Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Romeo terdiam mendengar pertanyaan Alya. Untuk kesekian kalinya, ia merasa terjebak oleh ucapannya sendiri.
“Tuan kehabisan kata, ya?” sindir Alya dingin.
Tanpa menunggu jawaban apa pun dari suaminya, Alya langsung melengos turun dari mobil. Pintu itu ia banting keras, bunyinya menggema memecah suasana. Amarah yang sejak tadi menyesak dadanya gara-gara makanan miliknya dihabiskan Romeo akhirnya tumpah begitu saja, diluapkan pada mobil milik pria itu
“Perempuan menyebalkan.” gumamnya sinis sambil mendecakkan lidah.
Di dalam kedai yang mulai ramai, Alya menceritakan sekilas kejadian yang membuatnya berakhir di sana pada Luna. Wajah sahabatnya itu langsung mengeras; jelas bukan Luna namanya jika ia tak ikut terbakar emosi setelah mendengar bagaimana Romeo kembali bertindak seenaknya terhadap Alya.
“Aku tahu kau begitu peduli dan menyayangi si kembar,tapi jangan lupa, kau juga berhak bahagia, Alya.” ujar Luna dengan nada tertahan emosi.
“Lima tahun saja aku berperan sebagai ibu sambung mereka.” ucap Alya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh rasa perih yang ia simpan sendiri.
“Iya, dan setelah itu apa?Kau bakal menyandang status janda. Makanya dengar saranku jaga dirimu baik-baik, jangan sampai melangkah terlalu jauh duluan. Yang rugi itu kamu, Alya. Dia? Enak saja, bisa kembali ke perempuan lain. Sementara kamu sudah kehilangan segalanya, dengan status yang tak lagi sama.” Luna mendengus kesal.
“Terus aku harus bagaimana?Aku cuma nggak sanggup melihat si kembar terluka dan bersedih karena aku.” suara Alya bergetar.
“Lo memang kebangetan,selalu sibuk mikirin perasaan dan kebahagiaan orang lain, sementara kebahagiaan lo sendiri nggak pernah lo pedulikan. Emang sebesar apa sih utang lo sama dia?Kalau cuma urusan itu, gue masih punya simpanan buat beresin semuanya ke suami lo.” gerutu Luna kesal.
“Jangan begitu,lo sudah terlalu banyak nolong gue, dan sampai sekarang pun gue belum sanggup membalasnya. Gue nggak mau hidup lo ikut terbebani cuma karena gue.Kalau akhirnya gue harus menyandang status janda, gue nggak keberatan. Setelah itu, gue juga nggak akan menikah lagi. Buat gue, nggak ada pria yang benar-benar baik di dunia ini. Semuanya cuma ninggalin luka… termasuk ayah gue sendiri.” ucap Alya pelan, suaranya sarat kepedihan.
Tanpa disadari Alya, sejak tadi Romeo telah menjadi saksi bisu atas semua yang ia tuturkan pada Luna. Ketika pandangan Luna tak sengaja bertemu dengan Romeo, ia sempat berniat angkat bicara. Namun gerakannya terhenti saat Romeo lebih dulu mengangkat telunjuk ke bibir, meminta keheningan. Seketika Luna memilih diam, menuruti isyarat itu, dan membiarkan Romeo tetap berdiri di sana, menyimpan semua yang ia dengar dalam senyap.
“Apa gue separah itu?Nggak… gue bukan orang jahat. Gue cuma berusaha mencegah hal-hal yang nggak gue inginkan terjadi.” gumam Romeo pelan.
Setelah itu, Romeo sengaja bergumam cukup keras, memastikan suaranya terdengar agar Alya menyadari kehadirannya di sana.
“Pesan semua kue cokelat yang ada.” ujar Romeo mendadak.
“Kue yang tadi dibeli anak Anda masih dalam proses pembuatan,kebetulan baru saja stok kue cokelat kami sedang habis.” jelas Luna singkat.
