NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Janda dalam Balutan Dendam

Satu Minggu Setelah Ledakan.

Gedung pengadilan Jakarta dikerubungi oleh ratusan wartawan dari berbagai media nasional dan internasional. Berita meledaknya gudang di Tanjung Priok yang melibatkan keluarga konglomerat Dirgantara telah menjadi skandal terbesar dekade ini.

Sesosok wanita keluar dari mobil hitam mewah. Ia mengenakan gaun serba hitam, kerudung tipis menutupi sebagian wajahnya yang pucat namun terlihat sangat tegas. Maya Dirgantara. Dunia mengenalnya sebagai "Janda Semalam" yang kehilangan suaminya di malam pernikahan.

Maya melangkah masuk ke ruang sidang tanpa sepatah kata pun. Di kursi terdakwa, Richard Dirgantara duduk dengan angkuh. Meskipun ia berhasil selamat dari ledakan dengan luka bakar di wajahnya, ia masih merasa di atas angin. Ia yakin bukti fisik telah musnah terbakar.

"Sidang dibuka," suara hakim mengetuk palu.

Jaksa penuntut umum berdiri. "Yang Mulia, kami memiliki saksi kunci dan bukti digital yang baru saja diserahkan oleh Nona Maya."

Richard tertawa sinis. "Bukti apa? Cucu saya sudah mati bersama semua sampah yang ia miliki."

Maya berdiri dari kursinya. Ia tidak menatap Richard. Ia menatap ke arah kamera media yang sedang menyiarkan sidang ini secara langsung ke seluruh dunia. Ia mengeluarkan flashdisk kecil dari balik liontin kalungnya.

"Richard Dirgantara mengira dia bisa membakar kebenaran," suara Maya menggema, tenang namun mematikan. "Tetapi Arlan sudah menyiapkan protokol penghancur. Flashdisk ini bukan hanya berisi data Proyek Merapi, tetapi juga rekaman percakapan Richard saat memerintahkan eksekusi terhadap anak kandungnya sendiri—ayah Arlan."

Maya menekan tombol di laptopnya. Seketika, audio memenuhi ruang sidang.

"...Arlan terlalu lunak. Jika dia tidak bisa dikendalikan, ledakkan saja gudang itu bersamanya. Aku bisa membuat cucu baru, tapi aku tidak bisa membangun ulang imperiumku jika rahasia ini terbongkar."

Suasana sidang riuh rendah. Richard berdiri, wajahnya merah padam. "Itu rekayasa! Itu palsu!"

"Rekaman ini tersimpan di server cloud terenkripsi yang hanya bisa diakses dengan biometrik mata Arlan," lanjut Maya, suaranya mulai bergetar karena emosi. "Arlan sudah memprediksi bahwa Anda akan mengkhianatinya. Dia mengorbankan dirinya agar dunia bisa melihat iblis yang sebenarnya sedang duduk di kursi itu."

Richard jatuh terduduk. Pengacaranya tertunduk lesu. Dengan bukti setelak itu, tidak ada celah untuk melarikan diri. Richard Dirgantara, sang arsitek kegelapan, akhirnya runtuh bukan oleh peluru, melainkan oleh suara hatinya yang busuk yang direkam oleh cucunya sendiri.

Malam harinya, Maya berdiri di pinggir tebing Dago, di depan reruntuhan rumah putih yang kini hanya menyisakan pilar-pilar hitam yang hangus. Ia membawa buket bunga lili putih dan sebotol hazelnut latte.

"Sudah selesai, Lan. Dia sudah di penjara. Namamu sudah dibersihkan," bisik Maya pada kegelapan malam.

Ia meletakkan lili itu di atas pilar tempat Arlan dulu pernah mengurungnya. Air matanya jatuh menetes ke atas debu sisa kebakaran. "Tapi harganya terlalu mahal. Aku lebih suka kamu kembali sebagai arsitek biasa yang menyebalkan daripada menjadi pahlawan yang meninggalkanku sendirian begini."

Maya memejamkan mata, merasakan angin malam Dago yang dingin menyapu wajahnya. Tiba-tiba, ia merasakan aroma yang sangat akrab. Aroma kayu cendana yang bercampur dengan bau obat-obatan rumah sakit yang tipis.

Sebuah tangan yang kasar, dengan bekas luka bakar yang belum sepenuhnya sembuh, menyentuh pundak Maya.

Maya membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia takut untuk berbalik. Ia takut ini hanya halusinasi akibat rasa rindu yang luar biasa.

"Aku sudah bilang, kan? Aku nggak akan membiarkanmu menjadi orang asing yang berjuang sendirian."

Suara itu rendah, serak, dan penuh luka.

Maya berbalik dengan cepat. Di bawah cahaya bulan yang redup, berdirilah seorang pria dengan pakaian hitam kumal, separuh wajahnya dibalut perban, dan tangannya menggunakan penyangga. Arlan.

Ia tampak hancur secara fisik, tapi matanya tetap memancarkan cahaya yang sama—cahaya yang hanya ditujukan untuk Maya.

"Arlan?" bisik Maya, suaranya hampir tidak keluar.

"Hai, May. Maaf aku telat ke kencan kita," Arlan tersenyum miring, senyum tipis yang sangat menyebalkan sekaligus sangat dirindukan.

Maya menghambur ke pelukan Arlan, menangis sejadi-jadinya di dada pria itu. Arlan mengerang kesakitan karena luka-lukanya belum sembuh, tapi ia tetap memeluk Maya seerat mungkin dengan satu tangan yang tersisa.

"Kamu hidup... Kamu benar-benar hidup..."

"Unit bayanganku menarikku keluar lewat terowongan bawah tanah tepat sebelum ledakan kedua," Arlan mencium puncak kepala Maya. "Aku harus bersembunyi selama seminggu untuk memastikan Richard benar-benar masuk perangkapmu. Kamu hebat, May. Kamu jauh lebih berani dariku."

Maya melepaskan pelukannya, menatap wajah Arlan yang terluka. "Setelah ini, apa? Richard sudah kalah. Proyek Merapi sudah hancur. Kita masih punya musuh?"

Arlan menggeleng, ia mengambil hazelnut latte yang diletakkan Maya di pilar, lalu meminumnya sedikit. "Nggak ada lagi musuh, May. Yang ada cuma aku, kamu, dan masa depan yang harus kita bangun dari nol. Benar-benar dari nol."

Arlan menarik sebuah kotak kecil dari sakunya. Cincin pernikahan mereka yang sempat hilang saat kecelakaan. Ia memakaikannya kembali ke jari Maya.

"Kita pernah menjadi asing untuk saling melindungi. Kita pernah menjadi musuh untuk mencari kebenaran. Sekarang, bolehkah kita menjadi suami istri yang membosankan saja?"

Maya tertawa di tengah tangisnya, ia mengangguk mantap. "Sangat boleh, Arlan. Sangat boleh."

Di atas reruntuhan yang hitam, di balik kabut Dago yang mulai turun, mereka berjanji bahwa mulai detik ini, tidak akan ada lagi rahasia. Karena rumah yang sesungguhnya bukan lagi bangunan putih yang indah itu, melainkan detak jantung yang masih saling menyahut di tengah badai yang telah berlalu

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!