Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nggak Setuju! 30
Fyuuuh
"Bang, baru balik? Kemana aja sih dari kemarin nggak kelihatan."
Dani mengerutkan alisnya ketika melihat keberadaan Nanta di rumahnya. Tepat pukul 00.00 malam, Dani sampai di rumah. Ya hari itu juga dia kembali setelah menyelesaikan urusannya dengan Rohan.
Meminta maaf, itu adalah tujuan Dani bertemu Rohan meski entah apakah dirinya benar dimaafkan atau tidak. Bagi Dani, apapun sikap Rohan, ia tak akan mempermasalahkannya.
"Ngapain kamu di sini, tunggu."
Ketika melihat sang adik, Dani seolah mengingat sesuatu.
"Nan, cewekmu yang dulu mutusin kamu itu rumahnya dimana emang?" tanya Dani tiba-tiba.
"Di desa X salah satu desa yang letaknya di Provinsi Jawa Tengah."
"Desa ini bukan?"
Nanta menganggukkan kepalanya ketika Dani menunjukkan alamat yang dia dapat dati Gery.
"Aah ternyata. Pantesan aku ngerasa familier," gumamnya lirih. Ketika Dani melihat gadis yang masuk ke rumah Rohan, dia seolah mengenal gadis itu. Dia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Ternyata gadis itu adalah gadis yang pernah jadi kekasih Nanta.
Meski tidak mengenal secara langsung, tapi Dani beberapa kali melihat Nanta bersama gadis itu.
"Terus kemarin kamu datang ke sana buat minta balikan gitu? Dan kamu juga bilang kalau kamu mau ngelamar dia?"
"Iya bener. Abang tumben inget. Nah gimana, Bang. Abang setuju kan?"
Nanta tersenyum lebar, matanya juga berbinar dengan cerah ketika kakaknya mengingat kembali tujuan dan keinginannya itu. Wajah Nanta juga menunjukkan sebuah pengharapan.
"Nggak, nggak setuju sama sekali. Kalau kamu serius sama cewek itu,seharusnya kamu nggak main-main sama sekertaris mu itu. Nikahin aja sekertaris mu itu. Kasihan anak gadis orang cuma dapat bekasan cowok kayak kamu. Nikah itu bukan buat main-main Nanta. Jadilah laki-laki yang bener dalam segala hal itu baru kamu bisa nikahin wanita yang benar-benar pas untuk masa depan rumah tanggamu."
Dani berkata demikian lalu langsung melenggang pergi masuk ke kamarnya. Dia tahu dirinya juga lelaki brengsek, tapi setidaknya dia tidak ingin wanita yang masuk ke keluarganya nanti tidak tersakiti.
Nanta saat ini jelas hanya main-main semata. Dia belum benar-benar bisa menjadi suami ataupun kepala keluarga. Soal bekerja saja dia masih main-main. Maka dari itu Dani tidak akan membiarkan Nanta menghancurkan hidup seorang gadis yang baik.
"Dan ku rasa, gadis itu deket sama Rohan. Ngga tahu lah. Itu bukan urusanku. Apapun yang menyangkut Rohan, sekarang aku nggak mau ikut campur lagi. Sudah cukup besar kesalahan yang ku perbuat."
Dani mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ya urusannya mulai detik ini sudah selesai dengan Rohan dan semua yang berhubungan dengan dia. Bagi Dani, bersikap seperti ini adalah sesuatu yang pas.
Berbeda dengan pemikiran Dani, Ista yang memiliki ikatan dengan anak-anak tentu tidak bisa pergi begitu saja. Entah apa yang jadi tujuan wanita itu untuk kembali menemui anak-anak.
Apakah benar dia memang sudah sadar bahwa dirinya adalah ibu dari dua orang anak, dan apa yang dilakukan itu salah sehingga ingin memperbaikinya. Atau ada tujuan lain.
Yang jelas Ista senang ketika mendapat pesan dari Rohan yang isinya adalah alamat untuk bertemu dengan anak-anaknya.
"Kamu kayak lagi seneng, Beb."
"Iya, aku mau ketemu sama anak-anak. Hmmm lumayan ternyata. Butuh sekitar lebih dari 10 jam perjalanan. Kalau lewat tol bisa lebih cepet sih."
Ista langsung memeriksa peta lokasi tempat dimana mereka akan janji bertemu. Dan ternyata sangat jauh.
Bagaimana tidak jauh, saat ini Rohan dan anak-anak berada di provinsi yang berbeda.
"Gimana kalau aku ikut. Aku khawatir sama kamu Babe kalau nyetir sendirian."
"Serius kamu mau nemenin aku, Gi?"
Mata Ista berbinar dengan sangat cerah ketika Gio berkata demikian. Dia merasa sangat senang sekaligus antusias dengan tawaran dari pria tersebut.
Jika Gio benar-benar ikut, maka dia tak akan merasa kesepian dan juga kebingungan.
"Sure, aku serius Babe. Kapan kita akan berangkat?" tanya Gio.
"Besok pagi, aku berangkat besok pagi,"sahut Ista senang.
"Oke, aku nanti pulang dulu dan ke sini lagi. Sekarang, bisakah kita tidur hmmm?"
Tidur yang dimaksud tentu bukan memejamkan mata. Sedari tadi pria itu sudah mengusap dan menciumi seluruh bagian tubuh Ista. Dia jelas tidak akan membiarkan malam itu berlalu begitu saja.
Begitu pun dengan Ista, agaknya bersama Gio dia memiliki banyak sekali kesenangan. Sangat berbeda ketika dia bersama dengan Dani apalagi Rohan.
Pria ini benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa. Bahkan Ista menyebutkan si ahli. Apa yang dilakukan Gio sangat variatif dan belum pernah dirasakan sebelumnya.
"Uuughh Giiii."
"Ohoooo santai Babe, ini aku belum mulai lho,"sahut Gio dengan seringainya.
Baginya 'bermain' bersama Ista juga merupakan kesenangan baru karena status Ista yang merupakan seorang janda yang telah memiliki anak.
Dan ya, bagi pria itu semua hanya main-main belaka. Ista tak pernah tahu bahwa Gio adalah seroang pemain. Orang bilang dia adalah casanova. Jadi berharap untuk berhubungan dengan serius adalah hal yang mustahil.
"Oh shittt, please Gi. Aku udah nggak tahan."
"Hahaha, oke oke. Ready Babe, aku beneran akan mulai sekarang."
Eughhhh
TBC