“Hm,siapkan sepuluh kue cokelat.” Nada suaranya dingin dan penuh wibawa, mencerminkan sikap angkuhnya.
Jika saja pria itu bukan suami sahabatnya, rasanya Luna ingin menendang tulang kering Romeo tanpa ragu. Ia benar-benar tak menyukai tipe lelaki sepertinya angkuh, sombong, dan terlalu merasa berkuasa. Tanpa menjawab apa pun lagi, Luna memilih memalingkan wajah, lalu segera melangkah ke belakang untuk menyiapkan pesanan suami sahabatnya itu.
Seusai Luna berlalu, Romeo melangkah mendekat dengan kedua tangan terselip di saku celananya. Ia tak sedikit pun menoleh ke arah sang istri. Pandangannya justru lurus menembus kaca, menatap ke luar dengan raut kaku, seolah menyembunyikan gejolak yang tak ingin ia perlihatkan.
“Matamu merah,kau menangis?” kata Romeo pelan namun dingin.
Alya memilih diam. Entah kenapa, ia merasa terlalu lelah bahkan sekadar untuk menjawab pertanyaan suaminya pun rasanya enggan.
“Apa kau sengaja tak mendengarku?Aku sedang berbicara denganmu.” tegur Romeo dingin.
“Aku mendengarnya.” jawab Alya singkat, suaranya datar tanpa emosi.
“Kau tidak pandai menyembunyikan apa pun,aku bisa melihatnya dengan jelas kau sedang menangis.” ucap Romeo lirih.
“Kalau kau sudah menyadarinya, tak perlu mengajukan pertanyaan,aku sedang tak ingin berurusan denganmu, Tuan.” sahut Alya dingin.
“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Romeo pelan.
“Aku hanya sedang meratapi betapa malangnya hidupku,tak pernah ada ruang untuk kata bahagia di dalamnya.” jawab Alya hambar.
Entah mengapa, ucapan Alya terasa seperti tamparan bagi Romeo. Ia menatap punggung istrinya yang kini berdiri lalu melangkah pergi, meninggalkannya sendiri terpaku di tempat, tenggelam dalam pikiran yang bergejolak dan tak kunjung menemukan jawaban.
“Jadi… menikah denganku sama sekali tak memberinya kebahagiaan?” batin Romeo.
Selama ini, bagi Romeo, perempuan akan selalu merasa bahagia jika hidupnya ditopang oleh materi dan finansial yang berlimpah entah itu hasil kerja keras mereka sendiri, atau karena memiliki pasangan kaya raya sepertinya.
Terlebih lagi, dalam benak Romeo, Alya seharusnya merasa sangat bersyukur. Bahkan Tania kekasihnya, atau tepatnya mantan kekasihnya tak pernah bisa menikah dengannya karena terhalang restu si kembar. Jadi bukankah seharusnya Alya merasa bahagia, bisa menjadi istri seorang pria tampan dan kaya raya sepertinya.
Jika berbicara soal cinta, bagi Romeo perasaan itu telah habis terkubur bersama mendiang istrinya. Menikah lagi, menurutnya, tak perlu dilandasi cinta cukup menjalani hidup dengan baik, serba tercukupi, dan tanpa kekurangan apa pun. Begitulah keyakinan Romeo.
“Dia benar-benar nggak merasa bahagia,padahal harusnya dia sama seperti perempuan lain senang menikah dengan pria mapan dan berwajah menarik seperti gue. Atau jangan-jangan… uang yang gue berikan masih kurang?” gumam Romeo penuh keyakinan diri.
“Gue rasa selama ini gue nggak pernah kejam sama dia,tapi kenapa ucapan tadi justru ninggalin perasaan aneh di dada gue?” keluh Romeo lirih.
Enggan mendekati sang istri, Romeo memilih duduk di hadapan kaca besar, menatap lurus ke arah luar, membiarkan pikirannya tenggelam bersama bayangan yang berlalu di balik kaca.
