Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Terjun dan Tamu Tak Diundang
Pagi di Puncak itu indah, kalau saja tidak ada suara Juna yang nyanyi lagu dangdut sambil sikat gigi di pinggir keran air. Ghea keluar dari tenda dengan rambut yang sudah mirip sarang burung karena kena embun, sementara Arlan sudah bangun sejak subuh dan—tentu saja—sedang duduk rapi di teras villa sambil membaca buku panduan wisata daerah setempat.
"Ar, gue baru sadar. Lo itu kalau bangun tidur mukanya tetep kayak pengen ngajak rapat ya?" sapa Ghea sambil meregangkan ototnya yang kaku karena tidur di tenda yang sempit.
Arlan melirik Ghea, lalu tersenyum tipis. "Dan lo kalau bangun tidur mukanya mirip karakter kartun yang habis kena ledakan bom. Berantakan banget, Ghe."
"Ih! Ini namanya gaya messy hair yang lagi tren, Robot!" Ghea menjulurkan lidahnya. "Yuk, mandi buruan! Kita ke air terjun sebelum mataharinya makin galak."
Setelah melalui perjalanan darat yang cukup menantang—dengan Juna yang berkali-kali hampir masuk parit karena sibuk liatin penjual jagung bakar—mereka sampai di kawasan Air Terjun Cilember. Udaranya sejuk, suara air jatuh terdengar seperti musik orkestra alam yang menenangkan.
Ghea langsung lari menuju pinggiran air terjun, melepas sandalnya, dan mencelupkan kakinya ke air yang dinginnya kayak es sirup. "Waaaa! Ar, Juna! Sini! Airnya seger banget!"
Arlan berjalan pelan, dia masih memakai sepatu kets (setidaknya bukan pantofel lagi) dan tas ransel kecil. Dia mengamati debit air terjun dengan serius. "Ghe, hati-hati. Secara hidrolika, tekanan air di bagian tengah itu bisa sangat kuat kalau tiba-tiba ada hujan di hulu."
"Aduh, Ar! Bisa nggak sih sehari aja lo nggak jadi ensiklopedia berjalan?" Juna datang sambil membawa plastik berisi cilok yang dia temukan di tempat parkir. "Nikmatin aja, Ar. Liat tuh Ghea, dia udah kayak duyung terdampar."
Ghea memang sedang asik main air. Dia mencipratkan air ke arah Arlan, mengenai kemeja flanelnya.
"Ghea!" seru Arlan kaget.
"Hahaha! Rasain tuh serangan air suci penawar kaku!" Ghea ketawa ngakak.
Arlan awalnya ingin marah, tapi melihat tawa Ghea yang begitu lepas di bawah sinar matahari yang menembus celah pepohonan, pertahanannya runtuh. Dia melepas sepatunya, menggulung celananya, dan ikut masuk ke air. Untuk pertama kalinya, si Ketua OSIS ikut perang air!
Suasana sangat menyenangkan sampai sebuah suara melengking yang sangat familiar memecah keceriaan mereka.
"OH MY GOD! Jadi bener ya, kalian ke sini?"
Ketiganya menoleh serempak. Di jembatan kayu tak jauh dari sana, berdirilah Shinta dengan kacamata hitam besar, topi pantai yang lebih lebar dari meja makan, dan dua orang temannya yang sibuk megang tongsis.
"Shinta?!" seru Ghea, Juna, dan Arlan bersamaan.
"Kok lo bisa tahu kita di sini, Shin?" tanya Juna dengan wajah curiga.
Shinta berjalan mendekat dengan gaya model di atas catwalk yang becek. "Hehe, Juna... lo lupa ya kalau lo pernah share location di status WhatsApp kemarin? Lagian, aku juga punya villa nggak jauh dari sini. Pas banget kan?"
Ghea langsung naik ke daratan, wajahnya mendadak cemberut. "Pas banget gimana? Ini namanya stalking berkedok liburan."
"Duh Ghea, jangan baper gitu dong. Kita kan satu organisasi, harusnya saling menjaga," Shinta melirik Arlan yang masih di dalam air. "Arlan, kok kamu mau sih main air di tempat umum begini? Airnya kan banyak kuman. Yuk, ikut ke villa aku aja. Ada kolam renang air hangat, barista pribadi, dan yang pasti... nggak ada debu."
Arlan keluar dari air, dia mengambil handuk kecil dari tasnya. "Makasih Shinta, tapi gue lebih suka di sini. Air terjun ini lebih... efisien buat nenangin pikiran."
"Tapi Ar—"
"Dan satu lagi," potong Arlan tegas. "Ini liburan pribadi gue. Gue nggak lagi bertugas jadi Ketua OSIS. Jadi tolong hargai privasi gue."
Shinta menggigit bibirnya, matanya berkilat marah ke arah Ghea. "Oke, Arlan. Tapi kamu harus tahu, Papa kamu baru aja telepon aku tadi pagi. Beliau nanya kenapa laporan studi banding kamu belum dikirim ke email beliau."
Deg. Jantung Ghea seolah berhenti. "Ar... bokap lo tahu?"
Arlan terdiam. Mukanya kembali memucat. Ternyata Shinta benar-benar menggunakan jalur "orang dalam" untuk merusak segalanya.
"Aku cuma bilang kalau mungkin sinyal di sini susah," lanjut Shinta dengan nada kemenangan. "Tapi kalau Om Hendra tahu kalian malah main air terjun bareng Ghea yang... yah, begitulah... aku nggak tahu gimana reaksi beliau."
