Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Saja
Rose yang tangannya masih penuh busa langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara Noah.
"Apa!" mendengar jika Sophia demam dia bergegas membasuh tangannya dengan air bersih lalu mengelapnya dengan baju, tapi tubuhnya tiba-tiba mematung saat melihat keberadaan Marcus dan juga kedua ibunya.
"Mama?, kenapa dia memanggil mu mama?" tanya Marcus yang perlahan mulai mendekat ke arah Noah, tapi Rose dengan cepat menarik anak itu lalu melindunginya dengan tubuhnya.
"Kenapa kau disini?" tanya Rose yang perasaannya sudah was-was.
"Ck, pergi dari sini atau ku usir kalian semua." ucap Sarah yang tidak sadar ternyata dia tadi sedang di buntuti..
Catherine menatapnya dengan tajam. "Apa yang sudah kau sembunyikan dari kami Sarah?, kenapa anak itu memanggilmu nenek dan memanggil Rose mama?"
Isabella terus menatap ke arah Noah yang bersembunyi di balik tubuh Rose, entah kenapa dia melihat wajah anak itu yang cukup familiar di matanya. Rasanya dia seperti melihat Rose waktu kecil dulu, tapi sorot matanya mirip seperti....
Dia menoleh ke arah Marcus, matanya menelisik seluruh wajah pria itu. Mata tajamnya mirip sekali dengan anak yang ada dibelakang tubuh putrinya.
"Rose jangan bilang dia anakmu?" ucap Isabella yang membuat Rose gemetaran, tidak, jangan sampai Marcus tahu jika anak ini adalah anaknya.
"Jawab Rose jangan hanya diam, apa benar dia anakku?, apa kau melahirkan anak kembar?" tanya Marcus beruntun.
Rose menggelengkan kepalanya. "Bukan, ini emh." dia ingin sekali berbohong mengatakan bahwa Noah bukan anaknya, tapi dia takut ucapannya menyakiti hati anak itu.
Jadi opsi terbaik adalah diam.
Wanita itu sudah terpojok sedangkan Marcus tetap saja maju mendekatinya.
"Mama aku takut." Noah mencengkram erat baju belakang mama nya, tatapan pria yang kata kakaknya adalah ayahnya terlihat sangat menakutkan.
"Tenang Noah mama akan melindungi mu."
Mendengar ucapan istrinya, Marcus semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu.
"Satpam usir Mereka." perintah Sarah yang sudah membawa beberapa satpam yang berjaga di depan.
"Tidak perlu seperti ini Sarah untuk mengusir kami." kesal Catherine yang merasa tersinggung apalagi satpam itu sudah menarik tangannya dan juga Isabella. Sedangkan Marcus masih menatap tajam ke arah Rose yang sejak tadi menundukan kepalanya.
Persetan dengan satpam yang sudah mencengkram tangannya.
Srek...
Dia menghempas tangan satpam itu lalu mendekat ke arah Rose.
Grep....
Memeluk erat tubuh wanita itu. Rose terbelalak, dia masih setia menggenggam tangan Noah, tapi yang tidak dia tahu, Marcus memanfaatkan kesempatan itu dengan menarik sehelai rambut Noah, anak itu tahu tapi dia takut bilang pada ibunya.
Seakan tersadar, Rose langsung mendorong tubuh besar Marcus ke depan. "APA-APAAN KAU INI." teriaknya keras yang membuat Marcus terperangah, ini pertama kalinya dia melihat Rose yang sangat marah, belum lagi wajah wanita itu yang sudah memerah.
"PERGI DARI SINI!" dan satpam tadi langsung menyeret keluar Marcus dan juga dua wanita paruh baya itu dari restoran.
Bruk....
Tubuh Rose seketika melemah hingga dia berakhir jatuh diatas lantai. Noah langsung memeriksa keadaan mama nya.
"Mama tidak apa-apa?" tanya anak itu yang wajahnya terlihat sangat khawatir. Rose mengangguk lalu tersenyum kecil. "Mama tidak apa-apa. Ayo pulang kasihan kakakmu."
