NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Mertua

Pagi menjelang, belum ada tanda-tanda Dave akan pulang. Lampu kamar tetap menyala terang, berbeda dari biasanya. Dave hampir selalu mematikan lampu atau menggunakan cahaya temaram ketika berada di kamar, namun hari ini, cahayanya masih memancar seperti menegaskan ketidakhadirannya.

Elia baru saja selesai mencuci pakaian Dave, termasuk dalaman baru yang dibelinya kemarin di mall. Lisa sebenarnya sudah berusaha membujuk agar dialah yang mengurusnya, tapi Elia tetap bersikeras. Baginya, apa pun yang dikenakan Dave haruslah menjadi bagian dari dirinya. Sebuah cara kecil untuk tetap dekat, meski pria itu tak pernah melihat Elia di pelupuk mata nya.

Sementara di apartemen Bianca, Dave bersiap ke kantor. Ia kembali mengenakan pakaian yang kemarin dipakai; sedikit kusut dan berantakan, tapi itu tak terlalu penting baginya. Ia bisa berganti nanti di kantor.

Bianca turun dari tempat tidur dengan pakaian dinasnya, langkahnya ringan namun matanya tak lepas dari Dave. Ia menghampiri, melingkarkan lengan di lehernya, dan menarik napas, menikmati aroma parfum yang menempel di tubuhnya.

"Terima kasih, sayang… kau mau menemani aku semalam," bisiknya, suaranya serak tapi penuh makna.

Dave menoleh, jaraknya begitu dekat. Tangannya lembut merapikan rambut yang jatuh menutupi wajah Bianca. "Aku yang harusnya berterima kasih," katanya rendah, matanya menatap Bianca dalam-dalam. "Semalam… kau membuatku merasa… puas."

Bibir mereka bersentuhan sebentar, hanya cukup untuk membuat napas Bianca tertahan. Ia menutup mata, merasakan kehangatan yang membuat detaknya bertambah cepat.

"Sayang… aku ingin selalu dekat denganmu," ucap Bianca, suaranya hampir bergetar.

Dave menariknya sedikit lebih dekat, merasakan getaran yang sama. "Aku juga, sayang… tapi kau tahu… aku sudah punya istri. Meski tak ada perasaan di sana, aku harus bermain rapi."

Senyum samar muncul di bibir Bianca, tapi matanya menyimpan kerinduan yang tak bisa ia sembunyikan. Dave menatapnya sejenak, lalu menunduk, menempelkan dahinya di dahinya. Dua dunia mereka bertemu sebentar, di antara aturan dan keinginan yang tak bisa mereka abaikan.

Ponsel Dave bergetar, tanda pesan masuk dari Nick. Asisten nya mengabarkan jika ia telah sampai di lobi apartemen. "Nick sudah datang, Sayang. Aku harus ke kantor". pamit Dave. Lalu mengecup bibir Bianca.

"Sebentar Sayang, lima menit saja" katanya menahan lengan sebelum melangkah keluar . Ia menurunkan baju tipis nya itu hingga memperlihatkan dua benda padat.

Dave yang mengerti menundukkan sedikit kepala nya. Lalu menyesap dua benda itu. Jemari Bianca hendak menelusup ke dalam pakaian dalam, namun Dave menahan nya.

"Sayang. Nanti kita teruskan ya. Aku harus segera ke kantor sekarang". Bibir bianca mengerucut.

"Baiklah, hubungi aku jika sudah sampai di kantor"

"Pasti Sayang".

Dave akhirnya mundur, menahan diri agar keinginannya tidak bangkit lagi. Jika ia menyerah sekarang, bisa-bisa ia terlambat masuk kantor. Meski perusahaan itu miliknya sendiri, Dave punya aturan yang berlaku, bukan untuk karyawan, tapi juga untuk dirinya sendiri.

Ponsel Bianca berbunyi tanda pesan masuk.

Clara : Bianca, malam ini kau mau ikut tidak dengan kami ke klub?

Bianca: Tentu saja, pukul berapa?

Clara : Pukul 9 malam aku akan menjemput mu..