Suasana liburan yang tadinya ceria langsung berubah jadi suram. Shinta dan gengnya akhirnya pergi setelah memberikan "ancaman" halus itu. Juna mencoba mencairkan suasana dengan ngajak makan mie instan di warung pinggir jalan, tapi Arlan cuma diam menatap mangkuk mienya tanpa menyentuhnya.
"Ar... maafin gue ya," bisik Ghea. "Ide liburan ini emang gila. Gue nggak seharusnya bohong soal surat tugas itu."
Arlan menggeleng pelan. "Bukan salah lo, Ghe. Gue yang terlalu pengecut buat bilang sejujurnya ke bokap gue. Gue pikir dengan bohong, gue bisa punya waktu sebentar buat ngerasa bebas. Ternyata kebebasan hasil bohong itu nggak pernah bertahan lama."
"Terus sekarang gimana?" tanya Juna khawatir. "Bokap lo pasti lagi nunggu email itu."
Arlan tiba-tiba berdiri. Dia mengambil HP-nya. "Gue bakal jujur."
"Hah?! Ar, lo gila? Bisa-bisa lo disuruh pulang detik ini juga pakai helikopter!" seru Ghea panik.
"Gue bakal jujur kalau gue lagi liburan. Tapi gue juga bakal kirim laporan itu. Gue udah ngerjain drafnya di HP semalam pas kalian tidur," jawab Arlan. "Gue bakal buktiin kalau gue bisa tanggung jawab tanpa harus dikekang."
Malam itu di villa, ketegangan makin terasa. Arlan duduk di pojok ruang tamu, jemarinya lincah mengetik di layar HP-nya, mengirimkan laporan yang diminta ayahnya. Sementara Ghea dan Juna duduk di karpet, merasa bersalah.
Tiba-tiba, HP Arlan berbunyi. Panggilan masuk dari: AYAH.
Arlan menarik napas panjang, menekan tombol hijau, dan menyalakan loudspeaker.
"Halo, Yah."
"Arlan. Ayah sudah terima emailnya. Isinya cukup lengkap, tapi Ayah mau tanya satu hal. Shinta bilang kamu di Puncak bukan untuk kunjungan sekolah, tapi untuk bersenang-senang dengan Ghea. Benar?"
Ghea menutup mulutnya, menahan napas.
"Benar, Yah," jawab Arlan tenang. Suaranya tidak gemetar lagi. "Arlan di sini untuk liburan. Arlan butuh waktu untuk istirahat supaya performa Arlan di semester depan tidak menurun. Tapi seperti yang Ayah lihat di laporan, tugas Arlan tetap selesai. Arlan tetap bisa jadi yang terbaik tanpa harus kehilangan waktu buat jadi manusia."
Hening di seberang telepon selama hampir sepuluh detik. Detik yang terasa seperti sepuluh tahun bagi Ghea.
"Kamu sudah berani berbohong, Arlan," suara Papa Arlan terdengar sangat dingin. "Ayah sangat kecewa."
"Arlan minta maaf soal bohongnya, Yah. Tapi Arlan tidak menyesal datang ke sini. Bersama Ghea, Arlan belajar kalau hidup itu bukan cuma soal mengumpulkan angka, tapi soal mengumpulkan kenangan yang bikin angka-angka itu jadi bermakna."
Ghea meneteskan air mata. Dia nggak nyangka Arlan bakal seberani itu demi membelanya di depan ayahnya.
"Pulang besok pagi. Sopir akan menjemput. Dan soal Ghea... Ayah akan bicarakan ini saat kamu sampai di rumah," Papa Arlan menutup teleponnya secara sepihak.
Suasana di tenda malam itu terasa sangat melankolis. Ini adalah malam terakhir liburan mereka yang terpaksa dipersingkat.
"Ghe," panggil Arlan.
"Ya, Ar?"
"Makasih ya. Hari ini gue ngerasa kayak beneran punya nyawa," Arlan tersenyum, kali ini senyumnya sangat tulus meskipun ada sedikit kesedihan di matanya.
Ghea memegang tangan Arlan. "Apapun yang terjadi besok di rumah lo, gue bakal tetep ada di sini, Ar. Kalau bokap lo ngusir gue lagi, gue bakal nunggu di halte depan kompleks sampai lo keluar."
Juna yang biasanya berisik, cuma bisa diam sambil mengelap air matanya pakai kaos kaki (karena dia lupa bawa tisu). "Duh, kenapa sih liburan kita jadi kayak episode terakhir drama Korea begini? Besok kita harus makan bakso yang paling enak sebelum Arlan dijemput!"
Ghea tertawa kecil. "Setuju! Kita harus rayain keberanian Arlan hari ini!"
Meskipun besok tantangan berat menunggu mereka di Jakarta, malam itu di bawah langit Puncak yang penuh bintang, Arlan dan Ghea merasa menang. Mereka menang melawan ketakutan, menang melawan ego Shinta, dan yang paling penting, Arlan menang melawan dirinya sendiri yang selama ini terpenjara.
Namun, di kegelapan malam, Shinta sedang tersenyum sinis di villanya yang mewah. Dia sudah menyiapkan rencana cadangan yang jauh lebih berbahaya. "Kalau Arlan nggak bisa dipisahin lewat bokapnya, berarti gue harus hancurin Ghea lewat sekolah," bisiknya jahat.