Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 Logika Keikhlasan: Sultan Tanpa Panggung"
Tari, Kak Anisa dan kak Zahra jalan beriringan menuju ke aula Kusuma Bangsa,namun baru juga beberapa langkah, Tari berhenti karena ternyata Hp nya bergetar dia mengambil Hpnya dan melihat ada chat.
"kak Anisa dan kak Zahra kalian duluan aja ke aula aku mau di sini dulu sebentar, tenang kok , aku baik - baik aja " kata Tari
" Ya Udah deh sepertinya tidak mau di ganggu mau ada yang nelvon ya " Goda kak Anisa sambil pergi
Sepeninggal Kak Anisa dan kak Zahra Tari langsung saja membuka chat dan ternyata dari pak Satria. Awalnya Tari khawatir ada pa ya pak Satria chat dia, namun tiba-tiba dia langsung saja salting
Pak Satria:" Ri, ini aku Ramdan. Maaf aku pake no pak Satria karena hp aku udah di kumpulin ke panitia. Kamu baik - baik aja kan? Kalau kamu ada apa - apa kamu bilang saja sama Raihan, Alvin, Pajar,Arga,Karin, Tiara,kak Anisa dan kak Zahra. Jangan kamu pendam sendirian ya . Kamu harus fokus ya Ri, kalau ada apa-apa, ada gangguan kamu hubungi orang - orang yang tadi aku sebutin. Dan satu lagi aku titip uang sama kamu. Di laci meja Waketos ada amplop coklat itu isinya uang sebesar Rp 5 juta untuk dana konsumsi panitia lembur. Doain aku ya sebentar lagi mau masuk ke dalam ruangan lomba"
Tari membalasnya"kamu serius Ndan nyimpen uang segitu banyaknya, tapi makasih ya pokoknya kamu di sana fokus aja ke lombanya. Masalah di sini biarin ada kita - kita . Tenang tanpa kamu minta aku selalu doain kamu kok"
Tari pun langsung menyimpan hpnya kembali, kemudian dia melangkah pergi masuk ke dalam ruangan OSIS terlebih dahulu untuk mengambil laptop dan amplop coklat. Setelah dimasukin ke dalam tasnya, maka Tari pun langsung menuju Aula Kusuma Bangsa.
*********************************************
Didalam aula para siswa-siswi udah masuk semua, begitu juga dengan para guru yang sudah duduk rapi di barisan VIP. Tari masuk dengan muka yang sangat tegang dan di tekuk,dia langsung melihat ke meja buat Ketua dan wakil ketua namun, meja itu kosong. Tari melangkah masuk dan duduk di meja sekretaris, bersebelahan dengan Raihan yang sama - sama sebagai sekretaris juga. Saat itu tepat jam 08.00 WIB itu tandanya sekarang Ramdan lagi duduk di kursi peserta lomba matematika,
"Ya Allah mudahkanlah dan berikan kelancaran bagi Ramdan dalam mengikuti lomba matematika ini, kalau memang dia harus juara dan mengalahkan para senior maka mudahkanlah ya Allah,ya Tuhanku, Engkau Maha Tahu yang terbaik untuk hambaNya" batin Tari
" ekhemm ... ekhemm... ekhemm " dehem Arga tiba-tiba membuat lamunan Tari buyar.
