NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Apartemen Tak Berpenghuni

Kota yang biasanya tampak indah dari balik jendela kaca limosin, kini terasa seperti labirin raksasa yang siap menelan mereka. Sirene polisi masih terdengar menjauh di belakang, namun ketegangan di dalam mobil justru semakin memuncak.

Harry tidak lagi bersandar santai, matanya terus memantau tablet digital yang terhubung dengan ribuan kamera pengawas kota.

"Luca menutup akses jalan utama ke pelabuhan dan bandara," suara Harry memecah keheningan, dingin dan penuh perhitungan. "Dia tahu kita masih di kota. Dia menggunakan seluruh jaringannya untuk memasang barikade ilegal."

Kayra mencoba menenangkan debaran jantungnya. Adrenalin dari auditorium tadi mulai surut, menyisakan rasa lelah yang luar biasa. "Lalu kita ke mana? Kita tidak bisa kembali ke dermaga rahasia?"

"Terlalu berisiko. Setiap titik keluar sudah diawasi oleh orang-orang Luca yang menyamar sebagai sipil. Kita butuh tempat untuk menghilang selama beberapa jam sampai tim Enzo bisa membuka jalur evakuasi baru," Harry terdiam sejenak, jarinya menelusuri peta digital kota.

"Kita butuh tempat yang tidak terdaftar dalam aset Marcello, dan tempat yang tidak pernah dicurigai oleh Luca sebagai tempat persembunyian mafia."

Kayra menatap ke luar jendela, menyadari mereka sedang melintasi distrik lama di bagian barat kota, kawasan apartemen menengah ke bawah yang penuh dengan bangunan bata merah pudar. Ingatannya tiba-tiba ditarik kembali ke masa dua tahun lalu.

"Aku punya satu tempat," bisik Kayra pelan. "Apartemen nomor 402 di blok B, Jalan Willow. Itu milik Profesor Elena yang diberikan atas namaku sebagai hadiah kelulusan. Aris tahu aku punya apartemen di kota, tapi dia mengira aku sudah menjualnya saat aku melarikan diri ke Elara. Namanya tidak terdaftar di catatan kepemilikan publik karena itu adalah bagian dari warisan keluarga Valeska yang dirahasiakan."

Harry menoleh, menatap Kayra dengan alis terangkat. "Blok B Jalan Willow? Itu daerah pemukiman padat. Bagus untuk menghilang."

Harry segera memberikan instruksi kepada sopirnya melalui interkom. Limosin itu memutar balik di gang sempit, lalu mereka berpindah ke sebuah mobil sedan perak yang membosankan, kendaraan cadangan yang disiapkan Enzo di sebuah gudang tua, untuk menghindari pelacakan plat nomor.

Jalan Willow tampak remang-remang saat mereka tiba. Bau hujan yang baru saja turun bercampur dengan aroma asap knalpot. Harry turun lebih dulu, mengenakan jaket hoodie gelap untuk menutupi tuksedonya, sementara Kayra membungkus gaun hitamnya dengan mantel panjang yang ia temukan di bagasi mobil.

Mereka menaiki tangga darurat yang berkarat untuk menghindari kamera di lobi utama. Harry memegang senjata dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggandeng erat jemari Kayra. Saat mereka sampai di depan pintu nomor 402, Kayra merogoh bagian atas bingkai pintu dengan jari gemetar. Di sana, di bawah tumpukan debu, kunci cadangan itu masih ada.

Klik.

Pintu terbuka dengan suara derit pelan. Bau debu dan udara pengap langsung menyergap indra penciuman mereka. Harry masuk lebih dulu, memeriksa setiap sudut ruangan dengan cahaya senter kecil dari ponselnya, memastikan tidak ada penyusup.

"Aman," gumam Harry.

Kayra melangkah masuk, dan hatinya mendadak terasa sesak. Ruangan itu masih sama seperti saat ia meninggalkannya dua tahun lalu. Ada sebuah mikroskop tua di meja sudut, buku-buku medis yang tertumpuk rapi, dan sebuah foto kecil di atas rak, foto dirinya yang sedang tersenyum lebar bersama Profesor Elena di hari wisudanya.

"Maaf, tempatnya sangat kecil," ujar Kayra, suaranya sedikit bergetar. Ia menyalakan lampu temaram di sudut ruangan.

Harry melepaskan rompi antipelurunya dan meletakkannya di lantai. Ia menatap sekeliling apartemen studio itu. Hanya ada satu tempat tidur kecil, sebuah dapur mini, dan tumpukan barang yang menandakan kehidupan sederhana seorang dokter muda yang ambisius.

