Jiao Lizhi, 25 tahun, seorang agen profesional di abad ke-21, tewas tragis saat menjalankan misi rahasia. Yatim piatu sejak kecil, hidupnya dihabiskan untuk bekerja tanpa pernah merasakan kebahagiaan.
Namun tak disangka, ia terbangun di dunia asing Dinasti Lanyue, sebagai putri Perdana Menteri yang kaya raya namun dianggap “tidak waras.” Bersama sebuah sistem gosip aneh yang menjanjikan hadiah. Lizhi justru ingin hidup santai dan bermalas-malasan.
Sayangnya, suara hatinya bersama sistem, dapat didengar semua orang! Dari keluhan kecil hingga komentar polosnya, semua menjadi kebenaran istana. Tanpa sadar, gadis yang hanya ingin makan melon dan tidur siang itu berubah menjadi pejabat istana paling berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selir Cun
Batuk Kaisar menggema di aula sidang yang luas. Ia menepuk dadanya pelan, punggungnya sedikit membungkuk, berusaha keras menampilkan ketenangan yang dipaksakan. Kasim utama sigap maju setengah langkah, siap menopang, namun Kaisar mengangkat tangan, isyarat tegas agar tidak berlebihan.
“Tidak… apa-apa,” ucapnya singkat, suara sedikit serak.
Di bawah singgasana, para pejabat berdiri kaku. Tak satu pun berani mengangkat kepala. Udara terasa berat, seolah satu kalimat lagi saja bisa membuat petir menyambar aula istana.
Sementara itu, Jiao Lizhi justru tenggelam dalam pikirannya sendiri. Wajahnya berubah dari geli menjadi sedikit merenung, lalu ia kembali berbicara pada sistemnya.
“Gugu,” gumamnya dalam hati, “Kalau Yang Mulia benar-benar mencintai permaisuri, kenapa ia memelihara begitu banyak selir?”
Nada suaranya terdengar tulus, namun isinya seperti pisau kecil yang pelan-pelan mengiris.
“Kasihan sekali permaisuri,” lanjutnya,
“Sudah menerima menjadi istri, malah harus berbagi. Ckckck…”
Tuan Jiao hampir pingsan. “Sudah… sudah cukup… Kenapa kau tidak berhenti?!”
Ia menutup mata, jantungnya berdentum keras. Beberapa pejabat tua bahkan sudah menyiapkan mental.
[Tuan Rumah… jangan katakan begitu. Di zaman kuno ini, wajar seorang laki-laki mempunyai lebih dari satu wanita.]
“Aku tau. Tapi... Uh apa mereka tidak kasian dengan miliknya yang tiap waktu dipakai? Apa mereka tidak takut terkena penyakit kelamin? Uh, jika itu aku, aku lebih baik pergi, dan kemudian keliling dunia. Memangnya hanya ada satu pria di dunia ini?”
Tuan Jiao sudah mengelap keringat di dahi nya berulang kali,sementara pernyataan Jiao Lizhi di dalam hati penuh dengan pro kontra. Dan Kaisar merasa kasihan terhadap putra nya jika memang mempunyai perasaan terhadap nona Jiao ini, sekaligus ia juga memberikan apresiasi mengesankan dengan pendapatnya.
[Lupakan, Tuan Rumah. Aku punya berita yang jauh lebih panas lagi. Apa kau ingin mendengar nya?]
Jiao Lizhi langsung berbinar. “Apa?! Katakan padaku! Wah, ini makin seru. Membongkar rahasia kaisar benar-benar candu!”
Di atas singgasana, jari Kaisar mencengkeram sandaran kursi dengan keras. Urat di punggung tangannya menonjol. Dadanya naik turun pelan, ditahan dengan disiplin seorang penguasa, namun firasat buruk mulai merayap. Berita panas…?Tentang apa lagi…
Sebenarnya ia ingin sekali menghentikan persidangan, karna Jiao Lizhi bergosip tentangnya. Tapi ia juga penasaran, berita apa yang lebih panas dari pada rahasia yang tadi di ceritakan.
[Saat ini, Yang Mulia… sedang mengenakan ‘topi hijau’.]
DUARR.
Jika kata-kata bisa meledak, kalimat itu sudah menghancurkan seluruh aula. Wajah Kaisar membeku. Para pejabat terperanjat. Beberapa bahkan refleks berlutut setengah.
“Apa…?” Jiao Lizhi terbelalak.
“Dari selir mana? Siapa yang berani memberi topi hijau pada kaisar?”
Kaisar perlahan berdiri dari singgasananya. Tidak ada amarah yang meledak. Tidak ada teriakan. Justru itu yang membuat semua orang gemetar.
[Hehehe… ini selir yang beberapa bulan lalu baru masuk harem.]
“Yang baru?”
[Ya. Karena selama menikah, Yang Mulia belum pernah mengunjungi kamarnya. Ia kini menjalin hubungan terlarang dengan seorang pengawal.]
PLAK.
Sesuatu seperti retakan terdengar, bukan dari lantai batu, melainkan dari harga diri kekaisaran.
Para pejabat langsung berlutut serentak.
“AMPUN YANG MULIA!!”
Suara mereka menggema panik. Tak ada yang berani mengangkat kepala. Keringat dingin membasahi punggung mereka.
Jiao Lizhi, yang sama sekali tidak melihat situasi sekitar, malah menepuk tangan kecilnya dalam hati.
“Wow. Ini benar-benar mengejutkan. Cepat katakan, Gugu. Selir siapa?”
[Selir Cun.]
