudah tahu.
“Jangan laporkan ini dulu,” ucapnya dingin. “Saya yang akan menangani.”
Kedua staf itu mengangguk dan keluar.
Arlan menatap layar laptopnya lama.
Ia bisa menghentikan ini sekarang.
Bisa memanggil rapat.
Bisa membongkar semuanya.
Tapi ia belum melakukannya.
Bukan karena ragu pada Aira.
Melainkan karena ia ingin tahu—
seberapa jauh permainan ini berjalan.
Sore hari.
Sisa waktu: empat jam.
Aira masih belum menemukan celah yang cukup kuat untuk membersihkan namanya.
Ia mencoba menghubungi bagian IT.
Jawabannya sama.
“Akses dibatasi sementara.”
Sementara.
Kata yang terlalu halus untuk mengatakan: kau sedang dicurigai.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk.
Clarissa.
Aku dengar audit dipercepat. Pasti melelahkan ya, kalau harus menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak kamu pahami.
Aira membaca pesan itu dua kali.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada tuduhan.
Hanya nada simpati yang terlalu tepat.
Ia tidak membalas.
Namun kini ia semakin yakin—
ini bukan kesalahan sistem.
Ini perang.
Dan ia berada di sisi yang lebih lemah.
Pukul 19.43.
Lantai eksekutif hampir kosong.
Aira masih duduk di mejanya.
Matanya terasa perih. Kepalanya berat.
Ia membuka kembali backup pribadi yang selalu ia simpan di hard drive eksternal.
Kebiasaan lama.
Berjaga-jaga.
Ia membandingkan versi file terakhirnya dengan versi sistem pusat.
Ada satu perbedaan kecil.
Sangat kecil.
Timestamp metadata.
File asli dibuat pukul 23.11.
Versi sistem menunjukkan dibuat ulang pukul 05.17.
Tapi—
Format encoding berbeda.
Seolah file itu diekspor ulang dari perangkat berbeda.
Napasnya tertahan.
Itu bukan bukti penuh.
Tapi itu celah.
Ia menyalin data itu cepat, menyimpannya di folder terenkripsi.
Pintu ruang CEO terbuka.
Langkah kaki mendekat.
Arlan berhenti di depan mejanya.
“Kau masih di sini.”
“Saya belum selesai, Pak.”
“Waktumu hampir habis.”
Aira berdiri. “Saya menemukan sesuatu. File asli memiliki metadata berbeda. Ada kemungkinan diubah dari perangkat lain.”
Arlan menatapnya tanpa ekspresi. “Kemungkinan bukan bukti.”
“Saya tahu.”
Hening menggantung.
“Apa Bapak… sudah memutuskan?” tanya Aira pelan.
Tatapan Arlan tajam, tapi tidak kejam.
“Keputusan dibuat berdasarkan hasil,” jawabnya.
Jawaban itu formal.
Dingin.
Dan cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Aira retak.
“Saya mengerti,” katanya lirih.
Arlan berbalik.
Namun sebelum ia melangkah jauh, ia berkata tanpa menoleh:
“Jangan menyerah sebelum waktumu habis.”
Kalimat itu ambigu.
Perintah?
Atau dorongan?
Aira tidak tahu.
Malam itu, di apartemennya, Aira duduk di lantai dengan laptop terbuka di hadapannya.
Lampu utama dimatikan.
Hanya cahaya layar yang menerangi wajahnya.
Tangannya gemetar.
Bukan karena lelah.
Tapi karena takut.
Jika ia gagal—
bukan hanya pekerjaannya yang hilang.
Harga dirinya.
Kepercayaan yang perlahan ia bangun.
Dan mungkin… sisa hubungan yang belum sempat ia pahami dengan Arlan.
Air mata menggenang.
Ia menahannya.
Menggigit bibirnya agar tidak pecah.
Namun satu tetes tetap jatuh ke punggung tangannya.
Cepat ia hapus.
“Jangan lemah sekarang,” bisiknya pada diri sendiri.
Di sisi lain kota, Arlan duduk sendirian.
Laporan IT terbaru terpampang di layarnya.
Jejak login tambahan.
Dari jaringan yang sama.
Dan kali ini—
terhubung dengan perangkat yang terdaftar atas nama perusahaan milik keluarga Mahendra.
Rahangnya mengeras.
Permainan ini lebih berani dari yang ia kira.
Ia menutup laptop perlahan.
Besok pagi, batas waktu Aira berakhir.
Dan seseorang—
akan belajar bahwa ia tidak pernah suka ketika asetnya disentuh.
Namun malam ini—
ia membiarkan Aira berjuang sendirian.
Bukan untuk menjatuhkannya.
Melainkan untuk memastikan…
saat ia berdiri di sisinya nanti,
itu bukan karena belas kasihan.
Melainkan karena ia memilih untuk tetap bertahan.
Dan jam terus berjalan.
Tiga jam tersisa.
batas waktu
03.12.
Tiga jam sebelum batas waktu berakhir.
Aira masih duduk di lantai apartemennya. Laptop terbuka. Kabel hard drive menjuntai di sampingnya. Matanya memerah, bukan hanya karena lelah.
Tapi karena tekanan yang perlahan menggerus kewarasannya.
Ia memperbesar tampilan metadata file sekali lagi.
Encoding berbeda.
Signature berbeda.
Versi sistem dibuat dari perangkat dengan konfigurasi regional luar negeri.
