Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak mengenali suami sendiri
Detak jantung Kaivan berlari tanpa aba-aba. Wanita itu benar-benar berdiri di hadapannya, bukan bayangan, bukan lagi foto yang selama ini ia pandangani setiap malam. Itu Ravela, istri sirinya sudah kembali ke Indonesia.
Kenapa Ibu dan mertuanya tidak mengatakan apa pun tentang kepulangan Ravela padanya.
Kaivan menarik napas perlahan, berusaha menguasai diri. Nalurinya ingin langsung melangkah menghampiri, memastikan dengan mata kepalanya sendiri.
Tapi situasi tidak memungkinkan. Terlalu banyak orang. Terlalu banyak pasang mata. Ia tak ingin menimbulkan keributan dan kehebohan disini.
Seolah merasakan tatapan itu, Ravela mendongak dan mata mereka bertemu.
Ravela terlihat terkejut. Jeda sepersekian detik tercipta, cukup untuk membuat Kaivan menahan napas.
Namun Ravela justru melangkah mendekat ke tempat Kaivan berdiri. Debar pada jantung Kaivan semakin tidak karuan dibuatnya.
“Anda kan yang waktu itu?” tanya Ravela, tersenyum tipis.
Hati Kaivan mencelos. Itu berarti Ravela belum mengetahui bahwa dirinya adalah suami dari wanita itu.
“Ah... iya benar,” jawab Kaivan singkat.
Ravela mengangguk kecil. “Saya belum sempat menghubungi Anda. Soal mobil waktu itu, kartu nama yang Anda kasih hilang. Karena itu sampai sekarang saya belum mengganti kerusakan mobil anda," jelasnya terlihat bersalah.
Kaivan menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Saya juga tidak mempermasalahkannya,” ujarnya. Dalam hati ia berkata ternyata karena itu Ravela belum menghubunginya sampai sekarang.
“Terima kasih,” ucap Ravela tulus. Lalu ia mengulurkan tangan. “Saya Ravela.”
Kaivan menatap tangan itu sejenak, lalu menyambutnya. “Kaivan. Panggil saja Kai.”
DEG!
Ravela sempat terdiam sepersekian detik. Kaivan... Nama suaminya juga Kaivan. Tapi ia segera menepis pikiran itu. Nama Kaivan di dunia ini bukan hanya satu saja.
Belum sempat percakapan berlanjut, Raynand tiba-tiba menyelip masuk dan langsung menjabat tangan Ravela dengan antusias.
“Saya Raynand,” katanya cepat. “Saya dengar-dengar, Anda Kapten yang lagi dibicarakan semua orang di sini itu, ya?”
Ravela terkekeh kecil. “Mereka terlalu berlebihan.”
Kaivan dan Raynand sama-sama terpaku melihatnya tawa Ravela yang menurutnya cantik, kontras dengan kesan yang beredar tentang dirinya. Banyak orang menyebut Ravela dingin dan tegas, tapi di hadapan mereka, ia justru terlihat hangat dan menenangkan.
“Cantik,” celetuk Raynand tanpa sadar.
Ravela mengangkat satu alis. “Maksud Anda?”
Raynand langsung kelabakan. “Eh—bukan begitu, Kapten. Maksud saya... eh itu bunganya cantik,” katanya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
Ravela tersenyum samar, lalu melirik jam tangannya. “Saya pamit dulu. Ada laporan yang harus saya sampaikan ke Komandan Posko.”
“Silakan,” jawab Kaivan dan Raynand hampir bersamaan.
Mereka berdua menatap kepergian Ravela sampai sosoknya menghilang di antara tenda-tenda.
Raynand mendecak pelan. “Sumpah. Dia cantik banget. Aku deketin boleh kali ya.”
Kaivan langsung menoleh tajam. “Jangan macam-macam, Ray. Kamu sudah punya tunangan.”
Raynand terkekeh. “Ah, santai. Aku juga belum menikah. Lagian, orang yang sudah menikah saja masih bisa selingkuh.”
Ucapan itu membuat rahang Kaivan mengeras. “Kalau kamu berani dekati Ravela, aku bakal narik semua saham ku di perusahaan mu detik ini juga!” ancamnya menusuk.
Raynand menatap Kaivan dengan dahi berkerut. “Kamu kenapa sih? Jangan-jangan kamu juga suka sama Kapten Ravela?”
“Iya,” jawab Kaivan tegas tanpa ragu. “Aku suka sama dia. Karena dia istriku.”
Raynand tertawa terbahak-bahak. “Istri? Kamu bercanda apa gimana, Kai? Kalau kamu mau, kita bisa bersaing secara sehat untuk dapetin dia.”
Kaivan menatapnya datar. “Apa mukaku terlihat bercanda, Raynand Wijaya?” ucapnya dengan nada dingin.
Tawa Raynand langsung terhenti. Ia mengenal tatapan itu. Kalau Kaivan sudah seperti itu, berarti ia serius.
“Kamu serius?” Raynand menelan ludah. “Terus kenapa dia seperti tidak mengenalmu?”
Kaivan menghela napas panjang. “Panjang ceritanya.”