"Sorry ya guyss aku telat datang tapi masih ada waktu kan ? Kita mulai jam 08.30 sekarang baru Jam 08.25. Gimana MC , Anisa kamu udah siap?" kata Arga yang langsung saja mendapatkan deheman dari kak Zahra dan kak Arka, Tari hanya bisa melirik pada kak Anisa
"Udah kok,udah siap. Yang ngajinya Raihan kan? " tanya Kak Anisa
" Yup, betul banget " kata Arga
Tiba-tiba Bu Melly yang melihat muka Tari seperti sedang tidak baik baik saja langsung saja mengeluarkan suaranya
" Ri, kamu kenapa? dari mulai masuk ke aula kok mukanya sangat kusut gitu, apa karena gak ada sang Waketos ya?" goda Bu Melly
Tari menarik napas panjangnya dan langsung saja menjawab apa yang tadi di katakan Bu Melly
" gak apa-apa Bu, aku baik - baik saja cuma ini aku dapat chat dari pak Satria, beliau meminta kita untuk mendoakan dan mensuport Ramdan, karena ternyata harusnya peserta lomba matematika itu kelas XII, sedangkan Ramdan baru kelas XI apa mungkin dia bisa mengerjakan soal-soal lomba matematika itu. Apalagi katanya Ramdan harus mengerjakan soal-soal sebanyak 200 pilihan ganda, dan sebanyak 50 untuk esai " kata Tari sedikit tenang namun setiap katanya penuh penekanan rasa sedihnya
" Oh iya, betul banget apa kata kamu, Tari. Tadi pak Satria menghubungi kita semua memohon doa dan keajaiban agar Ramdan bisa ikut lomba. Dan karena Ramdan nekad sampai menantang panitia mengerjakan beberapa soal, akhirnya Ramdan di perbolehkan ikut lomba, tadinya pak Satria juga sudah panik . Namun begitulah Ramdan dia selalu tenang dan dia menghadap ke panitia dan berbicara secara logikanya sampai menantang panitia untuk memberikannya tiga soal dan di kerjakan dalam waktu 20 menit, namun Ramdan membuktikan baru 10 menit,dia beres dan jawabannya perfect " Jelas Bu Melly yang membuat semua yang ada di aula melongo mendengarnya
" Waketos kita itu , manusia atau kalkulator berjalan ya?bisa - bisanya dia mengerjakan dalam waktu 10 menit 3 soal. kalau aku 1 soal aja satu jam deh " kata Alvin
"Betul banget itu ,Vin" kata Arga sambil geleng-geleng kepala
Narasi Reaksi Tari:
Mendengar penjelasan Bu Melly, jantung Tari seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya membulat sempurna, menatap tidak percaya ke arah guru di depannya. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di dadanya—sebuah kombinasi antara rasa bangga yang meledak-ledak dan rasa sesak karena mengkhawatirkan beban yang dipikul cowok itu sendirian di sana.
Sepuluh menit untuk tiga soal? Tari membatin. Ia tahu Ramdan jenius, tapi menantang panitia di depan umum dengan taruhan harga diri seperti itu benar-benar di luar nalar. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah datar Ramdan saat memegang pena, bagaimana sorot mata tajam di balik kacamatanya tidak gentar sedikit pun meski dikepung senior kelas XII.
Tari menunduk dalam, mencoba menyembunyikan genangan air mata yang nyaris tumpah. Bukan air mata sedih, tapi air mata haru. Ramdan yang kaku, Ramdan yang selalu bicara soal logika, ternyata punya nyali sebesar itu demi mempertahankan mimpinya.
“Ndan... kamu itu terbuat dari apa sih?” bisik Tari dalam hati.
Ia meremas pelan tasnya yang berisi laptop dan amplop coklat titipan Ramdan. Sentuhan itu seolah menjadi penyambung frekuensi antara dirinya dan Ramdan yang berjarak ratusan kilometer. Rasa tegang yang tadi membuat wajahnya kusut, kini perlahan berganti menjadi sebuah senyuman tipis yang sangat tulus. Jika Ramdan saja berani bertarung dengan logika di ruang lomba, maka ia juga harus berani berdiri tegak memimpin rapat di aula ini.
" Ya , kita semua harus doakan Ramdan. Dan ingat dia aja di sana mampu berjuang sendirian, maka kita disini juga harus menyatu bekerja sama berjuang demi lancarnya acara pentas seni sekolah kita. Secara logika seorang anak kelas XI tidak akan bisa mengerjakan soal-soal kelas XII,tapi kita tahu siapa itu Ramdan. Kalian masih ingat disaat cerdas cermat hari Rabu kemarin,ada soal kelas XII tapi justru Ramdan yang bisa jawab,aku aja yang kelas XII malah tidak paham cara mengerjakannya. Jadi kita yakin dan kita percaya Ramdan mampu untuk mengerjakannya, walaupun nanti hasil akhir tidak sesuai maka kita harus tetap bangga padanya " Kata Arga
"Setuju banget dengan apa yang dikatakan oleh ketua OSIS kita " kata Bu Melly
"Sebelum rapat kita mulai ini saya ada sesuatu hal yang ingin disampaikan bahwa untuk dana konsumsi panitia lembur itu kekurangan, baiknya bagaimana apakah mau kita patungan atau mau pangkas biaya hias panggung " kata Arga
" Hmmm kak Arga, soal dana konsumsi panitia lembur itu sudah di handle sama Ramdan, ternyata dia sudah mempersiapkan semuanya. Dia sudah mempersiapkan dana sebesar Rp 5 juta dan ada di amplop coklat ini" kata Tari sambil memperlihatkan amplop coklatnya
Suasana aula yang tadinya riuh dengan perdebatan kecil soal anggaran konsumsi, mendadak senyap seketika. Kalimat Tari barusan seolah menjadi tombol mute otomatis bagi semua orang yang ada di sana. Arga yang tadinya sedang memegang kening, langsung mendongak dengan tatapan tidak percaya, sementara para guru di barisan VIP saling berpandangan dengan alis terangkat.