Bianca : Baiklah, sampai bertemu nanti malam

Bianca melempar ponselnya pelan ke atas tempat tidur. Matanya tertuju pada belanjaan kemarin yang belum sempat dirapikan. Ia tersenyum kecil sambil mengambil salah satu gaun baru yang dibelinya.

"Sepertinya gaun ini cocok untuk nanti malam," gumamnya, menempelkan kain lembut itu di tubuhnya, membayangkan malam yang akan datang.

Sesampainya di kantor, Dave melihat Bimbim berdiri di lobi, menenteng tas bekal.

"Selamat pagi, Tuan," sapa Bimbim.

"Pagi. Kau sedang apa di sini? Aku kan tidak menyuruhmu datang," jawab Dave dengan nada sedikit ketus.

Bimbim tersenyum tipis. "Nyonya Elia menyuruh saya memberikan makanan ini pada Tuan," ucapnya sambil menyerahkan tas bekal, yang ternyata isinya berbeda dari kemarin.

Dave terdiam sesaat, lalu meraih tas itu. "Terima kasih," katanya singkat.

"Semalam Nyonya juga bertanya kenapa Tuan tidak pulang," lanjut Bimbim.

"Lalu kau bilang apa?"

"Seperti yang Tuan katakan, bahwa Tuan sedang ke luar kota," jawab Bimbim dengan sopan.

Dave hanya mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan Bimbim tanpa berkata lebih banyak. Ia segera masuk ke dalam lift menuju ruangannya.

Begitu pintu lift tertutup, Bimbim mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia segera memberi kabar kepada Elia bahwa bekal sudah berhasil diterima.

Elia yang mendapat kabar itu tersenyum bahagia. Rasa gelisah yang semalam menyelimuti hatinya perlahan memudar.

TIN.. TIN...! Bunyi klakson mobil terdengar di halaman rumah. Elia meletakkan begitu saja ponsel nya di atas meja nakas.

Wajah Elia berseri-seri saat melihat mertua serta kakak ipar nya datang.

"Mom"

"Kak Angel". Sapa nya dengan wajah sumringah.

"Hai Sayang, lama tidak bertemu". Ucap Sarah, lalu menciumi kedua pipi Elia dengan penuh kasih. Angel yang berdiri di samping sarah pun mendekat, memberi pelukan hangat untuk adik iparnya.

"Mom dan Kak Angel kenapa tidak bilang jika akan kemari?"

"Mom memang sengaja ingin memberi mu kejutan sayang". ucapnya.

"Ya, Mom juga sudah tidak lama memarahi anak kesayangannya Dave". Ucap Sarah, yang membuat Elia tertawa.

"Ngomong-ngomong, kemana anak itu?"

"Dave sudah di kantor, Mom," jawabnya singkat, memilih untuk tidak menceritakan bahwa semalam Dave tidak pulang.

Sarah mengangguk paham. Anaknya itu memang tipe pekerja keras. Ia tidak pernah absen meninggalkan perusahaan. "Baiklah".

"Mom dan Kak Angel silahkan istirahat dulu. Biar aku yang buatkan minuman".

Sarah menarik pelan lengan menantu nya. "Tidak usah repot-repot sayang, kami ini keluarga mu bukan tamu. Kami bisa membuatnya sendiri".

"Oh iya, Elia. Ini aku punya hadiah untuk mu".

Mata Elia berbinar saat melihat paper bag yang berisikan box besar di dalam nya. "Wah apa ini, Kak? Lucu sekali box nya".

"Bulan kemarin aku dan suamiku pergi ke Korea. Dan mampir ke salah satu toko yang menjual camilan khas negara sana. Jadi aku membelikan nya untuk keluarga". terang Angel

"Terimakasih banyak ya, Kak Angel". Ucap Elia yang begitu senang mendapat hadiah itu.

"Kau dan Dave juga bisa berlibur kesana sayang". Timpal Sarah.

Elia terdiam sejenak, matanya menatap kotak itu. "Mungkin nanti, saat Dave tidak terlalu sibuk…" gumamnya pelan, sedikit tersenyum.

Di Bandara Suvarnabhumi, tiga pria dengan tinggi hampir sama baru saja tiba. Mereka kembali setelah menyelesaikan pendidikan nya di negeri tirai bambu.