"Tempat ini lebih nyata daripada seluruh mansionku," kata Harry lirih. Ia berjalan mendekati meja kerja Kayra, menyentuh permukaan mikroskop yang berdebu. "Jadi di sini tempat kau menghabiskan malam-malammu sebelum dunia menghancurkanmu?"

Kayra mengangguk, ia duduk di pinggir tempat tidur yang terasa keras. "Aku dulu berpikir bahwa menyelamatkan nyawa adalah satu-satunya hal yang penting. Aku tidak pernah membayangkan akan berakhir di sini, bersembunyi bersama seorang pria paling dicari di negara ini."

Harry mendekat, ia berlutut di depan Kayra, meletakkan kedua tangannya di atas lutut wanita itu. Tatapannya yang biasanya sedingin es kini tampak hangat oleh pantulan lampu kuning apartemen.

"Kadang-kadang, kita harus kehilangan semua yang kita miliki hanya untuk menyadari apa yang benar-benar berharga, Kayra,” ucapnya tegas.

Kayra menatap tangan Harry. Perban di tangan pria itu sedikit berdarah lagi akibat baku tembak di rumah sakit tadi. Tanpa kata, Kayra bangkit dan menuju dapur, mengambil kotak P3K tua yang masih tersimpan di lemari atas.

"Kemari," perintah Kayra, kembali ke mode dokternya.

Harry tersenyum tipis dan duduk di lantai, membiarkan Kayra mengobati luka di tangannya. Suasana apartemen yang sempit itu menciptakan keintiman yang menyesakkan. Suara tetesan hujan di luar jendela menjadi musik latar di antara mereka.

"Kau tahu," bisik Harry saat Kayra sedang melilitkan perban baru di tangannya. "Saat di auditorium tadi, ketika kau berdiri di depan kamera dan menantang Aris ... aku merasa bahwa kau bukan lagi dokter yang kutemukan di puskesmas Elara. Kau adalah wanita yang paling berbahaya di ruangan itu."

Kayra berhenti sejenak, matanya bertemu dengan mata Harry. "Apakah itu membuatmu takut?"

"Tidak," Harry meraih tengkuk Kayra, menariknya perlahan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Itu membuatku menyadari bahwa aku tidak salah memilih partner. Kau memiliki kegelapan yang indah, Kayra. Sesuatu yang membuatku ingin terus melindungimu, meskipun aku tahu kau bisa melindungi dirimu sendiri."

Harry tidak menciumnya. Sesuai dengan batasan yang telah mereka sepakati, ia hanya menempelkan keningnya pada kening Kayra. Napas mereka menyatu dalam keheningan apartemen tua itu.

Kayra merasakan getaran di dadanya, rasa aman yang seharusnya tidak ia rasakan di sisi seorang mafia. Ia menyadari bahwa di apartemen yang penuh kenangan pahit ini, keberadaan Harry justru memberikan kekuatan baru.

"Harry," bisik Kayra. "Kenapa kau melakukan semua ini untukku? Kau bisa saja mengambil data Elena dan meninggalkanku di pulau."

Harry menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Kayra dengan intensitas yang mutlak. "Karena sejak kau memegang jantungku di tengah hutan itu, kau sudah menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya secara biologis seperti yang biasa kau lakukan, tapi ... rasanya seperti jantungku tidak mau berdetak jika kau tidak ada untuk menyaksikannya."

Kayra tertegun. Kata-kata itu lebih tajam dari peluru mana pun. Sebelum ia sempat membalas, ponsel satelit Harry bergetar di atas meja.

"Enzo," Harry menjawab dengan cepat. Wajahnya kembali menjadi dingin dan profesional dalam sekejap. "Lapor."

"Tuan, Luca sedang menyisir Jalan Willow! Seseorang melihat sedan perak itu masuk ke distrik barat. Kita punya waktu kurang dari dua puluh menit sebelum mereka mengepung blok ini!"

Harry segera berdiri, ia menyambar rompi dan senjatanya. "Siapkan titik penjemputan di atap gedung seberang. Kita akan melompat lewat balkon."

Harry menatap Kayra yang kini tampak pucat. Ia meraih tangan Kayra, meremasnya dengan kuat. "Jangan lepaskan tanganku. Kita akan keluar dari sini."

Kayra menatap apartemennya untuk terakhir kali. Ia menyadari bahwa tempat ini bukan lagi pelabuhannya. Pelabuhannya kini adalah pria yang sedang menariknya menuju bahaya yang lebih besar.

"Ayo," ujar Kayra tegas.

Mereka keluar menuju balkon apartemen, siap menghadapi malam yang akan menentukan hidup atau mati mereka di kota ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!