罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Irezumi part I
...**...
...⛔️⚠️ Mengandung adegan kekerasan ⚠️⛔️...
...__________________________________...
...刻みつかれ、結ばれた血...
...-Kizami Tsukare, Musubareta Chi-...
...'Darah yang terpahat dan terikat'...
...⛩️🏮⛩️...
Noa terbangun dengan napas tersengal dan pendek.
Saat kesadarannya perlahan kembali, ia sadar. Tubuh Noa telah diposisikan berlutut dan tengkurap dengan disandarkan pada kursi batu datar rendah tanpa sandaran. Tidak ada kenyamanan dalam ruang ini—hanya lantai dingin dan aroma darah yang lengket di udara.
Dadanya sesak. Lidahnya kering. Ia mencoba bicara, tapi hanya bisa mendesis—sesuatu mengganjal di mulutnya.
Ia dipaksa menunduk sedikit. Setengah telanjang. Punggungnya terbuka, terekspos. Borgol logam berat menahan pergelangan tangan ke bawah dudukan kursi, sementara rantai besi menambatkan mata kakinya ke lubang penahan di lantai batu. Bahunya ditambat dengan tali putih Shinto, erat dan kaku, membuat setiap gerakan kecil terasa seperti menekan ototnya sendiri.
Mulutnya disumpal dengan ikatan kain hitam tradisional. Bukan untuk diam, tapi untuk membungkam amarah. Suara-suara jeritan yang akan datang tak pantas didengar para dewa.
Di depan matanya yang buram, api kecil berkedip di pelita. Ruangan bundar itu tidak memiliki jendela, tidak mengenal waktu. Dindingnya dipenuhi jimat dan ukiran mantra, seperti penjara spiritual. Suasana lembap dan berbau darah kering.
"Akhirnya kau bangun," suara berat menyambutnya.
Di belakangnya, pendeta Shinto bernama Yagami itu berjongkok rendah—tangannya memegang tebori tradisional-sebilah kayu dengan ujung logam tajam, alat kuno klan Yamaguchi yang hanya digunakan untuk tradisi irezumi*. Kayu itu khusus terbuat dari sisa arwah-pohon di kuil Hida, diukir dengan mantra penyegel. Bukan jarum modern. Bukan mesin. Alat yang dipercaya bisa menembus batas tubuh dan roh.
Asisten pendeta berdiri disebelahnya, menyiapkan mangkuk kecil berisi cairan kental berwarna merah gelap. Campuran darah Noa sendiri, arang dari tulang leluhur, tinta dari kuil tempat roh Tenryuu dulu disembah. Ujung tebori itu dicelupkan ke cairan berdarah itu. Saat batang kayu diangkat, gelembung udara naik seperti napas makhluk hidup. Cairan itu berdenyut seperti makhluk hidup.
Pendeta Yagami menatap punggung Noa dengan mata kosong, tapi suaranya pelan, bergetar halus seperti mantra.
"Di dalam darahmu, roh kehancuran Kuraokami bersemayam. Ia telah terbangun. Dan malam ini, kita akan menanamkan sang penyegel langit, Tenryuu. Agar Kuraokami tidak memberontak dan terkendali."
Pendeta Yagami menunduk sedikit,
"Jangan melawan," lanjutnya pelan, dengan nada yang seperti tak bisa dibantah.
"Tetaplah tenang dan tidak bergerak, tubuhmu bukan lagi milikmu."
Pendeta itu mulai mengetuk garis pertama ke kulit punggung Noa. Bukan seperti menato biasa. Ini adalah penyaluran segel kuno.
Suaranya nyaring—tuk, tuk, tuk—berirama seperti doa yang berubah menjadi siksaan. Tapi tinta itu bukan tinta biasa. Ia hidup. Ia meresap ke dalam pori-pori, menyusuri lapisan dalam epidermis seperti racun spiritual. Setiap ketukan kayu menyalurkan mantra penyatu roh dan tubuh, memaksa daging Noa beradaptasi dengan bentuk naga langit yang dikurung di dalam tinta itu.
Bukan sekadar tato.
Tapi ikatan dua dunia.
Tapi bukan rasa sakit yang membuat tengkuk Noa berkeringat. Bukan alat di tangan pendeta. Tapi tatapan-tatapan itu.
Di belakangnya, Sakaki Jin dan Kuroda berdiri diam bagai bayangan batu tak bergerak, tak berkedip. Tak ada simpati. Tak ada pertanyaan. Mereka berdiri seperti penjaga gerbang neraka yang tidak peduli siapa yang datang maupun siapa yang kembali.
Kali ini hanya empat Gokaishū berlutut mengelilingi, kepala menunduk. Mereka tak berkata apa pun, tapi kehadiran mereka menekan udara, seolah Noa sedang ditimbang dengan mata tak terlihat. Bukan oleh dewa, tapi oleh hukum klan. Mereka menyaksikan juga sebagai perwakilan memberi legitimasi, ini bukan ritual rahasia gelap, tapi sumpah darah resmi, diakui oleh struktur tertinggi klan.