“Sepertinya gue perlu minta Satria menyelidiki Alya semuanya lebih dalam.” gumamnya pelan, sorot matanya mengeras penuh tekad.
Pesanan Romeo akhirnya selesai. Dengan berat hati, Luna terpaksa bersikap ramah pada pria itu karena permintaan Alya. Mau tak mau, pemilik kedai kakao tersebut menampilkan sikap sebaik mungkin, meski senyum yang terukir di wajahnya terasa kaku dan penuh kepalsuan.
“Ayo, kita pulang.” ucap Romeo singkat.
“Kau pulang duluan saja,aku masih ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan.” jawab Alya tanpa menoleh.
“Alya, sayang kita pulang sekarang,Atau perlu aku gendong sekalian, hm?” rayu Romeo dengan nada dibuat lembut.
Alya tertegun, nyaris tak percaya mendengar ucapan Romeo. Meski ia tahu betul semua itu hanyalah sandiwara belaka, ia tak menyangka kata-kata tersebut justru ditangkap dengan makna berbeda oleh teman-temannya yang menyaksikan.
Melihat Alya tak juga beranjak, emosi Romeo sempat mendidih rasanya ia ingin menariknya dengan paksa. Namun ia segera menahan diri, melangkah mendekat sambil mengulum senyum yang teramat manis, cukup untuk membuat teman-teman Alya langsung terpesona tanpa menyadari kepalsuan di baliknya.
“Ayo kita pulang, sayang. Aku benar-benar merindukanmu.” ucap Romeo lirih sambil meraih pinggang Alya dan menariknya ke dalam pelukan yang tampak mesra di mata orang-orang sekitar.
“I-iya… k-kita pulang.” sahut Alya terbata.
“Duh, manis banget sih kalian,lihat deh, posesifnya bikin iri jadi pengin cepat-cepat nikah juga!” seru salah satu teman Alya heboh.
“Eh, Alya, nanti bikin versi kembar yang cowok juga, dong,Pasti gemas dan ganteng, nurun suami lo banget.” celetuk salah satu temannya sambil terkekeh.
Jangan ditanya bagaimana raut wajah Alya sekarang merah padam bak tomat matang. Ia benar-benar tak habis pikir dengan situasi yang terjadi begitu cepat. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Jika Alya kini dilanda gugup, kesal, sekaligus malu, lain halnya dengan Romeo. Pria itu justru memasang wajah datar dan dingin, seolah tak tersentuh apa pun. Sungguh, ia sangat pintar memainkan perannya setiap kali menatap Alya, senyum manis langsung terbit, layaknya suami paling penyayang. Namun begitu pandangannya beralih pada orang lain selain Alya, ekspresinya kembali kosong dan kaku, tanpa sisa kehangatan.
Tanpa berlama-lama lagi, keduanya segera meninggalkan kedai kakao itu, membawa pesanan untuk si kembar, bersama langkah yang terasa jauh lebih berat dari saat mereka datang.
“Jangan salah paham,aku cuma menjaga martabatmu, bukan berarti lebih.” kata Romeo dingin.
“Aku sama sekali nggak membutuhkan itu,dan jujur saja, aku juga tak menyukai sandiwara yang kau mainkan barusan. Bukannya menolong, kau justru membuatku semakin malu.” balas Alya tajam.
Romeo memilih bungkam, hanya mengangkat sebelah alisnya seolah menahan reaksi. Dalam benaknya terlintas pikiran sinis bukankah perempuan memang selalu seperti ini, rumit dan sulit dipahami.
“Ya Tuhan,bisakah Kau menyiapkan hidup yang berbeda untukku lima tahun ke depan? Aku benar-benar lelah menjalani semua ini.” bisik Alya lirih pada dirinya sendiri.
“Aku juga tak berniat mempertahankan pernikahan ini terlalu lama, Alya,jangan lupa, aku menikah denganmu semata-mata karena kedua putriku. Hanya karena mereka aku bersedia melakukan semua ini.” ucap Romeo santai tanpa beban.