Kaivan pun menceritakan semuanya dari awal. Insiden kecil di jalan, mobil Ravela yang mengerem mendadak, Ravela ingin berganti rugi tapi sampai sekarang wanita itu belum menghubunginya.
Kaivan juga menjelaskan bahwa pernikahannya dengan Ravela terjadi secara mendadak, atas permintaan sang ayah, dan dilangsungkan secara siri.
Namun, sehari sebelum akad, Ravela mendapat penugasan mendadak ke Lebanon. Sejak saat itu, mereka tak pernah benar-benar punya kesempatan untuk saling mengenal sebagai suami dan istri.
“Jadi... aku menikah tanpa adanya mempelai wanita,” ucap Kaivan pelan.
Raynand terdiam mencerna cerita Kaivan, lalu mengangguk pelan. “Ternyata begitu ceritanya. Miris banget hidup kamu, Kai. Calon istrimu pergi satu hari sebelum akad, kamu menjalani pernikahan itu sendirian, dan kalian bahkan belum sempat saling mengenal. Sekarang, ketika akhirnya kalian bertemu, dia malah sama sekali tidak tahu kalau pria yang berdiri di depannya adalah suaminya sendiri.”
Kaivan mendesah. “Nanti pelan-pelan aku akan memberitahunya. Kalau aku bilang sekarang, dia pasti kaget.”
Raynand menyeringai tipis. “Lucu juga ya. Kamu malah nikah duluan dibanding aku yang sudah bertunangan bertahun-tahun.”
“Makanya nikah. Sudah tinggal bareng, tidur bareng, tapi sampai sekarang belum dinikahi juga,” ucap Kaivan.
Raynand mendengus. “Sialan! Tapi lebih kasihan kamu sih, tidak pernah dapat jatah malam pertama. Pasti jamuran tuh adik kamu,” ledeknya sambil tertawa.
Kaivan melirik tajam Raynand, rasanya ingin sekali ia jadikan sahabatnya itu tumbal proyek. “Tunggu saja. Tidak lama lagi aku akan merasakannya.”
Raynand tertawa lagi, sementara Kaivan kembali menatap ke arah tenda posko, ke arah Ravela menghilang.
Malam turun perlahan di desa itu. Api unggun menyala tenang, cahayanya memantul di wajah Ravela dan Kirana yang duduk bersebelahan. Sedangkan para prajurit lain sibuk dengan makan malam atau berbincang di dalam tenda.
Langkah kaki terdengar mendekat. Kaivan muncul dari arah gelap, membawa dua gelas kopi panas. Ia berhenti di depan mereka, “Apa saya boleh duduk di sini?” tanyanya dengan nada sopan.
Ravela dan Kirana menoleh bersamaan. Kirana lebih dulu tersenyum dan mengangguk. “Silakan saja, Mas.”
Kaivan duduk di sisi Ravela, masih menyisakan jarak. Lalu ia menyodorkan satu gelas kopi pada Ravela. “Mau minum kopi?” tawarnya. Kaivan akan mencoba mendekati Ravela secara perlahan.
Ravela menerimanya tanpa ragu. Udara malam ini cukup dingin dan ia butuh minuman yang bisa menghangatkan tubuhnya. “Terima kasih, Mas.”
Kirana menyipitkan mata, pura-pura cemberut. “Lho, saya tidak ditawarin juga, Mas?”
Kaivan langsung mengangkat gelas satunya. “Oh, ini buat kamu.”
Kirana tertawa pelan. “Saya cuma bercanda. Saya tidak suka kopi.”
Kaivan manggut-manggut, lalu menyesap minumannya sendiri. “Yang lain ke mana? Kok kalian berdua di sini?”
“Ada yang di dalam tenda, ada juga yang masih makan malam,” jawab Ravela.
“Oh gitu.”
Beberapa detik berlalu dalam diam. Api unggun terus menyala, sementara Kirana tiba-tiba melirik Kaivan dengan senyum usil. “Mas Kai sudah punya pacar atau sudah menikah belum?” tanyanya.
Kaivan mengangkat satu alis. “Memangnya kenapa?”
Kirana tersenyum lebar, lalu menyenggol lengan Ravela. “Kalau masih single, mau tidak sama sahabat saya ini? Dia juga single, lho.”
Ravela refleks memukul paha Kirana. “Apaan sih, Kirana.”
Kaivan terkekeh kecil. “Masa wanita cantik seperti kapten Ravela belum punya pasangan?”
Ravela terdiam sepersekian detik. Dadanya berdebar tanpa alasan yang jelas. Ia segera menyadarkan diri bahwa ia sudah menikah, meski status itu terasa asing di benaknya.
“Dia sudah lama jomblo, Mas. Terakhir pacaran sembilan bulan yang lalu karena tidak di res... emmppt.” Mulut Kirana langsung dibekap Ravela.
“Diam, Kirana,” tegur Ravela tegas, lalu menoleh ke Kaivan. “Jangan dengarkan omongan dia, Mas.”
Kaivan tersenyum tipis. “Iya, anda tenang saja, Kapten.”