"Akhirnya kita kembali ke tanah kelahiran," ucap

 James penuh rasa syukur. Penerbangan dari China ke Thailand berjalan mulus.

"Benar, aku juga rindu gadis-ga

dis cantik di sini," celetuk Erik, yang pikirannya selalu tentang wanita.

"Guys! Kita harus merayakan kepulangan kita, sekaligus keberhasilan kita meraih gelar dokter spesialis," timpal Albert.

Erik dan James menjentikkan jari bersamaan tanda setuju

"Kau benar, tapi rasanya seperti ada yang kurang," tambah Erik.

"Kau benar, rasanya kurang lengkap," timpal James.

"Siapa ya?"

Tubuh Elia tiba-tiba terasa panas dingin ketika Sarah berkata ingin menginap di rumah. Sarah bahkan sempat menanyakan di mana kamar Elia dan Dave.

Untungnya, Elia tidak kehabisan akal. Dengan cepat, ia mengalihkan pembicaraan dan perhatian Sarah ke topik lain. Dalam sekejap, wanita itu pun lupa akan pertanyaannya, dan suasana kembali normal.

"Mom" ucap Elia pelan

"Ya, Sayang?"

"Aku ingin pergi mengunjungi makam ibuku, apakah Mom dan Kak Angel mau menemaniku?" tanya nya dengan penuh harap.

Sarah tertegun sejenak, matanya sedikit berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak mengunjungi makam sahabatnya. "Tentu, sayang. Sudah lama Mom tidak ke makam ibumu," ujarnya dengan suara lembut, penuh kerinduan yang terselip di setiap kata.

Elia menatapnya sejenak, hatinya terasa hangat. "Bagaimana dengan Kak Angel? Apa mau ikut juga dengan kita?" tanya Elia sambil menatap kakak iparnya dengan harap.

Angel sedikit terhenti, wajahnya memerah. "Uhm, boleh… tapi aku tidak bisa ikut menginap di sini," ucapnya, membuat Sarah menoleh ke arahnya dengan penasaran. "Lho, kenapa?"

Angel menunduk sebentar, tersipu. "Billy bilang dia mau mengajakku dinner romantis," jelasnya dengan nada malu-malu.

Sarah tersenyum lebar, menepuk bahu menantunya. "Wah, bagus itu! Ya sudah, setelah mengantar Mom dan Elia, kau pulang dan bersiap, ya."

"Pasti, Mom!" jawab Angel dengan antusias. Ia segera menoleh ke ponselnya, kembali meladeni chat dari suaminya yang mulai membahas hal-hal dewasa. Wajahnya memerah lagi, tapi matanya berbinar.

Sarah menatap putrinya dengan senyum tipis, sambil menahan tawa kecil. Ia tahu, momen-momen seperti ini. Waktu berdua, saling bercanda, dan tersipu malu. Akan semakin sulit didapat nanti saat mereka sudah punya anak. Hatinya hangat, melihat keluarga kecil ini masih bisa menjaga momen manis di tengah kesibukan mereka.

Elia tersenyum, ikut merasakan suasana hangat itu. Tubuhnya yang semula tegang karena harus menghadapi Sarah kini terasa lega. Ia sadar, kadang kecerdikan kecil dan sedikit keberanian bisa membuat semua berjalan lancar, dan momen kebersamaan tetap indah.

"Baiklah, kalau begitu aku bersiap dulu".

Elia mengundurkan diri dari hadapan keduanya, masuk ke kamar, dan menguncinya rapat-rapat. Begitu berada di dalam, ia segera meraih ponselnya dan mengabari Dave bahwa Sarah akan menginap di rumah.

Di tempat lain, Dave sedang memimpin rapat bersama jajaran direksi. Banyak hal yang ia bahas—perusahaannya yang bergerak di bidang manufaktur tengah mengalami peningkatan. Penjualan barang-barang elektronik mereka sedang tinggi, banyak dicari konsumen.

Namun, ada satu hal yang membuat Dave berhenti sejenak. Salah satu manajer dari bagian kosmetik dan retail melaporkan bahwa penjualan produk mereka sedikit menurun. Alis Dave berkerut, matanya menatap laporan itu seolah ingin menembus angka-angka itu untuk menemukan akar masalah.