Dirgantara Group tidak pernah menggunakan pengaturan itu.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ini bukan sekadar manipulasi internal biasa.
Ini disengaja.
Dan dilakukan oleh seseorang yang tahu cara menghapus jejak.
Ponselnya bergetar tiba-tiba.
Nomor tak dikenal.
Ia ragu sepersekian detik sebelum menjawab.
“Halo?”
Hening.
Lalu suara perempuan yang ia kenal.
“Masih begadang?”
Clarissa.
Aira terdiam.
“Kamu pekerja keras sekali. Sayang kalau semua itu sia-sia hanya karena kesalahan kecil,” lanjut Clarissa lembut.
“Itu bukan kesalahan saya,” jawab Aira pelan.
Tawa kecil terdengar di ujung sana.
“Di dunia seperti ini, yang penting bukan siapa yang salah. Tapi siapa yang dipercaya.”
Panggilan terputus.
Aira menatap layar ponselnya lama.
Itu bukan ancaman terang-terangan.
Tapi cukup jelas.
Ia tidak hanya sedang dijatuhkan.
Ia sedang ditekan.
07.58.
Dua menit sebelum pukul delapan.
Aira berdiri di depan ruang CEO.
Tangannya dingin.
Ia sudah menyusun ringkasan temuannya. Tidak sempurna. Tidak mutlak. Tapi cukup untuk membuka celah.
Ia mengetuk.
“Masuk.”
Arlan berdiri di dekat meja, jasnya sudah terpasang rapi. Wajahnya kembali menjadi topeng profesional.
“Waktumu habis,” katanya.
Aira melangkah masuk. “Saya menemukan perbedaan metadata. File diubah menggunakan perangkat dengan konfigurasi yang tidak terdaftar dalam sistem utama perusahaan.”
Arlan tidak langsung merespons.
“Bukti?” tanyanya datar.
Aira menyerahkan tablet.
“Ini perbandingannya. Encoding berbeda. Timestamp berbeda. Dan akses saya ke log dibatasi kemarin sore.”
Hening.
Arlan membaca dengan tenang.
Lalu ia meletakkan tablet itu.
“Ini tidak cukup untuk membersihkan namamu di depan dewan.”
Kalimat itu membuat napas Aira tersendat.
“Tapi,” lanjutnya pelan, “cukup untuk membuatku yakin.”
Mata Aira terangkat.
Untuk pertama kalinya sejak rapat kemarin—
ia melihat sesuatu yang tidak kosong di sana.
Kepercayaan.
Namun Arlan melanjutkan sebelum ia sempat berharap terlalu jauh.
“Masalahnya sekarang bukan apakah kau bersalah.”
“Lalu apa, Pak?”
“Masalahnya adalah seseorang mencoba menguji batas kekuasaanku.”
Nada suaranya berubah.
Bukan marah.
Tapi dingin dengan cara yang berbahaya.
Tiba-tiba interkom di meja berbunyi.
“Pak Arlan, dewan sudah berkumpul.”
Arlan menekan tombol. “Saya segera ke sana.”
Ia menatap Aira sekali lagi.
“Kau ikut.”
Ruang rapat kembali penuh.
Tatapan yang sama.
Namun kali ini Arlan tidak duduk diam.
“Laporan kemarin,” ucapnya tanpa basa-basi, “sedang diselidiki lebih lanjut. Ada indikasi manipulasi eksternal.”
Bisik-bisik terdengar.
Seorang komisaris mengangkat alis. “Anda yakin, Arlan?”
“Saya tidak membuat pernyataan tanpa dasar.”
Arlan berdiri.
“Mulai hari ini, audit sistem akan diperluas. Dan akses tertentu akan dicabut sementara.”
Tatapannya bergerak menyapu ruangan.
Berhenti sepersekian detik pada Clarissa, yang duduk sebagai perwakilan keluarga Mahendra.
Senyumnya tetap manis.
Terlalu manis.
“Aira tetap di posisinya,” lanjut Arlan tegas. “Sampai penyelidikan selesai.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup untuk membalik keadaan.
Aira merasakan napasnya kembali utuh.
Namun ia juga tahu—
ini belum selesai.
Setelah rapat berakhir, Clarissa menghampiri mereka di koridor.
“Keputusan yang berani,” katanya ringan.
Arlan menatapnya tanpa senyum. “Aku tidak suka orang yang menyentuh sistemku.”
Clarissa tersenyum lebih tipis. “Semoga kamu yakin dengan orang yang kamu lindungi.”
“Aku tidak melindungi siapa pun,” jawab Arlan. “Aku melindungi perusahaanku.”
Tatapan mereka saling menahan.
Permainan kini terbuka.
Bukan lagi bisikan.
Tapi deklarasi halus.
Malam itu, saat Aira kembali ke mejanya, tubuhnya terasa ringan dan berat sekaligus.
Ia selamat.
Untuk sekarang.
Namun di dalam dirinya, sesuatu berubah.
Ia melihat keraguan Arlan kemarin.
Ia merasakannya.
Dan meski hari ini ia dipertahankan—
bekas itu tidak hilang begitu saja.
Di ruangannya, Arlan berdiri menatap layar ponsel.
Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Hati-hati, Pak Arlan. Tidak semua kecelakaan terjadi karena sistem.
Rahangnya mengeras.
Permainan reputasi baru saja naik tingkat.
Dan kali ini—
taruhannya mungkin bukan lagi sekadar nama.
sangat seru