"Lima... lima juta?" celetuk Alvin dari barisan belakang, suaranya pecah di tengah keheningan. "Itu Ramdan niat kasih konsumsi atau mau buka restoran cabang baru buat kita?"
Raihan yang duduk di sebelah Tari sampai harus membetulkan letak kacamatanya, menatap amplop coklat itu seolah benda itu baru saja jatuh dari langit. Di barisan guru, Bu Melly tampak tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala pelan—seolah sudah paham kalau murid kesayangannya itu memang tidak pernah membiarkan satu variabel pun luput dari perhitungan.
"Ramdan benar-benar..." gumam Kak Zahra tertahan, "Bahkan saat dia ada di ribuan kilometer dari sini, dia masih bisa memastikan sistem kita tidak 'kelaparan'. Itu anak beneran manusia atau algoritma berjalan, sih?"
Gumam-gumam kagum mulai memenuhi ruangan. Arga menghela napas panjang, sebuah senyum lega terukir di wajah tegasnya. Ia menatap Tari, seolah baru saja mendapatkan bala bantuan paling krusial di tengah medan perang. Seluruh panitia di aula itu seolah baru saja disuntik energi baru; bukan hanya karena uangnya, tapi karena fakta bahwa pemimpin mereka—si Kulkas yang dingin itu—ternyata sangat peduli pada detail terkecil bagi kenyamanan mereka.
Tari bisa merasakan aura di aula itu berubah total. Dari yang tadinya tegang dan pesimis, kini menjadi penuh semangat dan kekaguman. Ramdan memang tidak ada di sana secara fisik, tapi "jejak logikanya" baru saja menyelamatkan jalannya Rapat Akbar hari ini.
" Ramdan mempersiapkan dana sebesar Rp 5 juta itu dari mana? pasti dari papa nya. Wah ternyata papanya Ramdan donatur kita dong" kata Arga
"Aku yakin itu asli dari uang pribadi Ramdan sendiri, karena bagi Ramdan uang 5 juta tidak ada apa-apanya
Suasana aula mendadak hening, lebih hening daripada saat pembacaan doa tadi. Pernyataan Raihan seolah melempar bom atom di tengah-tengah mereka. Arga sampai tertegun, mulutnya sedikit terbuka mendengar fakta kalau teman sekaligus wakilnya itu punya tabungan pribadi yang bisa mencapai angka milyaran.
"Maksud lo... Ramdan itu Self-made Millionaire?" tanya Alvin dengan suara bergetar, nyaris tidak terdengar.
Raihan mengangguk mantap, sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya santai. "Kalian pikir kenapa dia selalu pegang tablet spek dewa dan punya server pribadi di kamarnya? Ramdan main saham dan kripto sejak SMA kelas X. Dia punya algoritma sendiri buat baca pergerakan pasar. Baginya, Rp 5 juta itu cuma 'uang receh' dari hasil passive income yang dia dapet sambil tidur."
Tari hanya bisa tersenyum simpul, matanya berkaca-kaca bangga. Ia teringat suatu kali Ramdan pernah bilang kalau uang hanyalah variabel pendukung, bukan tujuan utama.
"Dia nggak pernah pamer karena menurut dia, pamer kekayaan itu tindakan yang tidak efisien dan membuang-buang energi kognitif," tambah Tari pelan, namun mampu didengar oleh seluruh barisan VIP.
Para guru di depan pun cuma bisa geleng-geleng kepala. Bu Melly bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangan. Mereka baru sadar, kalau selama ini mereka tidak sedang mendidik seorang siswa biasa, melainkan seorang calon penguasa ekonomi yang sedang menyamar jadi anak OSIS berkacamata.