"Tidak mungkin… penjualan menurun di tengah tren pasar yang stabil. Apakah strategi kita gagal? Atau pesaing bergerak lebih cepat dari perkiraan?" pikir Dave, napasnya tenang namun setiap ototnya tegang.

"Marketing kosmetik, angkat tangan," titah Dave tegas. Beberapa staf langsung mengangkat tangan, tubuh mereka kaku, wajah pucat. Mereka merasakan tatapan Dave yang menelusuri seluruh ruangan, penuh evaluasi dan intimidasi halus.

"Kenapa bisa mengalami penurunan?" lanjut Dave, suara rendah tapi menggetarkan.

Salah satu staf maju, mencoba terdengar yakin. "Permintaan pasar menurun, Tuan. Konsumen mengeluhkan harga terlalu tinggi, dan takaran produk semakin berkurang," ucapnya dengan suara bergetar.

Sejenak, ruangan hening. Beberapa staf menatap satu sama lain, tampak panik. "Apa aku salah strategi? Apa Dave akan marah?" pikir seorang marketing junior sambil menelan ludah.

Dave tetap tegap, diamnya menekan seluruh ruangan. Di benaknya, ia mulai menganalisis cepat:

"Harga tinggi bikin margin bagus tapi konsumen kabur. Takaran dikurangi agar biaya rendah tapi citra produk terancam. Harus ada solusi seimbang… promosi kreatif? Paket bundling? Atau rebranding sebagian produk? Waktu tidak bisa menunggu."

Lalu, suaranya pecah, rendah tapi menggetarkan: "Lalu… apa solusimu?"

Seorang manajer senior menelan ludah, mencoba menenangkan diri. "Ini saatnya membuktikan diri… atau kita akan kelihatan lemah di depan bos," pikirnya. "Kami bisa menurunkan harga, sambil menambahkan paket bundling dan kampanye promosi, Tuan. Itu bisa meningkatkan permintaan tanpa merusak citra," jawabnya.

Dave mengangguk, tapi tatapannya tetap tajam. Beberapa staf tampak sedikit lega, namun ketegangan masih terasa. Beberapa marketing junior saling berpandangan, panik sekaligus terpacu. Mereka tahu, keputusan Dave bisa menentukan masa depan tim mereka dan reputasi perusahaan.

Rapat itu berubah menjadi arena ujian. Dave bukan hanya mencari solusi, tapi juga menilai kesiapan tim menghadapi tekanan, kemampuan mereka berpikir cepat, dan keberanian mengambil risiko. Setiap kata, setiap laporan, menjadi cerminan dari ketajaman dan strategi pemimpin yang tidak bisa diabaikan.

Di tengah suasana rapat yang tegang, ponsel Dave berbunyi, menandakan panggilan masuk. Ia melirik sekilas ke layar yang sengaja diletakkan di atas meja. Melihat nama Elia, ia mengabaikan panggilan itu. Tapi wanita itu tidak menyerah, terus mencoba menghubunginya.

Saat panggilan berhenti, Dave segera mengirim pesan:

Dave: Ada apa?

Elia: Mom dan Kak Angel sedang berkunjung ke rumah.

Dave: 👍

Elia: Mom mengatakan kalau dia akan menginap.

Dave terdiam sejenak, tidak langsung membalas. “Jika Mom menginap di rumah… dia tahu aku dan Elia tidur terpisah. Tidak! Jangan sampai Mom tahu, urusannya bisa kacau,” gumamnya dalam hati.

Akhirnya ia kembali membalas pesan Elia:

Dave: Ajak Mom dan Angel kemana saja. Saat kau sedang bersama mereka, hubungi Lisa untuk memindahkan barang-barangmu ke kamar ku.

Elia: Baiklah… Jadi nanti malam kita akan tidur satu kamar?

Dave mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya terdengar berat. Ia teringat kamar di rumahnya yang sudah penuh. Sebenarnya, ia bisa saja membeli rumah yang lebih megah dengan kamar lebih banyak, tapi untuk saat ini belum terpikirkan. Apalagi, ia masih menganggap Elia sebatas istri di atas surat perjanjian, tidak lebih dari itu.

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!