Sarah langsung membantu Rose untuk berdiri, dia ingin memapah wanita itu tapi Rose menolaknya secara halus. "Bu, aku tidak apa-apa, bolehkah aku izin ke belakang untuk memeriksa keadaan Sophia?"
Sarah langsung mengangguk. "Pergilah, jika keadaan Sophia tidak juga membaik bilang pada ibu, nanti biar ayahmu yang mengantarkan nya ke rumah sakit." kalau tidak salah Hary saat ini masih rebahan di rumah, jadi tidak sibuk.
Hati Rose menghangat seketika. Dia bersyukur karena dipertemukan dengan Sarah dan juga Hary. Selama ini tidak ada yang benar-benar memperhatikan anaknya. Baik keluarga suaminya maupun keluarganya sendiri, hanya dia selama ini yang berusaha keras merawat Sophia.
Pernah sekali Sophia demam, kalau tidak salah saat itu Sophia baru sekolah kelas satu sekolah dasar, mungkin karena kelelahan, anak itu jatuh sakit dan dia sudah meminta tolong pada Marcus untuk membawa anaknya ke rumah sakit, tapi pria itu malah melengos pergi tanpa perduli sama sekali, begitupun dengan mertuanya, Catherine mana Sudi mengantarkan Sophia berobat, wanita tua itu lebih memilih shopping di mall. Padahal Sophia cucu pertamanya.
"Iya ibu."
....
Saat sedang asyiknya bercerita, Sophia merasakan suhu tubuhnya yang tiba-tiba naik, tanpa pikir panjang dia segera menyuruh Noah untuk memanggil mamanya.
Sebagai orang yang sering demam, Sophia tidak hanya diam saja, dengan kepala yang mulai pusing, dia bangun berjalan pelan menuju kamarnya, meraih selimutnya lalu merebahkan dirinya diatas kasur.
Obatnya hanya satu, pelukan mamanya.
....
Rose bejalan cepat, atau bisa dikatakan lari kecil menuju hunian barunya yang ada dibelakang Restoran, hanya butuh waktu dua menit akhirnya dia sampai.
"Sophia." panggilnya saat tidak melihat keberadaan anak itu, dia langsung berjalan menuju kamar sang anak. benar saja, Sophia sudah terlelap diatas kasur, dengan keringat yang mulai membasahi tubuhnya.
"Noah, bantu mama ya, tolong ambilkan satu kain yang ada di lemari atas, kemudian basahi dengan air dingin yang ada di kulkas." perintahnya, Noah langsung bergegas pergi sesuai perintah mama nya.
Rose meletakkan telapak tangannya pada dahi Sophia. "Panas." dia beralih menyentuh leher anak itu.
"Apa yang kamu pikirkan Sophia hingga demam seperti ini." melihat anaknya yang biasa aktif menjadi tidak berdaya membuatnya gusar.
Tidak lama, akhirnya Noah kembali. Dia meminta kain itu, melipatnya dengan rapi lalu meletakkannya diatas dahi Sophia, semoga kompres apa adanya ini bisa menurunkan suhu tubuh gadis itu.
.....
Mia merenggangkan kedua tangannya ke samping, dia menguap dengan lebar seiiring dengan waktu yang mulai siang.
Dia menoleh ke arah pintu yang terlihat cukup usang. Semalam dia kembali menginap di panti ini. Dia mulai beranjak pergi keluar, siapa tahu Rose sudah pulang.
Klek...
Kosong.
Mia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seperti tidak ada kehidupan di sini?.
Jadi dia segera membasuh wajahnya lalu pergi menuju restoran, dia menatap jam tangannya lalu bedecak.
"Ck, ternyata aku kesiangan." ucapnya kesal saat Sadar jika sekarang sudah jam sebelas siang.
"Loh Mia." wanita itu langsung menghentikan langkahnya. Matanya membola saat melihat keberadaan Catherine juga Marcus di depan restoran.
"Eh ibu, Marcus." ucapnya sambil cengengesan, dia merasa canggung saat Catherine menghampirinya lalu memeluknya erat. Bersamaan dengan itu ibunya Rose, Tante Isabella menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
Sepertinya wanita tua itu salah paham.