"Kalian tahu tidak kafe yang baru buka di seberang sekolah kita itu? Itu asli punya Ramdan sendiri papanya hanya mendukung saja tidak ikut campur tangan. Bahkan perusahaan papanya yang ada di Jakarta sekarang udah jadi milik Ramdan, namun karena dia masih sekolah jadi yang pegang kendali papaku dan perusahaan papaku di pegang asistennya. Ramdan itu tiap bulan dapat uang jajan dan keperluan sekolah sebesar Rp 10 juta namun selalu ia tabung" kata Raihan
" Betul banget,Han. Kita brotherhood itu selalu ada santunan dan itu dananya langsung dari kantong Ramdan dan juga Ramdan melarang kita untuk melakukan foto atau video untuk di posting kecuali untuk dokumentasi aja " kata Alvin
Hening. Kali ini benar-benar hening yang menyesakkan dada. Ucapan Alvin barusan seolah menjadi tamparan paling keras bagi siapa pun di aula itu yang pernah merasa bangga hanya karena melakukan satu kebaikan kecil.
Para guru di barisan VIP tampak mematung. Bu Melly, yang biasanya selalu punya kata-kata motivasi, kini hanya bisa menunduk sambil mengusap sudut matanya yang mendadak basah. Ia tidak menyangka, muridnya yang paling dingin dan paling kaku itu, ternyata memiliki sisi kemanusiaan yang begitu hangat namun terjaga rapat di balik kerah seragamnya.
"Melarang untuk diposting?" gumam seorang guru senior di barisan depan dengan suara bergetar. "Di zaman orang berebut engagement dari konten sedekah, anak itu justru menutup rapat pintu pujian. Luar biasa..."
Di barisan siswa, bisik-bisik yang tadinya bernada iri atau sekadar heran, kini berubah menjadi suasana haru. Banyak dari mereka yang tertunduk malu, termasuk Arga yang kini tampak sangat emosional. Sebagai Ketua OSIS, ia merasa kecolongan bahwa rekan terdekatnya melakukan hal sehebat itu tanpa pernah mencari panggung sedikit pun.
Tari merasakan dadanya sesak oleh rasa bangga yang tak terbendung. Matanya menatap amplop coklat itu dengan gemetar. Sekarang ia paham, kenapa Ramdan selalu bicara soal 'efisiensi' dan 'logika'. Baginya, pamer adalah variabel yang tidak berguna. Keikhlasan adalah satu-satunya data yang tidak butuh validasi dari manusia.
Satu aula itu seolah baru saja mendapat pelajaran karakter paling berharga sepanjang sejarah SMA Kusuma Bangsa. Bukan dari ceramah panjang lebar, tapi dari tindakan diam seorang remaja bernama Ramdan Alvaro.
Keheningan di Aula Kusuma Bangsa bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan sebuah penghormatan tanpa suara. Tari bisa merasakan atmosfer ruangan itu berubah drastis—ada rasa segan dan haru yang menyatu di udara. Ia menunduk, jemarinya mengusap pelan amplop coklat di atas meja sekretaris, seolah lewat benda itu ia bisa menyentuh semangat Ramdan yang sedang berjuang di pulau seberang.
Di barisan depan, para guru masih terdiam, meresapi fakta bahwa salah satu murid mereka telah mempraktikkan pelajaran karakter yang paling sulit: memberi tanpa harus terlihat. Arga, sebagai Ketua OSIS, hanya bisa menghela napas panjang sembari menatap kosong ke arah kursi kosong di sebelahnya—kursi yang seharusnya diduduki oleh sang Waketos.
Tari menarik napas dalam, mencoba menguasai getaran di suaranya sebelum kembali membuka suara untuk melanjutkan rapat. Namun, di dalam hatinya, ia membisikkan sebuah janji yang hanya diketahui olehnya dan Tuhan.
“Ndan... kamu selalu bilang segala sesuatu harus punya alasan logis,” batin Tari hangat. “Tapi hari ini, kamu baru saja membuktikan kalau kebaikanmu adalah satu-satunya variabel yang tidak akan pernah bisa dihitung batasnya oleh logika mana pun.”
Rapat Akbar hari itu pun berlanjut, namun nama Ramdan Alvaro telah terpatri lebih dalam dari sekadar jabatan di struktur organisasi. Di balik kacamata dan sikap dinginnya, ada api keikhlasan yang baru saja menghangatkan seisi SMA Kusuma Bangsa.