Dan di sudut gelap dinding, Mikami Torao bersandar santai dengan tangan di saku. Ia tidak berdoa. Tidak duduk. Tidak memberi restu. Ia hanya menonton. Seperti menonton seekor rusa disayat perlahan. Tidak ada keterlibatan. Tapi juga tak ada jarak.
Noa mencoba menggoyangkan kepala, mencoba melawan, tapi ikatan mulut itu membuatnya memekik pelan, tak lebih dari suara napas tertahan.
"Kau membawa darah Kuraokami," ucap Jin.
"Dan darah itu... tidak bisa dibiarkan tanpa kendali."
"Kau akan menjadi segel. Atau kehancuran, Nakamura-san," tambah Jin.
Tinta merah itu mulai menyala samar, menimbulkan sensasi panas luar biasa di punggungnya. Bukan dari api, tapi dari roh yang meronta.
Noa bergetar hebat. Tapi ia tidak bisa lari. Tidak bisa menggeliat. Dan tak ada yang akan menghentikan proses ini. Erangannya tertahan di balik kain. Tubuhnya mengejang, air mata langsung mengalir dari mata terbuka.
Pendeta Yagami terus berkomat-kamit dalam bahasa roh kuno yang tak lagi dikenal manusia. Setiap kalimat menuntun roh Tenryuu turun perlahan—membentuk pola di daging Noa, membentuk tubuh naga dari garis tinta yang berdenyut. Setiap tusukan bukan hanya menyakiti kulit, tapi memahat jiwa.
Semakin dalam kayu itu menembus, semakin liar garisnya menjalar. Bentuk naga itu bukan digambar, tapi dipanggil, dan ia menggeliat seperti hendak keluar dari daging.
Saat tubuhnya mulai lemah, asisten pendeta sigap membasuhkan air es ke wajahnya. Jika matanya mulai menutup, jarum ditusukkan ke titik vital untuk menyetrum kesadarannya.
Karena ia tak boleh pingsan.
Ritual ini menuntut kesadaran penuh.
Irezumi darah bukan sekadar proses ukir. Ia adalah pemanggilan roh purba—Tenryuu. Mereka menyebutnya segel. Bukan sekadar mantra kosong.
Ia adalah roh tua—lebih tua dari bahasa Jepang, lebih tua dari klan Yamaguchi sendiri.
Dulu, roh ini ditaklukkan oleh leluhur pertama klan. Dikurung dalam gulungan emas dan dijaga oleh darah tertentu.
Hari ini, mereka membangunkannya kembali. Menyuruhnya turun dari langit gaib dan masuk ke dalam tubuh Noa sebagai rantai. Sebagai sangkar. Sebagai pemangsa yang siap menelan Kuraokami bila ia memberontak.
Dan Noa?
Ia hanya wadah.
Ia harus menjaga dirinya tetap sadar, tetap waras, di antara dua napas kuno yang bisa saling memusnahkan... atau menghancurkannya lebih dulu.
Bukan demi belas kasih. Tapi demi menjaga investasi mereka agar tidak hancur seperti artefak gagal sebelum bisa dimanfaatkan.
Ia bukan manusia lagi.
Hanya objek.
Kanvas hidup untuk kutukan purba.
...⛩️🏮⛩️...
Tiga jam. Lima jam.
Tidak ada jeda.
Ketika pendeta itu mengakhiri torehan terakhir, seekor naga merah tua telah terukir di punggung Noa, tubuhnya terdiri dari air dan kabut pekat, sisiknya tidak rapi, tapi seperti awan badai yang berkumpul jadi makhluk. Wajah naga itu buta. Tapi di tengah dahinya ada satu mata ketiga yang masih tertutup rapat.
Dan itulah segelnya.
Noa tak sadarkan diri. Kain hitam yang menyumpal masih di tempatnya. Bibirnya berdarah, tergigit dari dalam.
Dan tato itu... masih hangat. Masih bergerak.
Tubuh Noa masih menggigil ketika ritual selesai.
Tapi bukan itu yang membuat Noa gemetar.
Bukan rasa sakit.
Bukan rasa malu karena setengah telanjang.
Melainkan... suara pendeta yang menyusul setelahnya:
"Segel Tenryuu telah ditanam. Kau bukan hanya wadah, Noa. Kau adalah pintu. Dan kami telah menciptakan kunci untuk menutupnya kembali... jika diperlukan."
Di tangannya, sang pendeta menggenggam gulungan kecil dari kain sutra kuil. Ia membukanya dengan perlahan dalam diam yang hanya dipecah oleh suara naga yang masih 'bergerak' di bawah kulit Noa.
...—つづく—...
...*tato bergaya tradisional Jepang—biasanya besar, mencakup punggung, dada, lengan, atau seluruh tubuh...
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