“Aku ingat,sangat ingat, bahkan terlalu jelas. Sampai rasanya aku ingin waktu berlari lebih cepat, menenggelamkan mimpi-mimpiku yang mati karena pernikahan ini.Dan percayalah, kalau bukan karena kedua anakmu, aku pun tak sudi menikah dengan pria angkuh dan menyebalkan sepertimu, Tuan Romeo Andreas.” jawab Alya ringan namun menusuk.
“Sial.” umpatnya dalam hati, rahangnya mengeras menahan emosi.
Setibanya di rumah, Alya langsung melangkah menuju kamarnya tanpa menoleh sedikit pun. Sementara itu, sebelum benar-benar pulang, Romeo sempat singgah ke kedai seafood favorit Alya. Ada rasa bersalah yang mengganjal setelah ia menghabiskan makanan milik istrinya tadi. Meski Alya sempat menolak, ancaman singkat dari Romeo membuatnya tak punya pilihan selain menyebutkan alamat tempat itu.
“Mending makan di kamar saja,malas banget keluar lagi buat makan malam, bisa-bisa ketemu manusia kutub itu.” gumam Alya kesal.
Alya menatap hidangan seafood itu dengan perut yang benar-benar lapar. Sempat terlintas rasa iba pada penjualnya Romeo memaksa pesanan itu dipercepat, bahkan membayar hingga sepuluh kali lipat, asal makanan tersebut bisa selesai dalam waktu singkat.
“Ahh… ini benar-benar enak.” desah Alya pelan begitu suapan pertama menyentuh lidahnya.
Tanpa menunggu lama, hidangan itu pun ludes tak bersisa di tangan Alya. Ia benar-benar kenyang dan menikmati makan malamnya kali ini dengan perasaan lega. Tanpa ia sadari, di saat yang sama si kembar tengah mencari keberadaannya menangis kecil, memanggil-manggil ibunya dengan wajah cemas.
“Pa… Mama ke mana?” tanya Selina terisak, suaranya gemetar menahan tangis.
Bocah itu terbangun saat waktu magrib menjelang, perutnya setengah lapar hendak makan malam. Begitu bangun, ia langsung mencari Alya menyusuri setiap sudut rumah, membuka pintu demi pintu. Namun ke mana pun ia pergi, sosok ibunya tak juga ia temukan.
“Ibumu sedang pergi mengurus sesuatu.” jawab Romeo singkat, nadanya datar tanpa banyak penjelasan.
“Kenapa ibu nggak pamit sama kami? Ibu nggak mungkin pergi begitu saja Papa bohong, ya?” Selina menatap papanya curiga.
“Terserah kalau kalian tak mau percaya pada Papa.” jawab Romeo tenang, penuh keyakinan.
Tiba-tiba, Alya muncul dari arah dapur. Di tangannya ada kue buatannya sendiri kue yang juga ia jual di kedai kakao membawa aroma manis yang langsung memenuhi ruangan.
“Ibuu!” seru keduanya bersamaan, wajah mereka langsung berbinar begitu melihat Alya muncul.
Melihat Alya tiba-tiba muncul, kekesalan Romeo langsung memuncak. Pasalnya, barusan saja ia berbohong pada kedua putrinya dan kini kebohongan itu terpampang jelas di depan mata.
“Hati-hati sayang,Masih panas.” ucap Alya lembut.
“Ini brownies cokelat, ya?” tanya Serena antusias, matanya berbinar penuh semangat.
Romeo yang menangkap maksud ucapan putrinya itu memilih bungkam, bersikap seolah tak terusik dan tak peduli sama sekali.
“Iya, favorit kalian.” jawab Alya sambil tersenyum hangat, jelas terlihat senang melihat antusiasme mereka.