“Cun?”
[Dari keluarga Cun.]
Jiao Lizhi berpikir cepat. “Oh, marga Cun itu… bukankah dari Rumah Marquis Hanyang?”
“Cun Gu?”
[Benar sekali.]
Di atas singgasana, Kaisar menutup mata sejenak.
Saat ia membukanya kembali, udara disekitar terasa lebih dingin dari biasanya.
Sementara itu, sistem kembali berbicara, seolah sengaja menuangkan minyak ke api.
[Oh tidak, Tuan Rumah. Saat ini… Selir Cun sedang bersenang-senang di kediamannya.]
“Apa?!”
“Kenapa ia harus bermain disiang boleh. Di saat kaisar ada di sedang di pengadilan?! Ckckckck.”
Jiao Lizhi mendadak merasa kecewa. “Ah, sayang sekali… andai aku bisa melihatnya langsung. Rasanya ingin menangis karena tidak ada tontonan.”
KRAK.
Kaisar melangkah turun dari singgasana. Langkahnya berat. Setiap tapak seolah memukul lantai batu.
Tanpa menoleh lagi, Kaisar meninggalkan aula sidang, jubah kekaisarannya berkibar dengan aura yang membuat siapa pun enggan bernapas.
Tujuannya satu. Kediaman Selir Cun.
Sementara di Aula, Jiao Lizhi yang merasa aneh, “Tunggu, kenapa tidak ada suara disekitar?”
Jiao Lizhi pelan-pelan mendongak, dan ia melihat sekelilingnya, para pejabat bersujud sementara di singgasana, kaisar telah menghilang.
“Kenapa mereka semua bersujud? dan kemana Kaisar berada?” ucap Jiao Lizhi sambil bingung, dan ia ditarik pakaiannya oleh sang ayah. Lalu ia ikut bersujud.
“Ayah, apa yang kau lakukan?”
Jiao Wenqing mendengar pertanyaan anaknya, “Ini semua gara-gara kamu!”
“Hah?”
Para pejabat menganggukkan kepalanya, ia ini gara-gara Jiao Lizhi, sekarang kaisar akan menangkap basah pezinah itu.
Dikediaman Selir Cun. Tirai sutra bergoyang pelan tertiup angin malam.
Suara napas tertahan, bercampur bisikan rendah.
“A… sayang,” suara seorang pria terdengar parau, nyaris bergetar. “Kenapa kita tidak lari saja dari istana ini?”
Selir Cun terdiam sejenak. Tangannya mencengkeram dadanya pria didepannya, jemarinya gemetar.
“Jangan katakan itu lagi,” ucapnya pelan, nyaris seperti permohonan. “A-Chen… itu berbahaya.”
Pria di hadapannya, Chen Gyu, tersenyum miring. Tatapannya terlalu lembut.
“Aku tidak bisa hidup tanpamu,” katanya lirih. “Bukankah kau juga merasakannya?”
Selir Cun menunduk, hatinya bergejolak. “Aku… aku sudah masuk istana. Aku adalah selir Yang Mulia. Jika beliau tahu tentang kita...”
“Lalu kenapa?” potong Chen Gyu cepat. “Berbulan-bulan kau di sini, dan satu kali pun kaisar tidak pernah datang.”
Selir Cun menggigit bibirnya. Wajahnya pucat. “Jangan bicara seperti itu…”
“Kau tahu aku benar,” lanjut Chen Gyu, suaranya rendah namun penuh keyakinan. “Ia tidak peduli. Ia bahkan tidak pernah melirikmu.”
Keheningan sesaat.
Lalu suara Selir Cun bergetar, “Aku masih… miliknya.”
Chen Gyu terkekeh kecil, nada suaranya berubah tajam.
“Jabatan selir tidak ada artinya jika kau dibiarkan sendirian,” katanya. “Ia hanya punya anak dari permaisuri. Dari selir-selir lain? Tidak ada.”
“Jangan katakan hal seperti itu…” suara Selir Cun hampir menangis.
Namun Chen Gyu sudah terlanjur melangkah terlalu jauh.
“Mungkin saja,” katanya, tertawa rendah, “ia memang sudah...”
Di Luar Kediaman Selir Cun. Udara pagi terasa membeku. Wajah Kaisar sedingin besi yang dicelupkan ke es.
Para kasim dan prajurit di belakangnya tidak berani bernapas. Keringat dingin mengalir di pelipis mereka.
Kaisar mengangkat tangannya perlahan. “Seret mereka.”
BRAK!!
Pintu didobrak terbuka.
Teriakan terkejut memecah malam.
“Apa..?!”
“Jangan masuk!!”
Kekacauan seketika memenuhi ruangan. Prajurit bergerak cepat dan terlatih, menarik dua sosok yang berusaha menutupi diri mereka dengan kain seadanya.
“Lepaskan! Lepaskan aku!”
“Aku ini selir yang mulia, berani nya kau menyeret ku!!”
Tangisan dan suara panik bercampur jadi satu. Pengawal berdecak menjijikan kepada selir satu ini. Ia tahu status nya, tapi Bernai nya memelihara seorang simpanan?
Tak butuh waktu lama, empat prajurit melemparkan mereka ke tanah di hadapan Kaisar.
Chen Gyu tersungkur, pakaiannya bahkan belum di ikat. Selir Cun berlutut, tubuhnya gemetar, hanya berselimut kain tipis, rambutnya acak-acakan.
Ia mendongak, wajahnya basah oleh air mata. “Yang Mulia…” suaranya pecah. “Hamba...”