Ketiganya tampak menikmati kebersamaan malam itu, Namun sebenarnya, sebelum Alya keluar sebentar menuju dapur tanpa melewati meja makan, ia sempat mendengar percakapan antara si kembar dan ayah mereka. Kebetulan pula Alya memang sedang membuat brownies untuk anak-anak itu dan dari situlah muncul idenya. Malam ini, tanpa disadari Romeo, Alya sengaja menjadikannya sasaran keisengan kecilnya sendiri.
“Papa bohong.” ucap Serena tiba-tiba, suaranya polos namun tegas, membuat suasana seketika berubah.
“Papa, kenapa tadi Papa bilang Mama pergi?” Serena bertanya cepat.
“Maafkan Papa,papa kira tadi Mama benar-benar pergi, iya kan, sayang?” ujar Romeo berpura-pura lembut.
“Hm, Ibu cuma keluar sebentar buat cari udara segar saja.” jawab Alya lembut sambil tersenyum pada kedua anak sambungnya.
“Hanya itu saja, kan, Bu?Ibu nggak akan ninggalin kami, ya Ibu mau tetap sama kami selamanya, kan?” tanya Serena lirih, suaranya melembut penuh harap.
Jika saja Romeo tak berada di sana, mungkin Alya akan menjawab iya tanpa ragu. Namun karena kehadiran suaminya itu, mau tak mau ia menahan diri melakukan pilihan yang justru kembali menjeratnya dalam keadaan yang sulit ia lepaskan.
Romeo terus menanti jawaban yang akan keluar dari bibir Alya. Namun sayang, sebelum ia mendengarnya, ponselnya tiba-tiba berdering nyaring. Nama Satria terpampang di layar, memaksanya mengangkat panggilan itu dan memutus momen yang sempat menggantung.
“Ibu nggak berani berjanji,tapi ibu akan berusaha selalu ada untuk kalian. Sekarang makan dulu, ya. Ibu sudah kenyang, tadi sempat makan seafood.” ucap Alya lembut, mengelus kepala mereka.
Serena yang merasa jawaban Alya belum mampu menenangkan hatinya kini menatap ibu sambungnya itu lama, seolah mencari kepastian yang tak terucap dari sorot mata Alya.
“Serena, ada apa, sayang?Steaknya nggak kamu makan?” tanya Alya lembut sambil mengusap kepala anak sulung itu.
“Ibu kenapa Ibu nggak mau berjanji?Apa nanti Ibu akan pergi dan ninggalin kami?” tanya Serena dengan suara serak, nyaris bergetar.
Alya dilanda rasa bersalah saat melihat betapa sedihnya Serena sekarang. Namun ia juga sadar, ia tak mungkin mengucapkan janji yang sejak awal sudah ia tahu tak akan mampu ia tepati.
“Sayang, bukan karena Ibu tak mau berjanji,ibu hanya ingin kita menjalaninya pelan-pelan dulu. Kita berdoa setiap malam, semoga Ibu bisa terus ada di sisi kalian dan Papa.” ucap Alya lembut.
Di hati Alya sebenarnya masih tersisa secercah harapan andaikan saja pernikahan ini bisa menjadi yang pertama sekaligus terakhir dalam hidupnya. Namun jika ia harus menjadi pihak yang berharap dan memohon, rasanya Alya tahu, ia tak akan pernah sanggup melakukannya.
“Karena perempuan itu, ya?” tanya Serena pelan lagi, nadanya polos namun menyimpan kecurigaan.
“Shh jangan bicara begitu,jni sama sekali bukan karena Tante Tania. Jangan berpikir yang macam-macam, ya, sayang.” ujar Alya lembut sambil menggeleng pelan.
Romeo mendengar semua percakapan itu. Ia mengembuskan napas berat setelah mendengar ucapan putrinya barusan. Untuk pertama kalinya, terlintas pertanyaan di benaknya apa kini ia harus mulai belajar menerima Alya, bukan sekadar sebagai pengganti, melainkan benar-benar sebagai istrinya.
“Pa, nanti malam kami tidur bareng Papa sama Ibu, ya.” ujar Selina tiba-tiba, nadanya ceria seolah itu hal yang paling wajar di dunia.